SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 163 Perguruan Tengkorak Merah part 5



Para tetua yang tidak terkena paparan racun tidak peduli dengan akibat yang telah mereka lakukan. Meskipun dari menyebarnya kabut beracun membuat banyak orang berjatuhan dan sekarat karena tindakan mereka. Tetapi dengan kondisi seperti itu justru dengan peluang yang telah terbuka itu, membuat mereka segera memanfaatkan peluang yang telah ada dengan kembali menyerang Suro.


Secara bebarengan mereka menerjang ke arah Suro. Jurus Tongkat Neraka kali ini menghajar dalam jarak dekat dan dibarengi terjangan kekuatan kegelapan.


Tetapi mereka tidak memahami justru kondisi itulah yang diinginkan Suro. Saat mereka telah mendekat, maka seluruh serangan mereka sebenarnya telah dipatahkan oleh Suro.


Sebuah serangan balasan yang dikerahkan Suro untuk menahan mereka terlihat begitu apik. Serangan itu berupa kombinasi jurus tapak dewa matahari, dan juga jurus kitab dewa pedang yang dilambari pengendalian perubahan api hitam.


Terjangan serangan balasan itu membuat mereka kalang kabut. Beberapa tetua yang mampu selamat dari terjangan lima sinar, harus mengobarkan tongkat kebanggaan mereka. Tongkat itu akhirnya berakhir menjadi beberapa bagian potongan besi.


Saat mereka bersyukur telah selamat dari kelebat terjangan lima sinar, serangan lain telah menyusul dengan cepat. Tetapi serangan susulan ini jauh berbeda dari serangan awal, karena api hitam yang menerjang ke arah mereka adalah Naga Taksaka.


Wujud naga yang dibentuk dari api hitam itu mengejar tubuh para tetua yang berusaha berkelit. Tetapi usaha mereka tidak berhasil, sebab kobaran api hitam yang begitu ganas telah melahap tubuh mereka semua.


Dalam waktu yang relatif cepat para tetua yang tenggelam dalam kobaran api hitam, telah lenyap menjadi abu.


Melihat para tetua dapat dihabisi dalam waktu singkat membuat mereka bergidik ketakutan. Mereka seakan tidak mempercayai dengan apa yang telah mereka lihat barusan.


"Apakah diantara kalian masih ada yang ingin menahanku? Aku sudah cukup berbelas kasihan untuk tidak membantai kalian semua. Meski kelakuan yang telah menjadikan puluhan nyawa manusia lainnya sebagai tumbal ilmu kalian, tidaklah pantas lagi kalian aku sebut sebagai layaknya manusia."


Suro menatap tajam keseluruh manusia yang kini tidak lagi berani begitu dekat dengannya.


"Aku tidak menyangka, kita bertemu lagi bocah! Luar biasa ternyata kekuatanmu semakin menakutkan dibandingkan sebelumnya!"


"Bahkan para tetua perguruan ini tidak mampu menahan kekuatanmu. Tetapi itu sesuatu yang wajar. Sebab adimas Wanandri saja kau habisi hanya dengan satu serangan!"


Suro terkejut mendengar suara seseorang barusan agaknya dia mengenali suara itu. Tetapi dia lupa. Suro mulai mengernyitkan dahi sambil mencari asal suara itu berasal.


"Baru aku tau sekarang, ternyata kau adalah murid dari eyang Sindurogo Pendekar Tapak Dewa Matahari yang sudah tersohor itu! Baru sekarang aku melihat penampakan jurus itu!" Lelaki itu kini sudah berhadapan dengan Suro dalam jarak lebih dari dua tombak dan terus berjalan mendekat.


"Jika aku tidak mengenali wajahmu, aku pasti tidak mengenalimu. Karena bilah pedang yang kau gunakan kini tidak sama dengan Pedang Pembunuh iblis. Tetapi entah kenapa kemampuannya justru lebih mengerikan dari pedang milik junjungan."


"Entah pedang yang kau gunakan itu pedang yang sama atau bukan? Tetapi penguasaan api hitammu itu sungguh mengagumkan."


Suro segera mengenali lelaki yang mendekati dirinya itu. Kali ini dia begitu waspada, karena dia mengingat lelaki itu adalah satu dari tujuh ahli pedang yang salah satunya, justru berhasil dihabisi oleh dirinya.


Lelaki itu juga pada waktu peperangan di Banyu Kuning berhasil melemparkan tubuh eyang Tunggak semi cukup jauh.


'Aura kekuatan yang sangat aku kenal. Aku benar-benar membenci aura ini! Kekuatan ini bersumber dari iblis kalipurusha. Mulailah menghimpun dengan seluruh kekuatanmu bocah. Lawanmu kali ini tidak bisa kau pandang sebelah mata.' Lodra menyadari kehadiran Jenggala mengingatkan dia pada Pedang iblis, sebab sumber kekuatan mereka berdua berasal dari ilmu yang sama.


Bahkan seandainya Hyang Kavcha tidak melindungi tubuhnya, kemungkinan besar dia kehilangan nyawanya.


"Aku tidak menyangka kita bertemu lagi disini paman. Aku masih mengingat pamanlah yang telah membuat tubuh tetua Tunggak semi terlempar cukup jauh." Suro sengaja mengulur waktu untuk menghimpun tenaga dalam yang besar agar mampu mengimbangi lawannya. Karena lawan yang akan dia hadapi sudah pada tahap pedang neraka.


"Benar bocah, waktu itu aku telah terkecoh dengan ucapanmu yang membuat kami tertipu. Junjungan tidak dikalahkan olehmu, tetapi oleh Dewa Pedang. Kali ini kau harus membayar dengan nyawamu, karena berani menipuku, bocah!"


"Menipu? Aku tidak merasa menipu paman. Aku hanya mengatakan bahwa pemilik pedang ini yang sebelumnya telah dikalahkan. Tetapi aku tidak menyebut kepada paman, bahwa diriku yang telah mengalahkan. Ah, sudahlah waktu itu aku memang berniat mengelabuhi paman jadi apapun resikonya tetap aku hadapi. Kalau boleh tau apakah paman sudah menemukan junjungan paman yang sudah buntung itu? Hahaha...!"


"Setan alas berani sekali mulutmu menghina kanjeng junjungan! Akan aku robek-robek mulutmu!"


Suro sudah mulai mengempos kabut beracun untuk memulai serangan jurus tapak selaksa dewa racun.


Saat Jenggala sudah masuk dalam jangkauan serangan jurus itu, maka ribuan jarum yang tidak terhitung jumlahnya langsung terbang menghajar dirinya.


"Kau pikir dengan jurus seperti ini mampu menahan langkahku bocah! Kau sungguh meremehkanku." Jenggala segera menepis seluruh serangan Suro dengan begitu mudah.


Tetapi Suro sudah memahami jika serangan itu pasti tidak akan mampu menghentikan ahli pedang sekuat dia. Karena itu serangan susulan berupa sinar dari jari telunjuknya segera menghajar lelaki itu.


Namun sekali lagi serangan itu dapat dihindari dengan mudah oleh Jenggala. Dia kemudian bergerak cepat menghampiri Suro. Pertarungan jarak dekat kali ini tidak mampu lagi dihindari oleh Suro.


Pertarungan ilmu pedang tingkat tinggi diantara mereka berlangsung begitu cepat. Tenaga dan kecepatan serangan Jenggala begitu mengagumkan.


Padahal serangan setiap tebasan Suro dilambari api yang cukup mengerikan. Tetapi hal itu tidak membuat Jenggala kesulitan. Agaknya dia sudah terbiasa berlatih tanding dengan junjungannya yang sudah sejak lama menguasai Pedang Pembunuh iblis yang mampu melambari setiap serangannya dengan api hitam.


Karena begitu cepatnya pertarungan mereka berdua, kini pertarungan itu sudah melewati lebih dari tiga puluh jurus . Jurus Pedang iblis Kalipurusha memang mengagumkan. Karena itulah, mengapa waktu itu Dewa Pedang sekalipun harus mengerahkan kekuatan puncaknya untuk menghadapi Pedang iblis.


Beruntung Suro sudah mengalami kemajuan dari segi kecepatan setelah menghisap kekuatan dari wilmana. Sehingga membuat ilmu meringankan tubuhnya mengalami kemajuan pesat. Sehingga sedikit banyak, telah membantu dirinya melayani setiap serangan mematikan yang dilakukan Jenggala melalui jurus pedangnya.


Selain itu tehnik ilmu pedangnya sudah tidak diragukan lagi. Tetapi sayang lawannya adalah seseorang yang sudah sampai tahap pedang neraka dan tenaga dalamnya sudah mendekati tahap puncak dari tingkat shakti.


Satu hantaman keras dari Jenggala membuat Suro terlempar hingga dua tombak. Tetapi kesempatan itu justru di gunakan Suro untuk menyerang balik.


"Tebasan sejuta pedang!"


Jurus pedang terkuat dengan dilambari api hitam menghajar Jenggala.