
"Apakah Eyang Sindurogo yakin dengan perkataan lelaki ini? Lihatlah dia telah membawa kita justru ke tepi jurang ini. Jangan-jangan dia hendak membunuh kita agar jatuh masuk ke jurang?" tanya Dewa Rencong sambil menatap bibir jurang didepannya.
Dengan melihat luas dan gelapnya dasar jurang itu, membuat mereka tidak mampu mengetahui kedalamannya.
"Jangan khawatir Salya, pill yang telah ditelan lelaki ini membuat dia tidak dapat berbohong kepadaku. Semua yang dia katakan tidak ada yang bohong."
Tempat mereka berdiri berada di salah satu kaki gunung yang termasuk pegunungan Tian Shan. Tempat itu dipenuhi hamparan salju. Begitu juga jurang yang berada dihadapan mereka bertiga.
"Mengapa kamu membawa kami menuju ke tepi jurang ini?" tanya eyang Sindurogo kepada sesosok lelaki disebelahnya.
Jika diperhatikan, pandangan lelaki itu terlihat kosong. Selain itu pakaian yang digunakan lelaki itu sedikit menarik, sebab pakaian itu sama persis seperti yang dikenakan dengan orang-orang yang telah menculik Dewi Anggini, yaitu saat dalam pertempuran di Kerajaan Kendan.
"Karena tempat yang Anda tanyakan berada di dinding jurang yang berada di seberang. Tempat itu berada jauh dibawah. Tepatnya di tengah-tengah dinding jurang," Lelaki itu tetap menjawab pertanyaan eyang Sindurogo dengan tatapan kosongnya.
Sekujur tubuh lelaki itu kaku tidak bergerak, kecuali bagian leher ke atas saja yang dapat digerakkan. Karena itu sepanjang perjalanan, eyang Sindurogo mengangkat tubuhnya dengan satu tangan kanannya.
Tubuhnya yang kaku itu kemungkinan karena telah ditotok. Begitu juga tatapan kosong yang tidak memiliki ekspresi sama sekali di wajahnya, karena sesuatu hal telah dilakukan padanya.
"Jika dari atas sini, untuk menuju ke seberang jurang berjarak kurang lebih sekitar dua puluh tombak. Ucapanmu terasa tidak masuk akal. Lalu bagaimana cara pasukan yang dipimpin ketua kalian untuk mencapai tempat itu?
Jarak untuk mencapai dinding jurang yang berada diseberang itu cukup jauh. Kecuali pasukan yang bersama ketua kalian, minimal telah mencapai tingkat langit," ujar Dewa Rencong menatap lelaki disampingnya.
Namun lelaki itu seakan tidak merespon ucapan apapun dari Dewa Rencong. Pandangannya hanya lurus ke arah eyang Sindurogo.
"Apalagi jika tempat yang dituju berada di tengah-tengah dinding jurang. Bukankah itu terdengar sama saja seperti mengajak kami untuk bunuh diri?" Meskipun ucapannya tidak didengarkan oleh lelaki itu, Dewa Rencong terus berbicara.
"Tidak mengapa Salya, bukankah setelah mengkonsumsi pill yang aku buat, dirimu sudah mencapai tingkat surga? Jadi bukan masalah seandainya kita harus terjun bebas ke dasar jurang ini sekalipun." ucap Eyang Sindurogo kepada Dewa Rencong yang masih mencurigai ucapan lelaki itu.
"Bagiku memang tidak masalah, hanya terasa tidak masuk akal saja. Jika itu benar, lalu bagaimana caranya mereka akan mencapai tempat yang akan kita tuju itu?"
Lelaki yang mengenakan pakaian seperti yang dimiliki kelompok Mawar Merah kembali meneruskan ucapannya, setelah eyang Sindurogo meminta penjelasan lebih lanjut.
Lelaki lalu menjelaskan cara menuju tempat tersebut. Tidak jauh dari mereka berdiri, ada semacam archa yang berdiri disebuah tiang batu yang sedikit tinggi. berbentuk sebuah makhluk bersayap.
Lelaki itu menyebut jika archa itu akan membantu menunjukkan jalan yang akan mereka lewati. Eyang Sindurogo lalu memutar archa itu sesuai petunjuk yang dijelaskan.
Sraaaaak...!
Duuumm...!
Sesaat kemudian dari bawah tumpukan salju yang berada di bibir jurang meluncur sebuah batu besar yang kemudian menghantam ke arah dinding jurang yang berada diseberang.
Begitu besarnya batu itu seakan jembatan yang dapat digunakan sebagai alat untuk menyebrangi jurang didepan mereka. Setelah batu besar itu menghantam dinding jurang yang berada diseberang, maka bermunculan bebatuan yang membentuk formasi tangga.
"Mengagumkan sekali, seberapa dalam sebenarnya tempat penyimpanan harta Karun kaisar Gong itu?
Lihatlah Pendekar Lelananging jagat, ujung dari tangga itu tidak terlihat oleh gelapnya jurang ini." ujar Dewa Rencong dengan nada terkejut.
Pandangan mata Dewa Rencong mencoba menelusuri panjangnya anak tangga yang mengarah jauh ke bawah. Namun karena gelapnya jurang, membuat matanya tidak mampu menangkap ujung dari tangga itu.
Setelah dentuman keras yang diakibatkan dari hantaman batu barusan, seluruh tempat itu bergetar. Suaranya yang memecahkan kesunyian gunung telah mengakibatkan salju yang menumpuk di lereng berjatuhan dan memicu longsoran.
"Cepat kita harus segera menyeberang, jika tidak ingin terhantam longsoran salju itu." Eyang Sindurogo kembali mengangkat lelaki di sebelahnya diikuti Dewa Rencong disebelahnya.
Mereka tidak melewati jembatan itu, tetapi eyang Sindurogo justru langsung melesat turun ke bawah mengikuti deretan tangga yang ujungnya tidak terlihat oleh gelapnya jurang.
"Seberapa dalam sebenarnya jurang ini?" Eyang Sindurogo terus melesat ke bawah sambil memanggul tubuh lelaki yang kaku hampir sekujur tubuhnya.
Setelah beberapa saat mereka meluncur ke bawah, mereka tidak juga menemukan ujung dari tangga itu. Karena itu eyang Sindurogo mempercepat lesatan tubuhnya.
Hampir seperminuman teh mereka akhirnya mencapai ujung dari tangga yang sedari tadi mereka telusuri. Mereka segera merapat ke dinding jurang. Tempat itu sedikit sekali pencahayaannya, sehingga agak gelap.
Sebuah gerbang menunggu diujung tangga itu. Gerbang batu yang cukup lebar setinggi sekitar satu tombak telah terbuka.
Mereka dapat menemukan tempat itu, sebab dari dalam lorong cahaya seperti obor menyala cukup terang didalam gelapnya kedalaman jurang.
Eyang Sindurogo lalu menurunkan tubuh lelaki yang sedari tadi dia panggul.
"Apakah kamu tau arah lorong ini?"
"Setelah sampai di bibir jurang yang tadi kita lewati, maka ketua memerintahkan diriku dan juga beberapa orang untuk segera mengabarkan kedatangannya kepada markas yang berada di Padang Rumput Neraka.
Karena itu aku tidak mengetahui jalan yang akan tuan lewati."
Mendengar hal itu eyang Sindurogo menganggukkan kepala.
"Bagaimana eyang Sindurogo, berarti dari sini kita akan mencari sendiri?"
"Terpaksa, tetapi ini sudah cukup membantu kita untuk menemukan adinda. Karena aku yakin lorong ini adalah tempat harta Karun kaisar Gong.
Gerbang ini memiliki tanda yang mirip sekali dengan tanda yang terdapat pada belati milik adinda Dewi Anggini."
Mereka berdua akhirnya meneruskan jalan. Sedangkan lelaki yang bersama mereka ditinggal didekat gerbang lorong itu.
Namun belum sepuluh langkah kaki mereka melangkah, mereka telah menemukan sesosok mayat. Pakaian yang digunakan mayat itu adalah milik dari kelompok Mawar Merah. Sebuah pisau yang berkarat telah menancap di dahinya.
"Tempat ini penuh dengan jebakan, lelaki ini telah mati oleh jebakan yang sengaja dipasang untuk membunuh siapapun yang berani memasukinya." Eyang Sindurogo segera bersikap waspada menjaga segala kemungkinan.
Karena dengan adanya mayat itu, artinya tempat itu memang yang sedang mereka cari. Namun itu juga membuktikan adanya jebakan diseluruh tempat tersebut.
"Sepertinya dia mengatakan yang sebenarnya."
Setelah menyaksikan hal barusan, kini Dewa Rencong dapat memastikan, jika ucapan anggota Mawar Merah yang mereka jadikan penunjuk jalan terbukti kebenarannya.
"Sudah aku katakan apa yang diucapkan lelaki tadi memang tidak bohong. Pill yang aku berikan kepadanya akan membuat dia tidak mampu berbohong.