SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 154 Akhir Perguruan Racun Neraka



"Awas dia datang kembali! Dia datang lagi! Selamatkan diri kalian!" Salah seorang tetua berteriak keras melihat Suro turun dari langit dengan begitu cepat. Angin yang menyertai kedatangannya menyapu abu bekas serangan Lodra sebelumnya.


Kedatangan Suro yang datang secara mendadak membuat mereka semua panik. Beberapa dari mereka secara serentak bergerak memberikan serangan ke arah Suro, tetapi perlawanan itu langsung dihentikan dengan beberapa lesatan sinar dari ujung jari telunjuknya.


Jurus Jari Telunjuk Dewa mencari Kebenaran membungkam perlawanan mereka. Dua tetua yang memimpin penyerangan ikut dihabisi. Delapan tetua yang tersisa segera meredam perlawanan seluruh anggota yang ada.


Suro menatap ke arah anggota Perguruan Racun Neraka yang berdiri mematung dengan kaki bergetar hebat. Meskipun Suro tidak mengeluarkan hawa pembunuh maupun nafsu membunuh, mereka sudah merasa seakan sedang melihat Sang Hyang Yamadipati yang hendak mencabut nyawanya


"Siapa lagi diantara kalian yang masih ingin memberikan perlawanan?" Suro menatap dengan tajam seluruh anggota Perguruan Racun Neraka yang tersisa.


Setelah serangan Lodra yang berupa api hitam yang membentuk burung raksasa lenyap. Orang-orang yang masih selamat mulai menyadari jika lawannya juga ikut menghilang.


Selain yang berada di sisi utara yang selamat, kebanyakan para anggota yang selamat adalah yang sedang berada diluar tembok pembatas perguruan.


Kini semua anggota yang selamat sedang berkumpul disisi utara. Karena hanya bagian itu yang masih tetap berdiri dengan utuh.


Kedatangan Suro yang begitu mendadak, membuat sebagian besar dari mereka telah habis harapannya untuk bisa menyelamatkan nyawanya.


Melihat lawan kini tidak meneruskan serangan memberikan sedikit harapan bagi mereka untuk menyelamatkan nyawa mereka. Kedelapan tetua segera berunding untuk menyerah dan memohon ampunan atas nyawa mereka semua.


Belasan ribu anggota yang ikut dalam peperangan di Banyu Kuning membuat perguruan itu hanya dihuni oleh beberapa ribu anggota saja. Bahkan tidak lebih dari lima ribu atau justru kurang dari itu. Setelah serangan Lodra, maka yang tersisa dari keseluruhan hanya tinggal tidak lebih dari lima ratus murid Perguruan Racun Neraka.


"Kami menyerah mohon ampuni nyawa kami semua!" Salah seorang tetua mewakili tetua lain dan para anggota, memberanikan diri maju ke depan.


"Lalu apa yang akan kalian lakukan sebagai tanda, bahwa kalian memang benar-benar telah menyerah!" Suro menatap tetua itu dengan penuh amarah.


"Kami akan menuruti semua perintah tuan pendekar selama nyawa kami diampuni. Kami percaya tuan pendekar memiliki jiwa yang besar." Tetua itu kembali berbicara ke arah Suro.


Agaknya tetua itu paling disegani diantara yang lain. Sebab tidak ada yang mencoba membantah keputusan yang baru saja dia ucapkan.


"Baik, sekarang kalian lepaskan para tahanan itu!" Suro menunjuk bangunan berderet-deret didepan dan dibelakangnya.


Suro ikut membebaskan para penduduk yang telah menjadi tawanan, entah sejak kapan. Tubuh mereka kurus, kuyu dan mungkin sudah tidak mandi selama berhari-hari. Mereka diperlakukan sedemikian buruk melebihi perlakuan kepada hewan ternak.


Walaupun Suro begitu geram dengan apa yang telah dilakukan perguruan itu, tetapi dia tetap menahan kemarahannya itu. Dia sudah berjanji mengampuni nyawa anggota perguruan yang tersisa.


"Terima kasih den mas, kami kira ini waktunya kami dibunuh, seperti nasib saudara-saudara kami yang lain. Berkat den mas akhirnya nyawa kami dapat diselamatkan!" Seorang wanita bersama anaknya mengucapkan terima kasih kepada Suro sebelum dia keluar dari jeruji tempat mereka ditahan.


Para penduduk awalnya berteriak histeris saat mereka hendak dikeluarkan dari ruang tahanan. Mereka berprilaku demikian, setelah melihat nasib saudara mereka yang yang sudah-sudah. Setiap ada yang keluar dari kamar itu tidak ada yang kembali.


Mereka mulai menyadari, jika mereka semua telah dibunuh. Kamar mereka yang tidak memiliki celah untuk melihat dunia luar hanya mengandalkan indera pendengarannya.


Sebelumnya mereka sempat mendengar suara ledakan berkali-kali dan teriakan orang yang sedang kesakitan begitu banyak. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi, jika diluar terjadi pertempuran hebat yang membumi hanguskan hampir seluruh perguruan itu.


Mereka berpikir telah terjadi pembantaian tahanan dalam skala besar. Sebab biasanya hanya beberapa orang saja yang diseret keluar dari kamar tahanan. Kini mereka disuruh keluar semua.


Mereka tidak mengetahui apa yang telah terjadi, tetapi saat melihat pemandangan yang terpampang diluar mereka mulai menyadari, jika telah terjadi pertempuran.


Pemandangan itu benar-benar membuat mereka terkejut. Sebuah pemandangan yang jauh berbeda, dibandingkan saat awal mereka digiring sebagai tahanan.


Tidak ada bangunan lain yang masih berdiri, selain ruangan mereka dan juga beberapa bangunan yang berdekatan dengan tempat dimana mereka ditahan.


Mereka kini baru menyadari jika malaikat penolongnya adalah seorang pemuda belia, yang sebelumnya telah menghancurkan pintu kamar tahanan, tempat mereka menghabiskan waktu selama ini.


Bahkan beberapa ratus anggota perguruan terlihat begitu ketakutan dengan pemuda itu. Mereka tetap duduk bersimpuh menunggu perintah lanjut. Para anggota perguruan dikumpulkan ditengah halaman luas di bagian sisi utara.


"Kalian bisa kembali ke desa kalian masing-masing. Saya berani menjamin, jika mereka tidak akan mengganggu hidup kalian lagi!" Suro menjelaskan secara pelan-pelan, agar para penduduk yang masih terlihat ketakutan mampu mencerna apa yang dia katakan.


Suro mengumpulkan para penduduk disisi yang berseberangan dengan para anggota perguruan yang kini dijadikan tawanan oleh Suro.


Secara garis besar akhirnya para penduduk memahami penjelasan Suro. Walaupun mereka tidak mampu memahami bagaimana mungkin seorang pemuda belia menghadapi seluruh perguruan hanya seorang diri? Tetapi pertanyaan itu sudah tidak mereka pikirkan lagi, setelah mengetahui bahwa nyawanya telah diselamatkan.


Apalagi Suro memerintahkan untuk memberikan harta milik perguruan kepada para penduduk. Setelah semua tahanan dikumpulkan Suro meminta para anggota perguruan itu membagikan harta simpanan milik perguruan yang kebetulan tidak ikut hancur. Sebab penyimpanan harta berada dibawah tanah bersama kitab ilmu perguruan mereka.


"Terima kasih den mas sudah menolong dan memberikan kami bekal untuk melanjutkan hidup sebanyak ini!"


Mereka berterima kasih tidak terukur banyaknya, apalagi mereka dibekali dengan harta yang tidak sedikit.


"Silahkan kalian kembali ke kampung kalian masing-masing. Tempat kalian terpencar ditempat yang berjauhan. Apakah kalian memerlukan pengawalanku?"


"Sebelumnya saya mewakili seluruh penduduk yang telah den mas tolong, mengucapkan terima kasih yang tidak terukur banyaknya. Pertolongan yang telah den mas lakukan bagi kami seperti diberikan kesempatan hidup kedua."


"Kami tidak ingin membuat den mas terbebani lagi. Den mas tidak perlu mengantar kami pulang. Biarlah kami pulang sendiri kembali ke desa masing-masing." Seorang lelaki tua yang mewakili para penduduk menjawab pertanyaan Suro.


"Mungkin kedatangan den mas sebagai bentuk jawaban dari Sang Hyang Widhi atas doa-doa kami." Lelaki itu mengucapkan syukur yang tidak terkira banyaknya kepada Sang Hyang Maha Kuasa. Lelaki itu hendak mencium tangan Suro, tetapi dia segera menahan tindakan bapak tua itu untuk tidak meneruskan tindakannya.


Para penduduk itu mulai menangis bahagia atas nasib mereka yang telah merdeka. Mereka tidak membayangkan sama sekali, jika akhirnya bisa kembali pulang ke kampung mereka yang telah cukup lama ditinggalkan.


"Kalian tidak perlu bersujud bangunlah, aku tidak menyukai itu!" Suro segera membangunkan lelaki tua yang ada dihadapannya. Tindakan lelaki tua itu diikuti seluruh penduduk ikut tertunduk seakan dihadapannya itu adalah seorang raja.


Setelah semua mendapatkan bekal yang cukup untuk merubah hidup mereka, maka mereka memilih segera meninggalkan Perguruan Racun Neraka yang sebagian besar tinggal abu. Mereka tidak ingin berlama-lama lagi ditempat yang bagi mereka anggap sebagai perwakilan neraka dunia. Pengalaman terburuk yang pernah mereka rasakan selama hidupnya.


Setelah urusan dengan para penduduk yang menjadi tawanan telah selesai, dia kemudian menghadapkan wajahnya kepada seluruh sisa anggota Perguruan Racun Neraka yang tersisa.


"Aku akan meminta bukti dari ucapan kalian yang akan tunduk padaku!" Mata Suro menatap dengan begitu menakutkan. Disampingnya berdiri seekor harimau sebesar sapi. Mata harimau itu seperti hendak mencincang tubuh mereka semua.


**


Ditunggu votenya. Jika masuk dalam pengumuman pemenang 20 besar sesi minggu ini maka akan ada crazy up lebih banyak dari pada sebelumnya yang hanya tiga chapter. Ditunggu terus dukungannya. terima kasih