
Jenggala yang sebelumnya pernah bertempur dengan para tetua Pedang Surga tentu sudah memahami jurus yang dikerahkan Suro. Saat berhadapan dengan tetua Tunggak semi Jenggala pernah merasakan kuatnya jurus tebasan sejuta pedang.
Karena itu segera dia menggunakan jurus pamungkas terkuat miliknya, yaitu jurus amukan iblis kalipurusha.
Sejak pertarungan jarak dekat melawan Suro Jenggala merasa kagum dengan kekuatan Suro yang terus meningkat. Dia tidak menyadari, jika sesungguhnya Suro sedang menggunakan tehnik empat sage sambil bertempur.
Dengan tehnik itu kekuatan miliknya dan juga energi kehidupannya terhisap oleh Suro. Itulah mengapa sepanjang pertarungan dia merasa Suro semakin kuat, karena kekuatannya terus berkurang dengan cepat tidak seperti saat mulai bertarung.
Suro juga menyadari jika kekuatan lawan berada pada tingkat yang jauh melampaui dirinya. Karena itu dia melakukan beberapa siasat yang jitu agar mampu memenangkan pertarungan kali ini. Salah satunya adalah tehnik empat sage.
Meskipun dengan tehnik tersebut tidak serta merta membuat Jenggala mudah ditaklukan. Tetapi dengan menghisap kekuatan Jenggala dalam jumlah yang tidak sedikit, akan mampu membuka peluang untuk menaklukkannya.
Jenggala sendiri cukup percaya diri dengan kekuatan jurus andalannya, amukan iblis kalipurusha. Sebab pada saat berhadapan dengan tetua Tunggak semi dia mampu mengimbanginya.
Dia tidak menyadari jika jurus Suro kali ini tidaklah sama, sebab jurus itu di lambari tehnik pengendalian api hitam milik Lodra.
Saat dua jurus pedang tingkat tinggi itu berbenturan dan Jenggala sibuk menahan kuatnya jurus milik lawannya, maka kesempatan itu justru dimanfaatkan Suro untuk memberi kesempatan Lodra untuk menelan lawannya.
Tehnik perubahan tanah segera dikerahkan oleh Suro secara bersamaan Lodra telah bersiap menyerang. Tubuh Jenggala mendadak amblas sampai setinggi lehernya.
Suro memahami jika jurus perubahan tanah miliknya yang hanya menenggelamkan lawannya sebatas leher tidak akan mampu melumpuhkannya, karena memang bukan itu tujuannya.
"Ilmu picisan seperti ini tidak akan mampu menahanku bocah!" Jenggala berteriak dengan murka setelah mendadak tubuhnya tenggelam ke dalam tanah.
Dalam waktu tidak sampai satu tarikan nafas saat tubuhnya terkurung tanah Jenggala segera meledakkan kekuatan tingkat shakti miliknya, membuat tanah yang mengurung dirinya langsung ambyar.
"Kau akan membayar kekurang ajaranmu dengan nyawamu bocah!" Kemudian Jenggala langsung melompat tinggi.
"Benarkah paman aku yang harus membayar dengan nyawa?" Suro tersenyum melihat Jenggala dapat lolos dari jurus perubahan tanah miliknya.
Sebab saat Jenggala melompat tinggi, justru saat itulah yang dia tunggu. Kesempatan itu tidak disia-siakan Lodra, dia langsung memerintahkan Naga Taksaka menyergapnya dengan kobaran api hitam miliknya.
"Akhirnya aku berhasil menghabisi lawan yang mengerikan sepertinya!" Suro menghela nafas panjang melihat Jenggala telah digulung api hitam.
Ular Naga dari kobaran api itu langsung menggulung dengan sangat cepat tubuh Jenggala. Kemudian dalam waktu yang hanya beberapa kejap tubuhnya telah musnah.
"Kakang Jenggala!" Sebuah suara teriakan mendadak terdengar dari arah dimana Jenggala tadi datang. Suara keras itu berasal dari teriakan beberapa orang lelaki.
Suro segera menoleh ke arah asal suara. Dari kejauhan terlihat tiga orang yang berpakaian seperti Jenggala berlari cepat ke arah Suro. Mereka adalah bagian dari ketujuh Pedang Sesat yang bernama Baga, Welasan, Wulusan.
Dari kejauhan mereka sudah melihat adegan saat Jenggala digulung api seperti saudaranya dulu yang juga telah dihabisi Suro.
"Satu musuh habis, kembali datang musuh yang lebih banyak!" Suro menepuk jidatnya. Sebab selain tiga orang itu, beberapa tetua Tengkorak Merah ikut bersama mereka.
Mereka berdelapan hampir beriringan berlari mendekat ke arah Suro.
"Bocah itu bukankah dulu yang telah menghabisi adimas Wanadri?" Wulusan yang berlari disamping Baga segera mengingat kembali wajah Suro.
"Kalian jangan lengah, jika kakang Jenggala saja dapat dihabisi, berarti bocah itu memang memiliki kemampuan! Kita habisi secara bersama-sama?" Welahan segera mengingatkan dua rekannnya yang telah tersulut oleh api kemarahan, agar tidak bertindak gegabah.
"Jangan biarkan bocah itu lolos, kita harus mengepungnya! Kalian ikut kepung bocah itu!" Baga menoleh ke arah para tetua Tengkorak merah yang berlari dibelakang mereka bertiga
**
Suro melihat musuh yang bergerak dengan cepat hendak menyerangnya segera berpikir cepat untuk kembali membuat siasat, agar musuh tidak bersatu padu mengeroyok dirinya. Jika hal itu terjadi akan menjadi akhir dari riwayatnya.
Pasukan Perguruan Tengkorak Merah yang hanya sekelas pendekar tingkat tinggi telah ketakutan dan tidak berani mendekat. Apalagi menyerang Suro mereka sudah kehilangan nyali untuk melakukannya.
Sebab pada serangan awal, saat Suro sedang dikepung dengan begitu banyak pasukan dan beberapa tetua, mereka justru dapat dihabisi dengan begitu mudahnya oleh Suro.
Baik karena serangan jurus Tapak Dewa Matahari maupun oleh ganasnya api hitam. Tetapi kebanyakan mereka mati, justru terkena kabut racun yang dikerahkan Suro. Sebab mereka menempatkan dirinya terlalu dekat dengan Suro.
Setelah melihat para tetua yang dipimpin Lokapala dapat dihabisi dengan mudah, mereka memilih mundur teratur.
'Bahaya aku harus menghabisi mereka sebelum sempat mengepungku. Kanjeng Lodra aku meminta bantuanmu untuk menyerang tiga orang yang berlari didepan. Aku akan menghabisi lima orang dibelakangnya.'
'Baiklah aku akan mencoba menghabisi mereka.' Lodra yang mendengar perkataan Suro kembali mengambil alih kendali api hitam yang berwujud Naga Taksaka.
Api hitam itu langsung melesat cepat menyambut kedatangan musuh. Welasan yang berlari paling depan menjadi sasaran pertama.
"Setan alas, bagaimana bisa kemampuan bocah itu dalam mengendalikan api hitam mengalami kemajuan begitu pesat?" Welasan berkelit sambil merutuk panjang. Sebab api hitam itu bergerak begitu gesit mengejar tubuhnya yang berjumpalitan menghindari terjangan api hitam.
Tapi sayang, Suro yang dari kejauhan melihat Lodra yang tak mampu menelan tubuh Welasan dalam kobaran api hitam miliknya, segera membantu Lodra. Seperti juga nasib Jenggala, Suro melakukan trik jurus perubahan tanah untuk membuat sedikit celah waktu, agar Lodra dapat memanfaatkan meski hanya sekejap.
Saat Welasan sibuk menghindar satu kaki yang menjejak tanah segera dikunci oleh Suro. Meski tanah itu mampu dia hancurkan, tapi serangan Lodra tidak sempat lagi dia hindari.
Saat Lodra sibuk menyerang dua pedang sesat yang tersisa, Suro juga sedang berusaha menghabisi para tetua Tengkorak Merah yang ikut berlari ke arahnya.
Jurus perubahan tanah dan jurus tapak dewa matahari yang keluar dari ujung jarinya secara berkesinambungan mencecar mereka berlima.
Mereka tidak menyangka sama sekali dalam jarak lima tombak mereka justru dicecar jurus yang begitu mengerikan. Tiga tetua akhirnya tidak selamat. Satu tetua tubuhnya amblas ke dalam bumi. Dua tetua lainnya berakhir tragis, karena hancur terkena sinar dari jari telunjuk Suro.
Dua pedang sesat yang dikejar api hitam berhasil selamat, meski harus berjempalitan menghindari kobaran api yang seakan memiliki nyawa sendiri.
**
**Silahkan komentar agar authornya semangat
Ditunggu terus dukungannya**.