
Duuum!
Suara hantaman ekor naga yang muncul dari balik kobaran api hitam membuat kalang-kabut semua orang yang sedang berkumpul direruntuhan kubah yang dibentuk Suro sebelumnya.
"Hancurkan naga itu!"
"Lebur saketi!"
Kembali mereka para tetua menyerang dengan jurus yang sama. Lesatan sinar merah menghajar ke arah ular naga yang kembali menggeliat.
Serangan yang dilakukan para tetua membuat ledakan dahsyat pada tubuh ular itu. Ledakan demi ledakan terus menghajar tubuh ular sehingga terlontar beberapa bagian tubuhnya seperti api pijar saat ledakan digunung berapi
Hal itu bisa terjadi karena bentuk badannya sekarang mirip lelehan magma. Suhu dari api hitam yang sangat tinggi begitu cepat merubahnya menjadi bentuk yang begitu mengerikan.
Semua ledakan itu tidak membuat tubuh ular itu hancur. Walaupun sempat menghentikan gerakan ular yang diselimuti api hitam itu, tetapi hanya berlangsung sebentar. Sekejab kemudian, tubuh ular itu kembali menghajar setiap orang yang menyerangnya.
"Para penggendali air panggil Naga Vritra!"
Naga Vritra dalam legenda adalah sejenis ashura yang menyebabkan kekeringan di seluruh dunia. Kemudian mati ditangan Batara Indra atau Dewa Indra. Naga itu mati setelah terkena senjata Bajra yang mampu mengeluarkan petir yang sangat dahsyat.
Tetapi ini makhluk yang berbeda. Sebab Naga Vritra yang mereka maksud adalah siluman pengendali air yang bentuknya berupa ular yang ukurannya empat kali lipat pohon kelapa. Naga itu memiliki kemampuan mirip para pengamal ilmu racun terkuat, yaitu perubahan air-racun, tetapi kandungan racun yang dia miliki sangatlah kuat. Perbandingannya puluhan atau justru ratusan kali lebih kuat dari pada para ahli racun manapun.
Naga Vritra selama ini menjadi hewan peliharaan perguruan itu. Salah satu alasan mengapa para aliran putih maupun hitam tidak berani mengusik secara terang-terangan, adalah adanya siluman naga pengendali air yang begitu mengerikan.
Begitu juga alasan mengapa begitu banyak gunungan mayat yang menumpuk penuh racun diperguruan itu. Selain digunakan untuk kelinci percobaan, sesungguhnya mayat-mayat itu memang disediakan untuk makanan ular itu.
Untuk membuat kemampuan ular itu semakin mematikan dengan tubuh beracunnya, para tetua sengaja memberikan makanan berupa mayat-mayat yang telah diracuni. Karena itu juga kesukaan ular itu, yaitu memakan hal-hal yang beracun. Semakin beracun, maka ular itu semakin menyukainya.
Untuk memangil siluman ular itu mereka mempersembahkan chakra kuat dari beberapa puluh tetua yang sudah berada ditingkat shakti. Semakin besar chakra yang dipersembahkan, maka ular itu juga semakin besar.
Setelah mengumpulkan chakra pengendalian air yang cukup besar, mendadak air itu mulai bergerak mengeliat dan telah berubah menjadi sosok siluman.
Besarnya hampir dua kali lipat dari Naga Taksaka milik Suro yang berbentuk magma.
Hoaaarrrgh!
Naga itu segera menyerang naga api milik Suro. Semburan dari naga itu berupa cairan yang sangat dingin. Cairan itu bukanlah jenis air, tetapi zat lain yang juga bersifat korosif. Cairan itu selalu mengepulkan asap dingin saat bertemu udara. Bahkan mampu membekukan tubuh manusia dan melumerkannya menjadi seonggok daging dalam sekejab.
Semburan itu mengenai tubuh naga api milik Suro. Tubuhnya yang terbuat dari lelehan api pijar, sekejab langsung retak-retak. Mirip tanah persawahan yang pecah karena musim kemarau.
Duuuum!
Naga taksaka tidak mau kalah, dia segera menghantam lawannya dengan ekor miliknya. Karena begitu kerasnya hantaman itu, membuat lawannya terlempar belasan tombak.
Dua raksasa itu bertarung dengan begitu dahsyat membuat kehancuran di perguruan itu semakin parah. Orang-orang memilih menjauh dari area pertarungan mereka berdua.
"Kemana perginya manusia tadi?" Tohlangkir masih kebingungan dengan sosok Suro yang menghilang.
Tohlangkir dan yang lain terkejut melihat Suro muncul begitu saja dari tanah yang terbelah.
"Makhluk apa sebenarnya kau ini?" Tohlangkir tidak mampu menutupi keterkejutannya.
'Akhirnya siluman terkutuk itu muncul.' Suro menatap Naga Vritra yang sedang bertarung dengan naga miliknya.
Suro tetap penuh kewaspadaan, setelah menyadari musuh secara serentak mulai mendekatinya, meski mereka tidak berani terlalu dekat.
'Aku sedari tadi menyadari keberadaan aura jahat yang tidak aku kenal. Tetapi dari pancaran auranya mirip siluman. Ternyata makhluk ini yang membuat Perguruan Ravun Neraka begitu ditakuti.'
'Memelihara siluman sejahat itu bukan perkara mudah. Aku mengerti sekarang, jadi gunungan mayat yang aku lihat sebelumnya merupakan tumbal yang akan dipersembahan bagi siluman ular itu.'
'Tuan Lodra yang agung, aku tidak menyangka pertarungan ini akan menjadi seperti ini. Apakah jiwa kita bertiga yang bergabung dapat mengendalikan tiga naga taksaka sekaligus.' Meskipun dia sekarang sedang meminta pendapat dari Lodra, namun matanya tetap menatap keseluruh penjuru dengan tetap penuh kewaspadaan.
"Jadi, demi siluman itu kalian mencari tumbal keseluruh pelosok kampung!" Mata Suro menatap ke arah Tohlangkir dengan tajam.
"Aku tidak mengira, kau mampu mengetahui rahasia perguruan ini yang kami tutup serapat mungkin, tanpa butuh waktu yang lama! Aku juga tidak menyangka, jika harus menunjukkan Naga Vritra hanya untuk menghadapi satu bocah sepertimu!" Tohlangkir menjawab dengan tersenyum kecut.
Dia tidak bermimpi sekalipun, jika perguruannya berhasil diobrak-abrik hanya oleh seorang pemuda tanggung.
"Makhluk apa sebenarnya kau ini? Aku mengenali jurus pedang yang kau gunakan dan juga jurus tapak dewa matahari, tetapi jurus berikutnya aku tidak pernah sekalipun mendengar apalagi melihat sebelumnya!"
Suro hanya tersenyum tidak menjawab sepatah kata pun. Karena dia sedang berkonsentrasi mendengarkan perkataan Lodra dan juga sedang mengendalikan Naga Taksaka yang bertarung melawan Naga Vritra.
Meskipun dari jarak yang begitu jauh naga itu masih mampu dikendalikan oleh Suro dengan begitu baik. Entah bagaimana jadinya jika Naga Vritra melawan manusia? Sebab dengan lawannya adalah seekor naga yang bentuk tubuhnya adalah magma, Naga Vritra masih mampu mengimbanginya.
Pengendalian air-es milik siluman itu mampu melindungi tubuhnya dari hawa panas lawannya.
Saat Suro sedang berkonsentrasi mengendalikan Naga Taksaka, suara suitan terdengar berkali-kali. Suro segera meningkatkan kewaspadaannya. Dia merasa suara itu memiliki arti tertentu atau sebuah perintah.
Benar saja sesuai dugaan Suro dari segala arah muncul serangga beracun yang hendak menyerang Suro. Suara dengungan dari ribuan serangga itu segera menyadarkan Suro tentang bahaya yang mendekat.
"Tebasan miring api Lodra!"
Tebasan pedang Suro yang dilambari api hitam ampuh menghalau serbuan serangga beracun yang tidak terhitung jumlahnya. Sebab api hitam segera menghanguskan makhluk-makhluk kecil itu dalam jangkauan serangannya.
"Sungguh sayang serangga yang begitu susah dibesarkan harus mati dengan sia-sia. Lepaskan binatang-binatang beracun untuk menyerang orang itu!" Tohlangkir kembali memberi perintah kepada para anggota perguruannya.
Sekejab kemudian bukan hanya serangga terbang saja yang menyerang Suro, secara bersamaan berduyun-duyun hewan melata dan juga binatang beracun lainnya berebut untuk menyerang Suro.
"Jika kau manusia bagaimana caramu lepas dari serangan kali ini?" Tohlangkir menatap dengan gigi berglemetuk menahan kemarahannya.
**
Thanks buat seluruh dukungannya