SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
540 Kemunculan Makhluk Paling Menakutkan



“Matilah kalian semua!” teriak Suro emngawali serangannya ayng melesat.


Sebuah cahaya teramat terang datang dari kedua telapak Suro yang langsung menyapu semua serangan yang dikerahkan Tongkat iblis bersama seluruh pasukan yang berada di bawah kepemimpinannya.


Padahal aura kegelapan yang menyertai serangan mereka menyerupai awan teramat gelap dan pekat seakan hendak menutupi langit diatas sekitaran Gunung Mahameru, namun begitu serangan Suro datang, maka semua awan gelapn itu langsung lenyap.


Begitu mengerikannya kekuatan jurus pamungkas dari Ilmu Tapak Dewa Matahari Bersatu Dengan Dewa Memusnahakn iblis, sehingga dari kejauhan sekalipun kilat cahaya itu tetap mampu membuat mata terasa sakit dan memaksanya untuk terpejam.


Duuuuuuuuum!


Suara bergemuruh terdengar yang diikuti guncangan tanah yang membuat tanah seakan berubah menjadi lautan luas. Permukaan tanah itu berubah menjadi gelombang ombak yang bergulung dengan cukup tinggi.


Mereka yang melihat dari jarak puluhan kilometer itu menyaksikan cahaya teramat terang yang berasal dari jurus Suro itu menelan apapun yang dilewatinya. Tidak ada yang dilewati dalam keadaan utuh lagi. Semua hancur, termasuk semua bukit dan juga Gunung Mahameru hancur rata dengan tanah sebelum kemudian meledak memuntahkan lahar dengan sedemikian dahsyatnya.


Andai Eyang Sindurogo dan Geho Sama tidak segera memerintahkan para pasukan yang berada di pihak mereka tidak segera bergegas meninggalkan tempat itu, maka dipastikan tidak ada satupun yang hidup. Seperti yang terjadi sekarang pada pasukan kegelapan, mereka bahkan tidak tersisa tulangnya. Semua telah berubah menjadi ketiadaan.


Mantra Serat Hayuningrat Pangruwating Diyu juga telah selesai dirapalkan oleh Suro untuk membuat jiwa-jiwa yang telah tercemar kekuatan kegelapan kembali ke penciptanya dan tidak lagi dapat dimanfaatkan oleh Dewa Kegelapan.


“Akhirnya selesai sudah,” gumam Suro sambil menyapukan pemandangan sekitar. Beberapa kali dia menghela nafas panjang setelah menyadari kerusakan yang terjadi akibat serangan yang baru saja dia kerahkan.


Meskipun dia menyesalkan kerusakan yang harus terjadi, namun kerusakan itu hanyalah sebuah hal kecil dibandingkan kerusakan yang terjadi, jika dia tidak menghentikan pasukan kegelapan. Pemusnahan total terhadap mereka adalah perkara yang harus dilakukan.


“Semua aura kegelapan akhirnya berhasil aku serap tanpa sisa,” gumam Suro yang menatap kejauhan dimana para pendekar berkumpul.


Beberapa saat kemudian Suro melesat ke atas seperti sedang memastikan sesuatu hal. Dia rupanya sedang berusaha mendeteksi keberadaan sisa pasukan kegelapan yang mungkin saja berhasil melarikan diri, karena memang saat kedatangannya pasukan kegelapan telah menyebar ke segala arah.


Tubuh Suro lalu memecah menjadi empat sosok yang sama dan menyebar ke arah yang berbeda. Tubuh mereka semuanya telah menghilang dari pandangan dengan cepat, rupanya dia berhasil menemukan keberadaan pasukan kegelapan di jurusan lain.


Eyang Sindurog dan juga Geho Sama setelah ledakan itu reda juga langsung bergerak mencari pasuka kegelapan yang lepas. Dia ikut membantu menghabisi sisa pasukan kegelapan, hanya saja setelah itu semuanya dilumpuhkan dan menunggu Suro yang menghabisinya.


Semuanya itu terkait kekuatan kegelapan yang dimiliki oleh mereka, karena hanya Suro lah kekuatan kegelapan itu dapat dinetralisir. Beberapa saat kemudian Suro muncul disana dan bergegas menyerap seluruh kekuatannya musuh dan memusnahkan seluruh tubuh lawannya tanpa sisa. Dia tidak mau membiarkan ada satupun sisa aura kekuatan kegelapan di dunia manusia.


“Semua telah aku musnahkan, sepertinya ini waktuku kembali ke alam kegelapan,” ujar Suro sambil memandang ke arah gurunya dan yang lain.


“Apakah kakang akan kembali ke dunia manusia?” tanya seorang perempuan yang bergegas mendekat setelah Suro selesai dengan pasukan kegelapan yang susah sekali dihabisi.


“Tentu saja aku akan kembali, apakah aku akan membiarkan dirimu sendiri, tentu saja tidak,” ucap Suro dengan diiringi senyuman.


“Terima kasih kakang, aku akan menunggumu selalu,” ujar Mahadewi sambil memberikan senyuman manis.


“Aku tidak dapat berjanji bisa secepatnya kembali atau tidak,” keluh Suro yang melihat sendiri bagaimana susahnya menghabisi Dewa Kegelapan, bahkan saat ini yang hanya tinggal kepala sekalipun akan susah di habisi.


Selain hal tersebut ada hal lain yang mengganggu pikirannya, yaitu mustika kekuatan kegelapan yang ada dalam dirinya tidak boleh berada di dunia manusia. dia tidak ingin hal itu mampu membuka peluang bagi Dewa Kegelapan dapat kembali ke dunia manusia.


Wajah Suro yang tertawa kecil langsung berubah pucat menyaksikan sorot mata tajam Mahadewi. Sikapnya langsung berubah seperti arca penjaga gerbang. “Astaga, Batari Durga kumat,” keluh Suro membatin.


Pikirannya saat ini dipenuhi segala hal terkait Dewa Kegelapan, namun perkara terkait Mahadewi jauh lebih menakutkan dibandingkan perkara Dewa Kegelapan, dia harus menungu restu dari perempuan muda yang kini menatapnya dengan tajam.


“Mahadewi, biarkan nakmas Suro melaksanakan tugas yang diembannya sampai tuntas. Semua itu adalah demi kebaikan seluruh umat manusia,” ujar seorang perempuan setengah baya muncul dari kerumunan manusia.


Dia adalah guru dari Mahadewi, yaitu Dewi Anggini yang segera datang. Kedatangan gurunya itu langsung merubah sikap Mahadewi dan perempuan muda itu dengan cepat dan kembali dia memberikan senyuman manisnya, “aku akan menunggu kakang dengan sabar kapan pun itu.”


“Terima kasih, aku akan berusaha secepatnya datang,” ucap Suro mengangguk senang.


“Ingat kakang, aku akan menunggu kedatanganmu, karena ayahandaku sudah tidak sabar ingin meminang cucu dariku,” ucap lanjut Mahadewi yang segera membuat Suro menggaruk-garuk kepalanya yang tentu saja tidak gatal.


“Astaga, apakah urusan seperti itu harus dibicarakan sekarang,” gerutu Suro yang dapat dia katakan hanya dalam hati saja, dia kini hanya tersenyum manis sambil menganggukkan kepala seolah setuju dengan semua perkataan Mahadewi.


“Urusan ini ternyata bertambah runyam, gawat, apakah aku memang memiliki takdir harus berjodoh dengan makhluk menakutkan ini?" ungkapnya yang hanya bisa dia teriakan dalam kepalanya sendiri.


Melihat sikap Suro yang tidak membalas perkataannya tentu saja membuat Mahadewi berubah bertambah sewot, "mengapa kakang tidak memberikan reaksi apapun?" ucapnya sambil menatap lenih tajam ke arah Suro yang tentu saja dibuat kaget.


"Memangnya aku harus bagaimana?" tanya balik Suro yang memang tidak mengerti maksud perkataan Mahadewi, padahal dia sudah merasa tidak membantah ataupun menolaknya.


Mendengar jawaban dari Suro membuat Mahadewi bertambah kesal, keadaan itu membuat Suro menjadi panik dan tanpa sadar langsung bergerak ke belakang tubuh raksasa Geho Sama.


"Bocah gemblung, kau berhadapan dengan iblis paling mengerikan sekalipun tidak takut, justru ketakutan dengan seorang perempuan yang cantik seperti dewi khayangan!" dengus kesal Geho Sama.


"Sialan kau Geho Sama, apakah kau tidak melihat rupanya berubah setiap kali murka menjadi mirip dengan Batari Durga," ucap berbisik Suro di belakang Geho Sama.


"Apa, jadi selama ini aku bagi kakang jauh lebih buruk wajahnya dibandingkan rupa iblis!" teriak Mahadewi dengan kesal dan berjalan mendekat ke arah Suro.


"Bukan, itu bukan aku yang mengatakan, itu Geho Sama sendiri yang mengarang, kamu bagiku adalah seperti dewi di khayangan tertinggi!" ucap bergegas Suro mencoba meredam kemarahan Mahadewi.


Eyang Sindurogo yang melihat kelakuan muridnya hanya bisa menggelengkan kepalanya, namun dia tidak berniat ikut campur dengan urusan muridnya. Dia justru sibuk bermain mata beberapa dengan Dewi Anggini yang dibuat salah tingkah.


Para pendekar yang ada di sekitar itu tidak mampu mengerti dengan apa yang terjadi. Mereka tidak berani tertawa dengan kelakuan konyol Suro setelah apa yang dia lakukan sebelumnya.


Hanya saja dia tidak habis pikir dengan kekuatan yang dimiliki itu seperti tidak berarti di hadapan perempuan muda yang kini sedang berkacak pinggang sambil melotot ke arah Suro yang memilih bersembunyi di balik punggung Geho Sama. Tentu saja Geho Sama tidak tinggal diam dan justru semakin membuat runyam urusan.


"Sial kau Geho Sama, mulutmu sebaiknya diam, atau kau mau aku mati."


"Kalau kau mati, ya mati saja!" balas Geho Sama yang berubah begitu senang, seakan dia telah memiliki cara membalaskan penderitaan selama ini harus menjadi pelayan bagi Suro setelah mustika jiwa miliknya di telan Suro.


"Jika tidak diam aku robek-robek mulutmu," ucap kesal Suro yang tetap berdiri di belakang tubuh Geho Sama, "lihatlah dia hendak berubah menjadi Batari Durga alamat mati aku Geho Sama sialan!"