SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 305 Alasan Dari Sebuah Keputusan



La Tongeq sakti terus melanjutkan latihannya di awasi Suro. Setelah hari ketiga, akhirnya lelaki itu sudah bisa memainkan jurus pedang terbang.


Meski gerakan yang dia latih hanyalah gerakan dasar saja. Seperti gerakan terbang meluncur keatas, kebawah dan beberapa gerakan dasar lainnya.


"Selain tehnik ilmu pedang yang aku tularkan kepada paman, aku juga berniat mengajari paman kekuatan jiwa."


"Seharusnya dengan dibantu air Nirvilkalpa pencapaian dalam kekuatan jiwa yang akan Suro ajarkan kepada paman akan membuat paman mampu menguasainya lebih cepat."


"Namun sebelumnya Suro merasakan keanehan mengenai khasiat air Nirvilkalpa. Mengapa bawahan paman sebagian besar masih dibawah tingkat kelas satu atau masih ditingkat kelas atas atau justru di bawahnya. Aku melihat hanya ada dua yang telah mencapai tingkat tinggi di negeri ini termasuk adinda Luh Niscita."


"Seharusnya dengan bantuan air Nirvilkalpa dapat membantu mereka memahami dan menembus setiap chakra dalam tubuh. Sehingga praktik tenaga dalam mereka dapat naik dengan sejalan keberhasilan menembus chakra dalam tubuh."


La Tongeq sakti tidak segera menjawab dia justru menggaruk-garuk kepalanya.


"Mengenai hal itu memang aku tidak mengajari mereka, karena tempat ini terlalu kecil, aku tidak mau menjadikan tempat ini sebagai tempat pertarungan bagi pendekar berkekuatan besar."


"Jika itu sampai terjadi bisa hancur tempat indah ini. Apalagi nanti disalah gunakan, tentu hanya akan membawa keburukan. Karena selama ini aku dapat mengatasi semua."


"Jadi begitu..." gantian Suro menggaruk-garuk kepalanya. Agaknya cara berpikir lelaki yang ada didepannya ini begitu unik.


"Mohon maaf paman sejak bertemu paman sebenarnya ada sesuatu hal yang hendak Suro tanyakan."


"Mengenai apa nakmas," jawab La Tongeq sakti.


"Apakah paman memiliki saudara kembar?" mata Suro menatap lelaki didepannya penuh dengan selidik.


La Tongeq sakti memincingkan mata mendengar pertanyaan Suro.


"Karena sejak pertama melihat paman, Suro merasa sangat mengenal. Walaupun sebenarnya baru pertama kali. Namun aku mengenal seorang pendekar yang beberapa kali aku terpaksa harus bertarung dengannya."


"Wajahnya sangat mirip sekali dengan paman. Meskipun dia begitu kurus, seperti, tulang berbalut kulit. Tetapi cara berbicara dan gerak-gerik paman mengingatkan Suro kepada sosok tersebut. Dia memiliki gelar sebagai Pujangga gila. Sebuah nama besar yang tidak bisa dianggap enteng.


Suro bahkan beberapa kali merasakan sendiri kekuatan ilmu gendamnya yang mengerikan. Menurut kabar yang Suro dapat ilmu andalannya itu, bernama Gendam iblis," sambung Suro. Saat Suro menyebut ilmu "Gendam iblis", dia menangkap ekspresi yang memiliki arti tertentu di wajah La Tongeq sakti.


Lelaki itu menghembuskan nafas panjang beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Suro.


"Sebenarnya tempat ini bukanlah tempat kelahiranku..."


"Nama asliku adalah Jahni sakti. Aku memiliki saudara kembar bernama Jahning sakti. Kala itu aku berumur..."


Jahning maupun Jahni memiliki arti yang sama, yaitu air atau tirta.


La Tongeq sakti lalu mulai bercerita tentang hidupnya yang menurut dia berasal dari dunia dimana Suro berasal. Karena salah satu alasan itulah La Tongeq sakti memaksa Suro untuk membawa anaknya.


Dengan membawa anaknya, maka anaknya akan ada harapan hidup lebih baik, daripada tempat dimana dia tinggal.


Entah bagaimana dia terpisahkan oleh saudara kembarnya. Dia hanya mengingat secara samar peristiwa terakhir saat bersama saudaranya. Saat itu dia dan saudaranya terjebak ditengah pertarungan dua sosok pendekar.


Karena pertarungan itu berkekuatan besar, membuat dua bocah itu kehilangan kesadaran. Tetapi dengan hal tersebut, justru menghentingan pertarungan. Lalu dia dibawa oleh sesosok yang kemudian menjadi gurunya.


Sosok itu juga yang membawa dirinya pergi ke negeri bawah tanah. Sedangkan sosok yang bertarung dengan gurunya itu memiliki gelar Raja Gendam iblis. Kemungkinan saudara kembarnya telah dibawa oleh musuh dari gurunya.


"Kemungkinan seseorang yang nakmas sebut barusan adalah saudara kembarku. Bagaimana kabarnya apakah nakmas mengetahuinya?"


Suro lalu menceritakan akhir hidup dari Pujangga gila.


"Begitu, ternyata..." lelaki itu menarik nafas panjang. Tatapannya menerawang.


"Setidaknya dia mati sebagai dirinya sendiri. Dia pasti sangat berterima kasih kepada nakmas, apalagi setelah membunuh banyak orang, tentu jiwanya tidak akan sanggup menanggungnya."


"Karena alasan itulah, aku tidak melatih para muridku mencapai tingkat lebih tinggi, sebab aku tidak ingin terjadinya keangkara murkaan menyebar di negeri ini. Sebab kekuatan besar cenderung akan membuat seseorang menjadi arogan dan menang sendiri."


"Jadi begitu pantas saja..." Suro menggaruk-garuk kepala mendengar alasan yang dikemukakan La Tongeq sakti.


"Tetapi mulai sekarang sebaiknya kekuatan mereka ditingkatkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk, paman," imbuh Suro.


"Mengenai hal itu akan paman usahakan, nakmas. Mungkin setelah latihanku selesai."


Hari sebelumnya Suro mengajarkan dasar ilmu pedang terbang mengikuti ilmu yang digunakan laba-laba iblis yang mampu membentuk benang chakra dari sepuluh ujung jari. Setelah melihat perkembangan terakhir lelaki itu mampu mengerahkan benang chakra dan sudah mulai melakukan gerakan dasar, maka untuk selanjutnya tinggal mempelancar jurus pedang terbang tersebut.


Seperti ucapan Suro sebelumnya jika dia berniat menularkan ilmu lainnya, yaitu cara membangkitkan dan meningkatkan kekuatan jiwa.


Hal itu diperlukan, agar dalam merespon hawa kegelapan La Tongeq sakti tidak akan mudah dipengaruhi oleh jahatnya kekuatan milik Dewa Kegelapan yang telah meracuni alam tersebut.


"Setelah paman mampu menggunakan kekuatan puncak sedulur pamomong atau penjaga gaib, Suro berharap jika suatu saat paman berhadapan dengan pasukan kegelapan dapat mengatasinya."


"Selain itu, dengan peningkatan kekuatan jiwa, maka paman tidak mudah terkena pengaruh buruk dari hawa kegelapan."


Suro kemudian menjabarkan ilmu penjaga gaib seperti yang diajarkan oleh Dewa Rencong.


"Ilmu ini bersumber dari kekuatan jiwa yang biasa juga disebut sebagai sedulur papat atau empat sedulur pamomong atau empat penjaga gaib. Keempatnya mewakili empat anasir alam utama, atau catur mahabhuta..."


Suro lalu menjelaskan panjang lebar sampai lelaki yang seharusnya pantas menjadi gurunya itu memahami setiap penjelasannya. Setelah La Tongeq sakti dapat menyerap apa yang dia katakan, Suro kemudian menyudahi semua penjelasannya.


Setelah mendengar keseluruh penjelasan Suro, La Tongeq sakti mulai mempraktikkan apa yang telah dia jelaskan.


"Silahkan paman melanjutkan latihan aku ada urusan lain..."


"Mohon maaf nakmas Suro, mungkin biar putriku terbiasa dengan nakmas, bolehkah dia menemani, selain itu dia dapat menjadi pemandu, jika nakmas akan pergi ke beberapa tempat di negeri ini. Aku yakinkan kepada nakmas dia tidak akan merepotkan. Walaupun putriku terlihat lemah lembut, namun dia tidak manja."


Suro sebenarnya ingin menolak, namun jika dia menolak pasti lelaki itu akan memohon-mohon bersikap seperti sebelumnya. Akhirnya Suro mengangguk kepala membolehkan Luh Niscita mengikutinya.


"Putriku Luh Niscita temani nakmas Suro berkeliling negeri ini."


Mendengar panggilan ayahandanya Luh Niscita keluar dari dalam rumah.


Dara itu tersenyum manis ke arah Suro, mereka kemudian berjalan meninggalkan rumah La Tongeq sakti. Setelah kepergian mereka berdua lelaki itu kembali sibuk dengan latihannya.


**


"Kakang Suro memang hendak pergi kemana?" Luh Niscita menatap ke arah Suro yang terlihat gugup.


"Anu...eeee..ketempat kolam air suci. Ada sesuatu hal yang hendak kakang pastikan."


"Berarti lewat sini kakang aku tau jalan lebih dekat. Mari kakang saya antar lewat jalan ini..."


"Tidak, justru kakang memiliki jalan yang lebih menyingkat waktu."


"Benarkah...?" Luh Niscita mendengar ucapan Suro, membuat dara itu mengerutkan dahinya. Dia cukup terkejut Suro mengetahui jalan pintas yang lebih menyingkat waktu dibanding dirinya.


"Tentu saja, cukup Niscita pegang erat lengan bajuku. Kakang akan menunjukkannya." Suro tidak menunggu jawaban dari Luh Niscita. Dia langsung menyodorkan lengan bajunya, agar dara itu memegangnya.


"Maksudnya...?" Luh Niscita hendak melanjutkan ucapannya. Namun niatnya dia urungkan, setelah merasakan sesuatu yang tidak pernah dia sangka.


Sebab setelah memegang lengan baju Suro, dia langsung menghilang dari tempat itu.


Sekejap kemudian setelah lenyap bersama Luh Niscita mereka berdua telah muncul didekat kolam air Nirvilkalpa. Tujuan Suro adalah hendak bertemu Geho sama.


Sebab hari ini sudah hari ketiga Geho sama masih berkutat didalam ruangan. Dia terus berusaha membentuk formasi sihir pertahanan.


"Sudah sampai disini...?" Luh Niscita matanya terbelalak, sebab hanya dalam sekejap mereka telah berpindah tempat sampai sebegitu jauh.


Mereka berdua lalu meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan itu dara itu ternyata bukan lah seorang pendiam, justru banyak berbicara.


Suro segera menyadari jika La Tongeq sakti telah banyak bercerita tentang bumi yang didiami Suro. Sebab dara itu terus memberondong Suro dengan berbagai pertanyaan untuk mengobati rasa keingintauhan dirinya pada tempat dimana Suro tinggal.


Beberapa penjaga yang melihat Luh Niscita segera menundukkan kepala dengan hormat. Selain karena dia adalah putri satu-satunya dari La Tongeq sakti, dia juga dinggap sebagai komandan mereka, karena praktik tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat tinggi.


Mereka kemudian memasuki ruangan yang tertutup dan selalu dijaga para penjaga. Setelah menengok kondisi Geho sama yang masih sibuk berusaha menyelesaikan segel sihir pertahanan. Setelah memastikan kondisi Geho sama, mereka berdua kemudian kembali keluar.


Suro tidak ingin mengganggu konsentrasi Geho sama. Karena itulah mengapa dia hanya sebentar saja di dalam ruangan itu. Para penjaga bergegas menutup ruangan itu.


Setelah itu dia kembali menuju ke kediaman La Temmalureng. Dia akan mengajari cara meramu obat yang sebelumnya ditunda.


Selang beberapa saat mereka telah muncul di kediaman La Temmalureng.


"Luh Niscita ikut bersama nakmas Suro kesini, apakah guru sakti meminta untuk belajar mengenai ilmu pengobatan juga?" tanya La Temmalureng sambil tertawa kecil.


"Bukan paman, ramanda memintaku untuk menemani kakang Suro." Luh Niscita tersenyum ramah ke arah La Temmalureng.


"Hari ini aku akan mengajari paman meramu beberapa obat, salah satunya adalah pill pemulih kekuatan. Bahan yang aku buat ini dapat paman cari dihutan yang tempo hari kita datangi." Suro mengawali pembicaraannya kepada tujuan pokok kedatangannya, setelah merka selesai berbasa-basi.


"Pill ini akan sangat bermanfaat untuk mengembalikan kekuatan saat berada ditengah pertarungan."


"Dengan khasiat pill ini juga pertempuran akan dapat dimenangkan."


Suro lalu meminta meminta lelaki itu memperhatikan cara meramu dan membuat takaran yang tepat. Melihat cara Suro menjabarkan ilmu pengobatan, membuat Luh Niscita semakin terkagum-kagum.


Sebab ayahnya orang terkuat dinegeri itu dan juga merupakan guru dirinya dalam hal olah kanuragan masih berada cukup jauh tingkatannya dengan pemuda yang terlihat lebih tua darinya, meski sebelumnya Suro menyebut seumuran dengannya.


Tanpa dia sadari dara itu juga tertarik dengan apa yang mereka lakukan. Suro akhirnya bukan saja mengajari La Temmalureng, tetapi mengajari Luh Niscita juga.


"Aku tidak menyangka Luh Niscita, ternyata menyukai dan sepertinya memiliki bakat dalam ilmu meramu obat," ucap La Temmalureng.


"Tidak paman, aku hanya penasaran dengan dengan yang dilakukan kakang Suro, tetapi setelah ikut mencoba, sepertinya Niscita jadi tertarik ingin mempelajari lebih jauh mengenai ilmu meramu obat ini." Luh Niscita melirik ke arah Suro yang tersenyum mendengar ucapannya.


"Benar ucapan paman La Temmalureng, Niscita memang berbakat. Jika memang berniat mempelajari ilmu meramu obat, aku akan mengajarinya." Suro tersenyum sambil melanjutkan kegiatannya meramu beberapa obat, agar La Temmalureng bisa menirunya. Suro berpikir Luh Niscita dapat membantu Kolo weling.


"Tabib Luh Niscita terdengar enak dikuping," ucap La Temmalureng sambil tertawa.


Luh Niscita memerah wajahnya mendengar ucapan barusan.


Suro ikut tertawa kecil lalu memandang ke arah Luh Niscita "benar paman, nama itu terdengar enak didengar, apalagi memang aku melihat Niscita berbakat dalam ilmu pengobatan."


"Kakang Suro bercanda, ini hanya kebetulan."


Suro terus melatih mereka berdua agar mampu menghasilkan pill yang sempurna.


"Tujuan Suro menularkan ilmu pembuatan pill ini, karena dalam pertempuran akan sangat berguna. Aku tidak tau peperangan dengan makhluk kegelapan akan melanda tempat ini. Namun jika itu terjadi aku harap pill ini akan membantu pasukan negeri ini.


Waktuku yang tidak banyak ini semoga akan bermanfaat untuk memperkuat kekuatan pasukan yang ada dinegeri ini," ujar Suro sambil memberi arahan kepada lelaki yang lebih tua darinya itu.


"Segala hal yang telah nakmas lakukan, adalah sesuatu yang sangat bermanfaat terhadap seluruh negeri ini, paman sangat menghargainya," balas La Temmalureng sambil menjura dalam ke arah Suro.