
"Pantas obat penawar milik muridku, tidak mampu menawarkan racun ini." Dewa Obat setelah selesai memeriksa tubuh Jendral Yuwen Huaji dan Jendral Zhou Feng segera memahami racun apa yang telah menyerang dua punggawa itu.
"Murid?" Jendral Yuwen Shiji mengernyitkan dahi mendengar Dewa Obat menyebut murid kepada Suro.
"Benar, seseorang yang kalian sebut pendekar Suro adalah muridku. Mengenai bagaimana dia dapat menjadi muridku itu ceritanya panjang." Dewa Obat kembali sibuk memeriksa kondisi organ dalam Jendral Yuwen Shiji maupun Jendral Zhou Feng.
"Aku perlu membuat penawarnya terlebih dahulu, tetapi sebelum penawar itu aku buat aku akan memberikan penawar milikku terlebih dahulu.
Meskipun penawar racun milikku tidak sepenuhnya mampu mengobati secara tuntas, tetapi akan mampu melindungi organ dalam milik mereka sampai aku selesai membuat ramuannya." Dewa Obat lalu mulai memberikan pertolongan secukupnya kepada kedua jendral itu.
"Benarkah kakakku masih memiliki harapan dapat disembuhkan?" Jendral Yuwen Shiji seperti tidak percaya dengan
ucapan Dewa Obat barusan.
"Bukan harapan, memang dia dan juga para prajurit bawahanmu yang terluka oleh senjata beracun milik musuh bisa diselamatkan. Karena itu kalian segera cari dan bawa bahan-bahan ramuan yang di perlukan.
Aku akan menuliskan untuk kalian bahan-bahan yang diperlukan. Setelah itu segera cari dan dapatkan. Jika sudah mampu mengumpulkan seluruh bahannya, segera bawa kembali dan berikan kepadaku.
Setelah kalian memberikan seluruh bahannya, maka aku akan secepatnya membuat penawarnya. Tetapi untuk sementara waktu sampai kalian mendapatkan bahannya aku akan menolong yang terkena racun dengan melindungi organ dalamnya terlebih dahulu."
Dewa Obat melindungi organ dalam mereka yang keracunan selain dengan obat-obatan yang dia miliki, dia juga menggunakan beberapa tehnik tusuk jarum.
Setelah mendapatkan resep dari Dewa Obat, maka Jendral Yuwen Shiji segera memerintahkan Xian Hua dan seluruh pasukan Macan Hitam untuk mencari bahan yang diperlukan malam itu juga.
Semua pasukan Macan Hitam diperintahkan mencari bahan yang diperlukan untuk membuat penawar. Sebab tugas penjagaan benteng telah digantikan oleh para pendekar yang sebelumnya datang bersama Dewa Obat.
Pengalaman mereka yang dulunya sebagai pasukan pembunuh bayaran kelompok Mawar Merah tidak bisa diremehkan. Apalagi kini kekuatan mereka telah ditingkatkan oleh Dewa Obat.
Sehingga sebagian mampu mencapai tingkat langit dalam waktu yang singkat. Walaupun mereka yang mampu mencapai tingkat langit itu sebelumnya memang sudah berada pada tingkat shakti.
Kesempatan itu lalu digunakan sebagian besar pasukan kekaisaran untuk memejamkan mata sebisa mereka. Keletihan yang mendera tubuh mereka membuat mereka segera terlelap.
Dalam gelapnya malam Jendral Yuwen Shiji tidak mampu memejamkan mata dan menemani Dewa Obat yang dibantu beberapa pendekar yang mengerti pengobatan.
Para mantan pasukan kelompok Mawar Merah sebagian besar mengerti tentang ilmu racun. Sehingga dengan pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk menolong mereka yang terluka oleh senjata beracun.
Pertolongan Dewa Obat yang cepat, akhirnya mampu menolong cukup banyak prajurit. Walaupun sebagian besar lainnya sudah tidak mampu lagi diselamatkan.
Terutama mereka yang terkena serangan jarum beracun pada organ penting dalam tubuhnya. Sebab jarum itu sejenis dengan yang dulu pernah menghabisi pasukan pemanah di atas tebing besar Yangu.
Sehingga saat itu juga sistem kerja jantung atau otak atau bisa jadi juga organ pernafasan mereka berhenti mendadak. Tentu dengan kondisi seperti itu mereka langsung mati seketika itu juga.
Jendral Yuwen Shiji sengaja menemani Dewa Obat selesai mengobati pasukannya. Dia hendak meminta saran, sebab dia hendak menyusun rencana agar pada pertempuran besok akan mampu mengalahkan lawan.
Selain itu dia juga tidak sabar menunggu Dewa Obat membuat pemawar bagi racun yang menyerang kakaknya Jendral Yuwen Huaji.
"Maafkan diriku pendekar, sebenarnya diriku mengharapkan pertolongan lain dari tuan pendekar. Ini terkait rencana peperangan besok pagi.
Aku mendengar sesungguhnya tuan pendekar adalah seorang ahli strategi perang yang handal. Hal itu dikarenakan tuan pendekar adalah putra dari Guru Dorna yang menguasai ilmu strategi perang yang luas."
Mendengar ucapan Jendral Yuwen Shiji barusan, Dewa Obat sempat terdiam. Dia lalu menjabarkan rencana terbaik yang sebaiknya dia lakukan untuk memenangkan pertempuran dengan pasukan lawan.
"Ha, apa? Maksudnya?" Jendral Yuwen Shoji menggaruk-garuk kepalanya pertanda apa yang didengar tidak dia pahami.
Penjelasan dari rencana yang dijabatkan Dewa Obat tidak banyak singkat jelas dan yang pastinya tidak diketahui mengapa Dewa Obat memberikan usul yang tidak dipahami itu. Sebab jawaban itu seperti jawaban asal, seperti lawan bicaranya itu malas untuk menjawab dan menjawab sekenanya saja.
"Iya benar, tunggu saja. Tunggu keajaiban datang. Tidak ada yang mampu menyelamatkan pasukan kekaisaran Yang Guang di benteng ini, kecuali keajaiban datang."
Dua tangannya kini mulai menggaruk-garuk kepalanya.
"Terima kasih atas siasat terbaik yang tuan pendekar jelaskan. Ini semakin membuat rencana pertempuran esok hari semakin matang.
Masukan ini akan sangat bermanfaat sekali bagi diriku untuk membuat sisat yang mampu mempertahankan benteng ini dan juga mampu memenangkan pertempuran melawan pasukan gabungan Kerajaan Goguryeo dan juga pasukan Khan Langit," ucap Jendral Yuwen Shiji dengan wajah yang menahan kekesalan. Walaupun sebentuk senyum tetap berusaha dia perlihatkan.
Meskipun mengetahui jika punggawa pasukan kekaisaran itu kesal terhadap jawaban yang dia berikan, tetapi Dewa Obat tetap tersenyum.
"Apakah kau mengira jika musuh-musuhmu menganggap benteng ini sebagai halangan untuk melewatinya? Bukankah keajaiban yang membuat hari ini benteng ini tetap tidak jatuh di tangan musuh?"
Pertanyaan Dewa Obat, membuat Jendral Yuwen Shiji mengerutkan dahi. Ternyata rumor yang mengatakan Dewa Obat memiliki perangai yang tidak biasa dan sulit untuk di raba ataupun di tebak itu mamang telah terbukti kebenarannya.
Apa yang diucapkan Dewa Obat semakin membuat kepala Jendral Yuwen Shuji pusing tujuh keliling. Pada awalnya dia berharap banyak akan mendapatkan masukan yang sangat bermanfaat. Tetapi apa yang diucapkan Dewa Obat hanya membuat dia semakin dongkol penuh kesal.
Tetapi secara tidak sadar dia mulai membenarkan apa yang dijelaskan Dewa Obat barusan. Mengingat pada pertempuran yang baru saja di lalui pasukan musuh dengan leluasa dapat melewati tingginya benteng yang menjulang.
Karena memang pasukan musuh banyak yang sudah mencapai tingkat, langit. Sehingga tingginya benteng kota He Bei bukanlah sebuah halangan besar. Mereka pasukan musuh dapat meloncati tembok itu hanya dengan sekali lompat.
Serangan pasukan yang mampu melewati tembok yang hanya dalam sekali loncat itu memang dalam jumlah yang tak sampai ribuan. Mereka justru hanya sampai jumlah ratusan.
Tetapi kekuatan mereka yang hanya dalam jumlah ratusan tidak mudah dihadapi. Bahkan tidak mudah untuk dihabisi. Kekuatan pasukan musuh itu sangatlah mengerikan.
Meskipun mereka telah dikepung dan diserang pasukan kekaisaran yang jumlahnya puluhan kali lebih banyak dibandingkan pasukan musuh yang menerobos masuk itu, tetapi pasukan kekaisaran yang berjumlah ribuan seakan mereka sedang berhadapan dengan gunung yang berdiri dengan kokoh.
Pasukan musuh itu tidak bisa dihadapi dengan mudah. Meskipun mereka sudah di serang dari segala dikepung sampai tidak ada tempat bagi mereka untuk melarikan diri. Alih-alih mereka mati, justru yang terjadi pasukan kekaisaran miliknya banyak yang justru berhasil dihabisi.
Hampir tidak ada dari korban dari pihak musuh yang menyerang ke dalam benteng, kecuali akibat serangan Dewa Obat yang membuat tubuh musuh mereka tercerai berai.
Serangan dirinya yang sudah mencapai tingkat surga saja tidak mampu mengores tubuh lawan. Apalagi mereka memang dapat pulih dengan cepat, sehingga kesulitan yang di hadapi pasukan miliknya semakin bertambah.
Dia tidak mampu lagi membayangkan apa yang akan terjadi besok. Walaupun saat ini dia mendapatkan bantuan kekuatan pasukan juga bantuan dari Dewa Obat yang serangannya mampu membuat pasukan musuh gentar.
Belum lama berselang dari ucapan Dewa Obat dari selatan Xian Hua bersama pasukan Macan Hitam yang sebelumnya mencari bahan untuk membuat penawar mulai berdatangan.
"Ada hal gawat yang sebaiknya Jendral Yuwen Shiji ketahui," ucap Kolonel Xian Hua memulai berbicara tergesa-gesa setelah sampai didepan mereka berdua.
"Hal gawat apa yang kau maksudkan, Xian Hua?" Jendral Yuwen Shiji yang masih kesal dengan jawaban Dewa Obat bertanya dengan nada ketus.
"Para pendekar dari aliran hitam yang dipimpin Perguruan Seribu Hantu, terus berdatangan dengan kekuatan penuh untuk memberi dukungan kepada pasukan gabungan Kerajaan Goguryeo dan Khan Langit."
Ucapan Xian Hua tentu saja membuat jantung Jendral Yuwen Shini hampir saja berhenti. Ucapan Xian Hua tentu sangat mengejutkan. Belum selesai dengan kekuatan musuh yang sekarang, kini sudah bertambah.
Dengan itu tentu kekuatan musuh semakin bertambah kuat dibandingkan sebelumnya. Dengan kekuatan saat ini saja, dia dan pasukannya sudah kewalahan. Jendral Yuwen Shiji tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada pasukannya pada pertempuran berikutnya.
Tanpa sadar Jendral itu mengucapkan beberapa patah kata yang sedikit mirip gumaman, 'benar, memang hanya keajaiban yang mampu menyelamatkan pasukan ini.'
Kolonel Xian Hua yang gantian menggaruk kepalanya kebingungan.
"Masalah pasukan musuh itu urusan belakangan, mana bahan-bahan yang aku minta untuk kalian kumpulkan? Jangan kalian mengatakan tidak menemukannya, karena alasan melihat pasukan tambahan musuh terus berdatangan?
Kalian tidak usah terkejut itu hanya permulaan saja. Sudah, mana cepat kalian berikan kepadaku bahan ramuan yang aku minta. Aku harus secepatnya membuat penawar, jika tidak semua akan sangat terlambat untuk mendapatkan pertolongan."
Pandangan Jendral Yuwen Shiji tentu saja menjadi tambah kalut mendengar ucapan Dewa Obat yang menyebut kedatangan para pendekar aliran hitam yang hendak mendukung pasukan musuh adalah sebuah permulaan saja.
Tetapi Jendral itu tidak sempat bertanya, karena Dewa Obat sudah berjalan menjauh, setelah semua bahan yang dia minta sudah berada ditangannya. Lelaki itu pergi untuk membuat penawar racun dari bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan oleh Xian Hua dan pasukannya.