SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 260 Kembalinya Eyang Sindurogo part 3



"Dimana eyang guru, Geho sama?"


"Kalian berdua sama-sama gendeng. Gurumu masih nangkring di atas tidak mau lepas dari betinanya!" Suro mendapat jawaban dari Geho sama dengan nada penuh kekesalan ikut kebingungan. Dia tidak sempat menggaruk-garuk kepalanya karena dia harus menghindari sebuah kepalan tangan raksasa menghantam tempat dimana dia sebelumnya berdiri.


Suro telah lenyap dan muncul kembali ditempat lain. Dia kembali berbicara dengan Geho sama yang menyusul dirinya.


"Mengenai ilmu sihir yang sebelumnya telah aku katakan padamu, sebaiknya kita urus nanti saja. Saat ini kita hadapi musuh yang kini sudah mengepung." Suro tidak melanjutkan kalimatnya, karena dia mencoba menyerang Batara Antaga dengan Mahanaga Taksaka.


Namun karena adanya katak seribu lengan membuat Suro kesulitan menyerang Batara Antaga. Tubuh Maha Naga Taksaka dihantam berpuluh-puluh tangan sebesar gajah, membuat tubuhnya yang berupa magma berhamburan seperti bunga api. Tubuh naga itu terpental mundur.


Dia cukup kerepotan menghindari serangan musuh, karena secara bersamaan lengan makhluk yang mirip katak itu terus menghujani dirinya. Selain itu terjangan rantai yang bergerak terus memburunya. Beruntung dia memiliki jurus Langkah Maya. Sehingga semua serangan musuh itu tidak ada yang mengenainya.


Semua serangan yang dilesatkan makhluk raksasa itu bukan halangan bagi Suro, tetapi tidak bagi yang lain. Sebab saat lengan dan rantai menghujani dirinya, maka serangan yang serupa telah menghancurkan pasukan perguruan. Hantaman tangan sebesar gajah tentu bukan sesuatu yang mampu diterima oleh manusia biasa.


Apalagi rantai milik Batara Antaga yang sangat rumit itu sangat susah dilepaskan jika sudah terkena. Karena itu korban dari rantai itu semakin bertambah banyak, dan Suro tidak ada kesempatan lagi untuk menyelamatkan mereka yang kini justru menjadi bagian pasukan kegelapan.


Karena alasan itulah mereka yang dibawah kekuatan tingkat shakti diperintahkan Dewa Pedang untuk segera menjauh sejauh mungkin dari serangan Batara Antaga.


Walaupun saat ini sebenarnya Batara Antaga sedang dibuat sibuk oleh jurus pedang terbang Suro dan juga pengerahan Maha Naga Taksaka, namun rantai yang keluar dari tubuhnya seperti memiliki pikirannya sendiri.


Dewa Pedang dan Dewa Rencong terlihat masih sibuk menghadapi tiga manusia bertanduk yang memiliki kekuatan tenaga dalam tingkat langit. Mereka berdua bertarung dengan cukup kompak. Dengan kerjasama itulah mereka dapat menhan kekuatan lawan yang juga sama-sama memiliki kekuatan tenaga dalam tingkat langit.


Mereka cukup bersyukur beban mereka berkurang banyak, sebab serangan Suro sebelumnya telah menghabisi beberapa manusia bertanduk yang juga memiliki kekuatan tingkat langit.


Digaris terdepan Suro terus mencoba menahan gerak dari Batara Antaga. Kali ini dia bertarung bersama Geho sama. Mereka berdua mencoba mengalahkan Batara Antaga dan juga katak seribu lengan.


"Aku akan menghadapi manusia yang berdiri di atas kepala makhluk raksasa itu. Dan dirimu habisi makhluk seperti seekor katak itu. Aku pernah melawan makhluk itu, namun kali ini aku merasakan kekuatannya terasa berbeda! Jadi berhati-hatilah Geho sama."


Saat Suro hendak melesat Geho sama menahan tangan Suro.


"Sebaiknya gunakan bilah pedang ini tuanku." Geho sama menunjukan bilah pedang yang dia ambil dari perguruan milik Batara Karang.


Bilah pedang yang dibawa Geho sama membuat mata Suro terpana.


"Luar biasa kamu Geho sama, tahu saja aku menyukai bilah pedang dengan kwalitas sebagus ini."


Geho sama tersenyum lebar melihat Suro menyukai oleh-oleh yang dia suka. Dia sepertinya sudah melupakan kekesalannya. Bilah pedang yang dibawa Geho sama langsung digunakan oleh Suro. Bilah-bilah pedang itu melesat menerjang ke arah Batara Antaga menemani tiga puluh pedang milik Suro yang sedang berseliweran mengepung musuhnya.


Trang! Trang! Trang!


Senjata milik Batara Antaga bernama Sang Chandra Suci segera menghalau seluruh bilah pedang milik Suro. Pusaka itu berputar disekitaran tubuh tuannya dengan sangat cepat dan hanya terlihat kilasan-kilasannya saja.


Rantai Pemasung jiwa yang bergerak dengan bebas tidak dapat menangkap tubuh Suro yang menghilang dan muncul ditempat berbeda. Batara Antaga sendiri mengakui sejak awal pertarungannya, jika jurus Langkah Maya milik Geho sama sangat menyulitkannya.


Pantas saja Geho sama mampu merajai dunia persilatan dengan jurus itu, selain jurus empat Sage yang sangat menakutkan. Kali ini jurus Langkah Maya kembali di uji kehebatannya untuk menghadapi Batara Antaga. Hasilnya dia dibuat kerepotan melawan pemuda tanggung itu.


Dia bertempur bersama Geho sama begitu kompak karena memang mereka berbagi kesadaran, sehingga semakin memudahkan mereka untuk berkerjasama.


Mendengar peringatan Geho sama barusan membuat Suro membatalkan niatnya untuk mendatangkan Purbangkara.


Seperti juga Suro, dalam menyerang Geho sama menggunakan jurus Langkah Maya. Gerakannya yang tidak dapat diprediksi akhirnya berhasil menyerang katak seribu lengan.


Saat dia telah menembus tubuh makhluk sihir itu, maka dia segera memulai tehnik sihir miliknya dan juga ilmu empat Sage dia hendak menghancurkan atau minimal melemahkan makhluk berbentuk mirip katak tersebut.


"Siluman sialan kau sekarang menjadi budak manusia!" Batara Antaga menggeram penuh kemurkaan mengetahui ilmu sihirnya dapat dipatahkan oleh Geho sama.


Sebab katak seribu lengan yang wujudnya awalnya sebesar setengah bukit, kini kekuatannya amblas dan juga ukurannya dengan cepat menyusut jauh lebih kecil.


"Jangan banyak mulut Togog, aku tau kekuatan dewamu masih disegel. Jadi bersiaplah ini adalah hari kematianmu!"


Setelah berhasil menghabisi makhluk berwujud Katak raksasa dengan tehnik empat Sage dan juga kekuatan sihir yang dikuasainya, Geho sama langsung bergerak membantu Suro menyerang Batara Antaga.


Serangan Suro yang berupa pedang terbang dengan jumlah yang sudah berpuluh-puluh akhirnya mampu menembus pertahanan pusaka Sang Chandra Suci.


Meskipun gabungan pusaka yang memiliki bentuk seperti bulan sabit dan tombak pendek ditangan kanan merupakan pelindung yang sangat kokoh, namun jurus pedang milik Suro bergerak bagaikan kilat.


Pertahanan jurus milik Batara Antaga yang begitu kokoh dapat dikalahkan, karena gabungan kekuatan jurusnya bersama Geho sama. Selain itu hantaman jurus Telunjuk Dewa Mencari Kebenaran yang meledak-ledak telah berhasil mengacaukan konsentrasi Batara Antaga.


Hanya saja lawan mereka adalah makhluk yang tidak bisa dibunuh hanya dengan luka sabetan maupun tusukan.


"Sialan! Aku Batara Antaga yang telah hidup beribu-ribu tahun bagaimana mungkin dipecundangi oleh bocah ingusan dan makhluk setengah siluman sialan ini?" Batara Antaga seluruh tubuhnya bermandikan darah giginya bergemeletuk menahan kemarahannya yang sudah memuncak.


Mendengar makian Batara Antaga yang penuh kemarahan, menyulut dendam dari Geho sama. Dia berteriak keras mencoba melampiaskan kemarahannya juga terhadap Batara Antaga sejak lama.


"Benar akulah Geho sama yang dikenal sebagai raja dari ribuan siluman, meskipun kini aku telah terlahir kembali dengan memiliki takdir sebagai hamba seorang manusia sinting, tetapi akulah yang akan mencabut nyawamu makhluk sialan!"


Suro mendengar makian Geho sama menggaruk-garuk kepala "kenapa aku dibawa-bawa?"


'Burung emprit si..!' Lodra yang akan membalas makian Geho sama kali ini terpaksa dihentikan oleh Suro untuk tidak melanjutkan ucapannya, karena kali ini Geho sama sedang marah besar. Suro juga tidak mau kalah, dia justru ikut berteriak mengikuti ucapan Geho sama.


"Dan akulah Suro Bledek yang terlahir belum lama. Aku tidak sinting mungkin sedikit gemblung!" Suara Suro tidak kalah dengan Geho sama maupun Batara Antaga, karena dia juga melambari dengan tenaga dalam. Suro berhenti sejenak sebelum meneruskan kembali ucapannya. Agaknya dia sedang memikirkan sesuatu ucapan yang pas.


"Dan akulah yang akan membantu burung emprit untuk merubahmu menjadi rempeyek!" Suro menutup ucapannya sambil menahan tawa.


Dewa Pedang yang berhasil memukul mundur musuhnya sampai memicingkan mata karena mendengar ucapan Suro yang begitu keras.


"Hahahaha..! Bocah gemblung ini, apa memang dia itu tidak punya rasa takut? Perasaanku saja atau memang benar, jika bocah ini sebenarnya gemblung beneran karena keberatan ilmu? Tingkahnya ini seperti tidak peduli, meski musuhnya begitu kuat?" Dewa Rencong yang berada disamping Dewa Pedang langsung tertawa setelah mendengar ucapan Suro.


Setelah suara tawa Suro yang berusaha ditahan, mendadak sesosok manusia muncul dari atas Batara Antaga dengan sesuatu yang menyilaukan mata ditelapak tangannya.


"Dan akulah guru si gemblung yang menjadikanmu rempeyek gosong!"


"Duuuuuum!"