
"Tugas yang aku berikan adalah mencari tau tentang seseorang yang bernama Batara Karang, Dewa Kegelapan dan pergerakannya bersama pasukan Elang Langit. Selain itu..."
Suro menjelaskan secara terperinci tugas yang diberikan kepada Feng Hen dan seluruh pasukan yang berada dibawah kepemimpinannya.
"Jika salah satu dari kalian mencoba melarikan diri, sebaiknya jangan. Kalian sudah tau alasannya bukan, mengapa aku melarang kalian untuk melarikan diri setelah kalian menelan pill Racun Seribu Semut Api?
Sebab, jika waktu kalian habis, maka rasa itu akan kembali lagi muncul dan harus segera diberikan pill penawar dariku." Dewa Obat menyambung ucapan Suro setelah dia selesai menjelaskan tugas kepada pasukan yang dipimpin Feng Hen.
Geho Sama dibelakang Suro terlihat tersenyum cukup puas. Sebab apa yang dilakukan itu akan mempermudah mereka mendapatkan informasi mengenai pergerakan musuh di Negeri Atap Langit.
Segala temuan yang berhubungan dengan musuh mereka ketahui secara tidak sengaja. Seakan takdir memang sudah digariskan untuk mempertemukannya.
Semua pendekar setelah mendengar penjelasan Suro dan Dewa Obat, mereka langsung pamit. Sebelumnya mereka hanya mendengar tentang nama racun seribu semut api.
Tetapi sekarang mereka merasakan sendiri seperti apa rasanya terkena racun itu. Rasa dari racun itu melebihi rasanya dimasukan ke dalam tungku panas hidup-hidup.
Sebab rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh dibarengi dengan rasa gatal yang tak tertahan. Selain itu dalam waktu yang bersamaan setiap inchi dari tubuh mereka secara serentak dan terus-menerus merasakan beribu-ribu sengat gigitan semut api yang sakitnya melebihi sengatan kalajengking.
Kondisi itu hampir membuat sebagian mereka akan memilih melakukan bunuh diri karena rasa sakit tak tertahan. Itu adalah rasa sakit yang tak terperihkan sesaat setelah mereka menelan pill yang diberikan Dewa Obat.
Beruntung mereka hanya merasakan sakit itu tidak berlangsung lama, sebab Dewa Obat segera memberikan penawarnya.
Tetapi penawar itu tidak mampu menyembuhkan secara keseluruhan. Sehingga secara berkala mereka akan terus memerlukan penawar, jika tidak maka kembali rasa sakit yang tertahan itu akan mendera tubuhnya.
"Jangan khawatir mereka tidak akan kabur. Dibandingkan memilih kabur dari kita, justru mereka akan bersusah payah datang demi meminta penawar milikku. Percayalah mereka adalah jenis manusia yang tidak akan setia, jika tidak dengan cara seperti ini" Dewa Obat tersenyum dengan puas.
**
Setelah urusan dengan para mantan anggota Mawar Merah, Suro mulai menanyai Yang Xiaoma.
Tetapi pemuda itu sudah terlanjur begitu ketakutan kepada Suro sebelum dia bertanya. Tanpa diminta juga, dia beberapa kali membenturkan jidatnya ke lantai.
Dia bersikap seperti itu, tentu saja ketakutan atas kejadian yang barusan terjadi dan melibatkan Mahadewi didalamnya. Sebab kejadian yang melibatkan Mahadewi adalah akibat dari masalah yang dia miliki.
Suro sendiri sudah tidak memikirkan hal itu, dia justru penasaran dengan alasan gurunya eyang Sindurogo kembali ke Yawadwipa. Sebelum Yang Xiaoma menjawab Mahadewi terlebih dahulu menjawabnya.
Dara itu mencoba menjelaskan alasan yang pernah disampaikan kepadanya, tetapi jawaban itu tidak membuat Suro puas.
Dia lalu berpindah kepada Yang Xiaoma.
"Alasannya sama seperti yang dikemukakan pendekar Mahadewi. Alasan kepergian Pendekar eyang Eyang Sindurogo bersama paman Subutai, adalah untuk mencegah kemungkinan akan adanya serangan besar-besar di bumi Yawdwipa dalam waktu yang akan datang."
"Serangan besar-besaran akan terjadi diYawadwipa?" Suro memincingkan mata setelah mendengar perkataan Yang Xiaoma.
"Semua itu setelah mendengar penjelasan dari paman Subutai. Tetapi aku sendiri tidak mengetahui secara jelas. Sebab hanya mereka berdua yang mengetahuinya," tutup Yang Xiaoma.
Mahadewi juga menjawab pertanyaan Suro yang tidak jauh berbeda.
"Dia akan kembali secepatnya dan meminta kakang untuk tetap disini menunggu dia datang, jika perlu menyusul guruku Dewi Anggini menuju kota kerajaan. Mereka sedang mengabarkan adanya ancaman serangan negeri lain yang dilakukan secara senyap kepada Kaisar Yang."
Jadi tujuan mereka adalah bertemu dengan Kaisar Yang yang berjuluk Kaisar Wen itu. Apa itu terasa tidak aneh? Bukankah hilangnya tetua Dewi Anggini salah satunya disebabkan kaisar itu."
Tatapan Suro berpindah ke arah Yang Xiaoma.
"Seharusnya kau mengetahuinya juga, bukan? Sebab Kaisar itulah yang memerintahkan pasukan Mawar Merah untuk menculik tetua Dewi Anggini. Seperti Menurut paman guru Dewa Pedang, tetua Dewi Anggini adalah putri Yifu Yuan anak dari kaisar Gong." ucap Suro dengan nada tidak puas mendengar penjelasan Yang Xiaoma
Suro masih menggaruk-garuk kepala mendengar penjelasan setengah-setengah Yang Xiaoma.
"Mengenai serangan yang dilakukan Mawar Merah, aku tidak memahaminya. Justru aku baru mendengarnya. Tetapi jika nama pendekar Dewi Anggini adalah putri kaisar Gong aku pernah mendengarnya," Yang Xiaoma menjawab dengan tubuh mengigil ketakutan, sebab selain ketakutan dengan Suro disebelahnya Geho Sama yang terlihat mengerikan menatap dirinya dengan tajam.
Dewa Obat yang ikut bersama Geho Sama ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Putri Yifu Yuan, aku tidak menyangka selama ini dia pergi ke Yawadwipa bersama Sindurogo," ucap Dewa Obat menimpali ucapan Suro.
"Kalian pergi saja menyusul ke kota kerajaan. Aku akan menunggu disini. Jika pasukan Mawar Merah itu datang aku bisa mengumpulkan informasi mereka." Dewa Obat mencoba memberikan jalan keluar yang terbaik.
"Aku juga tidak menyukai urusan dengan kerajaan. Lebih baik aku akan mengobati orang-orang yang datang ini."
Setelah kabar kemunculan Dewa Obat, orang-orang yang ada di kota Shaanxi mulai mendatangi tempat kumuh itu dan mulai berkumpul untuk meminta obat. Kemampuan Dewa Obat memang sangat mengagumkan, sehingga sangat wajar orang-orang berharap banyak pada lelaki itu.
Tetapi sebelum urusan selesai, Dewa Obat menyuruh semua penduduk untuk menunggu dirinya didepan kediaman Feng Hen.
Urusan yang hendak dia selesaikan terlebih dahulu adalah berhubungan dengan ilmu yang akan diturunkan kepada Suro.
"Sebelum kau pergi, aku akan mengajarimu cara memanggil para Astra," ucap Dewa Obat.
**
Setelah pembicaraan bersama yang lain selesai, maka Dewa Obat melanjutkan pembicaraan dengan Suro hanya berdua. Seperti yang telah dia janjikan, jika dia akan mengajarinya tentang mantra pemanggil astra.
Saat itu hari sudah mulai gelap. Dengan sengaja, justru Dewa Obat mengajak Suro melakukan pembicaraan diluar rumah Feng Hen. Sebab tempat dimana dia akan mengajarkan mantra harus berada ditempat yang orang lain tidak boleh mendengarnya.
Mereka berdua kemudian melesat ke langit menembus awan. Dewa Obat memilih tempat paling aman adalah mengajari Suro diketinggian. Sebab ditempat itu sangat kecil kemungkinan akan adanya yang berusaha mencuri dengar tanpa diketahui.
"Ingat untuk memanggil Astra milikku bukan tanpa resiko, sebab seluruh senjata gaib yang akan dipanggil membutuhkan tenaga dalam yang sangat besar." Dewa Obat mulai memberikan penjelasan beberapa hal kepada Suro sebelum memulai mengajari mantra pemanggil astra.
"Dalam membaca mantra ini bukan hanya kekuatan tenaga dalam dan juga chakra besar yang diperlukan. Tetapi juga diperlukan kekuatan jiwa yang sudah mencapai tahap mampu mengendalikan seluruh penjaga gaib."
"Aku dan Geho Sama sudah mampu melakukannya, dia juga yang mengajariku cara mengerahkan Brahmastra dengan menyatukan kekuatan jiwa." Suro menyahut ucapan Dewa Obat.
"Benar, memang Brahmastra bisa dipanggil dengan menggunakan cara seperti itu. Tetapi itu cara yang teramat sulit. Aku kagum kau mampu melakukannya."
**
Terima kasih yang sudah menyumbang poin. semakin mendekati angka 20 besar semakin membuat Author semangat menulisnya.
terimakasih dukungannya terus ditunggu. dan ditunggu crazy up-nya.