
Seperti rencana Suro sebelumnya, mereka berdua kali ini tidak terbang menembus awan, tetapi mereka justru masuk ke dalam bumi mencari sumber kekuatan Dewa Kegelapan langsung.
Suro segera mengerahkan Naga bumi untuk dapat mereka kendarai selama mereka berada didalam bumi.
"Apakah di dalam bumi kita juga akan menemukan makhluk kegelapan yang mendiami alam ini?" Suro bertanya ke arah Geho sama yang duduk dibelakang dirinya diatas punggung Naga bumi.
"Kita lihat saja, kau kira aku dukun segala hal kau tanyakan kepadaku bocah gemblung," Geho sama menggerutu kesal, sebab sedari tadi segala hal ditanyakan kepada dirinya.
Meskipun kondisi dimana mereka berada sangat gelap gulita, namun kemampuan Suro dalam melihat melalui tehnik perubahan tanah, tidak menjadikan kondisi itu sebagai halangan. Begitu juga Geho sama matanya yang mirip seekor kucing dapat melihat dalam kondisi gelap gulita.
"Dengan melihat tuan Suro mengerahkan perubahan tanah ini, hamba sepertinya telah memecahkan misteri dari hilangnya hawa kegelapan yang ada di alam ini."
"Benarkah, lalu apa penyebab hilangnya seluruh hawa kegelapan di alam ini?"
" Menurut pemikiran hamba, dalam pertempuran yang terjadi di dekat Perguruan Sembilan Selaksa Racun, hamba melihat pertarungan tuan dan Dewa Kegelapan. Bukankah makhluk itu juga menguasai tehnik perubahan tanah?"
"Hmmmm...iya benar mengenai hal itu Geho sama, karena seranganku dengan perubahan tanah dapat dihancurkan dengan mudah. Kemungkinan memang dia menguasai perubahan tanah. Lalu apa hubungannya dengan hilangnya hawa kegelapan yang telah memenuhi alam ini, Geho sama?"
"Aku rasa makhluk itu telah menyumbat segala lubang yang sebelumnya dibuat oleh Batara Antaga dan Batara Karang. Dewa Kegelapan yang telah memiliki raga sejatinya kemudian menyerap seluruh hawa kegelapan yang sudah terlanjur tersebar di alam ini. Itulah mengapa alam kegelapan ini berbeda tidak seperti sebelumnya."
Suro menganggukkan kepala mendengar pendapat Geho sama yang terasa masuk akal, mengenai hilangnya hawa kegelapan yang kini hampir bisa dikatakan telah menghilang dari permukaan alam kegelapan.
"Pantas saja aku tidak melihat lubang yang dibuat Batara Antaga untuk memenuhi alam ini dengan hawa kegelapan. Dulu cukup mudah mencari sumber hawa kegelapan yang terus keluar dari dalam bumi dengan deras. Sebab dari kejauhan aku sudah melihat kepulan asap hawa kegelapan meluncur keluar membumbung begitu tinggi dari dalam bumi ini."
"Jika perkiraanku tidak meleset, kemungkinan Dewa Kegelapan telah membangun istananya di dasar bumi. Bahkan bisa jadi kekuatan miliknya yang tersegel berada ditempat yang tidak jauh dari istana yang dia bangun.
Dengan pengerahan perubahan tanah yang dia kuasai, sesuatu yang tidak mungkin itu aku yakin bisa dia lakukan," imbuh Suro sambil terus memantau kondisi disekitar.
Mereka telah melesat ke dalam tanah semakin dalam. Entah sudah seberapa dalam jarak yang telah mereka tempuh, yang jelas tanah didepan naga bumi yang mereka naiki terbelah menjadi lorong tak terkira dalamnya.
Mereka terus menerobos masuk kedalam bumi mencoba menemukan keberadaan kekuatan Dewa Kegelapan yang konon katanya disegel didasar bumi.
"Perasaanku saja atau memang tidak salah dengan apa yang aku lihat dengan tehnik perubahan tanah milikku? Aku merasa didepan sana ada rongga besar yang terasa begitu aneh.
Melihat sesuatu yang terasa mencurigakan, Suro kemudian mencoba memastikannya.
Selang beberapa saat mereka akhirnya sampai ditempat yang sebelumnya Suro rasakan. Kini mereka tiba di sebuah tempat mirip goa raksasa yang ada dikedalaman bumi.
"Menakjubkan dikedalaman tanah ada tempat seperti ini?" Suro terkesima saat dia menembus tanah mereka menemukan sebuah goa raksasa.
Didalam goa itu mereka berdua melihat pepohonan tumbuh dengan rimbun, bahkan tempat dimana mereka muncul justru berupa hutan berumur ratusan tahun yang cukup lebat. Hal itu bisa diketahui dari ukuran pepohonan mayoritas sangat besar.
Selain itu riuh suara burung dan serangga membuat Suro dan Geho sama benar-benar seakan tidak percaya. Karena itu artinya tempat itu terbebas dari segala hawa kegelapan.
Meskipun tempat itu berada di bawah tanah cukup dalam namun sesuatu yang berada di langit-langit goa raksasa itu mampu memancarkan cahaya. Sehingga dapat menerangi seluruh goa itu seperti suasana sore hari.
Cahaya itu berasal dari bebatuan jenis kristal yang menjadikan seluruh tempat itu cukup terang. Bahkan tetumbuhan dapat tumbuh karena adanya cahaya yang dipancarkan bebatuan kristal tersebut.
"Bebatuan yang diatas langit goa itu terlihat begitu indah." Suro menatap keatas langit-langit goa dimana bebatuan kristal berwarna-warni tersebar secara acak memenuhi seluruh langit goa dari ujung ke ujung.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Suro begitu antusias melihat kondisi alam yang begitu menajubkan. Dia hendak meneliti tempat tersebut dengan lebih teliti.
Pepohonan yang terlihat dikanan kiri selama dalam perjalanan terasa begitu berbeda dengan kondisi diatas permukaan tanah. Sebab terakhir kali saat Suro datang diatas permukaan tanah justru tidak ada satu pun tanaman yang tumbuh. Meskipun sekarang rerumputan dan semak-semak mulai tumbuh.
"Bagaimana mungkin dalam tanah seperti ini tanaman dapat tumbuh dengan begitu rimbun." Suro menatap ke sekitar dengan begitu takjub.
"Aku rasa adanya ribuan batu kristal yang mampu memancarkan cahaya itu memungkinkan pepohonan dan tanaman dapat tumbuh," Geho sama yang berjalan disamping Suro menimpali ucapan pemuda tanggung itu.
"Mengapa tidak ada seorangpun yang kita temui, apakah mungkun ada manusia yang mendiami tempat ini?" Suro terus melihat keseluruh penjuru, karena alam di tempat tersebut begitu asri dan alami juga tenang.
Sesuatu yang sangat berbeda dengan kondisi alam yang sebelumnya mereka lihat. Apalagi dengan keberadaan makhluk kegelapan yang tersebar diseluruh daratan.
"Apakah dirimu menemukan jejak manusia yang mungkin saja mendiami tempat indah Geho sama?"
"Apakah tuan Suro menginginkan terbang mengelilingi daerah ini agar dapat melihat lebih jelas? Sehingga dapat memastikan apakah ada manusia yang tinggal di tempat ini?"
"Aku rasa tidak perlu, Geho sama. Jika melihat kedatangan kita seperti itu, aku khawatir jika ada penduduk di goa besar ini justru akan bersembunyi karena pasti akan ketakutan. Lebih baik kita berjalan sambil mengamati keseluruhan kondisi tempat ini."
"Apakah kau tidak merasakan Geho Sama, jika tempat ini penuh dengan energi alam yang begitu murni. Bahkan hawa kegelapan tidak dapat aku rasakan." Suro memejamkan mata sambil menarik nafas panjang dan menghembuskan secara pelan-pelan.
"Sebentar Geho sama, sebaiknya kita berhenti sejenak disini. Suasana dan kandungan energi alam murni ini begitu menggoda diriku untuk menyerapnya." Tanpa meminta persetujuan Geho sama, dia langsung duduk bersila mencoba menghimpun kekuatan.
"Tidak masalah, aku juga tergoda untuk mencoba menyerap energi alam yang begitu melimpah ini."
Mereka berdua terus melakukan samadhi itu selama beberapa waktu. Tanpa mereka sadari samadhi yang dilakukan itu telah melewati waktu hampir satu hari penuh.
"Menajubkan...tubuhku sekarang terasa segar dan begitu ringan." Senyum Suro yang mulai mengembang seketika menghilang. Sebab didepan wajahnya telah terhunus beberapa mata tombak yang siap menghunjam.
"Waduh gawat, siapa kalian?"
"Seharusnya pertanyaan itu, kami yang melontarkannya. Siapa sebenarnya kalian berani menerobos negeri kami?"
"Apakah kalian mata-mata dari Batara Antaga yang dikirim ke sini?"
"Bukan, bukan...justru kami mencari mereka untuk kami habisi!"
"Jangan berbohong, karena kami tidak mengenali kalian! Kalian bukan penduduk sini, kalian penyusup yang masuk ke tempat ini! Apalagi temanmu ini tidak selayaknya manusia normal lainnya!"
Suro mengaruk-garuk kepalanya dia kebingungan untuk menjelaskan darimana. Tetapi sebenarnya Suro terkejut bukan karena tombak yang sudah diacungkan ke depan mukanya.
Karena dia sudah merasakan kedatangan mereka yang bergerak begitu pelan agar tidak didengar olehnya. Dia juga tidak khawatir dengan tombak yang diacungkan, sebab Kavacha tidak akan membiarkan tubuhnya dapat dilukai.
Dia sengaja pura-pura tidak mengetahui kedatangan mereka. Dengan siasat itu berharap dia mampu mengorek mengenai rahasia dari tempat yang begitu istimewa.
Selain itu dia cukup terkejut sebab dengan tehnik empat sage, Suro mampu mengetahui, jika orang-orang yang menghunuskan tombak ke arahnya tidak memiliki kandungan hawa kegelapan. Itu artinya mereka benar-benar manusia yang tidak berada dibawah kendali Dewa Kegelapan, atau bersih dari pengaruh hawa kegelapan sama sekali.