
"Jangan ragukan kemampuanku untuk membantai kalian semua, jangan pernah!" Suro mengakhiri ancamannya dengan menyarungkan kembali bilah pedangnya.
Suara itu dia kerahkan dengan dilambari tenaga dalam. Sehingga ucapannya mampu mencakup semua orang yang ada.
Pandangannya tertuju kepada jendral Yuwen Huaji yang berada dikejauhan setelah menghindari kobaran api tahap hitam miliknya.
"Lalu apa yang pendekar inginkan?" Jendral Yuwen Huaji menjawab singkat, tidak lupa dia juga berbicara sambil mengalirkan tenaga dalamnya.
Dia juga tidak mau kalah dengan unjuk kekuatan, walaupun dia sudah ditingkat surga. Tetapi jendral itu masih berada tingkat awal. Bahkan satu gerbang surga pun belum dia buka.
"Bebaskan paman Yang Taizu dan jendral Zhou dari penjara. Selain itu aku harus berbicara dengan kaisar kalian!"
Jendral Yuwen Huaji sedikit terkejut dengan permintaan Suro. Tetapi dia mampu menguasai diri. Sehingga dia terlihat begitu tenang.
"Jika permintaanmu untuk melepaskan Yang Taizu walikota Shaanxi dan juga jendral Zhou, mungkin aku akan mengabulkannya. Tetapi permintaanmu untuk bertemu dengan yang mulia kaisar Yang Guang tidak akan aku kabulkan!"
Geho Sama yang ada disebelah Suro tertawa lepas mendengar jawaban Yang Guang.
"Kalian sepertinya tidak mengerti inti ucapan pemuda ini! Dia tidak meminta ijin kepada kalian untuk bertemu dengan kaisar kalian. Tetapi tuanku ini memerintahkan kaisar kalian untuk datang menemuinya.
Jika kalian masih bersikeras dengan pendirian kalian, maka aku sendiri yang akan menyeretnya bersama dengan Putra Mahkotanya!" Geho Sama berhenti berbicara dan menoleh ke arah Suro yang berada disebelahnya.
"Apakah kali ini kau mengijinkanku untuk melakukannya bocah?" Suro hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Geho Sama.
Setelah itu tubuh Geho Sama lenyap. Sekejap kemudian dia telah muncul kembali dengan seseorang yang telah mengompol dengan rasa takut yang tidak terkira.
Pemuda yang dijinjing oleh Geho Sama adalah Pangeran Mahkota Yang Jian.
"Kau pikir sejak kedatanganku diistana ini tidak merasakan aura keberadaanmu tikus curut!" Geho Sama mengangkat tinggi dengan mencengkram kerah baju Pangeran Yang Jian.
"Turunkan Geho Sama, apakah kau ingin dia mati ketakutan melihat wajahmu yang menakutkan itu?" ucapan Suro terdengar seperti tidak menyukai tindakan Geho Sama
Tetapi diwajahnya yang terlihat jenaka itu terbentuk senyuman kecil disudut bibirnya. Lalu berubah menjadi tawa kecil saat menyaksikan Pangeran Yang Jian begitu ketakutan.
Pangeran itu benar-benar ketakutan, celananya sudah basah karena mengompol. Rasa kesalnya kepada pangeran itu sedikit terobati. Tentu saja Suro kesal karena niat baiknya justru dibalas dengan akal bulus untuk menjebak dirinya.
Bukan hanya jendral Yuwen Huaji yang terkejut. Seluruh pasukan kekaisaran dan para pendekar terkesima melihat unjuk kemampuan yang dilakukan Geho Sama.
Sebab seperti tanpa kesulitan mampu menemukan dan membawa siapapun yang diinginkan dengan sangat mudahnya. Tetapi mereka tidak mengetahui jika dia mampu melakukan itu, karena sebelumnya Geho Sama sudah menghafal aura yang dimiliki Pangeran Yang Jian.
Sehingga saat pangeran itu berada dalam jangkauan deteksinya, maka dengan sangat mudahnya Geho Sama menemukan dirinya kembali. Meskipun saat itu pangeran Yang Jian bersembunyi di dalam lubang semut sekalipun.
"Untuk melakukan hal seperti ini bagi kami mudah. Bahkan aku bisa melakukannya sejak awal!" Suro terhenti berbicara sebab Geho Sama menyerobot tanpa punya akhlak sopan santun.
"Benar, apa yang dikatakan bocah ini, bagiku mudah jika perlu aku bawa kepala kaisar kalian kesini tanpa badannya! Tetapi mengapa sejak awal kau tidak memperbolehkan diriku melakukannya bocah?" Geho Sama menatap Suro tanpa rasa bersalah.
Pemuda itu mendengus kesal karena ucapannya dipotong oleh Geho Sama. Tangannya bertolak pinggang menatap Geho Sama yang berpura-pura tidak mengetahui pemuda itu sedang kesal dengan sikapnya," sssssstttt...aku sedang berbicara."
Geho Sama hanya menyengir mendapat omelan dari Suro. Sebagai gantinya dia menatap tajam pangeran Yang Kian dan kembali mencengkram kerah pemuda itu dan mengangkatnya tinggi.
"Kau dan bapakmu telah membuat tuanku kesal, apa kau ingin aku plintir kepalamu sekarang juga? Mengapa justru diam tidak mau menjawab pertanyaanku tikus curut? Kau ingin menguji kesabaranmu yang nyaris tidak aku punya ini?"
Geho Sama mengguncang-guncang tubuh pangeran itu dengan kuat. Tentu saja pemuda itu bertambah ketakutan dan pingsan beberapa kali.
"Lepaskan dia Geho Sama, lepaskan dia sebelum mati ketakutan ditanganmu!"
"Tetapi...," Geho Sama menatap Suro. Pemuda itu membuat tanda agar dia segera melakukan perintahnya
"Huuuft mengganggu orang sedang senang saja...ah sudahlah pergi sana kau tikus curut. Sebelum aku tendang pantatmu!"
Seperti tidak percaya yang dia dengar, Pangeran Yang Jian justru berhenti sesaat menatap Geho Sama dan Suro secara bergantian.
"Apa yang kau tunggu? Tuanku sudah muak melihat wajahmu! Pergi sana!" Geho Sama kembali menghardik Pangeran Yang Jian sambil memerintahkan dirinya untuk berlari ke arah Jendral Yuwen Huaji yang berada di kejauhan.
Pangeran Yang Jian seperti ayam yang baru saja dibuka kandangnya. Tanpa menoleh lagi, dia langsung ngibrit berlari sekencang mungkin terpontang-panting menjauh secepatnya dari jangkauan Geho Sama.
Tentu saja dia ketakutan sampai tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. Sebab saat sedang terlelap dalam peraduannya, mendadak sesosok makhluk muncul langsung menjambak rambutnya dan menyeretnya pergi.
Sekali kaisar kalian membuat tipu muslihat terhadapku, maka akan aku ambil kepala dari putra mahkota itu bersama kepala kaisar kalian.
Meskipun ribuan prajuritnya menjaga kamar tidurnya, jangan harap mampu lepas dari ancamanku. Bahkan akan aku ambil kepala kaisar kalian disaat dia sedang tertidur terlelap.
Lalu akan aku jadikan kepala itu sebagai santapan bagi makhluk ini!" ucap Suro sambil menunjuk wajah Geho Sama.
Suro ingin menunjukkan kepada Jendral Yuwen Huaji dan juga Pangeran Yang Jian, bahwasanya dirinya mampu membunuh mereka selagi sedang dijaga dengan sangat ketat dikamar tidur mereka sekalipun.
Geho Sama mengerti itu adalah cara licik Suro agar kaisar Yang Guang bersedia berbicara untuk diajak kerjasama. Tetapi Geho Sama tetap saja menampakkan muka kesalnya sambil menggaruk-garuk kepalanya," bocah setan, mengapa kau menyuruhku memakan tikus curut itu, kau kira lidahku ini tidak mengerti makanan yang enak?" gumam Geho Sama pelan.
"Ssssst...aku sedang menggertak mereka,"
"Gertakan macam apa, tidak bermutu!" gumam Geho Sama dengan gerutuan penuh kesal.
Gertakan dan ancaman Suro akhirnya memang terbukti membuat Putra Mahkota Yang Jian benar-benar ketakutan setengah mati. Dia lalu menggambarkan kondisi itu kepada ayahandanya Kaisar Yang Guang.
Kaisar Yang Guang sendiri sebenarnya sudah mengetahui tentang Suro. Dari laporan para Telik sandi dia mengetahui latar belakang pemuda itu.
Rencana Pangeran Yang Jian juga atas seijin dirinya. Namun dia tidak menyangka, jika persiapan untuk menjebak nyatanya gagal total.
Bahkan pengerahan pasukan sampai jumlah puluhan ribu sekalipun tidak mampu mengalahkan apalagi menangkapnya hidup-hidup. Seperti juga Putra Mahkota kaisar itu juga ketakutan bukan kepalang mengetahui kemampuan Suro dan Geho Sama mampu menculik dan menembus penjagaan seketat apapun.
Akhirnya Kaisar Yang Jiang bersedia dipertemukan dengan Suro dan yang lainnya. Tetapi tentu aja dengan berbagai persyaratan yang membuatnya merasa aman.
Dalam pertemuan itu diikuti oleh Suro, Mahadewi, Dewi Anggini dan Dewa Rencong juga Geho Sama. Tetapi dengan pengawalan ketat para punggawa dan juga para pendekar yang sebelumnya bersama Jendral Yuwen Huaji.
Sedangkan para pendekar yang sebelumnya diselamatkan Suro mereka menunggu diluar.
Sesuai permintaan Suro sebelumnya dalam pertemuan itu walikota Shaanxi dan jendral Zhou telah dibebaskan dan ikut serta didalamnya. Dua orang itu tidak menyangka jika hukuman pancung yang telah ditetapkan akhirnya dibatalkan.
Walikota Shaanxi lalu menjelaskan kepada kaisar Yang. Tetapi kali ini kaisar itu mau mendengarkan apa yang diucapkan Yang Taizu. Tentu saja semua itu terjadi berkat adanya Suro di dalam pertemuan.
Setelah mendengarkan penjelasan lengkap dari Yang Taizu walikota Shaanxi, sang kaisar tidak terlihat terkejut.
"Keinginan Kerajaan Goguryeo dan niat Khan Langit untuk melawan kekaisaran ini memang bukan hal yang baru. Bahkan Khan langit memang sejak lama memiliki keinginan hendak menguasai seluruh daratan Negeri Atap Langit ini.
Namun aku tidak mampu memahami mengapa pasukan Elang Langit dari Negeri Wajin yang kecil itu berani melakukan penyerangan pada kekaisaran ini?"
Kerutan wajah dari Kaisar Yang Guang bertambah banyak, karena sedang mencoba mencari alasan dibalik niat ketiga kerajaan yang akhirnya bersatu untuk merencanakan penyerangan pada kekaisarannya.
**
Note:
Nama asli Kaisar Yang adalah Yang Ying, tetapi diganti oleh ayahnya, setelah berkonsultasi dengan peramal, menjadi Yang Guang.
Yang Guang diangkat menjadi Pangeran Jin setelah Kaisar Wen mendirikan Dinasti Sui pada tahun 581. Pada tahun 588, ia diberikan komando lima tentara yang menginvasi dinasti Chen selatan dan dipuji secara luas atas keberhasilan kampanye ini.
Prestasi militer ini, serta intriknya terhadap kakak laki-lakinya Yang Yong , membuatnya menjadi putra mahkota pada tahun 600.
Pengangkatannya sebagai Kaisar terjadi setelah kematian ayahnya pada tahun 604. Sejarahwan menyebut kematian ayahandanya adalah salah satu pembunuhan yang direncanakan oleh Yang Guang, seperti juga kematian pangeran tertua alias kakaknya juga.
Walaupun tuduhan itu tidak memiliki bukti kuat.
Kaisar Yang, memerintah dari 604 hingga 618, berkomitmen pada beberapa proyek konstruksi besar, terutama penyelesaian Kanal Besar , dan rekonstruksi Tembok Besar , sebuah proyek yang merenggut nyawa hampir enam juta pekerja.
Dia juga memerintahkan beberapa ekspedisi militer yang membawa Sui ke wilayah teritorial terbesarnya, salah satunya, penaklukan Champa di tempat yang sekarang menjadi Vietnam tengah dan selatan, mengakibatkan kematian ribuan tentara Sui karena malaria.
Ekspedisi ini, bersama dengan serangkaian kampanye yang menghancurkan terhadap Goguryeo (salah satu dari tiga kerajaan Korea ), membuat kekaisaran bangkrut dan rakyat memberontak.
Dengan kekacauan di Tiongkok utara, Kaisar Yang menghabiskan hari-hari terakhirnya di Jiangdu (di Yangzhou modern, Jiangsu ), di mana ia akhirnya dicekik dalam kudeta yang dipimpin oleh jendralnya Yuwen Huaji.
Terlepas dari pencapaiannya, Kaisar Yang umumnya dianggap oleh sejarawan tradisional sebagai salah satu tiran terburuk dalam sejarah Tiongkok dan alasan pemerintahan Dinasti Sui yang relatif singkat.
Kampanyenya yang gagal melawan Goguryeo, dan wajib militer dibebankan kepada rakyat, ditambah dengan peningkatan pajak untuk membiayai perang ini, dan kerusuhan sipil sebagai akibat dari perpajakan ini, akhirnya menyebabkan jatuhnya dinasti.