SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 369 Kota Shanxi



"Pantas saja Batara Karang harus bersusah payah mendatangi tempat ini untuk mencari petunjuk mengenai pusaka Kunci Langit itu," ujar Suro sambil memegang pusaka Kaca Benggala miliknya.


"Memang kenapa angger Suro?"


"Aku rasa mata nujum milik dewa kegelapan itu juga tidak mampu menemukannya. Karena ada sesuatu yang membuatnya tidak mampu dicari dengan cara seperti itu. Begitu juga pusaka kaca benggalaku tidak mampu menemukannya."


"Berarti memang terpaksa kita harus bertanya kepada lelaki itu untuk mencari tau keberadaan pusaka tersebut," sahut eyang Sindurogo.


"Kemana kita akan mencari sosok yang kakang sebutkan?" tanya tetua Dewi Anggini


"Ke arah timur."


"Ke timur ke arah mana kakang?"


""Tentu saja kita akan menuju pegunungan Taihang Shan."


"Jika seperti itu setelah selesai bertemu dengan Dewa Obat apakah kakang mau mengantarku ke Hei Bei?"


"Hei Bei? Apakah adinda yakin akan menuju ke kota itu?"


"Benar kakang, kali ini aku tidak akan lari lagi dari masa laluku."


"Baiklah jika memang itu keputusan adinda, kakang tidak akan mempermasalahkan.


Suro dan Dewa Rencong yang mendengar pembicaraan dua orang itu sedikit memicingkan mata. Mereka sepertinya tidak memahami apa yang sedang dibicarakan.


"Angger Suro sebelumnya dirimu menyebut markas Mawar Merah telah kamu bumi hanguskan?"


"Benar eyang, aku lakukan saat dalam perjalanan mencari jejak eyang. Memang ada apa eyang."


"Tidak mengapa, lupakan. Awalnya eyang hendak membumi hanguskan markas Mawar Merah, namun ternyata angger Suro sudah mendahului untuk melakukan itu. Jadi kita akan langsung saja menuju ke arah timur."


Sebelum mereka terbang meninggalkan tempat tersebut harta benda berupa emas dan batu berlian sebagian mereka ambil sekedarnya.


"Suatu saat kita akan kembali ketempat ini untuk mengambil keseluruhan dari harta benda sebanyak ini," ucap eyang Sindurogo sebelum melesat keluar dari goa yang berada di kedalaman jurang itu.


Mereka mengikuti ucapan eyang Sindurogo meninggalkan tempat tersebut dengan menggunakan kemampuan terbang mereka. Tetapi karena Mahadewi tidak dapat terbang dia terbang bersama gurunya, yaitu Dewi Anggini.


Suro sebenarnya merasa dengan cara terbang seperti itu membuat perjalanan terasa begitu lama, tetapi dia tidak berani membantah perintah gurunya. Dia merasa gurunya memiliki tujuan tertentu, jika tidak tentu gurunya akan meminta dirinya menggunakan gerbang gaib.


Mereka terus melewati pegunungan yang tertutup salju sepanjang mata memandang.


"Tempat ini sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Dengan cara terbang seperti ini aku seakan melewati kembali jalan yang dulu aku lalui,"gumam eyang Sindurogo sambil menatap daratan dibawahnya.


Dibawah mereka pegunungan salju membentang dari barat ke timur jauh. Angin dingin yang menerpa mereka dapat diatasi dengan pengerahan chakra untuk melindungi tubuh mereka.


Eyang Sindurogo yang terbang berdampingan dengan Dewi Anggini mendengar suara yang khas. Suara itu berasal dari dalam perut wanita disebelahnya.


"Sebaiknya kita beristirahat ke kota terdekat, sepertinya perut adinda perlu diisi terlebih dahulu."


Tetua Dewi Anggini tersenyum malu saat eyang Sindurogo mendengar suara perutnya yang meronta karena menahan lapar.


Setelah cukup lama mereka terbang, dari kejauhan mereka akhirnya melihat sebuah kota.


"Sebaiknya kita beristirahat sebentar di kota itu," ucap eyang Sindurogo.


Dewi Anggini menganggukan kepala menanggapi ucapan eyang Sindurogo.


"Itu adalah kota Shanxi. Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Terakhir kali aku mendatangi kota ini bersama guru Shangmu. Sebelum akhirnya bertemu kakang pertama kalinya." ucap tetua Dewi Anggini yang segera mengenali kota yang berada di kejauhan itu.


"Jika diingat-ingat sepertinya aku kangen ingin kembali merasakan masakan kota Shanxi. Sebab sudah tiga hari perutku tidak kemasukan makanan," imbuh pendekar wanita yang terlihat begitu ayu dengan tiap rambutnya yang lurus teriap bermain-main terkena angin kencang.


Sambil melesat itu Dewi Anggini bercerita masakan tradisional kota Shanxi yang membuat air liur Suro dan Dewa Rencong mengalir deras. Mereka berdua sampai mengelap dengan menggunakan lengan bajunya.


Mereka kemudian turun dipinggiran kota agar kedatangan mereka tidak terlalu mencolok.


Kota Shanxi berada disebelah barat dari gunung Taihang Shan. Sedangkan disebelah timur dari gunung itu berdiri kota Hei Bei.


Mereka melihat begitu banyak orang berbondong-bondong keluar dari kota tersebut dengan membawa semua harta benda mereka yang hanya sempat dibawa.


Tetua Dewi Anggini segera mendekat ke arah salah satu penduduk yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Seorang wanita yang terlihat kerepotan dengan anaknya yang masih kecil dalam gendongannya.


Sedangkan suami dari wanita itu menuntun kuda yang menjadi tunggangan istrinya. Para penduduk itu semua menuju ke arah timur.


"Bibi apa yang terjadi, mengapa kalian semua pergi meninggalkan kota ini, apa yang telah terjadi?"


Wanita yang ditanya itu tidak segera menjawab, dia justru sibuk menatap balik ke arah tetua Dewi Anggini dan tiga orang yang berada dibelakangnya.


"Sepertinya kalian orang luar yang bukan berasal dari daerah ini." Suami dari wanita itu yang justru menjawab.


Lelaki itu menghentikan langkahnya menuntun kuda.


"Benar paman, sebenarnya apa yang terjadi, kalian terlihat begitu tergesa-gesa dan hanya membawa barang bawaan yang ala kadarnya saja?" tetua Dewi Anggini kembali bertanya.


"Mumpung hari masih pagi, sebaiknya kalian membatalkan niat kalian memasuki kota Shanxi. Sebab ada iblis yang meneror kota ini sejak seminggu ini. Dia akan datang dan mencuri anak-anak kecil." Jawab lelaki itu itu sambil menoleh ke arah istrinya.


Wanita yang berada diatas kuda itu mencolek bahu suaminya. Agaknya istrinya itu meminta suaminya untuk segera melanjutkan perjalanan.


"Maaf kami harus bergegas, agar kami bisa sampai di kota tetangga sebelum malam tiba," imbuh lelaki itu tanpa memperdulikan raut muka lawan bicaranya yang masih ingin bertanya lebih lanjut.


Tetua Dewi Anggini segera menyadari kesamaan penduduk yang meninggalkan kota itu, yaitu hampir kebanyakan mereka memiliki seorang bayi.


"Apa yang sebenarnya terjadi dikota ini?" Dewi Anggini bertanya-tanya sendiri.


Dia kemudian menyadari, jika Suro dan lainnya yang berada dibelakang dirinya tidak memahami pembicaraan yang dia lakukan dengan lelaki barusan. Sebab bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah itu yang tidak dipahami oleh mereka berempat.


Setelah dia menceritakan apa yang barusan dikatakan, Suro langsung memicingkan matanya.


"Apakah nakmas Suro menyadari sesuatu?" tanya tetua Dewi Anggini ke arah pemuda di hadapannya.


"Aku kurang yakin tetua, namun aku merasa itu ada kaitannya dengan sebuah ilmu hitam. Aku pernah bertarung dengan sosok yang memiliki ilmu hitam seperti itu.


Dia membuat pasukan dari bayi yang masih berumur dibawah lima tahun atau justru dibawahnya. Entah benar atau tidak dugaanku ini. Tetapi sebaiknya kita bergegas masuk kekota ini.


Selain itu perutku sepertinya sudah tidak sabar untuk merasakan masakan makanan di rumah makan yang sempat tetua ceritakan sewaktu dalam perjalanan tadi." Suro berbicara sambil mengusap-usap perutnya yang sedari tadi bernyanyi.


"Apa lagi kita punya koin emas yang berlimpah, jadi kita bisa makan sepuasnya. Suro meminta tolong tetua untuk memesankan menu makanan yang paling enak," imbuh Suro dengan mimik muka jenakanya.


Dewi Anggini hanya tertawa kecil melihat murid dari kekasihnya itu.


Berbeda dengan Dewa Rencong, dia sibuk menepuk jidatnya berkali-kali mendengar ucapan Suro. Tetapi dia tidak berbicara sepatah katapun menanggapi ucapan pemuda itu. Sebab dia sendiri sebenarnya sudah dua hari tidak memakan makanan apapun.


Terakhir dia hanya meminum cairan yang diberikan Suro kepadanya. Tetapi walau kurang dari satu teguk, seluruh sendi dari tubuhnya meluap-luap kekuatan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Walaupun banyak penduduk kota yang pergi meninggalkan kota tersebut, tetapi masih banyak juga yang tetap hendak memasuki kota tersebut.


Didepan gerbang kota itu terlihat beberapa penjaga memeriksa identitas setiap orang yang hendak memasuki kota tersebut.


"Gawat, tidak satupun dari kita yang memiliki identitas untuk dapat membiarkan kita bisa memasuki kota ini." Dewi Anggini yang berasal dari negeri itu, tentu mengetahui mengenai aturan setiap penduduk yang akan memasuki kota.


Dia segera menyadari masalah yang akan dihadapi jika hendak memasuki kota itu, sebab diantara mereka berlima tidak satupun yang memiliki identitas untuk bisa dijadikan tiket masuk.


"Identitas seperti apa yang tetua Dewi Anggini maksudkan?" Dewa Rencong tidak memahami maksud ucapan tetua Dewi Anggini.


Wanita itu kemudian menjelaskan mengenai peraturan setiap orang yang hendak memasuki gerbang kota diharuskan memiliki identitas dari kota asal.


"Peraturan macam apa itu," Dewa Rencong mendengus kesal, sebab itu artinya dia akan gagal merasakan masakan yang sebelumnya diceritakan tetua Dewi Anggini.


"Tenang semua bisa diatasi jika ada Suro. Hehehe...!"


"Ah benar, kita terobos saja. Buat apa kita kebingungan hendak lewat gerbang itu? Bukankah ditengah kita ada anak siluman yang bisa mengantarkan kita hanya dengan satu langkah saja."


Suro tertawa kecil mendengar ucapan Dewa Rencong barusan.