
"Akan aku lakukan Geho Sama, aku yakin kali ini serangan balasanku berhasil!"
Suro yang telah memahami maksud ucapan Geho Sama lalu memanggil astra yang berupa gandewa. Semua itu dia lakukan sambil mengerahkan jurus Langkah Maya untuk menghindar dari serangan musuh yang terus menghujaninya.
"Janus Agni Sahasra!"
Suro segera mengerahkan jurus yang sama seperti milik Dewa Obat. Namun ada perbedaan, dimana mata panah yang dia kerahkan bukan berupa perubahan api tahap jingga, tetapi sudah tahap hitam.
Setiap anak panah yang dilepaskan Suro segera menggandakan diri dengan cepat. Maka dalam waktu sekejap, ribuan anak panah api telah muncul.
Secara serentak semua melesat menghujani musuh yang terus memburu dirinya. Pada awalnya para Kingkara menyepelekan keberadaan panah yang dilesatkan Suro.
Tetapi ketika panah itu mengganda dalam jumlah yang seakan tiada batas, mereka segera berubah khawatir. Kepanikan segera melanda, setelah panah itu mulai melesat ke arah mereka.
Sebab setelah panah itu melesat mereka segera menyadari, jika setiap anak panah yang melesat itu bergerak seperti memiliki mata dan pikiran masing-masing. Setiap anak panah itu berlesatan mengepung mereka dari segala arah.
Karuan saja para Kingkara itu segera melindungi dirinya sebelum terkena anak panah itu dengan menggunakan jurus tebasan perangkap kematian.
Rekahan ruang waktu yang muncul dalam jumlah yang sangat banyak, pada awalnya mampu melenyapkan panah chakra yang dilambari api tahap hitam. Tetapi seiring waktu rengkahan yang membelah ruang kosong itu tidak sepenuhnya mampu melindungi para Kingkara.
Meskipun banyak dari panah-panah itu amblas ditelan rekahan yang dibuat Kingkara, tetapi satu, dua panah itu berhasil lolos dari celah yang memungkinkan mereka untuk menembusnya.
Kejadian itu membuat para Kingkara semakin kalang kabut. Cemeti hitam segera menggelegar berkali-kali untuk menepis panah yang menembus pertahanan mereka.
Melihat musuh berubah bertahan dan tak lagi mengejar, justru semakin membuat Suro leluasa dan bertambah semangat. Anak panah yang melesat berkali lipat jumlahnya dibandingkan sebelumnya.
"Sedari tadi kalian mengejar diriku seperti maling ayam, kini rasakan sendiri bagaimana rasanya kalian dikepung dari segala arah seperti ini!"
Meskipun para Kingkara sudah berusaha keras menangkis seluruh panah yang dikerahkan Suro, tetapi mereka tetap saja tidak mampu menahan seluruh serangan panah yang bergerak seperti punya pikiran sendiri.
Pasukan Elang Langit bahkan sempat beberapa kali mengorbankan tubuh mereka sebagai tameng. Mereka tidak membiarkan para Kingkara yang mereka panggil terkena lesatan panah api.
Sebab serangan cambuk para Kingkara tidak juga mampu menepis semua panah api yang mampu menembus rekahan ruang waktu yang mereka ciptakan.
Satu panah, akhirnya berhasil melewati berlapis-lapis pertahanan yang dikerahkan musuh. Panah api itu dengan cepat menancap pada tubuh Kingkara.
Kingkara pertama yang terkena panah itu meraung begitu keas, bahkan suaranya itu bergemuruh memenuhi langit diatas benteng kota He Bei. Api yang melambari mata panah langsung meledak.
Api tahap hitam segera menyelimuti tubuh Kingkara. Dalam waktu yang sangat singkat tubuh Kingkara itu habis lenyap tak berbekas.
Setelah satu Kingkara itu berhasil dihabisi, pertahanan mereka semakin bertambah lebih lemah dari sebelumnya. Sehingga secara berturut-turut Kingkara yang lain berhasil dihabisi oleh Suro.
Dengan matinya para Kingkara, maka pasukan Elang Langit yang memanggil juga ikut lenyap. Tubuh mereka secara perlahan mulai berubah menjadi abu dan hilang ditiup angin kencang.
"Berhasil juga akhirnya," Suro tersenyum dengan lebar ke arah Geho Sama.
"Bagaimana dirimu tidak mampu memecahkan persoalan semudah itu," ucap Geho Sama dengan jumawa. Sebab secara tidak langsung dialah yang berjasa memberi tahu Suro cara mengalahkan para Kingkara.
"Aku terlalu sibuk menghindari hujan serangan mereka, sampai tidak dapat berpikir dengan jernih." Suro memberikan alasan kepada Geho Sama.
"Itu hal yang wajar. Bahkan jika itu bukan dirimu, aku yakin sedari awal sudah binasa oleh serangan para Kingkara." Senyum lebar Geho sama terus menghiasi wajahnya setelah Suro berhasil melenyapkan para Kingkara.
**
Senyum puas juga menghiasi wajah Suro, tetapi tidak bagi pasukan musuh. Setelah suara keras teriakan para Kingkara yang meregang nyawa, wajah mereka berubah menjadi sedemikian pucat. Terutama adalah pasukan Elang Langit yang sebelumnya sibuk menghabisi pasukan kekaisaran.
Mereka tidak menyangka Suro mampu menghabisi semua Kingkara yang mengepung dirinya. Pandangan mereka segera terpaku pada pemuda dan makhluk bersayap yang berada diketinggian.
Roman muka Roku Suzaku berubah semakin buruk, setelah mengetahui disisi Suro ada sosok Geho Sama yang dia kenal dalam pertarungan di kota Shaanxi.
"Ini mungkin waktu bagi kita untuk mundur dan memberitahukan kepada Yang Mulia Karuru tentang hal ikhwal ini. Sebab yang mulia yang memberi perintah kepadaku, jika kita gagal membunuhnya, maka kita semua diperintahkan untuk mundur. Perintah itu juga berlaku untuk kalian," Siluman Elang yang berbicara ke arah Roku Suzaku adalah Go Suzaku.
Hachi Suzaku yang berada disampingnya membenarkan ucapan Go Suzaku barusan. Mendengar ucapan mereka berdua, segera Roku Suzaku menarik seluruh pasukan Elang Langit.
Tetapi sebelum mereka bergerak, Suro telah mulai melesatkan panah api miliknya. Tetapi pasukan Elang Langit segera menghilang dari pandangan, sehingga panah api itu terus melesat menghujani pasukan musuh lain yang berada didekatnya.
Serangan panah yang dikerahkan Suro menghajar pasukan musuh yang memenuhi benteng terluar yang telah ditinggalkan pasukan kekaisaran mundur ke benteng kedua.
Serangan panah api milik Suro membuat pasukan musuh kalang kabut. Serangan itu menjelma menjadi lautan api. Tak banyak yang selamat dari serangan barusan.
Geho Sama juga tidak tinggal diam. Kembali dengan berbekal pedang yang ada ditangannya dia ikut menyerang. Jurus Naga Taksaka melesat menerjang pasukan musuh.
Dengan serangan itu telah berhasil menghancurkan barisan pasukan musuh. Sudah tidak terhitung berapa ribu pasukan musuh yang lenyap tenggelam dalam kobaran api.
Serangan Suro sangat mirip dengan serangan yang dikerahkan oleh Dewa Obat. Ledakan api demi ledakan api bergemuruh setiap kali panah itu menancap ke tubuh pasukan musuh.
Tetapi serangan milik Suro lebih kuat berkali lipat, sebab pasukan Khan Langit dan juga pasukan Goguryeo yang telah diperkuat dengan benih iblis sekalipun tidak memiliki kesempatan memulihkan tubuh. Setelah api hitam mengurung mereka, maka dalam waktu singkat tubuh mereka segera berubah menjadi abu.
Pasukan kekaisaran segera bersorak-sorai melihat kehancuran yang dialami pasukan musuh.
Tetapi itu hanya berlangsung sebentar. Dari atas langit mereka melihat lesatan pasukan hitam dalam jumlah begitu banyak dan langsung menerjang ke arah mereka. Terutama langsung menyerang Suro dan Geho Sama yang masih berada diatas udara.
Suro awalnya mengira itu adalah Braholo dengan tubuhnya mirip manusia serigala yang sempat menyerang mereka didalam goa Longmen. Tetepi aura sesat darinya segera mengingatkan Suro pada kekuatan Pusaka iblis Kunci Langit.
"Pertempuran ini belum juga usai," Geho Sama mendengus kesal melihat berduyun-duyun musuh lain telah muncul.
"Hati-hati semua makhluk itu telah diperkuat dengan sesuatu yang sangat jahat!" Suara Suro terdengar ke penjuru benteng kota He bei