
Eyang Sindurogo mendengar semua pertanyaan Suro mengenai rencana awalnya sampai pemuda itu selesai berbicara. Sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut pendekar tersebut tersenyum kecil.
"Mengenai lelaki itu, sebenarnya kita belum tentu menemukan dirinya digunung Thai Hang. Walaupun dia memiliki sebuah padepokan dipuncak salah satu pegunungan itu. Tetapi dia adalah seorang pengembara yang sangat sulit ditemukan.
Dan jangan berharap kamu mampu melacaknya dengan menggunakan pusakamu itu, sebab dia juga memiliki tehnik tertentu agar tidak mudah dirinya dapat diketemukan oleh siapapun, kecuali memang berjodoh."
Suro mendengar penjelasan gurunya hanya bisa mengangguk-anggukan kepala.
"Lalu buat apa dirimu mengajak kita ketempat itu jika kemungkinan kecil dapat bertemu dengan sosok yang kau sebutkan?" Dewa Rencong berbicara dengan bersungut-sungut.
"Jika masih ada kemungkinannya, walaupun kecil, apa salahnya kita coba?" Eyang Sindurogo membalas ucapan Dewa Rencong tetap dengan sebuah senyuman kecil.
Sebelum perdebatan berlanjut Yang Xiaoma mulai berbicara, Dewa Rencong yang hendak melanjutkan ucapannya, karena merasa keputusan Eyang Sindurogo kurang tepat, akhirnya memilih mendengar apa yang diucapkan pemuda itu.
"Jika para pendekar hendak menyelidiki tentang hilangnya para bayi dan kematian para penduduk yang cukup misterius ini, ada baiknya jika para pendekar berkenan bertemu dengan ayahandaku.
Sebagai seorang walikota Shanxi tentu ayahandaku akan dapat membantu. Selain itu kami juga akan terbantu. Sebab kejadian itu telah membuat ketakutan penduduk kota ini.
Jika para pendekar hendak menghentikan teror yang telah terjadi dikota ini. Aku yakin ayahanda dengan tangan terbuka akan menerima bantuan pendekar sekalian.”
Yang Xiaoma berbicara dengan sedikit menunduk untuk menunjukkan rasa hormatnya. Perubahan sikap yang begitu drastis tentu saja adalah akibat yang baru saja terjadi.
Walaupun sebelumnya dia adalah seorang yang selalu bersikap sombong kepada orang lain, kini dia telah merasakan akibat kesombongannya. Pelajaran hidup yang sangat berharga, seakan telah merubahnya menjadi manusia yang baru.
Sebab akibat kesombongannya, hampir saja nyawanya dan juga teman-temannya hampir saja lepas. Beruntung ada pendekar yang menolongnya.
Jika tidak, tentu dia, sahabatnya dan bisa jadi seluruh keluarganya akan ikut dibantai oleh kelompok Golok setan.
Padahal sebelumnya pendekar yang telah menolong dirinya hendak dicelakai. Kini merekalah yang justru menjadi penyelamat jiwanya. Seluruh racun yang terlanjur masuk ke tubuh mereka telah diobati dengan sempurna.
"Tentu kami akan meminta tolong Yang Taizu ayahmu, agar kami dapat secepatnya mengetahui sumber malapetaka yang terjadi di kota ini."
Mendengar ucapan Yang Xiaoma barusan, Dewi Anggini terlihat antusias. Tetapi nampak raut muka eyang Sindurogo terlihat tidak menyukainya. Walaupun itu hanya terlihat sekilas.
Pendekar itu sedikit cemburu, sebab Dewi Anggini akan bertemu dengan seorang lelaki yang dulu pernah menyukainya.
Walaupun eyang Sindurogo kurang menyukai keputusan itu, tetapi pendekar itu tidak menolak apa yang diucapkan Dewi Anggini. Sebab dengan bekerjasama dengan pejabat kota, tentu segala urusan akan dapat dipermudah.
Apalagi saat memasuki kota itu mereka menggunakan cara menerobos. Tentu kondisi itu akan menjadi masalah. Dengan mendapatkan bantuan dari seorang pejabat walikota, tentu urusan ketidak punyaan identitas akan terselesaikan dengan mudah.
**
Setelah semua setuju untuk tinggal beberapa saat di kota Shanxi dan bertemu dengan ayahanda dari Yang Xiaoma, maka mereka segera berjalan turun ke lantai bawah.
"Pantas saja, sedari tadi kita tidak mendengar suara pengunjung tempat makan ini setelah pertarunganku tadi. Pasukan Mawar Merah itu memang biadab."
Setelah beberapa langkah mereka hendak turun tangga, pandangan mereka segera menangkap bahaya. Sebab dilantai itu dan lantai berikutnya masih dipenuhi dengan asap beracun.
Suro segera meminta mereka untuk mundur terlebih dahulu. Suro lalu mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulai jurus perubahan angin dan es.
Semua orang-orang yang terkena racun itu segera dia obati. Termasuk para pengunjung dan pelayan tempat makan tersebut.
Terlihat Lin bersaudara dan juga manager Sui tergeletak diantara para pengunjung. Beruntung semua yang terkena racun itu masih dapat tertolong, kecuali orang-orang yang terluka dan tewas oleh amukan Golok setan dan anak buahnya.
Dibantu yang lain Suro segera memulihkan semua yang masih sempat diselamatkan. Beruntung Suro memiliki persedian pill penawar racun yang cukup banyak, sehingga semua orang yang hampir berjumlah dua ratus orang itu berhasil terselamatkan oleh racun yang terlanjur memasuki tubuh mereka.
Dengan melihat begitu baiknya Suro dan betapa mengerikannya kekuatan yang dimiliki pemuda itu, membuat Yang Xiaoma semakin menaruh hormat kepadanya. Kali ini dia cukup berhati-hati untuk bertindak.
Tentu saja dia tidak ingin mati seperti kematian Golok setan atau pun kematian yang dialami Pedang setan yang lebih mengerikan. Bukan hanya Yang Xiaoma, diam-diam seorang gadis cantik terus memperhatikan Suro, walaupun dilakukan secara diam-diam.
Yang Xie Ying begitu kagum dengan kemampuan dan jiwa penolong yang diperlihatkan pendekar muda yang telah menarik hatinya itu. Terutama karena dara cantik itu juga merasa berhutang nyawa kepada Suro.
Sehingga kini ada rasa lain, walaupun sejak melihat pertama kali dirinya memang sudah tertarik. Meski penampilan Suro cukup sederhana dan jauh dari kata mewah, tetapi dara itu sudah tertarik sejak pandangan pertamanya.
**
Berkat pertolongan yang diberikan dengan cepat, akhirnya orang-orang dapat diselamatkan. Harga nyawa mereka yang telah tertolong tentu tidak bisa dinilai dengan uang ataupun emas.
Perasaan itulah yang di rasakan semua orang yang telah ditolong oleh Suro, termasuk diantaranya adalah manager Sui. Lelaki itu bahkan tidak meminta ganti rugi sepersenpun kepada Suro atas kerusakan yang terjadi.
Apalagi tindakan yang dilakukan itu adalah sebagai bentuk bela diri dan juga untuk menolong para pengunjung setia mereka. Salah satunya adalah tuan muda Yang. Pemuda itu adalah salah satu pelangan setia mereka yang paling banyak menghabiskan uangnya ditempat tersebut.
"Manager Sui masukan tagihan atas kerusakan Pavillum Angin Utara ini kepadaku," Yang Xiaoma menyudahi perdebatan antara Suro dengan manger Sui, karena lelaki itu terus menolak pemberian kantong emas milik Suro.
"Tidak mengapa tuan Suro, sebab apa yang telah tuan lakukan itu adalah untuk menyelamatkan diriku. Apalagi jika dipikir-pikir kedatangan mereka dan semua kerusakan adalah karena ada sangkut pautnya dengan diriku,' sambung Yang Xiaoma saat Suro hendak menolak apa yang dilakukan pemuda itu.
Manager Sui akhirnya memberi jalan tengah jika, kerusakan itu ditanggung Yang Xiaoma maka dia tidak perlu mengganti sepenuhnya. Sebab semua pertolongan yang dilakukan Suro dan yang lainnya dia hitung secara cermat.
Walaupun dia hanyalah seorang manager tempat makan, tetapi dia mengerti kwalitas dari pill yang diberikan. Dengan melihat khasiat dan reaksinya yang begitu cepat, juga dari warna dan baunya, manager Sui segera mengetahui betapa mahalnya pill tersebut.
Sebab dipasaran harganya mencapai ratusan koin emas. Sesuai dengan kesepakatan akhirnya setiap satu pill yang telah diberikan secara cuma-cuma itu dihargai dengan nilai seratus koin emas.
Dia menghitung atas semua pill yang telah dikeluarkan terutama kepada dirinya, kepada para pekerja di tempat makan dan juga seluruh pengunjung setia mereka, maka ganti rugi itu tidak sampai separuhnya.
Selain itu manager Sui memberikan potongan harga kepada Suro, jika hendak makan ditempat itu lain kali. Manager Sui yang hampir sekarat tidak menyangka, jika dia masih dapat ditolong dan terselamatkan jiwanya.
Setelah menyelesaikan masalah terkait dengan kerusakan yang terjadi akibat pertempuran sebelumnya, maka mereka segera bergegas keluar dari Pavillum Angin Utara.
Tujuan mereka adalah menemui Yang Taizu walikota Shanxi atau ayahanda dari Yang Xiaoma.
Namun baru beberapa langkah mereka keluar, langkah mereka kembali terhenti, tepatnya dihentikan oleh pasukan penjaga kota.
"Berhenti, cepat lepaskan tuan muda Yang! Jika tidak, maka jangan salahkan kami akan berbuat kasar kepada kalian!" Suara keras terdengar dari seorang prajurit yang duduk diatas kuda hitam yang gagah.
Dia merupakan kepala pasukan yang kini telah mengepung Pavillum Angin Timur. Tombak-tombak panjang telah terhunus siap ditusukan kepada Suro dan juga lainnya yang saat itu bersama tuan muda mereka.