
"Mataku apakah tidak salah? Diatas berlapis-lapis awan tebal ini ternyata ada semacam matahari diatasnya. Apakah mungkin alam ini juga memiliki matahari seperti di bumi?Mungkinkah semua makhluk hidup di alam ini mati, karena tidak ada lagi cahaya matahari yang mampu menembus dan menyinari daratan?"
Dewa Rencong masih berdiri melayang di udara. Dia terus menunggu Suro sampai selesai menyerap energi yang membentuk awan gelap itu.
"Bocah ini, bagimana dia menyerap energi sebanyak itu? Bocah gemblung dia menyerap energi tanpa mengira-ira lagi."
Dewa Rencong terlihat khawatir karena pusaran kekuatan yang menghisap seluruh awan hitam bertambah semakin besar. Dia bahkan harus berpindah tempat untuk menjauh, agar tidak terkena dampak kekuatan empat Sage milik Suro.
"Tetapi aneh mengapa tubuhnya terlihat baik-baik saja seakan tidak ada masalah?" Dewa Rencong menatap Suro sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia cukup kagum dengan daya tahan tubuh Suro yang mampu menampung kekuatan sebanyak itu.
"Ah sudahlah sebaiknya aku tidak perlu khawatir. Memang bocah ini tidak ada yang normal baik isi kepalanya, maupun kondisi tubuhnya.''
Setelah cukup lama akhirnya Suro menyudahi pengerahan tehnik empat sage. Cahaya dari atas langit semakin terlihat lebih terang. Hal itu semakin terasa, sebab Suro menyerap begitu banyak awan di sekitar tempat dia melayang di udara. Radius awan yang telah berhasil diserap Suro hampir sejauh tiga ratus tombak.
"Bocah gendeng apa ingin tubuhmu meledak menyerap energi sebanyak itu?"
Suro tidak segera menjawab, tetapi justru menyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia juga terlihat kebingungan setelah membuka matanya. Sebab seluruh awan disekitar tempatnya berdiri telah bersih.
"Anu paman, semua energi yang aku serap barusan, tidak hanya untukku saja. Sebab Geho sama yang sudah ribuan tahun disegel meminta ijin kepada diriku untuk ikut mengerahkan tehnik empat Sage. Selain itu bilah pedang yang aku injak ini meminta jatah, setelah sebelumnya kekuatan miliknya hampir habis ikut digunakan dalam jurus Dewa Matahari Menampakkan Wujudnya waktu itu."
"Paman, akhirnya kekuatanku juga meningkat lagi dengan cepat, seperti juga yang dirasakan paman. Karena dengan begitu banyaknya energi yang berhasil aku serap telah membantuku membuka gerbang shakti tahap ketiga. Luar biasa, sungguh sangat luar biasa paman. Tempat ini ternyata bagus untuk mempercepat peningkatan kekuatan kita."
"Benar sekali, tetapi jika tidak dibantu oleh dirimu, semua itu hanya akan menjadi malapetaka bagi siapapun orang yang mencoba menyerap kekuatan di alam ini. Sebab akan mampu merubah mereka semua menjadi makhluk kegelapan."
Suro tersenyum mendengar ucapan Dewa Rencong. Suro terlihat termenung mendapatkan fakta tentang awan kegelapan yang telah berhasil dia serap.
"Jangan-jangan Hyang Antaga mendapatkan laghima sebegitu banyaknya diambil dari awan seperti ini?"
"Masuk akal bocah apa yang kamu katakan. Berarti mereka memang berada di alam ini. Setelah laghima yang berada dibawah wilmana, telah kita habiskan sebagian."
Dewa Rencong tergelitik dengan penampakan di langit, sehabis Suro menyerap awan hitam dengan begitu luar biasa barusan.
"Lihatlah diatas awan itu apa kamu menyadarinya?" Dewa Rencong menunjuk ke atas. Pandangan mata Suro mengikuti arah yang di tunjuk oleh Dewa Rencong.
"Apa kamu merasakan sesuatu yang aneh?"
"Iya paman aneh kenapa aku bisa menyerap awannya sampai bisa sejauh itu?"
"Bocah gemblung, bukan itu yang aku maksud. Setelah apa yang kamu lakukan barusan, kini diatas langit ada semacam cahaya yang hendak menembus lapisan awan hitam yang tebal. Mungkin menyerupai sebuah matahari seperti yang ada didalam dunia kita."
"Agaknya awan hitam ini yang menghalangi sinar matahari mencapai permukaan daratan. Hal itu juga pasti yang menyebabkan mengapa tidak ada pepohonan satu pun di alam ini."
"Ah, benar sekali paman, mengapa Suro tidak menyadarinya?" Kalau begitu kita terbang lebih tinggi untuk membuktikan ucapan paman."
Mereka langsung melesat semakin tinggi hingga seluruh awan hitam itu mereka lewati. Pada ketinggian itu tubuh Suro terasa sangat ringan, dia segera menyadari kondisi itu pernah dia rasakan, yaitu saat berada ditengah laghima dibawah wilmana.
"Benar apa yang paman katakan lihatlah matahari di alam ini bersinar seterang seperti di dunia kita. Selain itu paman merasakan bukan, jika disinilah sumber laghima itu berasal."
"Mengapa Geho sama tidak menceritakan hal sepenting ini kepadaku?"
"Sebentar aku akan bertanya kepada Geho sama, mengapa dia tidak menceritakan hal ini kepada kita?"
'Burung emprit jangan diam saja mengapa kamu tidak menjelaskan sedari awal kepada tuan Suro?' Lodra langsung mencecar Geho sama, sebelum jiwa dari siluman itu menjawab.
'Ampun tuan Suro, hamba tidak menjelaskan karena tuan tidak memintanya.'
'Mengapa hawa kegelapan yang ada di alam ini tidak berkurang setelah lubang yang mencapai dasar petala(bumi) telah aku tutup dengan sangat rapat?' Suro merasakan keanehan, sebab sebelum meninggalkan dunia alam kegelapan dia mengingat hal itu, tetapi saat kembali segala hal tidak ada yang berubah.
'Mereka melakukan itu demi memperkuat pecahan jiwa Dewa Kegelapan. Selain itu mereka sengaja menjadikan alam ini sebagai sarang dan juga membuat tentara mereka.'
'Tentara yang hamba maksudkan adalah makhluk kegelapan yang pernah tuan hadapi. Dan juga seperti yang telah tuan ketahui sebelumnya, jika pada awalnya mereka adalah makhluk pada umumnya. Namun seiring waktu mereka tinggal di alam ini, maka baik jiwa dan tubuhnya akan terasuki kekuatan kegelapan. Sehingga akan mengubah mereka menjadi makhluk seperti yang tuan lihat.'
'Para tentara yang tidak akan bisa dibunuh, kecuali dibunuh dengan menggunakan api hitam atau racun api juga disebut inti api neraka.'
'Dengan kekuatan tentara yang tidak dapat dimusnahkan itu maka mereka akan menguasai tiga alam.'
Mendengar penjelasan Geho sama dia teringat akan sesuatu hal.
'Di Javadwipa ada tempat yang sedikit banyak mirip dengan lubang yang dibuat Batara karang. Tempat itu juga mengeluarkan hawa kegelapan. Walau hawa kegelapan yang disana tidak sampai melesat naik ke langit. Nama tempat itu adalah "Jurang Neraka".' Suro mengingat kejadian di hutan Gondo mayur, tempat dia berhadapan dengan para Bhuta kala.
'Hamba tidak memiliki pengetahuan mengenai hal itu, namun hamba yakin itu berhubungan dengan raga Dewa kegelapan yang tersegel di dasar bumi.'
'Seperti juga yang ada didalam alam ini lubang yang membuat kekuatan kegelapan merembes keluar. Tetapi karena yang tersegel di bumi bukanlah kekuatan dari Dewa kegelapan, maka kekuatannya tidak sampai membumbung tinggi.'
'Tujuan dibuat lubang yang mampu menembus dasar bumi, sebenarnya adalah digunakan sebagai jalan untuk membuka segel. Namun seperti yang telah tuan dengar sebelumnya, jika untuk membebaskan, mereka memerlukan relik kuno tempat ditawannya para Ashura pengawal Dewa Kegelapan.'
'Tanpa itu mereka tidak dapat membebaskannya.'
Suro terlihat terdiam saat berbicara dengan Geho sama yang berada dalam kesadarannya.
"Bagaimana bocah apakah kamu mendapatkan sesuatu petunjuk?" Dewa Rencong menatap Suro yang terlihat seperti orang yang sedang melamun, karena saat itu dia sedang sibuk mendengarkan penjelasan panjang dari Geho sama.
Suro setelah selesai mendengar penjelasan Geho sama dia kemudian ganti menjelaskan kepada Dewa Rencong.
"Jadi begitu, intinya alam kita sudah dalam kondisi gawat." Dewa Rencong menghela nafas panjang demi mendengar penjelasan dari Suro.
"Baiklah kalau begitu tenagaku sedang meluap-luap perlu penyaluran. Sebaiknya kita melesat mencari mereka, meski kita harus menuju keujung dunia ini."
"Aku suka semangat paman seperti anak muda."
"Aku memang masih muda bocah! Kamu saja yang terlalu cepat tumbuh besar!"
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan melesat ke arah timur dengan kecepatan tinggi. Cukup lama mereka melesat. Kesempatan itu juga digunakan Suro untuk menyerap sinar matahari yang menyinari alam itu.
Akhirnya mereka sampai disuatu daerah yang matahari kondisi sudah mulai tenggelam.
"Lihatlah di depan paman! Apakah penampakan yang terlihat dari kejauhan itu paman juga melihatnya?"
"Iya aku juga melihatnya! Akhirnya kita menemukan mereka! Sebelum keberadaan kita diketahui sebaiknya kita serang saja dari sekarang!"
"Gunakan jurus yang pernah kamu perlihatkan sewaktu diatas Perguruan Pedang Bayangan bocah!"
"Tetapi paman, jurus itu sangat berbahaya sekali!"
"Apakah kamu sudah tidak punya nyali untuk menggunakan jurus itu bocah?"
"Kita sekarang berada dilautan laghima. Jika jurusmu itu meminta kekuatan yang lebih, maka akan kita berikan sebanyak kekuatan yang dia minta!"
"Baiklah paman Suro akan melakukan apa yang paman minta!"
**
Ditunggu dukungan vote poin, koin dan jangan lupa like dan juga koment kalian semua terima kasih