SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 343 Gunung Seribu Labirin



Setelah Suro menghilang dia kemudian muncul didekat Mahadewi. Dara yang sebelumnya telah di selamatkan dia beri beberapa koin emas agar dapat digunakan untuk memulai hidupnya yang baru.


Dia berpesan untuk meninggalkan tempat itu secepatnya, Suro khawatir pasukan musuh akan datang menghampiri tempat tersebut. Suro juga telah menjelaskan perkampungannya telah aman.


"Terima kasih tuan pendekar atas pertolongan ini."


Suro hanya menganggukkan kepala dan menyuruh dia kembali ke ke dalam kampungnya, mungkin dengan bersama yang lain harapan hidupnya semakin tinggi.


Setelah memberikan pesan itu Suro dan Mahadewi lalu bergerak meninggalkan tempat tersebut.


"Kita akan pergi kemana kakang?"


"Kita akan mencoba menemukan markas Mawar Merah yang sedang dicari eyang guru." Suro kali ini memilih menelusuri petunjuk yang dikatakan bapak tua yang diselamatkan sebelumnya dengan melalui jalan darat.


Selain itu kecepatan Langkah Kilat milik Mahadewi meningkat drastis. Sebab kemampuannya telah mencapai tingkat shakti.


Dia mencapai kekuatan itu setelah ikut mengkonsumsi Pill Bhavana Sahasra Nirvana milik gurunya. Dengan tingkat kemampuan sebesar itu membuat Langkah kilat miliknya dapat mengimbangi kecepatan Suro.


"Sejak kita ada di Perguruan Pedang Surga, kakang sudah berusaha mencari markas itu dengan bertanya kepada pusaka Kaca Benggala, tetapi pusaka itu tidak menunjukkan apapun. Itu artinya sebuah segel sihir yang cukup kuat telah melindunginya."


"Jika kita mengikuti petunjuk yang diarahkan bapak tua tadi, maka didepan akan ada sungai yang harus dilewati." Mereka berlari cukup lama menembus Padang rumput luas yang membentang.


"Apa yang kakang lakukan kepada kelompok yang menyerang penduduk tadi kakang?"


"Aku hanya menghabisi pemimpinnya, aku yakin dengan melakukan itu, aku berhasil menyelamatkan nyawa orang yang tidak berdosa lebih banyak. Sebab jenis orang seperti dia hanya akan menebar teror disetiap jalan yang dilaluinya, terutama kepada orang yang lebih lemah."


"Lalu apa yang kakang lakukan kepada yang lainnya, tentunya mereka tidak jauh berbeda dengan pemimpinnya?"


"Aku hanya membuat mereka tidak mampu menggerakkan satu jaripun milik mereka dengan meracuninya. Racun yang aku gunakan sama seperti yang digunakan untuk meracuni tetua Dewi Anggini."


"Bukankah pasukan yang meracuni adalah kelompok pembunuh Mawar Merah seperti yang barusan kakang hadapi, bagaimana jika mereka memiliki penawarnya?"


"Jangan khawatir mereka ternyata tidak memilikinya. Mereka tidak lebih daripada orang yang suka membunuh dan direkrut sebagai kaki tangan para kelompok pembunuh bayaran Mawar Merah yang asli."


"Bagaimana kakang mengetahuinya?"


"Insting kakang kuat, sehingga setiap tindakan kakang hampir tidak meleset, seperti yang telah aku raba."


"Ooo...jadi insting yang kuat ini, akhirnya kakang membawa seorang dara cantik itu pulang kekediaman kakang?"


"Kabarnya dara itu rela menjadi yang kedua atau bahkan yang ketiga selama kakang mau memberinya keturunan?"


Suro tidak menjawab dia pura-pura tidak mendengar ucapan Mahadewi.


'Gawat perempuan ini masih saja membawa masalah kesini, padahal Luh Niscita sudah aku tinggalkan di Yawadwipa."


Sambil mencoba mengalihkan topik pembicaraan, Suro menyadari tempat yang telah dilewati barusan telah diperlihatkan di dalam bayangan pusaka Kaca Benggala.


"Sepertinya tempat ini tadi yang diperlihatkan oleh kaca Benggala. Sebaiknya rencana kita rubah sedikit adinda Mahadewi."


"Maksud kakang?"


"Kita akan mencari eyang Guru dan paman Dewa Rencong terlebih dahulu."


Dengan mengingat apa yang telah diperlihatkan pusaka kaca Benggala Suro terus menelusuri daerah Padang rumput itu.


" Siapa kalian!"


Suwiiing...


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Trang! Trang!


Sebuah teriakan mengawali serangan tombak dan anak panah dalam jumlah yang tidak terkira.


Mahadewi segera menunjukkan kepada Suro kepiwaiannya menggunakan jurus sepuluh bilah pedang terbang.


"Arah kita sepertinya sudah tepat!"


Suro kemudian menghilang dari samping Mahadewi, dia kemudian menggunakan Langkah Maya untuk menghabisi pasukan pemanah yang ada di kejauhan dibalik cabang pohon yang tersebar didepan mereka.


Satu demi satu mereka jatuh dari atas pohon dengan luka yang membuat mereka langsung tewas. Mereka tidak memahami bagaimana rekan-rekannya berjatuhan.


Tetapi jawaban itu segera mereka dapatkan, sebab pembunuh yang menghabisi rekan mereka telah muncul didepan mata sendiri. Dan artinya itu juga pertanda dari akhir riwayat mereka.


"Sepertinya mereka penjaga terluar dari daerah kekuasaan kelompok pembunuh bayaran Mawar Merah."


Setelah memastikan tidak ada satupun yang tersisa Suro dan Mahadewi kembali melanjutkan perjalananya.


Belum selesai mereka merenggangkan otot setelah pertempuran kecil yang barusan mereka lewati, kembali serangan datang menghadang mereka.


Kali ini pasukan yang menghadang lebih banyak daripada sebelumnya. Pasukan itu menyerang mereka berdua saat melewati sebuah ngarai yang dihimpit dua tebing yang menjulang tinggi.


Hujan anak panah seakan tidak ada putusnya menyergap mereka berdua. Mahadewi berusaha menunjukkan, jika dia tidak akan menjadi beban bagi Suro.


Kepiwaiannya dalam memainkan jurus pedang memang sangat mengagumkan. Tidak salah jika dia murid kesayangan Dewi Anggini yang memiliki sebutan Dewi Tangan seribu.


Begitu juga Mahadewi, dia memainkan sepuluh bilah pedang terbang seolah memang Mahadewi memiliki sepuluh lengan tangan.


Tidak ada satupun anak panah yang mampu menembus pertahanan pedangnya. Kondisi itu membuat frustasi orang-orang yang menyerangnya.


Saat mereka melewati sebuah belokan, maka kali ini serangan mereka bukanlah anak panah, namun gelontoran batu-batu besar yang menghujani mereka berdua.


Melihat serangan yang tidak mungkin ditahan dengan jurus pedang Mahadewi, maka kali ini yang bergerak maju menahan hujan batu-batu besar adalah Suro sendiri.


Dia segera mengerahkan tehnik perubahan tanah.


Dia tidak mencoba menahan gelontoran batu-batu tersebut, tetapi dia justru meruntuhkan tebing tempat musuh itu bersembunyi diatasnya.


Maka apa yang terjadi kemudian musuh yang bersembunyi dipuncak tebing justru tenggelam dalam longsoran tanah.


Mahadewi, telah diperintahkan oleh Suro untuk mundur sejauh mungkin terlebih dahulu, sebelum ia mengerahkan jurus tersebut.


Sebab tebing yang menjulang tinggi itu, kini amblas longsor seperti salju saja.


Suro dengan begitu piawai dapat berdiri diatas longsoran tanah, seakan peselancar air yang bermain di atas papannya.


Melihat seluruh musuhnya tenggelam ke dalam tanah Suro kemudian melanjutkan perjalanannya. Semakin mereka melangkahkan kaki, maka lawan yang di hadapi terus bertambah semakin banyak.


"Kemana eyang guru, seharusnya di tempat inilah dirinya tadi sempat aku lihat di dalam bayangan kaca benggala?"


"Benar kakang, apa mungkin telah pergi? Menurut Mahadewi orang-orang yang terus berdatangan ini datang bukan karena kedatangan kita. Tetapi sepertinya mereka datang karena serangan selain kita yang telah menyambangi tempat ini sebelumnya."


"Benar juga apa yang adinda Mahadewi katakan, mereka sepertinya merespon serangan lain sebelum kita. Karena itulah mereka terus berdatangan seperti tidak ada habisnya."


"Mengikuti perkataan pak tua tadi, dia mengatakan setelah kita melewati seribu labirin yang memenuhi daratan berbukit batu didepan kita ini, maka kita akan dapat menemukan markas Mawar Merah berdiri."


"Maksud kakang kita masuk ke dalam celah-celah diantara bebatuan yang sebesar bukit-bukit itu?"


"Mungkin saja adinda Mahadewi, tetapi jika ada cara lain mungkin kita akan menghumakannya. Sebab dengan labirin sebanyak ini tentu akan sangat menyulitkan. Pasti akan banyak jebakan yang menunggu."


"Bahkan pasukan sebuah kerajaan sekalipun akan kerepotan, jika hendak menyerbu markas mereka. Pegunungan dengan seribu labirinnya memang mampu melindungi markas Mawar Merah dari serangan musuh. Sehingga sebanyak apapun pasukan yang memasuki daerah ini, maka akan dapat dikalahkan oleh kelompok pembunuh bayaran Mawar Merah."


"Apakah guru ada dimarkas ini kakang?"


"Kakang tidak dapat menjawabnya sekarang adinda, karena saat ini aku tidak menemukan jawabannya, bahkan dengan bertanya kepada pusaka kaca benggala sekalipun, kakang tidak menemukan jawabannya."


"Sebab tetua Dewi Anggini tidak nampak dan tidak mampu diperlihatkan oleh pusaka kaca benggala."


"Kondisi markas Mawar Merah yang juga dilindungi sihir perlindungan yang kuat, mungkin saja menjawab keberadaan tetua Dewi Anggini guru adinda Mahadewi."