SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 128 PENYATUAN LODRA DAN KAVACHA



Pukulan Eyang Sindurogo hitam yang dikerahkan dengan kekuatan yang besar menghantam dengan telak ke tubuh Suro. Jika pukulan itu diterima oleh seseorang pendekar yang berada pada puncak tingkat shakti, seperti Dewa Pedang sekalipun, dapat dipastikan pendekar itu akan mati. Minimal organ tubuhnya akan hancur.


Beruntung tubuh Suro dalam perlindungan zirah sekelas pusaka Dewa, sehingga pukulan itu tidak membuatnya mati hanya mengakibatkan Suro kehilangan kesadarannya.


Meskipun terselamatkan dari pukulan gurunya yang begitu dahsyat, tetapi itu bukan berarti Suro telah terlepas dari ancaman kematian. Sebab kini dia yang dalam kondisi pingsan, justru terjun bebas jatuh dari langit.


Kali ini dia pasti akan mati jika jatuh dari tempat setinggi itu. Ibarat sebuah butir telor jatuh dari langit, tentu sudah bisa dibayangkan akan menjadi apa nasibnya, jika tidak ada seorangpun yang mampu menolongnya.


'Hyang pepulun kavacha, hamba meminta izin untuk menyelamatkan bocah ini dengan menguasai tubuhnya.'


'Lakukan Lodra!'


Eyang Sindurogo hitam sepertinya belum puas melihat tubuh Suro masih utuh, meski dia sebelumnya telah berhasil menyarangkan pukulan tangan kosong terkuat miliknya. Dia lalu melesat menyusul tubuh Suro. Sekali lagi dia ingin menghantamkan pukulannya ke tubuh muridnya itu.


"Benteng Neraka Hitam!"


Beruntung Lodra telah menguasai kesadaran Suro. Dia menghalangi Eyang Sindurogo hitam dengan jurus miliknya. Jurus itu berupa api hitam yang berkobar membentuk dinding besar yang siap membumi hanguskan apapun yang diterjangnya.


Dinding api yang begitu luas muncul dari lesatan Pedang Kristal Dewa yang ditebaskan secara berkali-kali dengan kecepatan yang mengagumkan. Kekuatan jurus itu bukan hanya bertumpu pada kekuatan api hitam yang menyertai tebasan Lodra. Tetapi tebasan itu sendiri merupakan jenis kekuatan tebasan yang bersumber dari kitab bayu atau angin yang sangat tajam.


Sehingga setiap tebasan Lodra itu setara dengan jurus Seribu Pedang Menyatu. Karena kuatnya jurus yang dilepaskan Lodra, membuat gerakan Eyang Sindurogo hitam harus berhenti.


Eyang Sindurogo yang dalam kesadaran Sang Hyang Sukmo Ngalemboro sekalipun, menyadari betapa mengerikannya jurus yang mampu melepaskan api hitam sebesar itu. Dia kemudian berbalik arah dan memilih menghindari.


Tetapi api hitam yang berkobar begitu tinggi tidak membiarkan korbannya meloloskan diri. Api itu seakan hidup dan memiliki nyawa sendiri bergerak mengejar sasaran yang dituju.


Hal itu mampu terjadi, karena sesungguhnya api itu di bawah kendali Lodra. Dinding api yang menerjang ke arah Eyang Sindurogo mengerucut membentuk sebuah senjata mirip tombak bermata tiga. Kemudian kobaran api yang membentuk tombak besar melesat mengejar Eyang Sindurogo hitam.


Kesempatan itu sengaja diciptakan oleh Lodra agar bisa menyelamatkan Suro. Dia langsung melesat cepat menuju kebawah. Tanpa sayap tubuh Suro meluncur semakin cepat, menyerupai gerakan seekor elang yang hendak menangkap mangsanya.


Buuum!


Kaki Suro yang mendarat justru tanpa sengaja menghajar ketengah pasukan musuh. Tubuh seekor siluman kera yang zerhantam kaki Suro amblas menghantam tanah dengan keras.


Pasukan Medusa yang terpental karena kuatnya hentakan ke dua kaki Suro, setelah menyadari apa yang terjadi kembali menyerang Suro. Satu sabetan dari Lodra yang dilambari api hitam langsung membakar habis lawannya


Meskipun begitu serangan itu tidak menghentikan niat pasukan musuh yang ingin menghabisinya. Hampir semua pasukan yang berada dalam kancah pertempuran, tentu melihat kedatangan Lodra jatuh dari langit, walaupun secara kasat mata yang meluncur cepat jatuh dari langit adalah wadak Suro.


Serangan yang dilakukan Lodra tidak menghentikan para siluman untuk menghabisi Suro. Tanpa aba-aba mereka serentak langsung menyerang tubuh Suro.


Namun Lodra tidak membiarkan hal itu terjadi. Satu tebasan berputar keempat penjuru arah mata angin telah melepaskan kobaran api hitam yang sangat panas. Tentu saja para siluman berjumpalitan menghindarinya.


"Setelah sekian lama, akhirnya aku diberikan kesempatan untuk merasakan, seperti apa rasanya memiliki tubuh sendiri." Lodra memejamkan mata sambil menarik nafas panjang. Seakan itu adalah tarikan nafasnya saat pertama kali lahir didunia. Dia tidak peduli dengan musuh yang berada disekelilingnya.


'Lodra ingat kamu hanya sekedar menyelamatkan tuanku jangan bermimpi untuk menguasai sepenuhnya.'


"Tenang Hyang pepulun aku tidak akan mengambil alih. Aku hanya ingin menikmati rasanya menghirup udara dan bergerak menggunakan tangan dan kedua kaki ini."


Pasukan musuh yang sebelumnya menyingkir menyelamatkan diri dari kobaran api yang menerjang ke arah mereka, kini para siluman itu kembali bergerak merapat untuk serentak menyerang Lodra.


"Bocah akan aku ajarkan kepadamu sebuah jurus pedang yang paling pas disandingkan dengan bilah pedangku ini. Jurus ini akan membantu mempermudah dirimu mampu mengontrol api hitam dengan baik. Meski kesadaranmu belum terbangun, tetapi kamu akan memahami seluruh jurus yang akan aku ajarkan ini melalui alam bawah sadar milikmu!"


Lodra yang mengambil kesadaran Suro segera memainkan sebuah jurus Pedang Kristal Dewa.


"Inilah jurus Pedang Kristal Dewa! Jurus pertama Tarian api hitam!"


"Tetaplah tidur bocah aku akan meneruskan dongengku. Jurus kedua Tarian naga api!"


Lesatan api menerjang ke arah siluman ular yang hendak menyerangnya. Api terkuat diantara jenis tingkatan api yang lain membuatnya tetap mampu menembus semburan api dari siluman yang kekuatannya diatas siluman sepuluh ribu tahun. Api hitam itu langsung menggulung ular raksasa itu dan dalam sekejab merubahnya menjadi abu.


Lodra terus memainkan jurus pedang yang begitu dahsyat. Tidak ada yang mengenali jurus-jurus yang diperlihatkan Suro untuk menghabisi pasukan musuh. Tetapi dengan jurus itu telah menghasilkan kehancuran barisan pasukan Medusa cukup besar.


**


Pertempuran yang berlangsung kini tidak lagi seperti sebelumnya. Pasukan Medusa sudah tidak lagi mendominasi pertempuran. Salah satunya berkat amukan dua pendekar yang menyandang gelar dewa.


Tidak peduli siluman seberapa banyak yang menyerang mereka, dengan mudah mereka berdua dapat menghabisi minimal memukul mundur. Apalagi berkat obat Suro yang mereka bawa membuat kekuatan mereka seakan tidak ada habisnya. Para jagoan dari aliran hitam sudah banyak yang tamat riwayatnya menghadapi perpaduan serangan yang begitu dahsyat.


Apalagi kini setelah Suro berhasil menghabisi para siluman dari sumbernya langsung, membuat pasukan siluman yang terus membantu Medusa, kini sudah tidak lagi berdatangan. Dengan kondisi itu para siluman tak lagi sebanyak seperti sebelumnya.


"Lihat nakmas Suro sudah turun!"


Dewa Pedang yang melihat lesatan bayangan manusia yang turun dari langit segera menyadari, bahwa itu adalah tubuh Suro. Meskipun dia senang atas kehadiran Suro yang tetap selamat setelah menyelesaikan misinya. Tetapi dia terkejut dengan cara Suro mendarat.


"Luar biasa, bagaimana caranya bocah itu tidak cidera, meski telah jatuh dari langit. Tehnik apa yang dia pakai." Tentu saja Dewa Pedang tidak bisa memahami, sebab saat ini tubuh Suro sedang dikendalikan oleh jiwa Lodra yang agung.


Dewa Rencong mendengar perkataan Dewa Pedang segera mencuri lihat sambil menyerang musuh yang terus mengepung mereka berdua. Dia ikut menatap kearah asal suara keras seakan sesuatu telah jatuh dari langit.


"Jurus pedang yang sedang dia mainkan aku tidak pernah melihatnya? Jurus pedang yang dia gelar begitu efektif menghabisi musuhnya."


Dewa Pedang penasaran setelah bergantian peran dengan Dewa Rencong menghadapi musuh dia kembali menatap Suro.


"Benar, jurus pedang ini aku tidak pernah melihatnya. Bahkan membuat permainan pedang dan api hitam yang menyertai setiap tebasannya menjadi begitu selaras. Apakah jurus itu adalah jurus ciptaan nakmas Suro yang baru?"


"Selain itu pedang yang dia gunakan kenapa berbeda dari sebelumnya? Seingatku bilah pedang itu awalnya berwarna hitam kini kenapa telah berubah menjadi bening seperti kristal? Apakah itu salah satu keistimewaannya selain mampu melontarkan api hitam?"


Belum selesai Dewa Pedang dan Dewa Rencong terkejut dengan kedatangan Suro yang jatuh dari langit tanpa mengalami cidera, justru memiliki kekuatan yang lebih hebat dari sebelumnya. Kini mereka berdua merasakan sebuah aura kekuatan yang sangat besar melesat turun dari langit.


"Mengerikan, aura kekuatan ini. Siapa lagi yang datang meramaikan pertempuran ini?" Dewa pedang yang telah berhasil memukul mundur Tongkat iblis dan juga siluman yang menyerang, matanya langsung menatap ke arah datangnya sebuah aura kekuatan yang melesat datang dari langit.


"Kekuatan sebesar ini setara dengan tingkat langit, atau justru lebih?" Dewa Rencong mulai menyadari sosok makhluk yang turun dari langit itu memiliki tingkat yang sangat tinggi.


Sasaran yang dituju sosok itu adalah Suro. Tanpa mengurangi kecepatannya sesosok tubuh manusia itu semakin melesat lebih kencang, apalagi dia memang datang dari atas langit. Dengan kondisi itu sepertinya dia hendak menghancurkan tubuh Suro sehancur-hancurnya.


"Hyang Kavacha gabungkan kekuatan kita berdua. jika tidak, tubuh tuanmu ini akan musnah!" Tidak ada yang mengetahui maksud ucapan Suro yang diteriakan dengan begitu keras.


Lodra yang sedang mengelar jurus Pedang Kristal Dewa segera menyadari Eyang Sindurogo hitam telah datang. Dia tidak sempat menghindar, tetapi dia juga tidak mau mengambil resiko dengan keselamatan tubuh yang sedang dia kendalikan itu. Hanya satu dalam pikiran Lodra yang terlintas, yaitu menyatukan dua kekuatan pusaka Dewa untuk menahan serangan yang sangat dahsyat itu.


Sebuah cahaya terang semu kehijauan diselimuti api hitam meledak, bersiap menahan kerasnya pukulan sesosok manusia yang melesat cepat seperti jatuh dari atas langit itu.


Buuuum!


Debu langsung berterbangan akibat kuatnya hantaman sesosok manusia yang menyerang Suro. Bahkan musuh yang mengeroyok Suro sudah terpental lebih dari tiga tombak sebelum kekuatan yang datang dari langit menghantam Suro.


Musuh Suro yang sedang mengeroyok itu tubuhnya hangus terbakar menjadi abu. Mereka justru hancur akibat ledakan kekuatan yang dimiliki Lodra dan Kavacha yang telah bersatu.


Akibat kuatnya hantaman Eyang Sindurogo yang ditahan Suro membuat tanah yang dipijak Suro ambles membentuk kawah. Selebar lebih dari empat tombak. Dan sedalam sekitar lebih dari satu tombak.