
Setelah selesai mendengar semua laporan dari Wanara, Dewa Pedang segera menghimpun seluruh kekuatan. Kebetulan dengan adanya seleksi tetua muda secara tidak direncanakaan telah ikut menghimpun hampir seluruh para tetua cabang.
Setelah terdengar berita penyerangan perguruan cabang, yaitu Perguruan Pedang Halilintar di kadipaten Banyu Kuning maka terjadilah kegemparan diseluruh padepokan Pedang Surga. Apalagi setelah mengetahui bahwa pelaku penyerangan perguruan cabang itu dilakukan oleh Ratu Ular Medusa Hitam membuat semua anggota perguruan menjadi begitu geram.
Mereka semua memahami betapa kejamnya tokoh aliran hitam itu kepada para lawannya, bahkan kepada anak buahnya saja dia dikenal begitu sadis. Tentu mereka sudah bisa membayangkan nasib rekan-rekan mereka diperguruan cabang.
Segera setelah Dewa Pedang mengumumkan persiapan penyerangan ke daerah Banyu Kuning membuat perguruan pusat berubah menjadi begitu ramai. Para anggota perguruan yang ikut penyerangan terlihat sibuk mempersiapkan semua perbekalan untuk keperluan mereka masing-masing.
Berita tentang persiapan penyerbuan ke daerah Banyu kuning segera menyebar keseluruh anggota Perguruan Pedang Surga baik yang ada didalam padepokan maupun yang diluar kawasan padepokan. Termasuk Suro yang mendengar rencana penyerbuan itu, segera dia bergegas menuju padepokan pusat. Dia mencoba mencari tau tentang kebenaran berita tersebut dengan langsung menemui Ketua Pusat Dewa Pedang.
"Paman guru, baru saja Suro mendengar rencana penyerbuan ke daerah Banyu Kuning yang berada di sekitar Gunung Retawu(kemudian hari nama gunung ini dikenal dengan nama Gunung Muria). Apakah itu benar paman?"
"Benar nakmas, justru paman sendiri yang akan memimpin penyerangan kali ini. Mengenai latihan nakmas tetap dilanjutkan sampai selesai. Nanti akan diawasi oleh kakang Udan Asrep dan dibantu Dewa Rencong. Apakah pendekar itu sudah mengutarakan niatnya kepada nakmas?"
"Mengutarakan tentang apa, paman guru? Belum ada ucapan apapun dari pendakar itu kepada saya paman. Selain itu memang setelah selesai seleksi tetua muda Suro belum bertemu lagi dengan Dewa Rencong."
"Dia berniat mengangkat nakmas menjadi muridnya?"
"Mengangkat Suro menjadi murid Dewa Rencong?" Suro terlihat kebingungan mendengar sesorang yang belum dikenal dekat tau-tau sudah ingin menjadikannya seorang murid terasa aneh baginya.
"Paman menyarankan nakmas menerima niat pendekar itu karena dia akan mengajari nakmas tentang kekuatan sukmo. Tidak ada seorang pendekar yang kekuatan sukmo atau jiwanya melebihi pendekar itu."
"Jika pendekar itu berniat mengajari Suro tentang kekuatan jiwa dengan senang hati tentu Suro akan menerimanya. Karena Suro juga sudah ada niatan untuk belajar kekuatan jiwa itu."
"Lalu apakah Suro akan diikut sertakan dalam penyerangan ke daerah Banyu Kuning,paman? Bukankah saya sebagai tetua juga wajib ikut penyerangan ke Banyu Kuning?"
"Tidak semua tetua. Sebagian tetap harus ada disini untuk menjaga padepokan pusat. Karena itu, paman tempatkan nakmas tetap berada di padepokan pusat. Supaya nakmas bisa menuntaskan latihan sembilan putaran langit. Karena setelah nakmas selesai berlatih akan ada tugas yang menanti, yaitu menyelamatkan Eyang Sindurogo."
"Sendiko dawuh paman guru!"
"Semoga saja urusan di Banyu Kuning cepat selesai. Setelah urusan di Banyu Kuning selesai kemungkinan kita baru bisa ke Karang Ampel untuk mencoba menyelamatkan gurumu! Tetapi paman juga belum mengetahui sekuat apa sebenarnya musuh yang akan dihadapi di Banyu Kuning ini?"
"Memang lawan seperti apa yang bisa membuat seorang Dewa Pedang bimbang? Bukankah paman guru dikenal sebagai pendekar pedang nomor satu dikolong langit Benua Timur ini?"
"Bukan tidak yakin nakmas, hanya saja paman belum pernah melawan jenis makhluk yang akan menjadi lawan di Banyu Kuning nanti. Karena lawan yang akan dihadapi nanti adalah para bangsa siluman nakmas!"
"Bangsa siluman? Jadi musuh yang telah menguasai perguruan cabang di Banyu kuning adalah para siluman, paman?
"Benar, salah satunya nakmas. Para siluman ini ikut bergabung didalam pasukan yang berada dibawah bendera pasukan Ratu Ular Medusa Hitam. Entah bagaimana caranya para siluman itu bisa diajak bergabung dalam pasukan Medusa?"
"Terasa janggal ada bangsa siluman ikut bergabung didalam pasukan manusia? Memang siapa Medusa ini paman, sampai memiliki kemampuan untuk menggerakan para siluman?"
"Kamu belum mengenal iblis betina ini berarti? Dia adalah tokoh golongan hitam yang sekaligus merupakan ketua Perguruan Ular Hitam. Dia seorang wanita yang memiliki ciri khusus yang tidak dimiliki manusia lain. Karena rambutnya berbentuk ular kobra hitam kecil-kecil yang memenuhi kepalanya."
"Menjijikan sekali ada makhluk seperti itu. Dari bentuknya apakah dia bisa digolongkan sebagai bangsa manusia paman? Lebih mirip bangsa siluman atau manusia setengah siluman paman? Atau justru dia adalah siluman yang sedang menjelma menjadi wujud manusia? Karena dari ciri yang paman ceritakan wujud seperti itu tidak layak disebut sebagai manusia pada umumnya?"
"Termasuk sebangsa siluman? Ada benarnya juga apa yang dikatakan nakmas, sangat masuk akal pemikiran nakmas. Jika dia sebenarnya termasuk sebangsa siluman, maka sangat pantas jika dia bisa meminta pertolongan kepada sesama bangsa siluman."
"Hahaha! Akhirnya teka-teki kenapa dia mampu meminta bantuan para bangsa siluman terjawab sudah. Jawabannya karena dia juga termasuk bangsa siluman."
Suro yang mendengar ucapan Dewa Pedang sedikit bingung sebab di sedang bertanya bukan sedang memberikan jawaban atas teka-teki bagaimana cara Medusa mengajak para siluman bergabung dalam pasukannya.
"Berarti memang benar dia bangsa siluman, paman?"
"Mungkin saja? Hanya jangkrik yang bisa berbicara dengan jangkrik, begitu juga hanya para keturunan siluman atau bangsa siluman sendiri yang bisa berbicara dengan para siluman."
Suro menganguk-angguk mendengar penjelasan Dewa Pedang yang membenarkan kecurigaannya mengenai bentuk Medusa yang tidak seperti manusia lainnya. Dewa Pedang justru baru menyadari setelah mendengar pertanyaan Suro, bahwa kemungkinan Medusa termasuk bangsa siluman.
"Dalam penyerbuan ini pasti akan banyak yang terluka. Seberapa banyak persedian obat-obatan yang dimiliki perguruan ini untuk mengobati korban yang terluka nanti, paman? Jika saya tidak ikut dalam penyerbuan ke Banyu Kuning mungkin Suro bisa sedikit membantu dengan memberikan bekal obat-obatan yang bisa digunakan nanti?"
"Selain itu Suro juga memiliki obat yang bisa memulihkan kekuatan tenaga dalam dengan waktu yang singkat. Mungkin nanti dalam peperangan sangat berguna saat tenaga dalam sudah terkuras habis, bisa dipulihkan dengan obat yang saya buat. Racikan obat ini saya dapat dari Eyang Guru. Hanya saja jumlahnya tidak terlalu banyak karena memang bahannya agak susah dicari. Lebih baik digunakan dalam keadaan terpaksa saja."
"Benarkah nakmas memiliki obat itu?"
"Benar paman guru, Suro memilikinya. Dulu Suro biasa membuatnya bersama Eyang guru. Karena memang di Gunung Arjuno bahan-bahan untuk membuat racikan obat tersebut sangat berlimpah. Tetapi kalau disini Suro merasa kesulitan untuk mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan. Beberapa kali paman Kolo Weling untuk mendapatkan bahan tersebut, harus menempuh tiga hari perjalanan dengan menggunakan kuda. Itu pun yang didapat tidak begitu banyak."
"Jika obat itu memiliki khasiat seperti yang nakmas katakan aku akan membeli semua. Karena obat ini sangat langka sekali. Aku dulu pernah merasakan sendiri kedahsyatan khasiat obat itu. Tetapi itu sudah dulu sekali. Dan itu juga berasal dari pemberian Eyang Sindurogo."
"Kalau paman berminat silahkan bawa semua. Paman tidak perlu membelinya, tidak mengapa, memang niat Suro untuk membantu para anggota perguruan yang akan berangkat besok."
"Bukan paman yang akan membeli tetapi perguruan ini nakmas. Anggab saja itu untuk mengganti keringat anak buahmu yang sudah mencari bahan untuk meracik obat sampai sejauh yang nakmas ceritakan."
Suro mengaruk-garuk kepalanya mendengar Dewa Pedang bersikukuh akan tetap membeli semua persedian obat yang dia miliki.
"Jika paman memang menghendaki seperti itu biar paman Kolo Weling yang memutuskan. Karena dia yang sudah bersusah payah mengumpulkan bahan-bahan untuk meracik obat tersebut."
"Seberapa banyak yang telah nakmas buat?"
"Mungkin sekitar lima ribu butir paman."
"Bawa semua kesini. Nanti paman akan memperlihatkan kepada tetua lain, pasti mereka dengan senang hati setuju untuk membeli obat yang nakmas buat. Biar nanti mereka mencoba khasiat obat itu. Jika sudah merasakan pasti tidak peduli berapapun harga yang dikeluarkan."
"Suro membuat dalam jumlah yang banyak hanya untuk memulihkan pendekar tingkat tinggi ke bawah paman. Jika paman yang sudah ditingkat shakti ingin mengunakan obat itu Suro rasa tetap ada khasiatnya hanya saja tidak bisa semaksimal seperti jika digunakan pendekar pada tingkat tinggi."
"Ada persediaan untuk Eyang Guru berupa pil yang sejenis hanya saja khasiatnya lebih kuat. Tetapi jumlahnya tidak banyak sekitar tiga puluh butir saja. Jika harus membuat baru, agaknya akan kesusahan, karena bahan yang digunakan lebih sulit diketemukan."
"Baiklah bawa semua, termasuk pil milik Eyang Sindurogo. Jika nakmas bisa membuat obat dengan kwalitas lebih tinggi seperti yang biasa digunakan Eyang Sindurogo, tentu perguruan ini akan berani membayar dengan harga yang lebih mahal."
"Untuk yang tiga puluh butir itu silahkan paman dan tetua lain pergunakan dengan sebaik mungkin dan tidak perlu membayarnya. Sebaiknya jangan digunakan jika tidak sangat terpaksa karena untuk saat ini aku belum bisa membuat, karena bahan-bahan dasar yang diperlukan belum memilikinya."
"Berarti nakmas juga bisa membuat obat dengan kwalitas seperti yang biasa digunakan Eyang Sindurogo?"
"Tentu saja paman, hanya saja bahan yang diperlukan, Suro belum memilikinya."
"Jika memang paman sangat berminat dengan obat yang kwalitasnya lebih bagus setingkat dengan yang digunakan Eyang guru, Suro akan membuatnya. Tetapi terlebih dahulu harus mulai mengumpulkan bahannya sebanyak mungkin. Mungkin mulai dari sekarang Suro harus meminta tolong Paman Kolo Weling untuk bergerak mencari bahan-bahan yang dibutuhkan."
"Mungkin jika perlu Suro sendiri yang akan membawanya menyusul ke Banyu Kuning jika pertarungan di Banyu Kuning berlarut-larut lebih lama dari yang diperkirakan paman guru."
"Ya, paman tidak melarang jika nakmas menyusul ke Banyu Kuning asal sudah menyelesaikan tahap terakhir dalam latihan sembilan putaran langit."
"Baik paman Suro akan melaksanakan apa yang paman guru perintahkan."
**
Keesokan harinya iring-iringan kuda yang membawa para tetua dan para anggota Perguruan Pedang Surga mulai bergerak menuju Kadipaten Banyu Kuning.
Jarak dari Perguruan Pedang Surga yang berada di kademangan Cangkring menuju Kadipaten Banyu Kuning memerlukan waktu tempuh lebih dari lima hari perjalanan dengan kuda.
Ini adalah peperangan terbesar yang dihadapi Perguruan Pedang Surga setelah sekian puluh tahun. Bahkan peperangan yang dihadapi Pergurun Pedang Surga di hutan lereng Gunung Mahameru tidak sampai sebesar ini. Sebab nanti pasukan susulan dari seluruh cabang akan datang berkumpul di Banyu Kuning.
Penyerbuan Ratu Ular Medusa Hitam terhadap perguruan cabang Pedang Halilintar, adalah bentuk deklarasi perang kepada seluruh perguruan yang menjadi bagian dari Perguruan Pedang Surga.
Iring-iringan pasukan yang dipimpin Dewa Pedang begitu panjang, menjadi tontonan bagi para penduduk di Kademangan Cangkring, tempat dimana perguruan itu berada. Para Penduduk terlihat begitu antusias melihat panjangnya iring-iringan para anggota perguruan. Sebuah kejadian yang jarang mereka saksikan. Mereka semua saling bertanya-tanya dengan kejadian apa yang membuat pergerakan anggota Perguruan Pedang Surga melakukan hal yang tidak biasa ini.
Sepertinya Dewa Pedang ingin menyelesaikan pekerjaan Eyang Sindurogo yang belum selesai, yaitu menghabisi Ratu Ular Medusa Hitam. Sebab tokoh aliran hitam itu, sejak lama sudah terlalu banyak menumpahkan darah dari para jiwa yang tidak bersalah di tanah Javadwipa ini.
Dengan adanya deklarasi perang ini Dewa Pedang akan memastikan bahwa tokoh aliran hitam itu tidak akan lagi hidup lebih lama.
"Adinda tidak ikut tetua Dewi Anggini menuju Banyu Kuning?" Suro yang melihat Mahadewi tiba-tiba sudah ada disampingnya sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Mahadewi tidak ada didalam rombongan para anggota perguruan yang berangkat ke Banyu Kuning. Sebab saat dia melepas seluruh pasukan, dia sempat melihat Dewi Anggini ikut serta didalam pasukan itu.
"Kenapa? Apakah kakang tidak suka kalau adinda didekat kakang?" Perkataan Suro itu langsung dijawab dengan reaksi Mahadewi yang membuat Suro hampir saja meloncat. Sebab setelah mendengar perkataan Suro, ekspresi wajah Mahadewi langsung cemberut dan dengan tatapan matanya yang melotot.
"Ti..tidak.....tidak adinda!"
"Apa? Kakang tidak suka!" Mata Mahadewi semakin bertambah membesar, kedua tangannya sudah berkacak pinggang sebentar lagi pasti wujudnya akan berubah menjadi Batari Durga.
"Bukan, bukan maksud kakang, tentu saja kakang akan saaangat suka, jika akhirnya adinda justru memilih menemani kakang disini." Suro kelabakan menjawab pertanyaan Mahadewi yang disertai tatapan matanya yang seakan hampir melontarkan bola matanya itu.
"Berarti kakang akan akan sangat senang selama Mahadewi menemani kakang akan mengajari dengan tehnik langkah kilat milik kakang?"
"Iyaaaaa tentu saja kakang akan sangat senang ." Suro menjawab sambil mengaruk-garuk kepalanya. Didalam hatinya berdoa keselamatan dari kemarahan Batari Durga yang sewaktu-waktu akan muncul jika sampai membuat murka dara cantik dihadapannya.