
Setelah Suro menghilang dia muncul di pinggiran hutan didekat sebuah desa bernama Wuryantoro. Desa itu memiliki sebuah danau besar yang banyak dijadikan tempat para penduduk mencari ikan. Bahkan sebagian penduduk menjadi nelayan sebagai mata pencahariannya.
Suro muncul dipinggiran desa saat masih pagi, tetapi matahari sudah muncul. Dia menghabiskan waktu dari siang sampai pagi untuk mendengarkan penjelasan ketua Tohjaya.
Dia sengaja muncul dipinggiran desa agar tidak membuat para penduduk ketakutan. Kalau mereka melihat bagaimana dirinya muncul secara mendadak, tentu dirinya akan dikira sebangsa dedemit.
Dia duduk diatas Maung sambil memainkan suling bambu yang sering dimainkan Suro untuk mengusir sepi. Agaknya dia cukup menikmati waktu itu, karena tanpa sadar dia telah sampai di jalan menuju desa Wuryantoro.
Kruuuuk...kruuuk!
"Perutku? Aku baru ingat, karena terlalu serius berbicara dengan paman Tohjaya, sampai aku lupa belum makan."
Mendadak Suro menyuruh Maung berhenti dia sepertinya mulai menyadari tentang sesuatu hal yang sangat menarik.
Huuuft! Huuuft!
Dia mulai mengendus-endus karena dia mencium aroma kesukaannya, sesuatu yang sangat dikenalnya.
"Nikmatnya bau ini membuat perutku menjadi bertambah lapar. Oh jagat dewabatara! Aroma makanan ini semakin menyiksaku. Aku sudah tidak tahan lagi."
"Ooooh...ayam goreng! Hmmmmmmm...nikmatnya!"
Suro terus mengendus bau masakan ayam goreng. Segera dia menyadari jika aroma itu berasal dari sebuah warung makanan yang lumayan ramai. Warung itu berada dipinggir jalan yang sebenarnya masih jauh dari desa Wuryantoro. Entah mengapa pemilik warung itu justru membangun warungnya disebuah pertigaan jalan yang jauh dari kampung.
Pertigaan jalan itu bernama cengkal yang menghubungkan jalan kedua desa lain. Jika menuju Utara maka akan menuju Manyaran dan jika menuju barat akan mengantarkan ke desa lain yang bernama Eromoko.
Suro sebelum mendekati warung itu dia memutuskan turun dari punggung Maung dan membiarkan harimau itu beristirahat dibalik pohon asem yang besar. Suro yakin orang yang melewati jalan itu tidak melihat keberadaan Maung, sehingga pengalaman waktu itu yang membuat seluruh pengunjung warung bubar lari terbirit-birit karena ketakutan tidak terulang kembali. Dia berniat membungkus daging untuk Maung, setelah dia selesai makan.
"Bagaimana bisa seramai ini warung kecil di tempat terpencil seperti ini?"
Suro menggumam pelan sambil mengantri didepan warung. Di depannya berjejer beberapa orang yang lebih dahulu mengantri.
"Kisanak sepertinya pendatang dari jauh?" Seseorang yang berada didepan Suro berbalik, setelah mendengar gumaman Suro.
"Benar paman, saya baru saja datang dari Dahanapura. Ingin mampir ke warung ini karena bau masakannya sangat menggoda. Apalagi perutku juga mulai terasa sangat lapar ini. Bau ayam goreng ini membuat rasa lapar saya terasa sepuluh kali lipat dari biasanya."
Lelaki itu memincingkan mata melihat reaksi Suro yang terlihat berlebihan. Karena Suro mulai mengelus-elus perutnya sambil menunduk dan merintih-rintih.
"Aduhduhduhduhduh...ayam gorengku!"
Lelaki itu segera menyadari jika pemuda yang berada dibelakangnya bukalah penduduk biasa. Kemungkinan seorang pedagang senjata, karena dia menyadari sebuah kotak besar yang menggantung dipunggungnya berisi puluhan bilah pedang didalamnya.
"Pantas saja jika kisanak kaget dengan pemandangan seperti ini. Kami memang biasa mengantri seperti ini jika ingin makan di warung Mbah Wiro. Masakannya saya jamin enak kisanak."
Air liur Suro mulai berjatuhan mendengar cerita masakan Mbah Wiro yang katanya sangat nikmat itu. Apalagi menurut lelaki itu jika ayam gorengnya tidak ada bandingnya ditempat lain.
"Ayam goreng...ohhh...ayam gorengku"
Sruuup...sruuup!
Terdengar Suro harus menyeruput air liurnya yang hampir berjatuhan kembali, karena mendengar cerita lelaki itu yang justru semakin bersemangat menceritakan masakan Mbah Wiro.
"Kami penduduk sekitaran sini akan tetap sabar meski mengantri seperti ini. Apalagi ini hari pasaran wage jadi orang banyak berdatangan dari berbagai desa lain untuk menjual dagangannya."
"Kisanak juga pedagang senjata ya? Karena aku lihat kisanak bawa pedang yang begitu banyaknya. Mengapa kisanak tidak jualan arit(sabit) saja? Disini bukan Kotaraja lho. Penduduknya juga rata-rata petani dan nelayan."
Suro hanya menganggukkan kepala dan mulai tersenyum mendengar pertanyaan lelaki itu. Dia hanya meruntuk didalam hati sambil tetap tersenyum kepada lelaki yang terus berbicara tanpa henti.
'Pedagang arit gundulmu!'
'Aduuuh perutku lapaaar...ayam gorengku...kenapa antrian ini panjang sekali?!'
Suro sudah mulai mengkhayalkan dua tangannya sedang memegang paha ayam goreng Mbah Wiro yang terkenal nikmatnya, bahkan lelaki didepan Suro yang terus berbicara tanpa henti, kini sudah duduk dimeja sambil menikmati makanannya. Hal itu semakin membuat Suro serasa ingin meloncat dan merebut ayam goreng ditangan lelaki itu.
Saat Suro sudah sedikit lagi mendapatkan giliran makan dan perutnya sudah semakin melilit karena kelaparan, saat itulah terdengar teriakan histeris dan disusul dengan teriakan lain yang tak kalah memekakan, membuat konsentrasinya pecah dalam membayangkan ayam goreng yang sebentar lagi dia makan. Teriakan itu tidak juga berhenti karena saling susul menyusul dengan suara teriakan yang lain.
"Harimauuuu, awas ada harimau!"
"Bahaya ada harimauuuuu!"
"Tolong! Tolong! Ada harimauuu!"
Gooooarrggghhh! Grrrrrrrrh! Gooooaaaargggh!
Setelah Gerungan keras itu terdengar, maka seketika itu juga terjadilah kekacauan yang tidak dapat dibayangkan.
"Ayam goreng ku, gawat!"
"Aduuuh apakah harus gagal rencana makanku?" Suro tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia kebingungan memilih ayam gorengnya atau harus terpaksa meninggalkan tempat itu sebelum semua orang berteriak histeris dan sebelum terjadi kekacauan lebih besar.
Maung kembali menggerung dengan ganas melihat para penduduk yang kalang kabut berlari menyelamatkan dirinya secepat mungkin.
Setelah itu semua terasa tenang teriakan histeris sudah terdengar dikejauhan. Kini yang terdengar hanyalah suara gerungan Maung yang berjalan mendekat ke arah Suro.
Melihat kejadian yang berlangsung dengan sangat cepat, Suro hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya.
"Ah sudahlah...lupakan...kita nikmati saja sarapan pagi kita Maung."
Tanpa rasa berdosa Suro kemudian masuk ke dalam warung. Dia lalu mengambil sendiri segala lauk dan nasi. Semua dikumpulkan pada sebuah tempat makan yang terbuat dari tanah liat atau semacam tembikar.
"Memang tidak mudah Maung jika berjalan-jalan bersama dirimu. Selalu saja ada kejadian yang menghebohkan seperti ini."
"Tapi sudahlah, lupakan, seharusnya dari tadi aku melakukan ini. Jadi tidak perlu aku harus mengantri." Dia berbicara sambil sibuk memakan segal hal yang ada didalam warung itu dengan puas.
Tidak ketinggalan Maung pun ikut menikmati makan pagi yang sangat indah itu.
Di warung sudah tidak ada satu orang pun dan Suro sudah tidak peduli dengan hal itu. Ayam goreng telah membutakan matanya. Pemilik warung sendiri, entah kabur kemana tau. Suro justru menikmati ketenangan itu dengan semakin lahap menyantap makanan yang ada didalam warung Mbah Wiro.
"Ternyata menyenangkan juga jika berjalan ditemani dirimu Maung."
Maung yang diajak berbicara manggut-manggut sambil kembali meminta satu baskom daging dan ayam goreng.
"Sebaiknya memang aku harus sering-sering membawamu Maung, setiap orang memperlakukanku bak raja. Bahkan tidak ada yang berani mengganggu kita makan. Sangat menyenangkan!" Suro terus sibuk mengunyah ayam goreng dimulutnya.
"Trala sudah selesai."
"Aku tinggalkan sepuluh keping emas ini untukmu paman. Seharusnya ini cukup untuk membayar seluruh kerugian atas kedatanganku dan sahabatku ini." Suro tersenyum ke arah pemilik warung yang langsung memperlihatkan kepalanya dari bawah meja, begitu Suro menyebut keping emas. Seluruh wajahnya seketika dipenuhi senyumnya yang lebar hampir tanpa ada gigi yang berderet.
Mbah Wiro tersenyum dengan ceria melihat tumpukan koin emas yang bersinar kekuningan.
"Terima kasih den." Melihat sepuluh keping emas, Mbah Wiro yang hampir saja terkena serangan jantung dan hendak jatuh pingsan karena melihat seringai Maung, kini kembali sadar-sesadarnya, sehat-sesehatnya, waras-sewarasnya.
"Ini sepuluh koin emas lagi untukmu Mbah, asal bisa menjawab pertanyaanku."
Suro kemudian menanyakan tentang kebenaran kabar yang menyebutkan terjadi serangan makhluk mengerikan yang menculik para manusia disekitar daerah itu.
Tidak disangka Suro mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkan dari Mbah Wiro. Suro segera pamit setelah mendengar penjelasan darinya.
Setelah ditinggalkan oleh Suro yang pergi bersama Maung, lelaki lebih dari setengah abad itu tersenyum dengan cukup lebar. Matanya tidak lepas dari dua puluh keping emas ditangannya. Mbah Wiro terkekeh melihat begitu banyak uang ditangannya.
"Akhirnya aku bisa kawin lagi...kikikikik!" Giginya yang sudah ompong terlihat jelas saat Mbah Wiro tertawa.