SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 120 BANTUAN DATANG part 11



Hantaman serangan Medusa yang hanya berjarak sekitar satu tombak itu, mengenai tubuh Suro secara telak.


'Gawat serangan kali ini kekuatannya berkali-kali lipat daripada sebelumnya. Seluruh tubuhku langsung tidak bisa digerakkan." Suro segera menyadari kekuatan serangan kali ini sangat berbeda daripada sebelumnya. 


Sebab sebelumnya dia masih mampu mengerakan senyuman kecil dibibirnya. Kali ini serangan itu telah mengubah seluruh permukaan kulitnya menjadi kaku dan mengeras  dengan begitu cepat.


'Kavacha mengapa kamu tidak melindungi tubuhku?'


'Ampun tuanku serangan ini bukan hanya berasal dari kekuatan tenaga dalam saja. Ini adalah sebuah serangan yang berasal dari sebuah kekuatan kutukan. Ini diluar kemampuanku tuanku. Itulah mengapa sebelumnya tuanku tetap terkena efek dari serangan ini.' 


'Waduuuh cilaka. Sepertinya aku akan benar-benar mati kali ini!'


"Kenapa mulutmu berhenti tertawa bocah? Apa sekarang kau sudah sadar, bahwa hari ini adalah akhir dari riwayatmu!" Medusa yang melihat Suro tidak mampu bergerak lagi membuat dia tersenyum puas. Dia sudah sangat yakin kali ini lawannya pasti akan menjadi batu. Sebab itu adalah kekuatan penuh miliknya. 


Bahkan para prajurit yang berada dijarak yang lebih jauh sekitar lima tombak telah menjadi patung batu sedari tadi. Dia berjalan mendekati Suro secara perlahan-lahan. Pedang miliknya yang sudah sejak awal digengamnya telah bersiap untuk menebas tubuh Suro yang kini tidak berdaya sama sekali. 


Sesaat setelah terhantam sinar serangan dari Medusa seluruh permukaan kulit Suro terasa kebas seakan mati rasa. Kemudian dia mulai menyadari, bahwa sekujur tubuhnya sudah tidak mampu merasakan apapun. Seluruh permukaan kulitnya yang awalnya merah agak gelap berubah menjadi pucat. Lalu dengan cepat terus berubah menjadi bertambah putih hampir menyerupai warna sebuah batu pualam.


Kemudian dimulai dari ujung kakinya mulai berubah menjadi batu. Tubuhnya yang berubah menjadi batu itu merembet terus ke atas. Semua berlangsung begitu cepat bahkan tidak sampai empat tarikan nafas telah sampai dipusarnya.


Beruntung perubahan itu baru mencapai pusar kebawah belum mencapai daerah sekitar jantung. Suro langsung menyadarinya, segera dia bertindak cepat mencoba menghentikan perubahan dirinya yang mulai berubah menjadi arca batu. Dia secepatnya menghimpun energi kehidupan yang ada disekitar tubuhnya melalui tehnik empat sage dengan kekuatan maksimal.


'Gawat aku terlalu meremehkan serangan iblis ini. Ternyata serangannya tidak sesederhana yang aku duga.'


Perputaran arus energi disekitar tubuh Suro mulai bergerak. Penghimpunan kekuatan itu juga membuat angin disekitar Suro mulai bergerak berputar semakin cepat, seiring mulai terkumpulnya energi kehidupan yang mampu Suro serap.


Meskipun telah mampu melindungi organ jantungnya dan menghentikan laju perubahan tubuhnya menjadi batu, tetapi itu tidak langsung membuat anggota tubuhnya yang terlanjur menjadi batu pulih seperti sedia kala. Anggota tubuhnya itu masih terlihat memutih seakan batu pualam.


Kondisi itu membuat Suro semakin ketar-ketir dengan bertambah dekatnya jarak antara dia dan Medusa yang terus melangkah. Padahal Suro telah mengerahkan tehnik empat sage dengan kekuatan penuh. Tetapi karena dirinya terlanjur telah kehilangan energi kehidupannya yang begitu banyak, membuat pemulihan tubuhnya tidak secepat pada serangan pertama. 


Tubuh itu benar-benar kaku sama sekali tidak dapat digerakkan. Walaupun  Suro telah mencoba berkali-kali mengerakkannya, tetapi usaha itu sia-sia. Dia tetap tidak mampu, walau itu hanya satu ruas jarinya sekalipun.


Hal yang bisa dia lakukan sekarang adalah menghimpun energi kehidupannya sebanyaknya dalam waktu yang secepat mungkin, sebelum tubuhnya dihancurkan oleh Medusa.


'Waduh tubuhku kini benar-benar tidak bisa bergerak. Kakiku apa lagi. Apakah kedua kakiku benar-benar telah menjadi batu seutuhnya? Di kedua kakiku sampai sekarang masih belum bisa merasakan apapun? Ini gawat!' Suro berusaha melihat kedua kakinya, tetapi sayang kepalanya tidak mengikuti perintahnya, tidak bergerak sama sekali. Hanya bola matanya saja yang masih mencoba menatap tubuh bagian bawahnya.


Medusa semakin bertambah dekat terus bertambah dekat, seiring seringai diwajahnya yang terlihat begitu bahagia menikmati detik-detik kematian lawannya.


'Mengapa tubuhnya yang memulai memutih dan mulai menjadi batu kini telah berhenti? Sekarang justru mulai pulih kembali. Apakah dengan kekuatan penuhku sekalipun tidak membuatnya menjadi batu? Ilmu ini sepertinya sama saat bocah itu melenyapkan puluhan siluman yang mengelilinginya? Sebenarnya ilmu apa ini? Agaknya ilmu ini yang menjadi kunci atas kemampuan dia menahan seranganku, sehingga tidak berubah menjadi batu!' 


Perputaran angin disekitar Suro yang berputar semakin bertambah cepat menjadi perhatian Medusa. Sebab dengan semakin bertambah cepatnya angin itu berputar ikut serta terjadi perubahan pada diri Suro.


'Aku harus menghabisi bocah ini sebelum dia kembali mampu memulihkan tubuhnya dari pengaruh seranganku barusan.' 


Melihat Medusa sudah dalam jarak sepuluh langkah membuat Suro bertambah panik.


'Gawat tubuhku tetap tidak bisa digerakan. Kali ini apakah hari kematianku?' 


Setiap langkah dari kaki Medusa yang terus mendekatinya terasa begitu lama, seakan seumur hidup waktu yang telah dia lewati. Hanya matanya yang bisa mengambarkan betapa paniknya Suro melihat Medusa bersiap memotong tubuhnya.


Mendadak Medusa bergerak cepat menerjang ke arah Suro dan hendak menghantamkan bilah pedangnya dengan sekuat tenaga.


"Riwayatmu cukup berakhir sampai disini saja bocah!" Medusa berteriak dengan penuh kemarahan.


Trang! Trang! Trang!


Berkali-kali bilah pedang Medusa menebas tubuh Suro tetapi hasilnya tetap sama. Suara bilah pedangnya bahkan seperti menghantam logam yang sangat keras.


Bilah pedang miliknya itu sama sekali tidak mampu melukai sedikitpun tubuh Suro. Bahkan tubuh Suro yang terhantam pedang itu tidak bergeming sedikitpun.


"Apa? Mustahil...bagaimana mungkin pedang ini tidak mempan menebas tubuh bocah ini?"


'Slamet...slamet...sukur...sukur akhirnya Sang Hyang Kavacha kali ini telah menyelamatkan hidupku.' Melihat tebasan Medusa yang menghantam dirinya berkali-kali tidak juga melukai tubuhnya, membuat mata Suro langsung berubah berbinar-binar.


'Itu sudah menjadi kewajibanku tuanku.' Andai saja terlihat bagaimana bangganya Kavacha disebut telah menyelamatkan tuannya. Dia tersenyum bangga ke arah Lodra yang justru berubah masygul.


Medusa melotot melihat bilah pedangnya tidak mampu melukai tubuh Suro. Dia kembali menghajar Suro dengan tebasan bilah pedangnya. Sekujur tubuh itu hampir tidak ada yang luput dari tebasan pedang Medusa. 


"Makhluk apa sebenarnya kau ini bocah? Tidak mungkin bilah pedang Nogo Sosoroku tidak mampu melukaimu? Ini adalah pusaka bumi terkuat, bahkan masuk sebagai pusaka langit!"


"Aku ini titisan Sang Hyang Wenang!" Bersama dengan ucapan Suro yang terdengar kaku karena mulutnya masih kesusahan digerakkan, sebuah lesatan sinar langsung menghajar tubuh Medusa. 


Beruntung bilah pedang kesayangannya itu mampu menahan sinar dari jari telunjuk Suro. Begitu kuatnya serangan itu membuat Medusa terlempar sejauh hampir dua tombak kebelakang.


Suro yang telah berhasil mengerahkan serangan barusan, tidak serta merta telah terbebas dari pengaruh serangan Medusa. Walaupun ruas jari-jarinya telah dapat digerakan, Tetapi itu hanya satu ruas jari telunjuknya. Kekuatan yang dihantamkan ke arah Medusa juga tak sekuat seperti serangan sebelumnya.


Jari telunjuknya itu dapat bergerak setelah dia mengerahkan seluruh energi kehidupan terfokus hanya pada satu jari telunjuknya itu. Selebihnya seluruh anggota tubuhnya masih tetap kaku seperti patung. Meskipun begitu anggota tubuhnya dari pusar ke bawah yang telah menjadi batu kini telah mulai pulih.


"Gelap ngampar!"


Sebuah terjangan kilat petir yang begitu dahsyat menghantam Suro. Tubuh bocah yang terlihat sedikit kurus itu langsung terlempar jauh, bersama kobaran api yang membakar pakaian yang tersisa dibadannya. Kilat petir itu begitu kuat sehingga hantamannya menimbulkan suara begitu keras.


"Kalian para siluman serang bocah itu! Hancurkan badannya mumpung dia sedang tidak berdaya!" Teriakan Medusa yang penuh kemarahan segera menggerakan para siluman yang sejak tadi terus berdatangan turun dari langit.


Tubuh itu terlempar begitu jauh terbang melewati pasukan Medusa. Para siluman yang mendapatkan perintah Medusa segera mengejar tubuh Suro. Para siluman itu segera melesat mengejar laju tubuh Suro yang terlempar dengan begitu kuat. Mereka berebutan hendak menganyang tubuh bocah yang tak sadarkan diri itu.


Terjangan serangan Medusa membuat tubuh Suro yang tidak sempat menghindar hanya bisa pasrah. Walaupun tubuhnya terhantam begitu kuat tetapi tidak terlihat luka meskipun sebagian besar pakaiannya yang tersisa telah hangus terbakar. Bersama dengan hilangnya sisa pakaiannya kini seluruh tubuh Suro kecuali wajah telah terbungkus sebuah pakaian perang yang berwarna keemasan.


Buuuuum!


Sebuah serangan tebasan dengan kekuatan besar menghancurkan barisan manusia dan siluman yang hendak menyerang Suro. Tubuh Suro langsung ditangkap oleh Dewa Pedang.


"Akan aku hancurkan kalian semua yang telah berani menyerang perguruan cabangku!"


"Kalian mencari musuh yang salah dan berani meremehkan nama besarku! Jangan salahkan aku jika tanganku akan menumpahkan darah kalian semua!"


Suara dari Dewa Pedang menggelegar terdengar jelas bagi setiap orang yang berada dalam kancah pertempuran. Setelah mengosumsi  obat dari Suro sepertinya seluruh tenaga dalamnya telah pulih seperti sedia kala.