SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 485 Pertempuran Penghabisan Dimulai



Jendral Yuwen Shiji kemudian mempersiapkan apa yang diperlukan Dewa Obat untuk melaksanakan rencana gilanya. Salah satunya adalah pasukan pemanah yang sudah mencapai kekuatan tingkat langit.


Dewa Obat memberi penjelasan singkat rencana mendadak itu. Setelah semua peralatan yang diperlukan selesai dipersiapkan, maka mereka segera melesat terbang ke atas.


Bola-bola peledak yang dibawa pasukan pemanah dalam ukuran tak lebih dari sekepalan tangan. Bola peledak itu nantinya akan ditempatkan pada ujung anak panah laku dilesatkan sebagai mata anak panah.


Tetapi bola peledak yang dibawa Dewa Obat memiliki ukuran raksasa, minimal bola-bola peledak yang dia bawa berukuran kepala manusia. Empat bola peledak memiliki ukuran satu depa menggantung di tubuh bagian depan dan belakang.


Tempat yang pertama kali di tuju adalah tempat perkemahan pasukan dari Kerajaan Goguryeo. Setelah sampai didekat perkemahan Dewa Obat mulai mengatur pasukan yang akan membuat serangan pengalihan.


Dia memerlukan serangan pengalihan, karena dia hendak menyusup ke tengah tenda-tenda musuh. Tanpa serangan pengalihan tentu dia akan mudah ketauan.


Dewa Obat menunggu di atas udara agak jauh dia tentu saja tidak ingin ketauan oleh musuh. Setelah menunggu agak lama maka dia segera mendengar suara ledakan secara berturut-turut.


Buuuum...


Buuuuum...


Buuuuum...


Kebakaran segera melanda di seputaran perkemahan Kerajaan Goguryeo. Seperti yang telah diperintahkan oleh Dewa Obat pasukan yang membuat serangan pengalihan hanya menyerang perkemahan di bagian terluar atau area pinggir saja.


Namun pasukan itu cukup jeli, sehingga setiap kali panah mereka sudah melesat, maka mereka berpindah tempat lebih jauh. Semua di lakukan dengan sangat cepat, sehingga dalam waktu yang tidak butuh lama hampir seluruh perkemahan bagian terluar telah terbakar.


Setelah itu dapat ditebak dengan mudah apa yang terjadi pada perkemahan pasukan Kerajaan Goguryeo itu. Keributan dan kekacauan segera melanda seluruh perkemahan.


Saat pasukan Goguryeo berusaha mencari pengacau yang menyerang ke seputaran perkemahan mereka, maka saat itulah Dewa Obat mulai melaksanakan rencananya.


Tetapi sebelum melesat turun dengan cepat, dia sudah menandai terlebih dahulu tenda-tenda besar yang tersebar di beberapa tempat.


Saat berangkat menuju perkemahan pasukan Kerajaan Goguryeo, mereka semua, termasuk Dewa Obat menggunakan pakaian pasukan Goguryeo. Sehingga dengan itu mereka dapat menyatu sebagai bagian pasukan Goguryeo.


Kekacauan yang melanda perkemahan itu semakin melancarkan aksi Dewa Obat. Tenda-tenda besar yang telah ditandai saat dia berada diatas udara mulai didatangi satu persatu.


Setelah itu tidak lupa dia menyulut sumbunya terlebih dahulu sebelum pergi menuju tenda besar berikutnya. Semua itu dia lakukan dengan Serapi dan secepat mungkin.


Serangan berturut-turut masih melanda perkemahan bagian luar. Para pasukan yang sebelumnya bersama Dewa Obat tidak lagi berada disekitaran perkemahan pasukan Goguryeo.


Tetapi anak panah yang dia Lesatkan mampu menjangkau jarak yang sangat jauh. Tentu saja serangan sejauh itu daapat dilakukan, karena dilambari kekuatan tingkat langit.


Sumber serangan yang melanda tidak dapat terendus musuh, disebabkan keunikan bahan peldak yang dijadikan mata panah. Mata panah itu dapat meledak tanpa perlu disulut.


Tetapi begitu berhasil menghantam sasaran, maka...


Buuuum...buuuum...buuummm!


Sebelum mereka menemukan siapa perusuh yang telah berani mengacaukan perkemahan mereka, mendadak serangan dari arah lain meledak dengan kekuatan yang luar biasa besar.


Duuuuum....


Duuuuum...


Bahkan sesuai janjinya kepada Jendral Yuwen Shoji, ledakan itu mampu dilihat dari menara pengawas Benteng Kota He Bei. Jendral Yuwen Shiji tersenyum penuh takjub dan bahagia rencana mendadak itu berhasil dengan gemilang.


Di saat pasukan Goguryeo menyadari keteledoran mereka, akan adanya penyusup ke tengah-tengah perkemahan dengan terlebih dahulu membuat kekacauan, musuh yang hendak mereka tangkap sudah jauh dari perkemahan mereka.


Dewa Obat dan pasukan pendukungnya justru telah melesat menuju perkemahan pasukan musuh berikutnya, yaitu Perkemahan pasukan Khan Langit.


**


Tempat yang dituju berada disebelah Utara cukup jauh. Seperti sebelum mereka sampai didekat perkemahan musuh, mereka segera berhenti terlebih dahulu untuk mematangkan rencana dan tidak lupa berganti seragam.


Tentu saja seragam yang mereka gunakan kali ini adalah pasukan khas milik suku Utara yang dipimpin Khan Langit. Setelah memastikan penampilan mereka cukup mirip dengan pasukan musuh, mereka kemudian mulai melesat kembali.


"Kalian sebaiknya berhati-hati seperti serangan yang kita lakukan barusan. Jangan sampai kalian membahayakan nyawa kalian sendiri."


"Baik tuan pendekar Dewa Obat."


Mereka kemudian melesat terbang menuju perkemahan pasukan Khan Langit. Rencana penyerangan dia susun seperti juga saat penyerangan diperkemahan pasukan Kerajaan Goguryeo sebelumnya.


Mereka bergerak serentak menyerang dari berbagai sisi, seperti juga sebelumnya, tetapi kali ini pasukan Khan Langit segera menyebar mencari sumber serangan.


Dia segera melemparkan seluruh bola-bola peledak yang dia bawa.


Buuum...


Buuuuum....


Buuuuum...


Ledakan itu sebagian tidak berhasil mengenai tenda yang dipergunakan untuk menyimpan persediaan makanan. Karena itu dia segera memberikan serangan susulan yang menghancurkan sebagian besar tenda-tenda pasukan Khan Langit.


"Varunastra!"


Serangan itu merupakan serangan tehnik perubahan air. Begitu astara itu dipanggil maka dari atas seperti air satu danau besar ditumpahkan sekaligus ke atas perkemahan.


Serangan susulan barusan hanya bertujuan untuk memancing seluruh perhatian musuh. Sehingga memberikan waktu bagi pasukan yang datang bersamanya dapat leluasa kabur melarikan diri.


Mereka bahkan tidak diperkenankan menunggu dirinya. Apapun yang telah terjadi, jika mereka telah terendus keberadaannya untuk segera meninggalkan tempat dan kembali ke benteng secepatnya.


Perintah itulah yang dia katakan kepada mereka yang membantu dirinya menyerang perkemahan musuh. Perintah yang dia pastikan mereka mendengar dengan baik dan akan melakukan sesuai perintahnya.


"Semoga saja ini akan mampu memberikan waktu bagi mereka untuk menyelamatkan diri," gumam Dewa Obat sebelum kembali mengerahkan serangan yang tak kalah dahsyatnya.


"Kalian para begundal dari suku utara, disini lah lawan kalian!" Dewa Obat sengaja memancing musuh dengan berteriak keras. Tetapi serangan dahsyat sudah menunggu jika mereka hendak mendekat ke arahnya.


Semua serangan yang dia lakukan berada di atas udara, tepatnya diatas perkemahan Khan Langit. Tetapi sengaja ia melakukannya pada jarak cukup tinggi.


Setelah melihat lesatan para musuh yang hendak mendekati dirinya, serta merta dia kembali melesatkan serangan susulan.


"Brahmastra!"


Petir-petir yang menyambar dengan mengerikan keluar dari bola cahaya terang ditangan Dewa Obat. Lalu di saat musuh sudah mendekat, maka kekuatan mengerikan itu menghantam mereka.


Kekuatan besar itu tidak berhenti ketika menghantam musuh yang hendak mendekatinya. Cahaya terang dengan dihiasi kilat petir menyambar itu terus melesat dan menghajar lautan air yang menghajar perkemahan musuh layaknya air bah.


Baaaam!


Ledakan keras yang terdengar, kali ini tidak menimbulkan ledakan api. Tetapi menjadikan seluruh kekuatan perubahan petir yang melambari senjata gaib itu tersebar bersama air bah yang menenggelamkan perkemahan pasukan Khan Langit.


Setelah berhasil memporak-porandakan perkemahan dua pasukan musuh, Dewa Obat langsung melesat menjauh dan kembali menuju ke arah Benteng kota He Bei.


**


Penyerangan yang dilakukan Dewa Obat memang berhasil menghancurkan sebagian persediaan bahan makanan yang dimiliki dua pasukan negeri tetangga itu. Tetapi itu justru membuat musuh bertambah murka dan hendak melenyapkan pasukan kekaisaran yang bertahan di benteng kota He Bei hari itu juga.


Pasukan Gogureyo dan pasukan Khan Langit semakin bertambah kuat, sebab pasukan tambahan dari para anggota perguruan aliran hitam di Negeri Atap Langit berjumlah sangat banyak.


Secara keseluruhan lebih dari lima belas ribu pasukan milik berbagai perguruan aliran hitam yang ikut bergabung. Kekuatan itu juga belum ditambah pasukan hantu milik Perguruan Seribu Hantu.


Pasukan yang terdiri dari mayat hidup dan juga para manusia yang mereka jadikan bagian dari pasukan mereka. Tentu saja mereka hanya mematuhi perintah tuannya.


Kondisi itu tentu membuat Jendral Yuwen Shiji dan seluruh pasukan kekaisaran yang sedang bertahan di benteng kota He Bei tidak dapat tenang.


"Gawat kekuatan mereka bukan berkurang justru bertambah semakin banyak!"


Dewa Obat, merasa serangan yang dia lakukan semalam telah berhasil. Seharusnya musuh akan pulang kampung, tetapi yang dia lihat justru kebalikannya. Sebab pasukan musuh tidak ingin menunda keinginan mereka hendak menaklukan benteng kota He Bei secepatnya, sebelum mereka mati kelaparan.


"Mereka ternyata takut kelaparan dibandingkan takut mati."


Jendral Yuwen Shiji masih mengaruk-garuk kepala mendengar ucapan Dewa Obat yang berada disebelahnya, membuat diriny tidak pelak harus mengrenyitkan dahi, "maksud tuan pendekar?"


"Apakah jendral tidak melihat garis lurus dari tindakanku semalam yang berhasil membakar gudang makan mereka. Kini mereka hendak secepatnya menguasai kota ini, jika tidak ingin mati kelaparan, karena tidak ada lagi yang bisa mereka makan esok hari."


Mendengar penjelasan Dewa Obat senyum Jendral Yuwen Shiji hampir saja terbentuk senyum sebelum mendengar kelanjutan ucapan Dewa Obat.


"Kita cukup menahan serangan mereka beberapa hari kedepan. Dengan sendirinya mereka semua akan mati karena kelaparan."


"Pemikiran tuan pendekar memang luar biasa. Hanya saja aku takut kita tidak memiliki waktu selama itu."


"Jangan khawatir Jendral, kita pasti memiliki waktu yang diperlukan. Jika waktu itu tidak ada, maka kita akan menciptakan waktu."