SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 215 Hancurnya Wilmana



"Hahahaha...! Aku tidak perlu mencuri jika hanya ingin mengetahui jurus milikmu! Karena aku sudah menghafal seluruh isi dari kitab dewa racun. Aku hanya ingin mencoba penawar racun yang aku buat, memang sudah benar atau belum. Ternyata apa yang telah kami buat memang ampuh untuk menawarkan semua racunmu."


"Setan alas bagaimana kau mampu memiliki pusaka Perguruan Racun Neraka?"


"Dengan cara membumi hanguskan perguruanmu!"


"Tidak mungkin, tidak ada yang berani macam-macam di dalam perguruan kami. Bahkan pasukan Kalingga saja tidak berani mendekati perguruanku. Naga Vritria akan menghabisi siapapun yang berani mengganggu!"


"Maksudmu siluman ular pengguna perubahan air racun? Dia sudah aku bakar habis tanpa menyisahkan apapun dari tubuhnya!"


"Tidak mungkin itu terjadi!"


"Aku tidak perlu memintamu percaya nenek sihir!"


"Kurang ajar?"


Sesaat sebelum wanita belia itu mengerahkan jurusnya, Suro telah melesatkan serangan ke arahnya. Jurus itu adalah tapak selaksa dewa racun, hanya saja kali ini dia menggunakan racun yang dibuat oleh Tohjaya.


"Racun apa yang kau gunakan?" Tiga jarum kristal es berhasil menancap dibeberapa bagian vital tubuhnya. Salah satunya melesat menembus jantungnya.


Wanita itu memiliki ilmu sesat yang membuatnya tidak mati meski jantungnya telah tertembus oleh jarum es beracun. Namun Dukun sesat itu dalam beberapa saat seperti limbung. kesadarannya mungkin sedikit hilang.


Kesempatan itu digunakan Suro untuk mengakhiri riwayatnya selama-lamanya. Naga Taksaka langsung menelan tubuhnya dalam kobaran api hitam. Setelah selesai menghabisi Dukun sesat api hitam itu ditarik kembali oleh Suro


Dia kemudian melesat menuju ke arah Dewa Rencong. Pendekar dari Swarnabhumi itu meski sedang dikeroyok tiga orang yang sama-sama pada tingkat langit masih dapat mengimbangi serangan lawannya.


Serangan dua tetua ular dan juga jurus tongkat milik seseorang yang menyebut dirinya murid Jerangkong dari jurang neraka mengepung Dewa Rencong.


"Apakah perlu saya bantu paman?" Suara Suro yang berada diatas Dewa Rencong tentu membuat tiga orang yang mengepung terkejut.


Mereka bertiga segera mencari sosok Dukun sesat yang menjadi lawan Suro sebelumnya. Mereka bahkan harus mundur dan menghentikan serangan untuk memastikan keberadaan Dukun sesat. Tetapi sampai mata mereka sakit karena mencoba mencari dalam suasana malam, mereka tetap tidak menemukan sosok yang dicari.


Pertempuran antara Suro dan Dukun sesat memang terpaut jarak yang cukup jauh. Hal itu dikarenakan Dewa Rencong memang menghindari serangan racun yang dikerahkan dalam pertempuran mereka berdua. Jarak yang cukup jauh, selain itu serangan petir milik Dewa Rencong cukup membuat mereka sibuk, sehingga tidak mengetahui akhir riwayat dari legenda ahli racun itu.


"Jika kalian mencari Dukun sesat, tubuhnya sudah aku musnahkan? Aku juga mengetahui jika tubuh kalian tidak mudah untuk dibunuh. Tetapi aku yakinkan kepada kalian, bahwa aku juga sanggub menghabisi kalian seperti aku berhasil menghabisi rekan kalian.'


Mereka tidak mempercayai hal itu begitu saja, apalagi yang membunuh hanyalah pemuda belia.


"Serang bocah itu!"


Sebelum mereka menyerang Suro, sosok lain justru melesatkan kekuatan petir ke arah mereka bertiga.


Bldaaar! Bldaar! Bldaar!


Kilat petir yang tidak mampu mereka hindari, mereka langsung sibuk menahan datangnya serangan itu. Tongkat iblis langsung menahan kilat petir dengan menghantamkan pusaka iblis miliknya. Dia terpental dan meluncur cepat ke bawah sebelum menguasai tubuhnya dan kembali melesat ke atas untuk menangkap tubuh dua tetua ular.


Sebab dua tetua ular itu sedikit kurang beruntung. Pusaka milik mereka yang sejak awal pertarungan digunakan untuk menahan serangan kilat petir dari Dewa Rencong, akhirnya hancur. Tubuh mereka kemudian terhantam dan terpental cukup jauh.


Sebelum Dewa Rencong memberikan serangan susulan ke arah mereka, tiga orang itu telah melesat menjauh dan kembali ke arah wilmana.


"Paman sebaiknya kita serang mereka sekarang. Seperti rencana awal kita sebelumnya Suro akan mengerahkan jurus Dewa Matahari Menampakkan Wujudnya."


"Kali ini Suro yakin mampu mengerahkan jurus itu tanpa bantuan paman. Keberadaan laghima yang seakan lautan ini akan sangat membantuku."


Suro tertawa mendengar ucapan Dewa Rencong.


"Tenang paman, itu tidak akan terjadi. Aku akan menggabungkan tehnik empat Sage dalam jurusku kali ini. Cakupannya akan sangat luas. Suro akan menyerang dari arah yang berseberangan dari sini yang kondisi laghima masih sangat padat. Karena disini sudah menipis setelah aku serap tadi."


"Selain itu aku yakin, mereka para makhluk kegelapan akan menganggap serangan hanya berasal dari arah sini. Karena itu Suro meminta paman mengalihkan perhatian mereka. Sebentar lagi mereka pasti akan berdatangan ke arah sini. Waktu yang sebentar itu akan Suro manfaatkan untuk menghimpun kekuatan dengan menyerap laghima. Kemudian Suro akan menghancurkan wilmana itu."


Dewa Rencong kemudian mengangguk mendengar penjelasan Suro. Setelah mendapatkan persetujuan Dewa Rencong Suro lalu mengerahkan langkah semu miliknya.


Langkah semu atau juga kadang disebut langkah Maya bergerak dengan menentukkan posisi yang dituju hanya dengan pandangan matanya.


Setelah menentukan posisi yang diinginkan Suro telah menghilang dari samping Dewa Rencong dan muncul diseberang wilmana. Tetapi berjarak cukup jauh dari wilmana, sebab dia akan menyerap laghima sebanyak mungkin sebelum mengerahkan jurus itu.


**


"Apa yang telah kita lakukan tidak akan sia-sia. Kita sudah mendapatkan empat relik kuno. Dengan itu kita akan dapat membebaskan tubuh junjungan Dewa Kegelapan terlebih dahulu. Setelah itu baru kita bebaskan kekuatan milik junjungan. Kemudian yang terakhir adalah keseluruhan jiwa milik junjungan."


"Jika kita melakukan sebaliknya, tidak akan ada yang mampu menampung baik kekuatan maupun jiwa milik junjungan, kecuali raga dari junjungan sendiri."


"Kita akan menuju Jurang Neraka aku sudah menempatkan seseorang yang menjaga tempat itu."


"Sudah hampir seribu tahun jurang itu aku buat agar bisa aku gunakan untuk membebaskan raga Sang Hyang Junjungan. Sesuai dengan perkiraanku sekarang saatnya kita mampu membebaskan Sang Hyang junjungan." Batara Karang berbicara sambil memperlihatkan empat relik kuno dikedua telapak tangannya.


"Benar semua segel telah mulai melemah, sehingga kita bisa mengetahui keberadaan relik kuno disimpan. Sejak lama jika kita tidak memerlukan kekuatan dari kedua belas Ashura pengawal junjungan, pasti kita sudah mampu membebaskannya." Batara Antaga tersenyum melihat relik kuno di tangan Batara Karang.


"Kita bebaskan dulu para ashura. Segera mulai ritual pembebasannya Batara Karang!" Eyang Sindurogo yang duduk di atas singgasana memberi perintah.


Batara Karang kemudian meletakkan empat archa yang memiliki bentuk yang berbeda-beda. Tetapi secara keseluruhan bentuk wajah dari archa seperti para raksasa dengan taring mencuat keluar dari bibirnya.


Archa itu ditempatkan pada sebuah bidang tempat datar yang memiliki susunan gambar garis saling bersilang atau istilahnya adalah dodecagram, atau dua belas bintang berujung. Disetiap ujung bintang itu terdapat sebuah cekungan untuk dudukan Archa.


Setelah itu Batara Karang dan Batara Antaga mulai mengucapkan mantra. Suara mereka mirip lebah yang keluar dari sarangnya. Mereka berdua merapalkan mantra cukup lama. Tidak ada reaksi apapun yang terjadi, sebelum kemudian dari gambar yang berada dilantai itu mulai bersinar.


Sinar yang membentuk dodecagram atau dua belas ujung bintang itu naik satu depa dan mulai berputar. Cahaya yang ditimbulkan bahkan menerangi ruangan itu dengan begitu terang. Setelah itu seluruh relik kuno yang diletakkan di atas pola bergambar dodecagram ikut bersinar kehijauan. Lalu mulai bergetar dengan hebat.


Duuuuuuuuum!!!


Sebelum ritual itu selesai, mendadak suara dentuman sangat keras terdengar. Dentuman itu menghajar wilmana terutama menara yang sedang digunakan mereka untuk melakukan ritual.


Semburat sinar yang terang dan sangat menyilaukan langsung menyeruak masuk. Sinar terang itu juga disertai suhu panas yang sangat tinggi.


Segala hal di ruangan itu berhamburan. Begitu juga keempat archa yang sebelumnya diletakkan dilantai entah telah terlempar kemana. Dinding ruangan itu jebol, sebelum semua juga ikut hancur, hingga tidak tersisa sama sekali.


"Apa yang terjadi?” Batara Karang yang tubuhnya terlempar terlihat murka.


Tetapi dia tidak sempat menahan serangan yang menerjang. Tubuhnya ikut terhantam dengan keras bersama seluruh bagian menara yang lenyap karena telah hancur terkena jurus milik Suro.


Suhu panas dan terjangan kekuatan itu telah menghancurkan bagian tengah dari Wilmana, sehingga membuatnya terbelah menjadi dua. Kobaran api meluluh lantakkan seluruh bagian wilmana yang kini terjun bebas jatuh ke bawah.


"Jurus ini? Setan alas bagaimana bocah itu bisa menyusul ke alam ini? Jangan-jangan dia juga yang telah membebaskan Geho sama?" Kemarahan Batara Karang sudah tidak tertahan.


Dia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Padahal saat itu tubuhnya masih meluncur cepat setelah terhantam jurus yang menghancurkan wilmana, Batara Karang masih mencoba mencari tau apa yang sedang terjadi. Meskipun dia tidak mati oleh kekuatan milik Suro, tetapi api telah menyelimuti seluruh tubuhnya.