SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 361 Belati Kaisar Gong part 2



"Kakang itu sedang menghubung-hubungkan cerita adinda dengan sebab musabab tetua Dewi Anggini diculik oleh ketua Mawar Merah." Beruntung Suro lah yang menciptakan jurus sepuluh pedang terbang dan mengetahui semua jurus yang dimiliki Mahadewi.


Sehingga serangan dahsyat yang menerjang ke arahnya mampu diatasi dengan sangat mudah. Semua bilah pedang milik Mahadewi berhasil dia kuasai dan kini berada dalam genggaman Suro.


"Tenangkan dirimu Mahadewi, akan kakang jelaskan!" Suro mengembalikan seluruh bilah pedang yang berhasil dia tangkap.


"Kakang jangan menghindar, pasti kakang sedang memikirkan gadis yang seputih sapi itu, bukan? Kalau tidak apa coba?"


Suro menggaruk-garuk kepalanya yang mulai pusing, jika harus menghadapi Mahadewi dalam kondisi seperti itu.


'Perasaanku saja atau memang dalam hidupku ini dikelilingi makhluk-makhluk yang mudah sekali mengamuk. Tetapi untung aku mampu memiliki cara untuk meluluhkan makhluk-makhluk seperti ini,' Suro tersenyum dengan cukup lebar ke arah Mahadewi yang masih berkacak pinggang dengan matanya yang melotot seakan mau keluar.


'Untung saja aku punya ajian Semar mesem yang dapat meluluhkan siapapun. Memang tidak salah dengan kitab-kitab yang dimiliki eyang guru semuanya memang nomor Wahid. Hahahaha...,' Suro tersenyum dengan begitu lebar sampai semua hamparan gigi-gigi putihnya terlihat semua.


"Tentu saja kakang sedang menghubungkan kejadian yang dialami gurumu itu dengan cerita yang baru saja kakang dengar dari adinda. Terutama mengenai belati yang adinda sebut sebagai belati milik kaisar Gong yang diberikan tetua kepadamu."


"Belati? Memang apa hubungannya belati yang diberikan padaku dengan guru yang telah diculik? Coba kakang jelaskan? Awas jika kakang hanya bersilat lidah!" ujar Mahadewi dengan tangan terkepal ke arah Suro.


"Jadi begini, sesuai dengan apa yang diceritakan adinda mengenai asal usul belati yang diberikan tetua kepadamu, kakang memiliki kecurigaan, jika apa yang dicari para penculik tetua dapat dicari petunjuknya melalui belati itu."


"Apakah adinda belum memahami juga?" Suro bertanya ke arah Mahadewi yang terlihat mulai tenang seperti serigala yang menghentikan amukannya setelah diberikan tulang.


"Belum kakang."


"Jadi begini, jika menurut tetua Dewi Anggini menyebut belati itu berasal dari pemberian ayahanda dari tetua, maka ada rahasia besar yang coba disembunyikan olehnya.


Sebab dari cerita yang Dewa Pedang yang sempat dijelaskan kepada kakang, Dewi Anggini diculik karena ada hubungannya dengan harta Karun milik ayahandanya. Menurut penjelasan paman guru, ayahandanya dulu kala adalah seorang raja atau kaisar yang merupakan penguasa di Negeri Atap Langit ini. Nama ayahanda dari tetua itu adalah Kaisar Gong."


"Benarkah kakang?" Mahadewi tidak mampu menutupi keterkejutannya mendengar penjelasan Suro.


Pemuda itu hanya menjawab dengan anggukan kecil, sebelum kembali meneruskan ceritanya.


"Apalagi saat kedatangan tetua di negeri Yawadwipa bersama eyang guru dirinya tidak membawa apapun, kecuali pakaian yang dia kenakan.


Rahasia harta Karun yang dia bawa bersama belati yang diberikan kepadamu lah yang menyebabkan dirinya selalu diburu pembunuh bayaran seperti yang pernah kita dengar." Suro mencoba mengingatkan kepada Mahadewi tentang cerita gurunya sewaktu masih muda.


Cerita sebab musabab mengapa tetua Dewi Anggini yang berasal dari Negeri Atap Langit, bisa berada di Yawadwipa. Hampir seluruh anggota Perguruan Pedang Surga mengetahui jika tetua itu datang ke Yawadwipa karena mengikuti eyang Sindurogo.


Alasan dia harus mengikuti pendekar itu sampai ke Benua Timur adalah karena selalu diburu pembunuh bayaran. Apalagi selama bersama eyang Sindurogo itulah nyawanya berkali-kali dapat diselamatkan.


Mahadewi tidak dapat menutupi kekagumannya kepada pemuda didepannya. Sebab pemikiran Suro telah membuka wawasannya lebih luas tentang gurunya yang selama ini tidak banyak dia ketahui. Serta merta Mahadewi segera mengeluarkan belati kecil yang dihiasi batu-batu mulia yang terukir indah di sarung dan gagangnya.


"Benarkah apa yang kakang katakan, jika belati ini dapat menjadi petunjuk bagi kita untuk dapat menemukan guru?" Mahadewi ikut penasaran dengan cerita Suro.


Karena itulah dia buru-buru memperhatikan seluruh bagian dari belati yang selalu dia jaga, seakan menjaga nyawanya sendiri. Sebab gurunya selalu mewanti-wanti kepada dara yang menjadi muridnya itu.


Apalagi sudah cukup lama belati itu menjadi bagian hidupnya. Sehingga dengan mata terpejam pun dia mampu mengingat ukiran apa disetiap bagian dari belati itu.


"Aku tidak melihat ada yang aneh kakang." Walaupun tidak juga menemukan petunjuk apapun dara itu masih penasaran. Dia terus mencoba memeriksa dan membolak-balikan pusaka tersebut.


"Bisa kakang lihat?" ujar Suro sambil menjulurkan tangannya untuk meminta bilah belati ditangan Mahadewi.


Cukup lama Suro menatap dengan meneliti setiap inci dari bilah belati dan warangka atau sarungnya itu.


"Bagaimana kakang apakah sudah mampu menemukan sesuatu petunjuk?"


"Entahlah kakang belum menemukannya. Memang tidak ada yang aneh dari bilah belati ini. Keindahan ukiran disetiap inci dibilah, gagang dan sarungnya memang begitu menawan.


Selain itu bahan yang digunakan untuk membuat bilah ini merupakan sekelas pusaka tingkat langit. Sebab terbuat dari batu langit yang memiliki kekerasan dan ketajaman yang membuat pusaka ini tidak diragukan kekuatannya."


Suro terus memandang pusaka itu dan menelitinya tanpa putus asa. Namun setelah sekian lama dia meneliti dia tidak juga menemukan petunjuk apapun.


Matanya sampai sakit karena dia paksa untuk dapat melihat setajam mungkin.


"Mataku sampai perih karena aku paksakan. Agaknya racun yang sempat mengenai mata kakang belum sepenuhnya pulih."


Suro memejamkan matanya karena memang terasa perih dan mulai berair. Dia mencoba mengerjap-ngerjapkam matanya agar mampu mengurangi rasa perih yang sedikit mengganggunya, sambil memandang dikejauhan.


"Tunggu sebentar, bukankah pola ukiran ini memiliki kemiripan dengan bentuk gunung yang berjejer di sebelah utara itu?" Suro berbicara sambil menunjuk ukiran yang dimaksud dan gunung yang menjulang tinggi disebalah kanan mereka.


Suro yang tidak sengaja menatap ukiran di gagang belati itu segera memperhatikan dengan lebih teliti. Sebab sekilas pola ukirannya sangat mirip dengan penampakan gunung yang ada dihadapannya.


Mahadewi ikut menatap ukiran di gagang belati yang terbuat dari gading gajah itu.


"Benar kakang memang sangat mirip. Ini entah kebetulan, atau memang ada makna tertentu yang hendak dijelaskan. Tetapi aku tidak mengira guru hendak mewariskan kepadaku sesuatu yang sangat berharga seperti ini."


Suro terus menatap lebih teliti lagi setiap ukiran yang ada di seluruh bagian pusaka itu. Begitu juga penempatan batu-batu mulia yang tersebar di gagang, maupun di sarungnya tidak luput dari matanya.


"Bukankah ini secara keseluruhan adalah gambaran dari keseluruhan pegunungan yang membentang luas ini?" Suro begitu kagum ketika dia mulai menggabungkan seluruh gambar yang terpampang ditangannya.


Dari gagang, bilah belati dan sarung pedang itu menggambarkan keseluruhan pegunungan yang membentang luas dihadapan mereka berdua.


"Benar kakang, dan batu safir yang ada digagang belati ini sepertinya memiliki makna tertentu."


"Mungkin saja itu adinda. Dan gunung yang di tandai dengan safir itu ada dihadapan kita."


Setelah membaca yang ada di belati itu, maka Suro dan Mahadewi seperti mendapatkan sesuatu petunjuk yang mampu mengantarkan mereka ketempat yang akan dituju.