SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 94 MENUJU KADEMANGAN KALINYAMAT part 4



Jdaaar! Jdaaar!


Serangan para siluman itu menghantam bumi dengan keras. Serangan yang tidak bisa dihentikan karena berupa cambuk api yang panas.


Tetapi itu hanya berlangsung beberapa saat saja sebelum Suro menyerang balik. Sebab pada serangan kali ini Suro tidak mengunakan bilah pedangnya. Karena sebelumnya tebasan pedang miliknya tidak mampu melukai tubuh siluman. Meski berkali-kali bilah pedangnya telah mengenai tubuh siluman itu dengan telak.


Setelah beberapa kali menghindari hantaman cemeti api milik siluman, akhirnya dia ada kesempatan menyerang balik dengan mengerahkan Jurus Sepuluh Jari Dewa Mengguncang bumi. Pada awalnya siluman itu menganggab remeh serangan yang dilakukan Suro. Tetapi begitu jurus itu mengenai tubuh salah satu siluman, maka mereka dibuat kalang kabut mencoba menyelamatkan diri.


Para siluman itu tidak mengira jika jurus yang dikerahkan Suro kali ini bisa melukai tubuh mereka. Semua berlangsung sangat cepat sehingga siluman itu tidak sempat menghindar.


Serangan balasan yang dilakukan Suro merupakan jurus pertama dari ilmu tapak Dewa Matahari. Meskipun kekuatannya tidak sebesar jurus ke dua, tetapi pada jurus pertama ini sinar yang memancar lebih banyak, yaitu sepuluh pancaran energi dari tiap ujung jari tangannya.


Pancaran energi yang keluar dari ujung jarinya itu mirip pedang cahaya pada pencapaian tahap pedang langit. Perbedaannya pada ilmu Tapak Dewa Matahari panjang dan pendeknya pancaran energi yang mewakili pedang cahaya dapat diatur.


Pada tahap pedang langit pancaran pedang cahaya yang terbentuk tak lebih dari satu hasta saja. Sedangkan pada ilmu yang digunakan Suro, energi yang terpancar bisa mencapai panjang setengah tombak atau lebih. Sehingga penampakannya justru lebih mirip sebuah cemeti.


Dewa Rencong juga mengetahui kemiripan jurus itu dengan pedang cahaya pada pencapaian tahap pedang langit. Karena itu setelah melihat kejadian barusan, Dewa Rencong menjadi begitu penasaran untuk ikut menyerang dengan menggunakan pedang cahaya. Dari ujung jempolnya terpancar sebuah bentuk energi yang biasa disebut pedang cahaya.


Dia segera bergerak seperti kilat menyusul Suro dan mulai menyerang para siluman dengan pedang cahayanya. Rupanya dia ingin memastikan dan membuktikan rasa penasarannya.


Akhirnya setelah pedang cahayanya mengenai tubuh siluman rasa penasarannya langsung terjawab. Siluman itu langsung meregang nyawa dan terbelah menjadi dua begitu serangan Dewa Rencong mengenainya dengan telak.


"Sangat menarik! Akhirnya aku tau cara menghadapi para siluman ini."


Seperti mendapatkan mainan baru, Dewa Rencong dengan penuh semangat menyerang semua siluman yang masih ada. Satu siluman yang masih tersisa ingin kabur, tetapi jurus milik Suro, yaitu Telunjuk Dewa mencari kebenaran berhasil meledakkan tubuhnya.


"Akhirnya aku tau cara menghadapi para siluman!" Dewa Rencong tertawa puas.


Mereka semua tidak mengira dengan pertarungan ini justru membantu mengungkap rahasia untuk mengalahkan para siluman yang katanya tidak bisa dibunuh itu. Walaupun siluman yang menyerang kali ini berumur dibawah seribu tahun, tetapi keberhasilan mereka sebuah pencapaian yang mengagumkan. Sebab sebelumnya tidak ada yang berhasil membunuh para siluman.


"Luar biasa paman pen...!"


Braak!


Belum selesai Suro berbicara tiba-tiba tanah yang dia pijak terbelah dan sesuatu sosok tangan telah menarik tubuhnya kedalam tanah dengan sangat cepat.


"Naik semua ke atas pohon!" Dewa Rencong segera memerintahkan Mahadewi dan Made Pasek begitu melihat Suro tenggelam masuk kedalam tanah. Jarak antara mereka dengan Suro tidak lebih dari dua tombak, tetapi mereka tidak bisa memastikan makhluk apa yang membuat Suro tenggelam ke dalam tanah.


Dewa Rencong segera menyadari adanya bahaya besar yang bersembunyi didalam tanah. Jika tidak segera menghindar naik keatas pohon akibatnya bisa sangat fatal. Sebab jika makhluk itu berhasil menyeret mereka ke dalam tanah, itu artinya selesai sudah riwayat mereka, karena telah terkubur hidup-hidup.


"Apakah kakang baik-baik saja paman pendekar?" Mahadewi terlihat begitu cemas melihat Suro yang menghilang masuk ke dalam tanah.


Mereka semua telah berada diatas pohon sambil menatap ke bawah dimana Suro menghilang.


"Tenang saja, agaknya makhluk yang menarik nakmas Suro salah memilih korban. Dia pikir bocah gemblung itu lebih lemah dariku. Karena tidak ada yang memiliki Jurus perubahan bumi sebaik dirinya."


Mereka hanya bisa menunggu hingga kemudian mendadak tanah mulai bergetar.


Duuuum!


Bersamaan dengan suara keras yang meledakkan permukaan tanah Suro muncul dari kedalaman tanah, tetapi dia tidak muncul sendirian. Dia berhasil menyeret keluar beberapa makhluk dari dalam tanah. Dia melemparkan para makhluk itu ke atas bersama lontaran tanah yang naik dengan cepat, setinggi hampir tiga tombak.


Makhluk yang menyerupai manusia separuh tikus tanah itu terkejut bukan main. Sebelum siluman itu selesai dengan keterkejutannya pancaran energi chakra yang muncul dari jari telunjuk Suro telah membabat habis empat tubuh siluman itu.


"Apakah masih ada makhluk seperti itu didalam tanah kakang?" Mahadewi ragu-ragu untuk ikut turun dari atas pohon mengikuti Dewa Rencong dan Made Pasek. Sebab mereka berdua langsung turun begitu Suro selesai menghabisi seluruh makhluk yang barusan dipaksa keluar dari dalam tanah.


Mahadewi sebelumnya bahkan sampai menjerit-jerit begitu keras, saat dia melihat ada makhluk mirip tikus tanah yang berukuran sebesar manusia muncul dari dalam tanah bersama kemunculan Suro.


"Sudah tidak ada, adinda. Silahkan segera turun dari pohon. Awas hati-hati adinda biasanya diatas pohon klampok tikus juga banyak bersarang. Didekat tangan adinda itu kelihatannya sebuah sarang tikus."


Suro tertawa lebar melihat Mahadewi berteriak-teriak keras setelah mendengar penjelasannya. Dia segera melompat ke bawah. Tetapi dia kembali berteriak lebih keras sebab disampingnya tubuh siluman tikus yang sekarat bergerak-gerak seakan hendak mencakar kakinya.


Dia segera meloncat menjauh dari mayat siluman yang tersebar di beberapa tempat itu.


"Benar kakang sudah tidak ada makhluk seperti itu dari dalam tanah?" Mahadewi bertanya sambil menutup matanya dengan kedua belah tangannya.


"Seharusnya sudah tidak ada."


"Berarti kemungkinan masih ada?" Mahadewi bersiap-siap meloncat kembali ke atas.


"Sudah tidak ada, adindaaaa. Kakang pastikan sudah tidak ada, jadi adinda tidak perlu kembali meloncat ke atas pohon."


"Siluman apa lagi ini paman? Aku baru pertama kali melihatnya." Suro menoleh ke arah Dewa Rencong yang masih terkagum-kagum dengan kemampuannya sendiri setelah berhasil menghabisi siluman.


"Biasanya dia akan memangsa manusia dengan cara seperti yang dilakukan pada nakmas barusan. Lihatlah gigi yang dimilikinya tidak menyerupai seekor tikus tetapi lebih mirip gigi buaya. Katanya mereka menghisap energi kehidupan manusia dari umbun-umbun."


"Semakin banyak saja musuh yang kita hadapi paman. Bukan saja para manusia bahkan para siluman juga ikut serta mencoba menghentikan perjalanan kita."


"Sejak awal paman sudah menduga ini akan terjadi. Tetapi dengan ini justru kita bisa mengetahui cara menghadapi para siluman ini. Walaupun tidak setiap orang bisa melakukannya. Karena memang untuk membuat pancaran energi yang seperti nakmas lakukan melalui Jurus Tapak Dewa Matahari hanya bisa dilakukan seseorang yang minimal telah mencapai tahap pedang langit."


Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju perkampungan berikutnya sebelum sampai ke Kademangan Kalinyamat. Setelah menempuh perjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di perkampungan yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan perkampungan sebelumnya. Bahkan sampai perkampungan keempat kondisi juga masih tetap sama tidak ada siapapun yang bisa ditemui.


Kampung itu juga telah ditinggalkan penduduknya. Sepertinya mereka telah mengungsi bersama harta yang mereka punya termasuk bintang ternak yang mereka miliki.


Akhirnya mereka memutuskan kembali berlari menggunakan jurus meringankan tubuh seperti sebelumnya agar lebih cepat sampai.


Kali ini Suro mendahului mereka semua setelah dari jauh hidungnya merasakan bau masakan. Karena memang sekarang mereka hampir sampai dipinggiran kota kademangan Kalinyamat. Suro berlari paling depan meskipun dengan beban besar dipunggungnya.


'Seberapa kuat sebenarnya fisik bocah ini? Dia dari semalam berlari bukan tambah lemas sekarang malah berubah bertambah semangat seiring dengan sinar matahari yang semakin menyengat.' Dewa Rencong yang memandangi Suro dari kejauhan merasa kagum dengan ketahanan fisik yang dimiliki Suro.


Dewa Rencong tidak mengetahui bahwa begitu matahari muncul Suro merasa kembali begitu bertenaga. Kekuatan matahari yang meresap ke dalam tubuhnya terasa begitu melimpah. Tetapi dengan kondisi itu masih belum menghilangkan rasa laparnya yang sejak pagi dia tahan. Apalagi sekarang matahari sudah mulai condong ke barat.


Setelah mendekati kota Kademangan mereka kembali berjalan seperti biasanya. Agar tidak menarik perhatian para penduduk yang melihatnya.


Di kejauhan Suro terlihat berbincang-bincang dengan seorang penduduk.


"Paman pendekar ada warung makanan yang buka! Aku duluan paman perutku sudah tidak tahan!" Suro berteriak ke arah mereka bertiga. Kemudian tanpa menunggu yang lain dia kembali berlari menuju warung makanan yang telah ditunjukan arahnya oleh penduduk yang barusan dia tanya.


"Bocah gemblung bukan menunggu yang lain sampai malah lari duluan!" Dewa Rencong meruntuk kesal karena Suro tidak mau menunggu mereka jalan beriringan.


"Dipikir-pikir kalian ini sudah tidak membawa beban masih saja kalah dengan bocah gemblung itu!" Mahadewi dan Made Pasek yang berjalan dikanan dan kiri Dewa Rencong hanya bisa mengaruk-garuk kepalanya karena telah menjadi sasaran kekesalannya kepada Suro.


"Dan kamu juga sejak semalam masih saja jalannya seperti keong! Lihat bocah gemblung dengan beban sebesar gajah masih saja jalannya bisa secepat itu seperti kucing habis disiram air." Kali ini yang dipelototi adalah Made Pasek yang memang praktek ilmu meringankan tubuhnya paling rendah membuat nafasnya mau putus mengejar ketertinggalan. Beruntungnya Suro memilih menemani dirinya sepanjang perjalanannya menembus hutan.


Made Pasek yang dipelototin Dewa Rencong hanya bisa menunduk tidak berani menatap balik ke arah Pendekar yang ada disampingnya itu.


Suro sudah hilang entah kemana yang mereka tau dia menuju warung makanan yang buka paling dekat.


Beberapa kali Dewa Rencong bertanya kepada para penduduk yang ditemui tentang kondisi beberapa perkampungan yang barusan mereka lewati. Dari cerita yang didapat, mereka para penduduk memang telah mengungsi kekota kademangan sejak beberapa hari yang lalu.


Selain trauma mereka terhadap serangan siluman, mereka juga mendapatkan perintah dari Ki Demang Kalinyamat untuk mengungsi ke kota kademangan sampai dirasa aman dari serangan para siluman.


Setelah bertanya disana sini akhirnya mereka sampai di depan warung makanan yang lumayan besar.


Dewa Rencong sudah merasakan bahaya sejak dia mendekati warung makanan itu. Sebab selain banyaknya anggota Perguruan Ular Hitam dia juga melihat pakaian yang biasa digunakan anggota Perguruan Sembilan selaksa Racun. Dan juga perguruan aliran hitam lainnya.


"Kalian waspadalah, mereka yang berada didepan warung adalah para anggota Perguruan aliran hitam. Tetapi ada yang perlu lebih kalian waspadai adalah para anggota Sembilan selaksa racun yang bersama mereka. Mereka yang berpakaian hijau gelap. Mereka semua adalah ahli racun. Kemampuan mereka itu sangat merepotkan, meskipun ilmu bela dirinya tidak terlalu tinggi." Melihat gelagat kurang bersahabat dari jauh Dewa Rencong sudah mengingatkan kepada Mahadewi dan Made Pasek untuk lebih waspada dan bersiap sewaktu-waktu pertempuran pecah diantara mereka.


"Kemana bocah gemblung itu?"


"Agaknya dia sudah ada didalam warung paman!" Made Pasek yang menjawab pertanyaan Dewa Rencong.


Memang benar si Suro setelah sampai di warung segera memesan banyak makanan. Dia sudah tidak memperdulikan mata-mata pengunjung yang sejak tadi memperhatikannya dengan begitu tajam. Pikirannya sudah dipenuhi dengan bau makanan yang sudah dihadapannya itu.


Sepuluh orang yang berada diseberang meja menatapnya seperti mengenal dirinya. Sambil berbisik-bisik pelan.


Berbeda dengan delapan orang yang memiliki tampang begitu menyeramkan. Mereka menatap Suro dengan penuh curiga. Pakaian yang mereka gunakan memiliki earna yang senada yaitu hijau gelap.


Suro sudah terlalu sibuk dengan makanan yang menggunung didepannya. Agaknya dia sedikit trauma dengan kejadian yang sudah lama. Saat dia berakhir pingsan karena kelaparan. Semua itu gara-gara dia berlari selama hampir tiga hari dua malam bersama Eyang Sindurogo yang akhirnya justru mempertemukannya dengan Kolo Weling.


Dia begitu menikmati makanan yang ada didepanya. Bahkan saat dia mendengar pertarungan di luarpun dia belum juga menghentikan kegiatannya itu. Baru setelah dia mendengar suara Mahadewi berteriak memangil namanya dia langsung meloncat keluar menuju asal suara yang berada ditengah pertempuran.


Pertarungan diluar adalah antara Dewa Rencong bersama Mahadewi dan Made Pasek melawan beberapa puluh anggota berbagai Perguruan dari aliran hitam.


Sebelumnya Dewa Rencong sudah memastikan kemungkinan warung yang dituju adalah apa yang ada didepan mereka. Walau dengan agak ragu akhirnya mereka terpaksa berjalan menuju ke arah warung itu. Karena Suro sudah terlanjur berada didalam warung.


Diluar dugaan saat Dewa Rencong melangkahkan kakinya menuju warung seseorang telah mengenalinya dan menahan langkahnya lebih jauh.


"Dewa Rencong! Aku tidak mengira akan bertemu dirimu disini!" Seseorang dengan tampang yang gahar dengan kumis melintang dengan begitu tebal berdiri menghalangi langkah Dewa Rencong.


"Bagus jika kalian telah mengenali diriku! Sekarang menyingkirlah kalian dari hadapanku!"


"Agaknya aku sudah menemukan pelaku dibalik kabar yang sudah menyebar tentang pendekar yang berhasil membunuh para siluman. Aku yakin pendekar itu adalah dirimu? Keberuntunganku agaknya berpihak padaku tanpa susah-susah mencari akhirnya engkau telah datang ke hadapanku!" Lelaki itu berbicara sambil memilin-milin kumisnya yang panjang. Matanya semakin melotot begitu mendengar Dewa Rencong mengusir dirinya dari hadapan dia karena telah menutupi jalan mereka bertiga.