SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch.325 Kunjara Bajrapati



Braak!


Dinding goa besar itu akhirnya dapat dijebol oleh Suro. Hal pertama yang disaksikan oleh Suro adalah penampakan sebuah gunung yang menjulang tinggi dengan warna hitam dikejauhan.


Namun dia segera menyadari teriakan manusia dalam jumlah yang tidak diketahui banyaknya. Sebuah kekuatan yang mengerikan berusaha menangkap kemudian menyerap setiap manusia yang berada ditempat itu musnah tidak berbekas.


Sosok yang melakukan itu menggunakam tangan-tangan sihir untuk menangkap para manusia yang berlarian menghindar, meski mereka sebenarnya tidak mampu pergi dari tempat tersebut.


Sebab mereka berada didalam goa bawah tanah yang memiliki ukuran raksasa. Begitu besar dan luasnya tempat tersebut, bahkan sebuah gunung piramida saja dapat muat didalamnya.


Walaupun kondisi tempat itu begitu gelap dan tanpa penerangan, namun kondisi itu tidak mengalangi pandangan mereka berdua.


"Kekuatan ini, apakah kau menyadarinya Geho sama?"


"Benar tuan itu sangat menakutkan sekali, ini mirip sekali dengan ilmu empat sage."


Begitu luasnya tempat itu, tetapi entah bagaimana seakan semua tempat telah terisi manusi. Seakan tidak ada tempat yang kosong, manusia ada dimana-mana.


Entah bagaimana sebegitu banyaknya manusia bisa berkumpul ditempat tersebut. Suro segera menyadari jika orang-orang itu tidak berasal dari negeri bawah tanah.


"Mereka para manusia berasal dari negeri dimana kita berasal Geho sama!" Tangan hitam yang tidak terhitung jumlahnya bergerak kesana kemari menangkap setiap orang yang berlarian.


Tangan yang memiliki jumlah tidak terhitung itu berasal dari sesosok makhluk yang duduk disebuah tempat yang tinggi. Tempat yang mirip sebuah singgasana. Namun singgasana itu tidak seperti milik para raja.


Jika biasanya singgasana para raja dibuat sedemikian megah dan mewah, maka kesan pertama bagi siapapun yang melihatnya akan bergidik ngeri. Sebab singgasana itu terbuat dari tumpuk-tumpukan tulang belulang dan tengkorak manusia yang berjumlah tak terhitung.


Dari arah belakang singgasananya itu juga terlihat bergulung-gulung hawa kegelapan yang berasal dari gunung besar berbentuk piramid hitam legam. Hawa kegelapan itu begitu pekat, membuat seluruh singgasana itu terselimuti, sehingga sosoknya tersebut tidak terlihat secara lebih jelas.


"Tolong...! Tolong...! Tolong...!"


Teriakan tolong-tolong dari berbagai bahasa yang terdengar oleh Geho sama dan juga Suro, segera menyadarkan mereka berdua, jika orang-orang itu bukan hanya berasal dari satu daerah saja.


"Kurang ajar makhluk biadab!"


Wuuus!


Zraat! Zraat! Zraaat!


Jdaar! Jdaar! Jdaar!


Aaaaaaaak! Aaaaaak!


Sesaat setelah Suro dan Geho sama hendak menyerang sesosok makhluk yang duduk dan menyerap tubuh manusia hingga musnah, justru mereka seperti terikat ribuan kawat duri dan dihantam petir silih berganti.


Aaaaaarggh! Aaaaaarggh!


"Kurang ajar! Kita dijebak Geho sama!"


"Ini semacam bentuk formasi sihir!" Diantara erangan kesakitan Gagak setan mencoba mengenali kekuatan yang telah membelenggu tubuh mereka.


Tubuh mereka berdua mengejang keras karena kuatnya petir yang terus menghujani. Terdengar teriakan makian oleh Geho sama bersaing dengan teriakan orang yang meminta tolong dan juga suara teriakan orang yang sekarat, setelah diserap oleh sesosok makhluk yang selalu tertutup kabut hitam.


"Kalian telah datang ternyata, berarti waktuku untuk menyantap setiap jiwa manusia ini harus aku percepat!"


"Ledakan semesta hitam!"


Bersama teriakan sosok tersebut maka hawa kegelapan segera memenuhi tempat tersebut. Semua manusia segera diliputi ketakutan tak terkira. Sebab sosok yang hendak mencabut seluruh manusia yang ada dalam goa raksasa itu tidak lain adalah Dewa Kegelapan.


Sejauh apapun mereka berlari, tidak ada jalan yang memungkinkan mereka dapat menyelamatkan diri. Dengan cepat para manusia terserap amblas kedalam tubuhnya. Setiap manusia yang masuk dalam jangkauannya tubuhnya langsung mengering dengan cepat.


Setelah itu, jiwa dan seluruh tubuh manusia yang dihisap lenyap menjadi kekuatan bagi Dewa Kegelapan.


"Cepat gunakan kemampuan sihirmu Geho sama! Jika tidak, mereka akan dihabisi semua!" Suro yang sedang dihujani kilat petir tidak lagi memikirkan kondisi dirinya sendiri. Dia justru sangat menghawatirkan nasib orang-orang yang sedang dihabisi Dewa Kegelapan.


"Jangan pikirkan mereka, pikirkan nasibmu sendiri, bocah! Aaaaaaarggghhh...!"


Mereka segera menyadari tubuh mereka terikat semakin kencang oleh sesuatu yang mirip benang chakra. Mereka segera melihat dengan jelas keberadaan benang chakra yang bergerak seperti memiliki pikirannya sendiri.


"Cepat Geho sama gunakan keahlian ilmu sihirmu!"


"Kalian hanya makhluk-makhluk bodoh yang mudah aku perdaya! Apapun yang telah kalian lakukan tidak akan lepas dari pengamatan mata nujumku yang semakin tajam ini!"


"Apalagi kalian datang ke alam ini dengan sesuka jidat kalian! Bahkan berani membuat onar disini! Sekarang rasakan kekuatan sihir yang telah aku persiapkan untuk kedatangan kalian!"


"Sebentar lagi tubuh kalian akan gosong dan lenyap menjadi abu!"


"Rasakan Kunjara Bajrapati! Hahahaha...!"


Ledakan petir terus menghujani mereka belitan benang chakra semakin membuat mereka menderita. Karena benang chakra itu mengikat dengan begitu erat, seakan hendak memotong-motong tubuh mereka.


"Aku sepertinya memiliki cara untuk menghancurkan sihir ini!"


Geho sama akhirnya mampu memahami jurus Kunjara Bajrapati milik Dewa Kegelapan. Dia segera menjelaskan hal tersebut kepada Suro melalui kesadarannya. Karena suara teriakan tolong dan teriakan kesakitan orang-orang yang dibunuh dan diserap beserta seluruh jiwanya memenuhi tempat dibawah tanah itu.


"Jadi begitu, ternyata semua bisa kita selesaikan. Beruntung engkau memiliki senjata itu Geho sama!"


"Baiklah kita lakukan secara bersama-sama!"


Keempat wujud penjaga gaib Suro muncul, kemudian disusul sembilan tubuh ilusi Geho sama juga muncul. Mereka kemudian berubah menjadi cahaya, setelah Suro dan Geho sama membacakan sebuah mantra.


Menurut Geho sama petir yang menghujani mereka dapat dihancurkan dengan cara menyalurkannya pada senjata Brahamastra. Seperti dugaan Geho sama, senjata itu memang mampu menyerap kekuatan petir yang sangat dahsyat itu.


Petir itu benar-benar memenuhi seluruh lapisan terluar dari goa besar itu, seakan memang dikerahkan untuk melindungi tempat tersebut. Jika mereka tidak melakukan hal tersebut, maka dalam waktu yang tidak begitu lama, maka tubuh mereka berdua dapat berubah menjadi daging bakar.


Karena alasan itulah, setelah Geho sama menjelaskan secara garis besar, maka mereka berdua harus segera bertindak cepat agar dapat lepas dari jurus yang digunakan Dewa Kegelapan.


"Brahamastra, memang senjata yang sangat menakutkan Batara Antaga sekarang waktunya kau gunakan ledakan kekuatan itu! Segera kirim Ashura penjaga milikku!"


Suro dan Geho sama tidak memahami apa yang maksud ucapan Dewa Kegelapan yang kini melesat mendekat ke arah mereka.


Kekuatan jurus Kunjara Bajrapati yang diserap oleh Brahamastra ternyata begitu besar. Begitu mengerikannya kekuatan yang terkandung didalam jurus musuh tidak mereka sangka sama sekali.


Karena itulah mereka menggunakan seluruh tenaga mereka untuk mengendalikan kekuatan jurus musuh. Ledakan kekuatan yang membanjiri senjata ditangan mereka bergerak seperti banjir bandang.


Dalam kondisi seperti itu sudah tidak sempat melawan atau mencegah apapun yang hendak dilakukan oleh Dewa Kegelapan. Dalam satu kejap sosok itu sudah muncul didepan Suro.


"Tangan semesta hitam!"


Jdaaar!


"Aaaaarrrrgggh!"


Zlaaap!


"Akhirnya tiga relik kuno ini menghampiri diriku sendiri! Hahahaha...!"


Mereka berdua tidak menyangka dengan kejadian barusan yang berlangsung dengan sangat cepat. Apalagi mereka memang dalam kondisi kerepotan.


Kekuatan yang terkandung dalam jurus Kunjara Bajrapati ternyata sangatlah besar, seakan matahari yang tidak memiliki batas. Apa yang mereka lakukan untuk menghancurkan kekuatan jurus Kunjara Brajapati tidak bisa berhenti ditengah jalan.


Kekuatan yang telah melingkupi tubuh mereka membentuk pusaran energi yang mengerikan. Jika berhenti dan tidak dituntaskan, maka tubuh mereka justru akan ikut ditelan hancur dan musnah tanpa sisa.


Kondisi itulah yang membuat Suro tidak memiliki kesempatan mencegah Dewa Kegelapan mengambil relik kuno. Suro pada awalnya tidak habis pikir bagaimana mungkin Dewa Kegelapan dapat merebut relik kuno dari dirinya.


Sebab apapun yang ada didalam Tuskara Deva tidak akan dapat diambil oleh siapapun, kecuali yang mengeluarkan adalah dirinya atau penghuni dari pusaka tersebut. Dan kejadian saat Dewa Kegelapan mampu mengambil relik kuno sesuatu yang tidak mampu Suro pahami.


Namun dia segera memahami ucapan Dewa Kegelapan sebelumnya, pasti semua itu ada hubungannya dengan Batara Antaga di dalam Tuskara Deva.


Hal yang tidak dapat Suro pahami adalah, bagaimana Batara Antaga mampu mengirim keluar relik kuno. Padahal sebelum dirinya terjebak oleh jurus Kunjara Bajrapati, dia telah mendapat laporan dari Ratu lebah iblis mengenai kondisi Batara Antaga.


Suro memerintahkan mereka agar membuat Batara Antaga antara mati dan hidup alias sekarat. Sehingga dengan kondisi tersebut akan mampu mencegah makhluk itu mengerahkan Ilmu Nyalih Cangkangnya. Karena dengan ilmu itu dapat berpindah ke wadak baru setiap kali mati dibunuh.


Tanpa diketahui oleh Suro maupun Geho sama, tindakan mereka menghancurkan jurus Kunjara Bajrapati dengan menggunakan Brahamastra telah diramalkan oleh Dewa Kegelepan melalui mata nujumnya.


Luapan energi yang melingkupi mereka sebenarnya sebagian dalam kendali Dewa kegelapan. Energi besar itu lalu dikirim kedalam Tuskara Deva untuk memulihkan kekuatan Batara Antaga.


Walaupun kekuatan itu tidak mampu mengirim tubuhnya keluar dari pusaka itu, namun cukup untuk mengirim tiga relik kuno yang berhasil direbut dari pasukan lebah iblis, keluar dari Tuskara Deva.