
"Bagaimana mungkin bocah itu tidak terluka oleh hantaman pedang adimas wanadri! Padahal itu adalah kekuatan penuh miliknya!" Jenggala terlihat begitu terkejut saat melihat Suro bersama Eyang Tunggak semi telah berlari mendekat ke arah mereka.
"Seberapa tinggi sebenarnya ilmu tenaga dalam bocah ini? Aku tidak mampu melihat tingkatannya!"
"Jika terlempar sebegitu jauh seharusnya tingkat kekuatannya berada cukup jauh dari adimas Wanadri? Tetapi entah kenapa dia bisa begitu cepat pulih kembali dan justru langsung menyerang kearah kita. Seperti tidak mengalami cidera apapun!"
"Ada tekanan kekuatan lain yang begitu besar. Tekanan kekuatan ini bukan milik tetua yang sebelumnya aku lawan. Apakah ini dari bocah itu? Seingatku sebelum terhantam oleh jurus adimas Wanadri tekanan kekuatannya tidak sebesar ini." Jenggala juga merasakan keanehan seiring Suro dan tetua Tunggak semi bergerak ke arahnya, dia merasakan sebuah tekanan kekuatan besar lain yang hadir bersama kedatangan mereka berdua.
"Zirah perang yang digunakan bocah gembel itu, mengapa sebelumnya aku tidak melihatnya? Sejak kapan dia memakainya? Atau sudah dipakai sejak tadi sebelum pakaian gembelnya itu hancur terkena serangan adimas Wanadri?" Welasan menyadari penampilan Suro yang datang berbeda dari sebelumnya dengan sebuah zirah perang yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Benar zirahnya begitu megah seperti zirah perang Raja Bauddha Harshavardhana raja dari kerajaan Buddha Gupta." Wanawasa ikut menimpali perkataan Welasan.
"Hahaha... aku ingat raja itu, karena disanalah Kanjeng Junjungan mencuri kitab pedang iblis kala purusha di perpustakaan Nalanda." Kenana tertawa terbahak-bahak mengingat awal mula mereka menjadi pendekar pedang jalan iblis.
Sekarang mereka baru menyadari jika Suro telah memakai sebuah zirah perang yang berwarna keemasan. Bentuknya mengingatkan pada zirah perang raja-raja di negerinya yaitu negeri Bharata atau juga kadang disebut negeri Hindustan.
"Sebaiknya kita mundur! Lihat, jika kalian tidak menuruti perkataanku, Wanadri akhirnya musnah menjadi abu! Sudah aku katakan bocah itu sangat kuat! Setelah melihat akibatnya, apakah kali ini kalian masih saja akan membantahku? Kita langsung mundur sekarang, menuju arah selatan mencari Kanjeng junjungan Pedang iblis!" Jenggala memandang ke arah lima Pedang sesat lainnya
"Mengapa tidak kita rebut saja dulu Pedang Pembunuh iblis yang dia pegang?" Baga yang berada persis didepan Jenggala mempertanyakan keputusannya.
"Jika seorang Kanjeng Junjungan Pedang iblis mampu direbut pedangnya, apa kau kira dengan kekuatanmu bisa merebutnya? Selain itu apakah kamu tidak melihat musuh yang sejak tadi tidak bisa kita kalahkan masih ada didepan matamu?"
Mereka segera melesat tanpa menunggu Suro dan Tetua Tunggak semi tiba dihadapan mereka. Jenggala lebih dahulu melesat ke arah selatan, segera setelah itu yang lain ikut melesat cepat mengikuti pimpinannya.
"Mengapa mereka pergi paman tetua?" Suro yang bergerak disamping tetua Tunggak semi hanya melihat lesatan enam anggota dari Tujuh Pedang Sesat yang tersisa.
"Entahlah nakmas, paman tidak mengetahuinya. Tetapi baguslah kita tidak perlu kerepotan mengusir mereka. Sekarang kita bisa langsung menolong yang lain melawan pasukan Medusa hitam."
"Jangan kalian kejar! Biarkan mereka pergi, kita akan langsung menuju Perguruan Pedang Halilintar!"
Teriakan Eyang Tunggak semi segera menghentikan langkah para tetua yang hendak mengejar enam Pedang sesat. Sesuai perintah Eyang Tunggak Semi semuanya langsung menuju Perguruan Pedang Halilintar.
Walaupun mereka hanya tujuh tetua, tetapi kekuatan mereka pasti akan sangat membantu pasukan yang berada dibawah panji-panji Perguruan Pedang Surga.
Mereka semakin bergerak cepat, setelah Suro mengatakan tentang pedang cahaya yang mampu melukai para siluman. Mereka merasa ada harapan untuk menghentikan pembantaian anggota perguruan mereka.
**
Situasi di sekitar Perguruan Pedang Halilintar sudah semakin kacau, hal itu di sebabkan datangnya bala bantuan dari pasukan Medusa. Bantuan ini berasal dari bangsa siluman yang datang berduyun-duyun dalam bentuk yang bermacam-macam.
Para siluman ini tidaklah datang satu atau dua, tetapi kali ini siluman yang telah datang sudah mencapai jumlah ratusan. Mereka bergerak berduyun-duyun seperti awan hitam yang turun dari langit. Kemudian melesat ke bawah dalam bentuk asap hitam dan bola-bola api. Setelah sampai dibawah berubah menjadi wujud siluman yang langsung menyerang anggota Perguruan Pedang Surga.
Karena begitu dahsyatnya serangan yang datang membuat seluruh pasukan Perguruan Pedang Surga semakin terdesak. Terpaksa Dewi Anggini dan Eyang Kaliki merapatkan barisan pasukannya mundur sampai di gerbang terakhir.
Di gerbang terakhir pasukan Dewi Anggini dan Eyang kaliki bergabung dengan pasukan sisi timur yang dipimpin Eyang Baurekso. Pasukan sisi timur segera menjadi penolong membantu menghadapi musuh yang terus mendesak mereka.
Tetua Nguyen Poo, tetua Datuk nan Bujang, tetua Datuk nan Lapuk dan bersama tetua lainnya segera bergerak membantu pasukan mereka yang semakin terdesak.
Tetua La Patiganna yang sedang bertarung dengan dua tetua ular akhirnya tidak mampu menahan serangan dua tetua ular. Hal ini disebabkan dengan kehadiran seekor siluman ular yang tiba-tiba hadir, membuat akhir pertarungan mereka bisa ditebak dengan mudah.
Duuuaaar...!
Sebuah suara hantaman keras dari ekor ular siluman telah membuat tubuh tetua La Patiganna terbang menabrak bangunan dibelakangnya.
"Para tetua segera beri bantuan tetua La Patigana! Tahan serangan musuh!"
Beruntung Eyang Baurekso segera bergerak cepat memberikan pertolongan. Dia langsung menjaga dari kemungkinan serangan susulan yang akan dilancarkan lawannya.
Beberapa tetua segera bergerak memberikan bantuan begitu mendengar perintah dari Eyang Baurekso. Tetua Nguyen Poo menerjang ke arah tetua Ular Putih. Dia tidak membiarkan nenek-nenek itu menghabisi tetua La Patiganna.
Datuk nan Bujang tidak mau ketinggalan, tetua Puspo Kajang yang menerjang ke arah tetua La Patiganna segera dia potong jalannya. Serangan jarum es kristal yang bagaikan badai, ampuh menghentikan langkah tetua ular itu.
"Setan alas berani sekali kau menggangu jalanku!"
"Sssssshhhhhhhhhhh!" Lidah tetua ular itu menjulur-julur keluar mendesis penuh kemarahan. Usahanya untuk menghabisi tetua La Patiganna, akhirnya harus dia tunda terlebih dahulu. Sebab lawan yang berada didepannya bukan lawan yang mudah dihabisi.
Serangan sihir ular segera menyergap Datuk nan Bujang. Lengan-lengannya langsung memanjang dan berubah menjadi ular sanca. Patukan ular-ular itu dengan mudah diatasi jagoan dari Kerajaan Malaka itu.
Datuk nan Bujang adalah tetua yang menjadi guru Narashinga, kekuatannya sudah pada tahap puncak pengendalian perubahan air dan es. Tehnik yang dia kuasai sudah pada tahap yang sangat mengerikan. Hantaman sihir ular itu hanya menghantam udara kosong, sebab tubuh tetua itu telah menghilang berubah menjadi kabut. Manipulasi tehnik perubahan air membuatnya lihai membuat tubuh palsu untuk mengecoh lawannya.
Pertarungan mereka semakin bertambah dahsyat dengan hadirnya siluman ular yang ikut menyerang Datuk nan Bujang. Tetua yang berasal dari perguruan diwilayah Kerajaan Malaka itu mengunakan tehnik khusus seperti apa yang telah dilakukan Narashinga. Hanya saja kekuatannya lebih dari lima puluh kali lipat, lebih kuat dari Narashinga
Serangan siluman baik hantaman tubuhnya dan racun yang menghujani Datuk nan Bujang selalu dapat dihindari. Kembali tubuhnya menghilang bersama dengan semakin pekatnya kabut disekeliling area pertarungan mereka.
Baaaam!
Siluman ular itu menghantam tubuh Datuk nan Bujang, hanya saja tubuh itu bukan tubuh aslinya. Hantaman itu langsung mengubah tubuh Datuk nan Bujang menjadi kabut asap.
Sejurus kemudian tubuh asli dari Datuk nan Bujang muncul diatas kepala siluman ular yang besarnya dua kali lipat pohon kelapa itu.
"Rasakan jurus dari nakmas Suro ini siluman sialan!"
Blaaaar!
Kemudian dia meledakkan energi tebasan sejuta pedang saat bilah pedangnya menghantam kepala siluman ular itu. Al hasil dari kuatnya jurus itu membuat ledakan kepala siluman ular, hingga hancur tidak berbentuk lagi.