
"Mengapa kakang Suro pergi begitu lama?" Mahadewi mengetuk-ketuk jarinya di meja.
Dia bersama Yang Xiaoma, Yang Jiang dan juga ditemani Yang Xie Ying wanita cantik yang selalu bersama dua pria itu.
Yang Xiaoma anak walikota Shaanxi Yang Taizu, mencoba merayu Mahadewi. Hampir seharian dia mengajak jalan Mahadewi dan membelanjakan pakaian terbaik.
Dia ingin membuat wanita itu terpesona pada dirinya. Tetapi jangankan terpesona, memikirkan saja dia tidak. Sebab pikirannya sedang menunggu Suro yang tidak juga datang
Sudah seminggu Suro menyusul Geho Sama mengejar pasukan Elang Langit. Tetapi dia tidak mendapatkan kabar sama sekali sedang ada dimana dan bagaimana keadaannya.
Dia tau pemuda itu bersama Geho Sama bisa dimana saja tidak diketahui rimbanya. Bahkan gurunya, yaitu eyang Sindurogo tidak mengetahui kemana muridnya itu mengejar pasukan Elang Langit.
Dia cukup kesepian, sebab di Negeri Atap Langit bisa dikatakan ditinggal sendirian di kota Shaanxi. Walaupun dia tinggal di rumah megah milik walikota Yang Taizu.
Walaupun hampir setiap hari Yang Xiaoma mencoba menghibur dan membuatnya tidak merasakan kesepian. Tetapi raut muka dara itu tidak bisa dibohongi, dia tetap tidak terhibur.
Gurunya tetua Dewi Anggini bersama Dewa Rencong mengawal walikota Yang Taizu pergi ke kota kerajaan untuk melaporkan ancaman serangan kerajaan lain kepada Kaisar Yang Guang.
Dia disuruh menunggu di kota Shaanxi bersama eyang Sindurogo. Tetapi karena beberapa alasan yang dia tidak diceritakan, pendekar itu justru meninggalkan dirinya sendiri.
Sempat eyang Sindurogo mengajaknya kembali ke Yawadwipa. Tetapi Mahadewi menolaknya. Mahadewi berkilah hendak menunggu Suro yang sedang pergi mengejar pasukan Elang Langit.
Mahadewi juga tidak ingin membuat Eyang Sindurogo semakin kerepotan. Sebab dia terlihat begitu buru-buru. Eyang Sindurogo kembali ke Yawadwipa karena ada ancaman besar melanda negeri Yawadwipa.
Kemungkinan akan terjadi dalam waktu tidak lama. Oleh karena itu dia hendak memperingatkan kerajaan-kerajaan yang ada di Yawadwipa untuk bersiap dengan kemungkinan datangnya serangan besar.
Mahadewi tidak berani bertanya lebih lanjut. Eyang Sindurogo kembali ke Yawadwipa dengan menggunakan Langkah Maya.
Setelah kepergian eyang gurunya, maka secara tidak langsung kini dia berada di negeri asing sendirian. Beruntung dia sudah mengenal Yang Xiaoma dan beberapa temannya.
Merekalah yang selama beberapa hari ini terus menemani dirinya. Yang Xiaoma justru menjadikan kesempatan itu untuk terus berusaha mendekati dara tersebut. Meski gadis lain, yaitu Yang Xie Ying mulai memasang wajah cemberut.
"Mahadewi kenapa hanya melamun saja? Sudah ada aku disini yang menemanimu, apakah dirimu masih merasakan sepi," Yang Xiaoma bertanya kepada Mahadewi sambil mengambilkan bakmie ke piring Mahadewi yang masih kosong.
Dara itu hanya memegang sumpit tanpa berselera untuk mencicipi masakan yang sudah dihidangkan diatas meja.
"Andai kakang Suro ada pasti dia akan sangat menyukainya," ucap Mahadewi sambil menatap ayam goreng didepannya.
"Urusan pendekar Suro belum selesai, pasti dia akan kembali jika semua urusan dengan pasukan Elang Langit berhasil diatasi." Yang Xiaoma kembali merajuk dan meminta Mahadewi untuk mencicipi masakan di hadapannya.
"Yang Jiang, kenapa kamu tidak memintaku untuk menghabiskan makanan ini?" tanya Yang Xie Ying sambil menatap Yang Jiang dengan tajam.
Wajahnya yang putih telah bersemu merah pertanda dia sedang kesal. Sebenarnya dara itu sedang menunjukkan kekesalan kepada Yang Xiaoma. Ada api cemburu di dada gadis itu melihat anak walikota itu begitu tertarik kepada Mahadewi.
Yang Jiang tidak segera menjawab, dia justru sibuk menghabiskan mie didalam mangkuknya.
"Yang Jiang!" Suara Yang Xie Ying mengagetkan mereka berempat.
Bahkan Yang Xioma yang terus merayu Mahadewi untuk mencoba masakan yang sudah diambilkan di piring, berhenti berbicara dan menoleh ke arah Yang Xie Ying.
Tetapi tatapan itu hanya sebentar saja. Sebab dia kembali melanjutkan untuk meminta Mahadewi mengisi perutnya.
"Lihatlah pakaian yang kau gunakan seolah kau adalah Dewi bulan yang sedang duduk ditemani indahnya bulan purnama.
Cepatlah adinda Mahadewi makan, aku takut nanti para dewa marah kepadaku, karena membiarkan dara secantik dirimu dibiarkan kelaparan."
Permintaan merajuk Yang Xiaoma semakin membuat kesal Yang Xie Ying. Mahadewi sendiri justru tenggelam dalam lamunannya. Dara itu tidak mampu tenang memikirkan Suro.
Pikirannya terus hanya terbayang-bayang wajah Suro. Bahkan alasan dia belajar secara mati-matian untuk menguasai jurus Sepuluh Pedang Terbang, hanya satu alasannya, yaitu membuat Suro terpesona.
Tetapi pemuda itu setiap kali menghilang dan datang kembali perkembangan kekuatannya sangatlah menakutkan. Berbeda dengan Kemajuan tenaga dalam yang dicapai Mahadewi.
Walaupun jika dibandingkan dengan para pendekar seangkatan dirinya, pencapaian kekuatan pada tingkat shakti adalah pencapaian yang luar biasa. Tetapi jika dibandingkan dengan pencapaian kekuatan milik Suro, tentu tidak ada apa-apanya.
Padahal kekuatan itu dia peroleh dengan susah payah. Sebenarnya kesempatan dirinya menunjukkan kekuatannya kepada Suro dalam pertempuran sebelumnya pada awalnya membuatnya cukup senang.
Tetapi dengan berjalannya pertempuran demi pertempuran, dara itu segera menyadari, jika dirinya berada disamping pemuda itu hanya akan menjadi beban.
Sebab lawan yang dihadapi rata-rata seperti kekuatan monster. Bahkan bisa dikatakan kekuatan lawan rata-rata dalam pertempuran itu setara dengan kekuatan Dewa Pedang, ketua Perguruan Pedang Surga.
"Mahadewi, adinda..Mahadewi," suara Yang Xiaoma setelah sekian kali akhirnya menghentikan lamunannya.
"Ma..maaf aku terlalu memikirkan beberapa hal, sehingga tidak mendengar ucapan kisanak." ucap Mahadewi yang mulai menggerakkan sumpit ditangannya.
"Mengapa harus kisanak, mengapa tidak menyebut diriku saudara Xiaoma saja atau kakak Xioma agar lebih akrab."
"Sejak kapan bapakmu menikah dengan ibuku sehingga dirimu menganggap aku saudaramu atau menganggap aku adikmu?"
Suara ketua Mahadewi menghentikan ucapan Yang Xiaoma.
"Terima kasih pendekar Mahadewi, ucapan pendekar sungguh membuatku tercerahkan," Yang Xie Ying menangkupkan kedua tangannya lalu membungkuk hormat.
Dara itu begitu senang mendengar jawabannya, sebab itu pertanda rayuan gombal Yang Xiaoma tidak mempan meluluhkan hati Mahadewi.
"Silahkan nikmati masakan pilihan yang telah aku pesan, semoga pendekar Mahadewi tidak kecewa dengan pesananku ini!" Demi menutupi rasa malu atas jawaban Mahadewi, Yang Xiaoma mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dia juga menyebut Mahadewi kembali dengan panggilan pendekar yang biasa dia gunakan. Memang kekuatan Mahadewi berada diatas mereka semua, sehingga Yang Xiaoma terpaksa harus menghormatinya.
Apalagi dengan kejadian lalu ditempat tersebut, yaitu di rumah makan Pavillum Angin Utara cabang kota Shaanxi. Seandainya kejadian waktu itu tidak ditolong, tentu nyawanya sudah melayang.
"Kau tidak perlu membayari pesanan makanan ini Xiaoma, aku sudah membayarnya."
"Kau tau mengapa aku tidak menyukai jenis lelaki sepertimu Xiaoma? Kau hanya bisa berbicara manis, tetapi setelah mendapatkan apa yang kau mau, maka wanita-wanita yang mengejarmu kau campakkan begitu saja.
Aku rasa temanmu ini Yang Xie Ying adalah salah satunya." Suara pedas dari Mahadewi membuat mereka bertiga tercekat.
Kejadian berikutnya, Yang Xie Ying mulai meneteskan mata dan berlari sambil menangis. Dia tidak mampu menahan tangisnya dan berlari ke arah tangga menuju lantai dibawahnya.
Mereka makan dilantai ketiga tempat yang selalu menjadi favorit Yang Xiaoma. Kerusakan yang terjadi sebelumnya sudah diperbaiki, sehingga tempat itu kembali buka.
Belum sempat Yang Xiaoma, maupun Yang Jiang hendak mengejar Yang Xie Ying. Mendadak dara itu kembali berjalan ke atas.
Tetapi dibelakangnya seorang lelaki jangkung mengalungkan golok keleher gadis tersebut.
Yang Xioma langsung menepuk dahinya," apa lagi ini?"
"Apakah kalian belum mendengar nasib teman-teman kalian yang berani menggangguku?" Yang Xiaoma menatap lelaki yang mengalungkan golok dileher Yang Xie Ying.
Dia mencoba menggertak lelaki itu. Sebab Yang Xiaoma mengenali lelaki yang sedang menyandera Yang Xie Ying.
Dia dikenal sebagai iblis pemetik bunga. Sebagai anak walikota Shaanxi kehidupan Yang Xiaoma sedikit rumit.
Beberapa kali dia berurusan dengan para pendekar aliran hitam. Sebagian besar itu berkaitan dengan masalah ayahandanya.
Di awal ayahandanya menjadi seorang walikota sempat menyewa pembunuh bayaran untuk menyingkirkan lawan politik atau pejabat lainnya.
Para pembunuh bayaran yang dia sewa berasal dari kelompok Mawar Merah. Sehingga secara tidak langsung membuat Yang Xiaoma harus terlibat dengan para tokoh didalam kelompok yang berada di sekitar wilayah Shaanxi.
Salah satu yang dia kenal adalah lelaki yang berada didepannya itu. Tetapi dia agak kebingungan, sebab dia tidak memiliki urusan atau pernah berurusan dengan lelaki itu.
Sebelum kelompok Mawar Merah telah dibubarkan oleh Suro, iblis pemetik bunga merupakan anggota kelompok itu. Dari situ Yang Xiaoma mencoba memancing dengan menghubungkan dengan masalah yang terjadi antara dirinya dengan mantan kelompok Mawar Merah.
Dia menebak, iblis pemetik bunga datang kepadanya atas perintah salah satu tokoh mantan kelompok Mawar Merah.
"Kau ingin menakuti kami?"
Iblis Pemetik Bunga menatap Yang Xiaoma dengan melotot.
"Kali ini jangan harap ada yang menolongku anak muda! Urusanmu dengan kelompok Mawar Merah tidak berhenti begitu saja setelah kelompok kami dibubarkan!"
"Tidak juga setelah kelompok Pedang setan dan juga Golok setan yang telah dihancurkan. Aku mendengar kelompok mereka dapat dibantai, sebab pendekar yang telah menghancurkan kelompok kami ikut campur."
Lelaki itu berhenti berbicara dan meludah,"Cuuuiih..tetapi jangan berbangga dulu. Kelompok kami sudah mendengar para pendekar itu telah meninggalkan wilayah Shaanxi ini."
Wajah Yang Xiaoma berubah menjadi begitu pucat, seakan tidak memiliki darah, begitu mendengar ucapan lelaki itu. Sebab dugaannya memang benar, jika lelaki itu hendak menghabisinya kembali setelah mendengar para pendekar yang menolongnya tidak lagi berada di wilayah Shaanxi.
"Apa kau lupa kami ini mantan kelompok Mawar Merah yang memiliki kemampuan mengumpulkan informasi dengan sangat baik? Kali ini sebagai sesama mantan Mawar Merah, aku akan membalas kematian Golok setan dan Pedang setan!"
Lelaki itu sudah berada di tingkat shakti lapis ke lima. Begitu juga beberapa pendekar yang bersamanya tidak jauh dari kekuatan lelaki itu.
Meskipun kekuatan mereka masih dibawahnya. Tiga diantaranya yang sudah berada di tingkat shakti berada dua lapis dibawahnya.
Tetapi sebagian besar yang berada pada tingkat tinggi sudah berada pada lapisan atas. Antara lapis delapan, atau justru masih lapis tujuh.
Walaupun kebanyakan sudah pada tingkat tinggi lapisan ke sembilan atau lapisan puncak. Jumlah keseluruhan mereka kurang lebih sekitar dua lusin.
Yang Xiaoma tersenyum kecut melihat musuh yang siap membunuh mereka. Matanya sempat melirik ke arah Mahadewi, tetapi dara itu terlihat cuek dan sibuk memakan makanan yang sebelumnya tidak dia sentuh.
"Pengawal yang berada dibawah sudah kami habisi terlebih dahulu. Jadi sekarang tidak ada seorangpun yang menolongmu!" Lelaki yang menghunuskan golok menyeringai memperlihatkan giginya yang hitam.
**
Sampai disini jangan lupa untuk memberikan like ya jangan lupa,
terutama sumbangan poin untuk vote.