SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 460 Kirin Neraka part 3



Pertarungan melawan Kirin Neraka berubah menjadi mengerikan semburan api dari makhluk itu tidak bisa dianggap remeh. Karena itu para pendekar tingkat langit yang ikut harus berhati-hati.


Suro yang melihat kekuatan tendangannya tidak mampu menembus zirah milik Kirin Neraka lalu mengubah pola serangannya.


Dia kini tidak lagi menggunakan jurus Tendangan Penghancur Langit. Suro memilih menyerang dengan menggunakan bilah Pedang Kristal Dewa.


Wuuush....


Trang!


Dalam satu sabetan pedangnya, pedang itu seperti menghantam batu karang. Sisik yang selalu diselimuti api itu seperti ditempa setiap waktu, sehingga mampu memiliki kekerasan melebihi kerasnya baja sekalipun. Suro lalu berpindah ke bawah dari tubuh Kirin Neraka yang tidak dilapisi sisik hitam.


Crasss...


Kali ini serangan Suro berhasil membuat kepala Kirin Neraka terpenggal. Satu senyuman tersungging disudut bibirnya setelah melihat pedangnya berhasil menembus sisi bawah yang lunak.


"Kau memang selalu dapat diandalkan Lodra." Senyum Lodra mengembang lebar mendengar tuannya memuji dirinya.


Setelah berhasil menghabisi Kirin Neraka yang menjadi lawannya, maka mata Suro berpindah ke arah tiga Kirin yang sedang dihadapi yang lainnya. Salah satunya adalah yang masih berusaha dikalahkan oleh Purbangkara dan Tirtanata.


"Lodra! Kini adalah waktu bagimu untuk beraksi!" ucap Suro sambil melesatkan pedang miliknya menerjang lurus ke arah Kirin Neraka yang dihadapi Purbangkara dan Tirtanata.


Suro sendiri memilih berpindah tempat menyerang Kirin Neraka yang sedang dihadapi Pendekar Zhang dan para pendekar yang lain. Kemampuan terbang para pendekar yang sudah berada pada tingkat langit tidak sepenuhnya mampu menyelamatkan nyawa mereka semua.


Tubuh raksasa Kirin Neraka yang begitu besar mampu melompat tinggi disertai semburan apinya yang kuat. Para pendekar salah memperhitungkan gerakan musuh.


Langkah mereka itu berakhir fatal, sehingga lebih dari lima belas pendekar harus meregang nyawa akibat semburan api dari Kirin Neraka. Sebelum korban semakin banyak Suro telah muncul dan menghadang Kirin Neraka.


Gooooaarrrrr!


"Naga Taksaka!" Bersama teriakan Suro lesatan tehnik perubahan api tahap hitam menghajar Kirin Neraka.


Tetapi tanpa diduga melihat jurus Suro yang sudah mencapai tahap tertinggi dari tehnik perubahan api, mendadak api yang berkobar menyelimuti tubuh hewan itu ikut berubah ke tahap hitam.


Bahkan serangan jurus yang dikerahkan Suro justru ditelan semua oleh Kirin Neraka.


"Huwaaaaa...guwawuuuaaat! Lodraaaaa!"


Belum sempat dengan rasa terkejutnya menyaksikan jurus Naga Taksaka miliknya ditelan, mendadak hewan itu menyemburkan api tahap hitam ke arah Suro. Sontak saja pemuda itu kabur secepatnya.


Beruntung dia memilki ilmu Langkah Maya. Sehingga dirinya berhasil menyelamatkan diri dari terjangan semburan api milik Kirin Neraka.


Lodra yang sebelumnya melesat menerjang ke arah Kirin Neraka yang dihadapi Purbangkara dan Tirtanata, akhirnya berhasil membunuh. Setelah mendengar panggilan Suro bilah pedang itu melesat menghampiri Kirin Neraka yang barusan dihadapi Suro.


Suro sendiri telah berpindah tempat didekat Pendekar Zhang. Mereka berada di atas udara pada ketinggian yang tidak sanggup di capai oleh semburan api dari Kirin Neraka. Dibelakangnya para pendekar juga berdiri mengambang seperti mereka setelah berhasil menyelamatkan diri.


Suro menatap Pendekar Zhang dengan mimik yang sedikit aneh, seakan dia hendak meminta penjelasan kepada pendekar itu.


Sebuah senyuman mengawali pendekar itu sebelum menjawab, " alasan makhluk itu memiliki nama Kirin Neraka adalah kemampuan puncaknya yang mampu mengerahkan tehnik perubahan api tahap hitam."


Suro menggaruk-garuk kepala mendengar ucapan Pendekar Zhang. Penjelasan itu tidak dia katakan sebelum mereka mendatangi mulut goa tersebut.


Pandangannya segera kembali berpindah ke arah Kirin Neraka. Lodra masih berusaha menghabisi Kirin Neraka yang barusan dia hadapi.


Dia memilih Lodra yang menghadapi Kirin Neraka karena beberapa pertimbangan. Terutama tidak ada serangan darinya yang mampu menembus kuatnya sisik dari makhluk itu.


Pedang itu melesat dengan kecepatan tinggi. Pedang itu menyasar tubuh Kirin Neraka yang berupaya kembali menyemburkan api tahap hitam miliknya ke arah Suro dan para pendekar yang berada pada ketinggian.


"Lodraaa kamu bisaaa!" Suro berteriak dengan keras, tentu saja para pendekar tidak mengerti maksud dari teriakan Suro yang memanggil Lodra.


Tetapi Suro tidak memperdulikan raut muka para pendekar, terutama Pendekar Zhang yang menatap dirinya penuh selidik.


"Tebas lehernya dari sebelah bawah, jangan dari sebelah atas! Bagian atas lapisan sisiknya sangat keras!" Kembali Suro berteriak keras sambil bertepuk tangan melihat Pedang Kristal Dewa bergerak menyerang Kirin Neraka.


Binatang itu terganggu dengan serangan yang dilakukan Lodra, apalagi saat mengelilingi tubuh Kirin Neraka, dia juga menyerap kekuatan api yang kobarannya menyelimuti tubuh musuhnya.


Kemampuan unik yang dimiliki Lodra memungkinkan dirinya menyerap kekuatan makhluk yang berada dalam jangkauannya. Kemampuan itu sedikit mirip dengan tehnik empat Sage.


"Bocah gendeng, apa yang kau lakukan disana? Cepat turun bantu kami!" teriakan Dewa Rencong menghentikan aksinya didekat para pendekar yang mulai memincingkan mata melihat kelakuan Suro.


Mereka menganggap dengan aksinya itu Suro seakan tidak serius menghadapi Kirin Neraka yang begitu mengerikan.


Suro segera melesat menuju Dewa Rencong bersama Pedang Kristal Dewa, setelah Lodra berhasil menghabisi Kirin Neraka yang sebelumnya tidak berhasil dia habisi.


Pegunungan itu berada cukup jauh jika dari pegunungan Longmen. Berada disebelah barat yang berjarak ribuan li.


Ketua Kun Lun itu juga seperti Pendekar Zhang, ketua Bao Chong sudah mencapai tingkat surga lapisan awal. Disebelahnya Wu Lang ketua Perguruan Cakar Elang.


Tetapi pendekar itu begitu serius menatap jalannya pertarungan yang masih berlangsung. Kekuatan ketua Wu Lang masih berada pada tingkat langit lapisan pertengahan.


"Apakah kau tidak melihat orang-orang yang bersamanya bahkan sanggup mengalahkan kita semua. Mereka semua terlihat menaruh hormat kepada pemuda itu dengan cara mereka yang unik," Pendekar Zhang menjawab sambil menatap ke arah Suro yang masih bertempur.


**


Setelah Kirin Neraka berhasil dihabisi Lodra, maka Purbangkara dan Tirtanata juga ikut melesat dan membantu menghabisi makhluk raksasa yang terakhir.


Selain dua penjaga gaib itu Geho Sama, Dewa Rencong dan juga tetua Dewi Anggini ikut bertarung mengepung Kirin Neraka. Sebelumnya sebelum dibantu Suro pertarungan ketiga pendekar melawan Kirim Neraka berlangsung begitu alot.


Sebab sebelum kedatangan Suro, Dewa Rencong, tetua Dewi Anggini dan Geho Sama dibuat kewalahan menghadapi satu Kirin Neraka. Sebenarnya beberapa kali Dewa Rencong berhasil menghantamkan serangan dengan menggunakan tehnik perubahan petir miliknya dengan telak.


Tetapi kejadian berikutnya justru membuat pendekar itu harus kalang kabut menghindari serangan balik dari Kirin Neraka. Petir yang dihantamkan itu tidak berpengaruh sama sekali.


Cepat-cepat Dewa Rencong menghindar dari semburan api yang keluar dari Kirin Neraka. Sebab begitu dahsyatnya serangan itu mampu melelehkan bebatuan disekitar pertarungan.


Meskipun tubuh Kirin Neraka sangat besar, tetapi gerakannya begitu gesit. Hal itu terbukti bagaimana dengan sigapnya dia mampu menghindar dari serangan mereka bertiga.


Serangan pedang yang dikerahkan tetua Dewi Anggini tidak satupun yang berhasil melukai Kirin Neraka. Padahal sepuluh pedang miliknya bergerak menghujani dari berbagai sisi. Sisi bawah yang sebelumnya mampu ditembus Pedang Kristal Dewa sekalipun tidak mampu ditembus pedangnya.


Selain serangan mereka berdua, Geho Sama juga tidak berpangku tangan. Taru Braja atau kipas besar miliknya yang mampu melesatkan ribuan energi tebasan pedang angin tidak berhasil melukai Kirin Neraka.


Bahkan senjata kapak besar miliknya tidak berhasil membelah kerasnya sisik yang menutupi sisik hitam milik makhluk raksasa itu. Bahkan dia akhirnya mengerahkan salah satu jurus perubahan petir tingkat tinggi seperti Dewa Rencong.


Kekuatan serangan itu berkali lipat dibandingkan serangan perubahan petir milik Dewa Rencong. Sebab serangan terakhir dari Geho Sama dengan rasa putus asa itu adalah jurus Brahmastra.


Meskipun serangan itu berhasil membenamkan tubuh Kirin Neraka amblas kedalam tanah tidak kurang dari satu tombak, tetap saja kekuatan serangan itu mampu ditahan oleh kuatnya sisik yang melapisi tubuhnya.


Suro langsung memanfaatkan kesempatan itu. Disaat Kirin Neraka berusaha bangkit kembali, maka dengan Pedang Kristal Dewa yang terhunus ditangan Suro melesat mendekati hewan raksasa tersebut.


Agar serangannya berhasil dia memadukan serangannya menggunakan Langkah Maya. Tubuhnya yang muncul di bawah leher Kirin Neraka langsung menancapkan bilah pedang miliknya pada sisi yang lunak, dibandingkan sisi bagian atas yang sangat keras.


Craaas....


Sraaaakkkkk!


Grooooaaaaaaarrrgghhhhkkkk!


Bruuuuukkkk!


Setelah pedang itu menancap dalam, maka segera Suro berputar melingkari leher Kirin Neraka. Seketika itu juga binatang itu menggerung untuk terakhir kali sebelum ambruk dengan kepala terpisah.


"Selesai sudah," Suro tersenyum dengan cukup puas melihat seluruh Kirin Neraka yang muncul berhasil dihabisi.


Setelah semua berhasil dihabisi para pendekar yang sebelumnya bergerak menjauh dan juga prajurit dari kekaisaran bersama Jendral Xian Wu yang memimpin baru berani mendekat.


"Paman Xian juga seluruh pasukan kekisaran sebaiknya tunggu saja dipintu goa ini. Begitu juga para pendekar yang masih berada ditingkat shakti.Sebaiknya juga tetap menunggu disini.


Karena aku tidak mengetahui musuh apa yang sedang menunggu didalam sana. Jika semua ikut tentu hanya akan membuat korban jiwa semakin banyak. Selain itu kalian kuburkan para pendekar yang tewas oleh pertempuran barusan." Suro memberi arahan kepada pasukan yang telah berkumpul.


"Benar apa yang dikatakan pendekar muda Suro. Mengingat kekuatan musuh yang barusan kita hadapi tentu kalian juga tidak akan sanggup menghadapi musuh yang telah menunggu didalam goa yang tidak berani dimasuki manusia selama ratusan tahun." Pendekar Zhang Yuan ikut mendukung pendapat Suro sebelumnya.


Para pendekar dan pasukan kekaisaran, termasuk Jendral Xian Wu mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Pendekar Zhang Yuan.


"Ada baiknya selama kalian menunggu, gunakan waktu itu untuk menguliti tubuh hewan ini. Sisiknya yang keras sangat cocok untuk dapat kalian gunakan menjadi sebuah perisai."


Setelah melihat sendiri kekuatan dari kulit Kirin Neraka dia memiliki gambaran seberapa hebat kulit dari hewan itu jika dijadikan perisai.


Setelah memberi perintah Suro lalu mulai memasuki goa besar didepan mereka yang sedari tadi menjadi jalan keluar bagi Kirin Neraka. Pendekar yang masuk ke dalam goa itu semua telah mencapai tingkat langit, kecuali Mahadewi yang masih berada pada tingkat shakti.


Tetapi dengan adanya Suro disampingnya, tentu dara itu tidak khawatir dengan kekuatan musuh yang sedang menunggu mereka didalam goa besar itu.


Goa Longmen