SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 229 Penjara Bawah Tanah



Suro segera mengerahkan jurus api hitam Naga Taksaka miliknya. Saat api hitam itu muncul sesosok manusia menghadang persisi di depan lesatan kobaran api hitam itu.


Kobaran api hitam yang hendak membakar mereka semua mendadak lenyap. Suro terkejut dengan pengerahan jurus musuh. Sebab lelaki itu memiliki jurus yang sedikit mirip dengan jurus yang digunakan Batara Antaga.


"Gawat diantara mereka ada yang memiliki kemampuan seperti Batara Antaga! Pertempuran kali ini tidak akan mudah dilalui, Geho sama!"


'Lebih baik kita periksa lebih dahulu ke seluruh istana ini, apakah ada manusia lain atau tidak, tuan? Sebab jika kita meneruskan pertempuran, hamba yakin seluruh istana ini akan hancur dengan cepat. Sebab musuh yang ada memiliki kekuatan yang sudah berada pada tingkat langit.' Gagak setan berbicara didalam kesadaran Suro mencoba mengingatkan Suro, jika mereka meneruskan pertempuran dengan menggunakan kekuatan maksimal.


"Baik?" Suro menyetujui usulan Geho sama. Maka sekejap kemudian mereka telah lenyap dari hadapan musuh yang mengepungnya.


Melalui permukaan tanah Suro mencoba memeriksa seluruh bangunan untuk mencari yang mungkin saja ada yang bisa diselamatkan oleh mereka. Hampir setiap tempat di dalam istana itu telah dipenuhi orang-orang yang telah menyerap kekuatan kegelapan. Hal itu ditandai dengan munculnya tanduk di dahinya.


Orang-orang tersebut masih memiliki kesadaran sendiri dan masih dapat berpikir dengan menggunakan pemahaman dan kepandaiannya sebagaimana manusia pada umumnya. Namun kondisi mereka sudah tidak dapat lepas dari kekuasaan Dewa kegelapan.


Selain itu mereka menjadi bawahan atau kaki tangan Dewa Kegelapan atas kehendak mereka sendiri. Memang itulah yang mereka inginkan untuk mendapatkan kekuatan yang luar biasa setelah menyerap kekuatan yang ada di alam lain.


Suro akhirnya tidak dapat menghindari semua manusia yang sudah mendapatkan kekuatan dari Dewa Kegelapan itu. Sedulur papat yang dia kuasai segera menyambut serangan lawannya.


tiga puluh pedang di dalam sarung pedang yang menggantung dipundaknya telah melesat semua dan bergerak cepat menghabisi seluruh musuh yang hendak menyerangnya. Api hitam milik Lodra langsung memastikan mereka tidak dapat bangkit kembali.


Lawan mereka kali ini tidak mudah di hadapi tetapi jurus pedang terbang miliknya begitu cepat dipadukan dengan jurus perubahan tanah yang membuat mereka tertahan beberapa saat sudah cukup bagi Lodra untuk membumi hanguskan wadak atau tubuh mereka.


'Tuan untuk menghemat tenaga dalam sebaiknya gunakan Jurus Perubahan Tiga Musang Api.' Suro mendengar penjelasan Lodra yang mencoba memberikan masukan alih-alih menggunakan jurus Langkah Maya untuk menghabisi lawan yang telah terjebak oleh tehnik perubahan tanah miliknya.


Jurus Perubahan Tiga musang api adalah tehnik tebasan khusus yang tidak biasa, sebab api hitam akan menyebar menuju tiga arah yang berbeda secara bersamaan. Api hitam itu kemudian membentuk wujud seekor musang yang berlari seakan tanpa arah karena arah larinya seperti gerakan zig-zag dan dilakukan secepat kilat.


Jurus ini tidak ubahnya seperti peluru yang ditembakkan melalui tebasan pedang. Setiap wujud musang itu setelah mengejar sasaran akan berhenti dan membakar tubuh lawannya sampai tidak tersisa. Itu jika mengenai, tetapi jika tidak mengenai sasaran maka api itu tidak lama kemudian akan menghilang.


Sesaat setelah itu semua musuh yang berjumlah lima belas orang dengan kekuatan yang rata-rata telah berada di tingkat langit dapat dihabisi, sesaat kemudian muncul musuh lain yang berdatangan dari segala arah.


Geho sama langsung menghadapi mereka semua yang datang dengan mengerahkan sembilan tubuh ilusinya. Suro yang berada disampingnya telah pergi. Sebab setelah berhasil menghabisi lima belas lawannya, Suro memilih melanjutkan langkahnya dan menghilang dari tempat itu.


Dia memang sejak awal hanya membuka jalan untuk kembali melanjutkan pencarian manusia yang mungkin saja masih ada di dalam istana. Suro berharap masih menemukan seseorang yang dapat dia selamatkan. Mengenai sisanya dia menyerahkan kepada Geho sama yang akan menghabisi mereka.


Dia tidak membuat serangan dengan kekuatan maksimal, sebab itu tentu akan menghancurkan seluruh bangunan istana itu. Sebelum menghabisi seluruh lawannya Suro hendak memastikan tidak ada seorangpun yang berada di istana itu kecuali pasukan kegelapan.


Setelah beberapa kali berpindah tempat, akhirnya Suro sampai di dekat penjara bawah tanah. Suro dapat merasakan seseorang berada di dalam penjara bawah tanah melalui ilmu perubahan tanah miliknya.


Sebenarnya selain mencari manusia yang mungkin saja dapat diselamatkan di dalam istana, Suro memiliki tujuan lain, yaitu hendak mencari keberadaan gurunya. Terakhir kali dia melihat gurunya melalui Pusaka Kaca benggala sedang berada di dalam istana Kerajaan Champa.


Tetapi hampir seluruh bagian istana itu telah dia kelilingi, guru yang Suro cari tidak juga diketemukan. Dia justru terus bertemu musuh yang memiliki tanduk di kepalanya. Bentuk itulah yang membuat Suro bisa membedakan mereka dengan manusia normal dan memastikan jika mereka adalah bagian dari pasukan kegelapan.


"Geho sama susul diriku! Aku merasa menemukan beberapa orang di dalam penjara bawah tanah!" Suro berteriak memberi perintah kepada Geho sama. Sebab manusia yang bentuknya seperti setengah burung itu sedang berada ditempat lain masih bertarung dengan pasukan kegelapan.


Mendengar perintah Suro yang mampu dia dengar dari dalam kesadarannya, segera dia menghilang dari hadapan musuhnya dan muncul disamping Suro.


Mereka berdua kemudian melanjutkan perjalanan melewati lorong besar yang terus mengarah ke bawah. Setiap manusia bertanduk disepanjang lorong yang mereka temui dengan cepat berhasil di habisi oleh Suro dan juga Geho sama.


Sebuah pintu besi besar menghalangi langkah mereka. Suro segera mengerahkan jurus kedua Tapak Dewa Matahari, lesatan sepuluh sinar yang keluar dari ujung jarinya dengan cepat menghancurkan seluruh jeruji besi itu.


Mereka kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam bagian penjara bawah tanah itu. Dia meyakini jika ada manusia yang masih dipenjara didalam ruangan bawah tanah tersebut. Karena dia mampu mengetahui keberadaan mereka setelah merasakan melalui getaran tanah yang dia terima.


Tidak beberapa lama kemudian dia sudah sampai didepan sebuah ruangan yang berisi empat orang.


"Kalian jangan takut, sebab kami hendak menolong kalian semua keluar dari penjara ini." Suro menatap seseorang yang memakai pakaian yang begitu mewah. Tetapi wajahnya begitu sayu seakan sudah tidak makan selama beberapa hari.


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu memiliki pakaian yang tidak biasa, bisa dikatakan sangat mewah dan tidak pantas jika mereka disebut sebagai tahanan biasa.


"Terima kasih dengan pertolongan kalian tuan pendekar. Tetapi kami memilih akan tetap berada di ruangan ini."


Suro yang mendengar jawaban lelaki setengah baya didepannya sedikit kebingungan. Dia tidak segera membalas ucapan lelaki itu, tetapi mulai menghancurkan pintu besi dengan jurus pertama dalam Tapak Dewa Matahari.


"Aku tidak tahu apa alasan kalian tidak mau aku selamatkan. Tetapi seluruh Kotaraja didalam benteng dan juga seluruh istana ini sudah tidak ada manusia lain kecuali kalian."


"Mereka pasukan kegelapan memiliki satu tujuan, yaitu hendak membantai seluruh penduduk kerajaan Champa ini. Mereka semua yang ada diluar benteng akan bernasib sama dengan para penduduk kota raja yang sudah terlebih dahulu dibawa masuk ke dalam gerbang gaib."


"Setelah masuk ke dalam gerbang gaib, mereka dikirim ke alam lain yang akan merubah mereka semua menjadi pasukan kegelapan. Jangan tanya bagaimana aku mengetahuinya. Waktu kalian tidak banyak, sebab sebentar lagi pertempuranku dengan seluruh pasukan kegelapan tidak dapat dielakkan. Kemungkinan istana ini akan hancur. Jadi terserah kalian ingin mati di dalam ruangan ini atau kalian aku bawa pergi dari ruangan ini."


"Benarkah apa yang tuan pendekar katakan? Sebab mereka menjamin keselamatan para penduduk dan juga prajurit yang menjadi bawahan ku, jika aku menuruti kemauan mereka."


"Siapa kalian ini sebenarnya?" Suro menggaruk-garuk kepalanya menatap ke arah mereka berempat. Sebab lelaki itu menyebut para prajurit adalah bawahannya.


Selain lelaki berumur sekitar setengah baya, disampingnya berdiri seorang wanita yang berumur sekitar empat puluh tahunan. Wajahnya cukup cantik dan sejak awal Suro menerka mereka adalah keluarga bangsawan penting di kerajaan Champa.


Seorang pemuda dan seorang dara cukup rupawan berdiri dibelakang lelaki setengah baya itu. Walaupun kondisi mereka cukup menyedihkan dan seperti sedang di dera kelaparan yang amat sangat, tetapi Suro membaca mereka adalah golongan para bangsawan, itu bisa dilihat dari pakaian yang mereka kenakan.


"Saya adalah Raja Chambuwarman. Siapakah nakamas ini sebenarnya? Aku tidak pernah melihat seseorang yang menggunakan pakaian seperti nakmas, kecuali orang-orang dari negeri Yawadwipa."


"Mohon ampun hamba tidak mengetahui jika paduka adalah Raja dari Kerajaan Champa ini. Memang benar, hamba bukan dari negeri ini. Tetapi berasal dari tempat yang jauh, yaitu dari tanah Yawadwipa."


"Sebaiknya hamba mengantarkan paduka beserta keluarga paduka secepatnya keluar dari ruangan ini. Masalah lain akan hamba jelaskan nanti. Sebentar lagi mereka akan datang!" Suro yang merasakan getaran tanah segera mengetahui orang-orang bergerak ke dalam penjara bawah tanah.


Setelah raja itu menyetujui Suro meminta memegang tubuhnya dan juga Geho sama, dalam sekejap kemudian mereka telah muncul di luar benteng kota raja.


Pasukan Kerajaan Champa yang melihat rajanya berhasil diselamatkan oleh orang yang tidak mereka kenal, awalnya mereka menatap dengan waspada. Mereka mengira Suro dan Geho sama bagian dari pasukan kegelapan.


Mereka sangat pantas untuk curiga, sebab dengan wujud Gagak setan yang tidak lazim itu selalu memancing orang untuk waspada kepadanya. Apalagi mereka muncul dengan mendadak. Tanpa angin tanpa hujan bisa langsung muncul didepan mereka seperti hantu.


"Kalian jangan khawatir mengenai dua pendekar yang menolongku, aku pastikan mereka ada di pihak kita." Raja Chambuwarman menjelaskan kepada punggawa kerajaan yang mendekati mereka dengan sangat waspada. Tombak dan segala senjata telah mereka genggam.


"Paduka mohon ampun, sebaiknya seluruh masyarakat segera menjauhi dari kota raja ini secepatnya. Mereka pasukan kegelapan yang ada didalam istana bukanlah manusia sembarangan. Kekuatan mereka dapat menghancurkan seluruh kota raja dengan mudah. Sebaiknya paduka mempertimbangkan saran saya ini." Suro menjura cukup dalam kepada Raja Chambuwarman.


Mendapat saran dari Suro segera raja itu memerintahkan para bawahannya, yaitu punggawa kerajaan untuk mengatur para penduduk segera meninggalkan tempat itu secepatnya.