
Sesuai permintaan anaknya, Yang Taizu segera mengantar mereka semua masuk ke dalam kediamannya yang megah itu. Apalagi sebelumnya anaknya menyebut, jika ada sesuatu hal penting yang hendak dibicarakan bersamanya.
Dia sempat bertanya kepada Jendral Zhou Fang yang berjalan beriringan disampingnya. Tetapi dengan berbisik lelaki itu menjawab, jika dia juga kurang memahaminya. Lelaki itu justru meminta dirinya bertanya langsung kepada puteranya mengenai orang-orang yang berjalan dibelakang mereka.
Sikap yang ditunjukan Jendral Zhou
Fang, sebenarnya bagi Yang Taizu terasa janggal. Seperti menyembunyikan sesuatu hal.
Sebab saat dia mengucapkan terima kasih karena berhasil menolong anaknya, justru lelaki itu hanya membalas dengan senyuman kecut dan anggukan kepala yang pelan.
Tetapi apapun itu dia cukup bersyukur, sebab anaknya telah pulang dalam kondisi tidak kekurangan apapun. Hanya saja, saat dia berbicara dengan anaknya barusan, aroma pesing melingkupi tubuh Yang Xiaoma. Sebelum Yang Tiazu bertanya lebih lanjut kepada anaknya, dia sudah buru-buru pergi untuk berganti pakaian.
Bahkan anaknya itu juga tidak memperkenalkan orang yang tidak dikenalnya itu kepada dirinya terlebih dahulu, sebelum dia pergi. Lelaki itu memang terbiasa memanjakan anaknya, apa saja yang dia minta kebanyakan dia turuti.
Karena itu dia tidak bertanya lebih lanjut dan mengikuti permintaannya yang sebenarnya sedikit janggal itu. Sebenarnya ada hal yang menggelitik, dia juga langsung memincingkan mata. Sebab anaknya itu bersikap begitu hormat kepada orang-orang yang terlihat seperti pengembara itu, jika tidak mau disebut seperti gembel.
Semua pertanyaan lelaki itu akan segera terjawab. Sebab baru saja dia duduk diruang tamu, Yang Xiaoma telah datang menyusul ke ruangan itu.
"Syukurlah nak, akhirnya Jendral Zhou berhasil menolongmu." Yang Taizu berbicara sambil melirik ke arah Jendral Zhou yang justru bersikap kikuk.
"Tidak ayahanda, bukan mereka yang berhasil menolong diriku."
"Benarkah? Lalu siapakah yang telah menyelamatkan dirimu?"
Sambil berbicara, pandangan Yang Taizu berpindah ke orang-orang yang tidak dia kenal. Sebenarnya sejak tadi mulutnya sudah gatal hendak mencari tau asal-usul mereka. Dia juga hendak bertanya, alasan anaknya bersikap penuh hormat kepada para tamu yang tak dia kenal itu.
Maka sebelum anaknya menjawab pertanyaan sebelumnya, dia kembali melanjutkan pertanyaan berikutnya.
'Siapakah mereka ini anakku? Ayahandamu ini sepertinya tidak mengenal mereka semua.' tanya Yang Taizu kepada anaknya dengan berbisik.
"Merekalah yang menolong diriku ayahanda. Tanpa mereka, tentu anakmu ini sudah mati oleh racun milik kelompok Golok setan.
Bahkan racun pelumpuh tulang yang sangat menakutkan bagi para pendekar sekalipun dapat mereka sembuhkan..."
Yang Xiaoma lalu bercerita singkat kepada ayahandanya dengan berbisik. Hal terakhir yang dia ceritakan itu langsung membuat raut muka Yang Taizu ayahanda dari Yang Xiaoma langsung berubah menjadi terpana.
Sebab anaknya itu menjelaskan, jika hancurnya markas besar kelompok Mawar Merah ada kaitannya dengan para pendekar itu.
"Be..benarkah?" Mata Yang Taizu sampai terbelalak.
Yang Xiaoma menganggukan kepalanya perlahan, dia lalu mulai memperkenalkan mereka semua kepada ayahandanya. Satu persatu orang yang tidak dia kenal itu menyebutkan namanya.
"Terima kasih atas pertolongan yang para pendekar telah lakukan. Berkat pertolongan para pendekar anak semata wayangku ini akhirnya berhasil selamat. Entah apa yang terjadi, jika para pendekar tidak menolongnya.
Hutang budi ini akan selalu aku ingat. Selain itu sebagai tanda terima kasihku, maka aku akan memberikan hadiah.
Walaupun sebenarnya hadiah ini tidak akan sebanding dengan pertolongan para pendekar yang telah diberikan kepada anakku.."
Ucapan Yang Taizu terhenti, pandangan matanya seperti menyadari sesuatu hal. Sebab saat mengingat nama-nama pendekar yang diperkenalkan barusan, dia merasa ada beberapa nama yang terasa begitu akrab di telinganya.
"Yifu Yuan? Sindurogo? Apakah pendengaranku tidak salah, sepertinya aku cukup akrab dengan nama-nama itu?" Kali ini pandangan mata Yang Taizu menatap bergantian ke arah tetua Dewi Anggini dan eyang Sindurogo seakan tanpa berkedip.
Bahkan mimik muka Yang Taizu seperti melihat hantu saat menatap ke arah eyang Sindurogo. Pendekar yang ditatap hanya membalas dengan senyuman kecil.
"Wajah ini, benar aku masih mengingatnya. Luar biasa wajah pendekar tidak mengalami penuaan sama sekali, persis seperti saat pertama kali bertemu.
Aku yakin tuan pendekar adalah seseorang yang dulu selalu diikuti oleh putri Yifu Yuan anak dari kaisar Gong atau Yuan Kuo." Pandangan mata Yang Taizu berpindah kepada seorang wanita cantik yang berada disebelah eyang Sindurogo.
"Dan aku yakin, jika anda adalah putri Yifu Yuan yang telah menghilang tanpa jejak. Diriku sempat mencari ke seluruh negeri, tetapi tidak ada yang mengetahui, seakan hilang ditelan bumi.
Benar aku sangat yakin. Sebab aku masih mengingat dengan jelas wajah cantik ini." Kali ini senyuman Yang Taizu merekah seperti bunga yang mekar dengan sempurna.
Tetua Dewi Anggini menganggukkan kepala sambil tertawa kecil mendengar ucapan Yang Taizu barusan. Bukan saja Yang Taizu yang terlihat terkejut, namun Yang Xiaoma, Jendral Zhang dan yang lainnya juga tak kalah terkejut.
"Benar anakku, ini adalah putri Yifu Yuan anak dari kaisar Gong yang pernah ayahanda ceritakan kepadamu."
"Aku mengingat sekarang, pantas saja. Saat mendengar nama pendekar, seperti terdengar akrab dikuping."
"Benar ini adalah aku Yifu Yuan putri kaisar Gong dari Wei Barat. Takdir yang telah membawaku kembali menginjakkan kaki di negeri ini.
Bagaimana kabarnya Yang Taizu, aku tidak menyangka, jika dirimu kini telah menjadi seorang walikota Shanzi."
"Benar tuan putri, itu bukan sesuatu hal yang besar. Aku tidak menyangka sama sekali, jika serangan Golok setan terhadap anakku, justru telah mempertemukan kembali diriku dengan tuan putri.
Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih tidak terhingga, sebab anakku telah ditolong. Aku sudah putus harapan begitu mendengar Golok setan hendak menghabisi anakku.
Aku tidak dapat membayangkan, jika tanpa pertolongan itu, tentu aku telah kehilangan anakku satu-satunya. Sebab hampir tidak ada satupun yang mampu lolos, jika Golok setan telah menargetkan korbannya.
Aku benar-benar bersyukur anakku akhirnya selamat tanpa kekurangan apapun. Aku tidak ingin kehilangan anakku, apalagi dia sejak lahir telah ditinggal ibunya. Sebab ibunya telah meninggal saat melahirkan dirinya." Yang Taizu menekankan kalimat terakhirnya itu kepada Dewi Anggini, jika dirinya sekarang sedang tidak beristri.
"Tentu saja aku tidak ingin kehilangan anakku, lihatlah ketampananku telah menurun kepada dirinya, bukan?" Senyum Yang Taizu bertambah merekah saat menyebut ketampanan dirinya.
'Dasar kadal buntung, dia hendak merayu Dinda Dewi rupanya,' Eyang Sindurogo merutuk dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Selamatnya anakku ini pasti berkat pertolongan dari Pendekar Tapak Dewa Matahari yang terkenal ini." pandangan Yang Taizu berpindah hanya sesaat ke arah eyang Sindurogo, dia kembali menatap ke arah Dewi Anggini seakan tanpa berkedip.
Setelah mengenali kembali wajah cantik yang berada didepannya, roman wajah Yang Taizu berubah begitu ceria. Seakan lelaki itu telah menemukan harta karun emas segunung.
Yang Taizu terus berbicara dengan senyuman yang mengembang. Matanya berbinar-binar saat berbicara dengan tetua Dewi Anggini. Pandangannya itu seakan tidak mau lepas dari wajah Dewi Anggini.
Bahkan dia tidak membiarkan matanya berkedip, seakan satu detik dari waktu yang hilang itu adalah sesuatu kerugian besar. Melihat hal itu eyang Sindurogo berubah menjadi kasak-kusuk
"Uhuk..uhuk.." suara batuk Eyang Sindurogo yang terdengar sedikit keras mengagetkan Yang Taizu. Lelaki itu segera menyadari tindakannya. Dia lalu menghentikan tindakannya itu.
"Sebenarnya bukan aku yang menolong anakmu, tetapi muridku ini." Eyang Sindurogo menyela ucapan Yang Taizu dan mencoba mengalihkan pandangannya yang terus tertuju kepada Dewi Anggini.
Eyang Sindurogo berbicara sambil menunjuk muridnya yang berada disebelahnya.
Pemuda yang ditunjuk mengangguk kecil saat Yang Taizu menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Tetapi lelaki itu segera menyadari sesuatu hal.
"Jadi memang benar, jika markas besar Mawar Merah itu dihancurkan hanya oleh seorang anak muda tanggung?"
"Benar ayah, markas itu dihancurkan oleh tuan Suro." Yang Xiaoma yang menjawab gumaman ayahnya yang lirih.
"Sebenarnya kedatangan para pendekar ini bukan membahas tentang pertolongan yang mereka lakukan kepadaku ayahanda. Tetapi mereka justru hendak menyelidiki kejadian yang menimpa kota Shanxi ini sejak beberapa hari yang lalu, yaitu teror yang telah membuat kepanikan para penduduk. Karena hilangnya bayi-bayi yang dimiliki mereka."
Pandangan Yang Taizu kembali berpindah ke arah Dewi Anggini. Dia sepertinya tidak mampu mengendalikan dirinya untuk terus menatap wajah ayu wanita pujaannya dari dulu hingga sekarang.
"Benarkah tuan putri hendak mencari tau tentang kekacauan yang melanda kota ini terkait kabar hilangnya para bayi?"
"Tidak usah memanggilku dengan panggilan tuan putri. Dirimu bisa memanggilku dengan panggilan Dewi Anggini atau Yifu Yuan saja.
Tidak usah menggunakan embel-embel tuan putri lagi. Karena aku sekarang tidak bedanya dengan rakyat biasa, cukup sebut namaku saja."
Mendengar permintaan itu, Yang Taizu lalu menganggukan kepalanya perlahan.
"Diriku turut bersedih dengan apa yang terjadi dengan kaisar Gong dan seluruh keluarga tuan putri..maksudku pendekar Yifu Yuan."
"Sudahlah, itu sudah terjadi sangat lama, tidak usah dibahas lagi. Bahkan aku sudah melupakan kesedihannya."
Melihat tetua Dewi Anggini tidak berkenan masa lalunya dibicarakan kembali, akhirnya Yang Taizu segera membahas masalah lain yang memang menjadi tujuan kedatangan mereka berlima.
"Baiklah akan aku jelaskan sejauh yang aku ketahui tentang hilangnya para bayi yang dimiliki para penduduk kota Shanxi ini. Semoga dengan penjelasanku akan dapat membantu para pendekar sekalian mengungkapkan dalang dibalik peristiwa tersebut.
Jadi seperti ini..."