
Setelah serangan barusan dari arah selatan benteng kota He Bei muncul rombongan pasukan yang tidak mereka ketahui. Mereka menggunakan pakaian yang memperlihatkan bagian dari para pendekar persilatan.
Pasukan kekaisaran yang berada di sebelah selatan awalnya sempat melesatkan beberapa anak panah. Tetapi serangan mereka berhenti ketika mereka mengetahui mereka adalah para pendekar yang hendak membantu pasukan kekaisaran. Kekuatan mereka rata-rata sudah berada ditingkat shakti.
Kejadian penting lain yang menyusul setelah serangan misterius yang berhasil menghentikan sementara waktu pasukan gabungan yang hendak menjebol gerbang, adalah berkiatan dengan pertempuran yang terjadi di atas langit.
Pertempuran yang berada di atas udara yang sebelumnya didominasi oleh pasukan milik Kerajaan Goguryeo dan pasuk Khan Langit, mendadak diatas langit itu muncul pasukan lain. Dua pasukan besar itu tidak mengetahui hal Ikhwal kedatangan pasukan yang misterius itu.
Tetapi mereka segera mengetahui maksud kedatangan mereka, setelah salah satu dari mereka mulai menyerang pasukan dari Gogureyo maupun pasukan dari Khan Langit.
Arus pertarungan kemudian berubah. Walaupun pada awalnya pasukan berkulit hitam kebal dari segala senjata itu tidak memandang terhadap kekuatan pasukan yang baru saja muncul, namun pandangan mereka segera berubah begitu musuh memberikan serangan kuat kepada mereka.
" Agniyastra!"
Serangan kuat membuat mata mereka melebar, seakan tidak mempercayai ada manusia yang mampu mengerahkan kekuatan sedemikian mengerikan. Mereka yang selamat dari serangan itu tanpa menunggu lama langsung melesat kabur menyelamatkan diri.
Tindakan mereka bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab serangan itu memang sesuatu yang sangat mengerikan. Karena itu adalah serangan dari salah satu wujud Astra.
Pendekar yang mengerahkan serangan dahsyat barusan tentu saja adalah Pendekar Dewa Obat. Dia tidak datang sendirian. Dibelakangnya beberapa pendekar mengikuti dirinya. Mereka adalah para pendekar mantan anggota kelompok Mawar Merah.
Seperti janjinya kepada para pendekar itu, Dewa Obat berhasil membuat mereka berkali lipat lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Kekuatan Astra Agniyastra berhasil menghabisi pasukan yang telah diperkuat dengan benih iblis. Serangan dengan kekuatan mengerikan itu bukan hanya berhasil menghabisi musuh, tetapi tubuh mereka juga lenyap tidak berbekas.
Dengan ikut campurnya Dewa Obat di tengah pertempuran yang berlangsung di atas langit, akhirnya pertempuran dua kubu itu berakhir.
Jendral Yuwen Shiji sampai tidak percaya, jika pertempuran telah berakhir. Dia tidak mengetahui siapa lelaki berambut putih yang berhasil membuat musuh ketakutan. Tetapi dia yakin lelaki itu bukan lah musuh.
Setelah memperhatikan para pendekar dibelakang Dewa obat, Jendral Yuwen Shiji seperti mengenalinya.
"Tidak aku sangka dalam keadaan genting seperti ini kawan lama yang telah menyelamatkan kami," Jendral Yuwen Shuji mengira semua itu adalah pasukan dari mantan kelompok Mawar Merah.
Jendral itu mengenal pendekar Feng Lei cukup baik. Sehingga saat melihatnya, dia segera mengenalinya.
"Jangan tersinggung jendral, sesungguhnya bantuan sebenarnya bukanlah kami, tetapi pendekar Dewa Segala Tau alias Dewa Obat ini."
Mulut Jendral Yuwen Shiji mengangga agak lebar dalam waktu beberapa kejap. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
Nama Dewa Obat tentu sudah didengar oleh siapapun yang telah berkecimpung dalam dunia persilatan, termasuk Jenderal Yuwen Shuji, bahkan sejak kecil lelaki itu telah mendengar nama Dewa Obat. Tetapi baru pertama kali ini Jendral Yuwen Shoji melihat langsung orangnya.
"Mohon maafkan diriku tuan pendekar, namamu sudah kami dengar sejak diriku masih kecil yang selalu didongengkan ayahandaku. Tentang bagaimana kekuatan sang pendekar yang tidak memiliki lawan.
Tetapi jujur, baru kali ini kami melihat langsung wajah tuan pendekar yang perkasa. Maafkan jika diriku tidak mampu mengenali tuan pendekar.
Mohon maafkan diriku yang tidak berlaku sopan. Tetapi kedahsyatan kekuatan tuan pendekar memang seperti yang pernah didongengkan ayahandaku saat mengantar kami tidur." Jendral Yuwen Shiji walaupun seorang punggawa kerajaan yang memiliki pangkat yang tinggi kini menjura dengan penuh hormat kepada Dewa Obat.
Dewa Obat tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Jendral Yuwen Shiji.
"Kita akan melanjutkan perbincangan ini setelah seluruh pasukan dari Khan Langit dan Goguryeo itu kita pukul mundur. Aku yakin seluruh pasukanmu yang bertahan di dalam benteng sebentar lagi akan jatuh. Jika kita tetap disini dan meneruskan perbincangan ini."
Dengan menganggukkan kepala sambil tersenyum Jendral Yuwen Shiji lalu memberikan perintah kepada seluruh pasukan yang sedang berdiri di atas udara itu untuk kembali ke benteng membantu pasukan mereka yang sudah keteteran.
**
"Sialan, rencana kita gagal lagi? Kita sepertinya kedatangan tamu yang sangat kuat. Kemenangan yang sebentar lagi kita dapatkan harus kembali tertunda!" Pandangan Jendral Ulagan menatap lurus ke langit dimana pasukan miliknya berlesatan ke bawah.
Dia segera menyadari serangan kuat yang menghancurkan pasukan gabungan di depan gerbang adalah sama dengan seseorang yang telah membuat pasukan miliknya bergerak mundur.
Dua Jendral dari Kerajaan Goguryeo yang ada di samping dirinya, yaitu Jendral Sejong dan Jendral Joseon ikut menatap ke langit. Serangan yang mengerikan barusan telah menghentikan pertarungan mereka.
"Kemungkinan hanya satu pendekar yang memiliki kekuatan para dewa, yaitu Dewa Obat. Walaupun namanya itu dikaitkan pada keahlian dalam pengobatan, tetapi kekuatannya yang sesungguhnya sangatlah menakutkan."
Jendral Ulagan masih menyaksikan puluhan pasukannya yang serentak melesat turun dari langit dan langsung menuju ke arah dimana dirinya sedang berdiri.
"Gawat Jendral Ulagan, serangan musuh yang barusan muncul tidak dapat kami tahan. Musuh mampu membuat pasukan kita hangus menjadi abu...
Benar-benar mampu melenyapkan tubuh kita!" Dengan terbata-bata pasukan itu melaporkan kejadian di atas langit dimana pertempuran di atas udara baru saja berakhir.
Terlihat kemarahan di wajah Jendral Ulangan, tetapi apa yang dilaporkan anak buahnya memang bukan mengada-ada. Dia sendiri telah melihat kedahsyatan serangan yang menghantam pasukan gabungan di depan gerbang utara.
Serangan itulah yang memupuskan keinginan mereka hendak menjebol gerbang besar itu. Satu langkah yang mereka rencanakan langsung ambyar oleh serangan barusan.
Tetapi Jendral Ulagan menemukan celah untuk membuat gerbang benteng mampu terbuka.
"Apa yang kalian tunggu cepat hancurkan pasukan yang mencoba menghalangi kita!" Jendral Ulagan menunjuk pasukan Macan Hitam yang tersisa berjejar dengan rapi membentuk formasi pertahanan berlapis-lapis untuk melindungi sesuatu yang penting dibelakang mereka.
Pasukan Macan Hitam yang tersisa sudah memahami nyawa mereka akan dapat mudah dihabisi, jika mereka diserang oleh Jendral Ulangan. Tetapi nyawa mereka akan dipertaruhkan demi pos penjagaan dibelakang mereka.
Sebab pos penjagaan yang berada tepat diatas gerbang merupakan tempat bagi siapapun yang hendak membuka gerbang benteng dengan mudah. Tentu saja Pasukan Macan Hitam tidak membiarkan musuh melakukan itu, karena itu mereka bersiap korban nyawa demi pos penjagaan dibelakang mereka.
Sampai matipun mereka tidak akan membiarkan pasukan musuh menguasai tempat itu. Karena sama saja menyerahkan seluruh benteng kepada pasukan musuh.
Jumlah pasukan Macan Hitam yang menjaga pos itu kini tidak lebih dari sembilan puluh orang. Nasib Pasukan Macan Hitam setelah kematian para punggawa dan juga dua jendral, yaitu Jendral Xiao Long dan Jendral Tian Bai, membuat musuh terus membantai mereka. Karena yang menghadapi musuh dan menahan laju geraknya hanya tinggal mereka.
Para prajurit lain yang kekuatannya setara tingkat tinggi ke bawah sebenarnya ikut berusaha menghentikan dan membantu pasukan Macan Hitam. Namun mereka tidak ubahnya seperti sebutir telor yang hendak menghancurkan batu karang.
Mereka yang hendak menghentikan serangan akhirnya berakhir riwayatnya. Jumlah korban tewas terus bertambah seiring usaha para prajurit kekaisaran yang hendak menghentikan langkah Jendral Ulagan dan pasukannya. Justru bayak dari mereka yang telah tpewas sebelum mendekat ke arah musuh.
Mereka pasukan biasa hanya memiliki kekuatan setara pendekar tingkat tinggi ke bawah. Sehingga pasukan lawan yang dipimpin Jendral Ulangan menganggap mereka tak lebih dari pada kekuatan semut belaka.
Sebelum musuh kembali melanjutkan langkahnya yang hendak menghabisi sisa pasukan Macan Hitam, Pandangan mata pasukan musuh justru tertuju ke arah selatan. Pandangan mereka tertuju pada lesatan tubuh ratusan pendekar yang menuju ke arah mereka.
"Sialan, siapa lagi yang berani-beraninya mengganggu langkahku!?" Jendral Ulagan mendengus kesal.
Mereka adalah para pendekar yang datang bersama Dewa Obat. Namun karena kekuatan mereka masih berada ditingkat shakti. Sehingga mereka tidak menempuh perjalanan dengan terbang seperti Dewa Obat dan beberapa pendekar yang mengiringinya.
Kedatangan para pendekar itu adalah hendak membantu pasukan Macan Hitam yang berada diatas gerbang benteng kota He Bei. Setelah samapi mereka segera berdiri dibarisan pasukan Macan Hitam.
Seelah itu pertempuran dua pasukan itu kembali pecah. Pasukan Macan Hitam bersikukuh tidak membiarkan pasukan musuh melangkah lebih jauh selama nyawa mereka masih bersemayam di dalam tubuh.
Pasukan miliknya yang tidak juga berhasil menembus kekuatan lawan yang kini dibantu ratusan pendekar, membuat Jendral Ulagan menggerung penuh murka.
"Matilah kalian semua!"
Wuuuuss....
Wuuussss...
Craaashh...
Craaaassshh...
Serangan tombak milik Jendral Ulangan membantai pasukan Macan Hitam yang jumlahnya semakin banyak berkurang. Begitu juga para pendekar yang membantu menghadapi Jendral Ulagan, mereka tidak sanggup menahan serangan lawan.
Beruntung saat itulah muncul bantuan. Mereka adalah pasukan yang dipimpin oleh Jendral Yuwen Shiji dan juga para pendekar yang dipimpin Dewa Obat.