
Dewa Kegelapan setelah berhasil menyerap kekuatannya segera meninggalkan alam kegelapan. Walau dalam kejadian itu, karena adanya Suro seluruh kekuatannya tidak berhasil dia serap secara sempurna.
Namun kini dia telah berubah menjadi kuat berkali lipat. Bahkan kekuatannya itu bisa dikatakan hampir setara dengan kekuatan para dewa kelas bawah.
Setelah dari alam kegelapan, dia lalu pergi menuju suatu tempat yang dipercaya sebagai penjara bagi sesosok yang dulu namanya mampu mengegerkan tiga dunia. Tempat itu adalah sebuah gunung yang memang digunakan untuk menghimpit tubuh sesosok makluk yang dicari.
Walaupun sosok yang hendak dia temui itu telah dipenjara dengan cara dihimpit gunung selama puluhan ribu tahun, namun itu tidak mampu membunuhnya dengan sempurna.
Dewa Kegelapan percaya jika sosok yang dia cari itu tetap hidup, minimal nyawanya masih mampu dia hidupkan kembali, jika seandainya wadaknya atau raganya tidak mampu lagi dia selamatkan.
Dewa Kegelapan yang hendak menyerang Khayangan Jongring Salaka harus mencari sekutu yang kuat. Terutama karena kekuatannya tidak berhasil dia miliki seutuhnya.
Tentu rencana menyerang istana para dewa itu harus didukung kekuatan lain. Apalagi sebenarnya tujuannya adalah menguasai seluruh jagad atau menguasai tiga dunia.
Karena itulah salah satu sosok yang hendak dia jadikan bagian dari pasukannya adalah sesosok yang tubuhnya sekarang sedang ditimpa gunung didepan matanya. Sebab sosok itu dulu pernah menjadi penguasa tiga dunia.
Apalagi sosok itu juga dipercaya telah mendapatkan janji dari Sang Hyang Batara Brahma. Janjinya itu adalah, jika dia adalah sosok tersakiti, terkuat dan yang tidak tertandingi kekuatannya diseluruh jagat raya.
Tidak akan ada yang mampu mengalahkannya diseluruh jagat. Dia meminta agar tidak ada yang mampu mengalahkan baik itu dari bangsa dewa, raksasa, gandarwa atau bangsa siluman dan juga dari bangsa manusia.
"Akhirnya aku sampai di Gunung Kendali Sada."
Belum sempat Dewa Kegelapan mendekati gunung yang menjulang tinggi didepannya, mendadak sesosok muncul.
"Siapa kah kau kisanak datang ke gunung Kendali Sada ini?" Seekor kera putih yang dapat berbicara telah berada didepan Dewa Kegelapan untuk menghadang jalannya.
"Hanoman putra Sang Hyang Batara Guru, anak angkat dan murid dari Sang Hyang Batara Bayu." Dewa Kegelapan tersenyum, karena dia mengenali siapa wujud dibalik sosok kera kecil yang muncul dihadapannya itu.
"Bagaimana kisanak mengetahuiku, padahal aku tidak berbicara sepatah katapun?" Kera putih yang berpakaian selayaknya seorang pertapa itu terkejut mendengar ucapan Dewa kegelapan.
"Mataku ini adalah mata nujum yang mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Bersama kedatanganku ini, maka inilah hari terakhir bagimu untuk dapat melihat dunia."
"Ternyata begitu hanya satu makhluk yang memiliki mata nujum seperti milik kisanak. Sosok yang telah dijanjikan kepadaku untuk mengakhiri tugasku. Sepertinya hari ini adalah hari yang telah aku tunggu. Akhirnya tugasku akan sempurna." Kera putih yang bernama Hanoman justru tersenyum mendengar ucapan Dewa Kegelapan.
"Hahahaha...kewaskitaanmu tentang apa yang akan terjadi ternyata tidak berkurang Hanoman." Dewa Kegelapan tertawa jumawa dengan suaranya yang dilambari tenaga dalamnya yang begitu kuat.
"Jika kau sudah mengetahui kematianmu berada di tanganku, maka lebih baik kau jangan pernah menghalangi diriku untuk membebaskan prabu Godakumara, sesegera mungkin!"
"Aku adalah ksatria yang tidak akan lari dari tanggung jawabku. Ini adalah takdir yang harus aku jalani, meski nyawa ini akan lepas dari jasadku.
"Hanoman tetaplah Hanoman, tetapi ini juga memang sudah menjadi jangkamu, takdir yang harus kau lalui, yaitu harus mati ditanganku!"
Pertarungan dua makhluk itu berlangsung selama berhari-hari. Hanoman atau juga disebut Anoman memiliki beberapa nama diantaranya adalah Hanumat.
Juga disebut sebagai Anjaneya, karena dia lahir dari Dewi Anjani. Marutsutha dan
Bayusutha, Senggama, Ciranjiwin, Palwagesta, Ramandayapati.
Dia juga mendapatkan julukan yang diberikan oleh para dewa, antara lain Yudawisma yang berarti panglima perang. Dia juga mendapat gelar Handayapati yang artinya mempunyai kekuatan yang sangat besar.
Hanoman juga mendapat julukan Mayangkara atau roh suci. Ini adalah julukan baginya setelah menjadi pertapa di Kendali Sada.
Hanuman yang berada di gunung Kendali Sada adalah karena menjalankan perintah dewa. Dan karena perintah itu, maka dia dianugerahi umur yang sangat panjang.
Bahkan karena begitu panjangnya umur yang dimilikinya, membuat Hanoman sampai bosan untuk hidup lebih lama. Maka dia berdoa kepada para Dewata untuk membiarkan dirinya mati.
Kemudian para dewa mengabulkan doanya dengan diberikan tanda-tandanya, yaitu jika datang seseorang yang hendak melepaskan sosok yang terus dia jaga agar tidak lepas dari kurungan Gunung Kendali Sada itu.
Sosok yang di jaga itu memiliki nama yang banyak, karena tubuhnya dihimpit gunung, maka sosok itu hanya berupa Sukma yang berjuluk Prabu Gondakumara.
Tetapi dulu sosok itu memiliki nama yang banyak. Salah satu nama yang dikenal luas adalah Rahwana raja dari Alengkadiraja. Raja para raksasa yang kesaktiannya tiada duanya.
Dulu saat peperangan Rahwana melawan Rama Wijaya, sebenarnya Rahwana tidak berhasil dibunuh secara sempurna. Bahkan setiap kali senjata Rama Wijaya mengenai Rahwana, maka makhluk itu dapat bangkit kembali.
Meskipun tubuhnya hancur, maka akan segera pulih seakan sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Dia tetap dapat kembali bangun sekuat apapun senjata yang digunakan untuk menghantam dirinya.
Semua itu terjadi berkat ajian Rawa Rontek dan ajian Pancasona yang dimiliki Rahwana. Karena itu adalah janji dari Sang Hyang Batara Brahma, jika tidak akan ada golongan Dewa, gandarwa, raksasa maupun manusia yang mampu mengalahkannya.
Karena itulah untuk mengalahkan Rawana dalam pertempuran itu Raden Rama Wijaya meminta pertolongan Hanoman. Sebab dia tidak masuk dalam golongan yang dijanjikan.
Pada akhir pertarungan setelah Rama Wijaya berhasil menghunjamkan panah Brahmasta ke dada Rahwana, maka dari atas langit Hanoman segera menghantamkan gunung Kendali Sada menimpa Rahwana. Akhirnya dalam pertempuran itu Rahwana berhasil dibuat seperti orang yang sedang sekarat, yaitu seperti orang yang dalam kondisi antara hidup dan mati. Hidup tidak, mati pun juga tidak.
Walaupun tubuhnya telah dihimpit oleh gunung Kendali Sada, Rahwana tetap tidak mati secara sempurna. Bahkan setelah puluhan ribu tahun, kadangkala Kumoro atau Sukma dari Rahwana sering keluar dari jasadnya. Lalu merasuki manusia dan berprilaku seperti saat dia masih hidup untuk membuat kerusakan dibumi.
Karena itulah Hanoman menjaga gunung Kendali Sada, agar dapat mencegah sukma Rahwana keluar dan membuat kerusakan dibumi. Dia terus bertapa ditempat itu tanpa batas waktu.