
"Biar aku bantu menghadapi mereka, bocah!" Geho Sama yang baru muncul segera menebaskan Pedang Kristal Dewa ke arah pasukan Elang Langit yang ikut mengepung Suro.
Salah satunya tidak sempat menghindar, sehingga api hitam yang melambari tebasan pedang itu berhasil menggulung dan menelan tubuh musuhnya hingga berubah menjadi abu.
Namun ajaibnya, setelah seluruh tubuh itu lenyap menjadi abu. Tetapi dalam waktu singkat tubuh mereka kembali muncul dari abu yang kembali menyatu. Tubuh itu pulih secara sempurna seolah tidak pernah terjadi apapun.
Mereka bahkan langsung menyerang Geho Sama. Kontan saja Geho Sama terkejut bukan main sekaligus kagum dengan kekuatan sesaat yang diperoleh bagi siapapun yang telah melakukan kontrak pemanggilan dengan para Kingkara.
Kedatangan Geho Sama telah membuat pasukan Elang Langit yang sebelumnya terus menerus ikut menyerang Suro, kini berubah arah. Serangan pasukan Elang Langit itu kini menyasar ke arah Geho Sama.
Tetapi serangan mereka dengan mudah dapat dipatahkan oleh Geho Sama. Dengan berbekal jurus pedang dan kipas besar miliknya, Geho Sama berhasil mengatasi serangan musuh.
Tentu saja selain serangan itu, juga berkat dukungan jurus Langkah Maya. Tebasan pedang yang dilambari api hitam berkali-kali berhasil membakar habis tubuh pasukan Elang Langit.
Namun serangan itu tidak benar-benar menghabisi musuh. Mereka seperti kejadian sebelumnya dapat kembali pulih dengan cepat.
'Geho Sama, cepat bantu aku mencari cara mematahkan jurus para Kingkara!' Suro yang tidak menemukan cara untuk mengatasi jurus para Kingkara, akhirnya dia meminta saran kepada Geho Sama melalui ruang batin mereka.
'Aku hanya mengetahui mereka bisa dihabisi dengan api neraka, selebihnya aku tidak mengetahuinya.' Geho membalas pertanyaan Suro sambil berusaha menghindari serangan dari pasukan Elang Langit yang terus menghujani dirinya.
Tetapi dengan Langkah Maya, Geho Sama kembali berhasil menghindari serangan musuh. Dia juga tetap berusaha mencoba membantu Suro, meski dia sendiri terus diserang dari berbagai arah oleh pasukan Elang Langit.
Geho Sama mengetahui setiap serangan Kingkara bukan perkara yang mudah. Sekali saja lawan terkena satu serangannya atau berniat menahan serangan Kingkara, maka itu akan menjadi akhir dari riwayat mereka.
Beberapa kali Suro mencoba muncul di belakang tubuh Kingkara. Tetapi sekejap kemudian Suro harus bergegas kembali menghilang untuk menghindar. Bahkan sebelum dia sempat melancarkan serangannya.
Para Kingkara tidak memberi kesempatan bagi dirinya untuk menyerang. Suro juga memilih untuk tidak mengambil resiko dan sangat berhati-hati dengan serangan balik para Kingkara.
Karena itu setiap kali dia muncul disela-sela musuh untuk menyerang mereka, dengan terpaksa dia membatalkan serangannya dan memilih kembali menghindar setelah musuh menyadari keberadaannya.
Andaikan dia memilih untuk tetap menyerang salah satu Kingkara, kemungkinan itu akan berhasil. Tetapi dengan itu dia harus menanggung akibatnya.
Dapat dipastikan setelah itu seluruh tubuhnya akan lenyap ditelan jurus musuh. Rekahan ruang dan waktu yang diciptakan Kingkara teramat kuat daya hisapnya. Belum lagi serangan cemeti juga akan mencabut nyawa miliknya keluar dari tubuh selamanya.
Suro sebenarnya sudah meniadakan aura kekuatannya ketika muncul dibelakang Kingkara, tetapi mereka selalu saja dapat menyadarinya segera. Bahkan sebelum Suro mulai mengerahkan kekuatannya.
Sesungguhnya para Kingkara selalu saja dapat mengendus keberadaan Suro dalam sekejap, karena mereka merasakan kehadiran Suro bukan dari aura kekuatan tetapi dari hawa kehidupan yang dimilikinya.
Kingkara itu tetap mampu merasakan keberadaan Suro yang telah menjadi target dalam kontrak pemanggilan para pasukan Elang Langit. Kemanapun Suro pergi, maka mereka akan dapat menemukan. Meskipun dia pergi kebelahan dunia sekalipun. Maka para Kingkara itu akan dengan mudah dapat menemukannya kembali.
Meskipun sudah beberapa kali melesatkan serangannya selalu digagalkan oleh para Kingkara, tetapi Geho Sama masih penasaran. Dia hendak menguji jurus milik Kingkara sekali lagi.
Geho Sama kemudian menyuruh Lodra menyerap kekuatannya berkali lipat lebih besar. Lalu dengan kekuatan yang diserap dari Geho Sama digunakan Lodra untuk mengerahkan salah satu jurus andalannya.
Jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda yang dikerahkan Lodra langsung melesat cepat menerjang ke arah Kingkara.
Jurus itu seakan hendak menutupi seluruh langit diatas benteng kota He Bei karena begitu besarnya. Namun kekuatan itu tidak berarti dihadapan jurus para Kingkara.
Tiga Kingkara itu lalu mengerahkan jurus pedang Tebasan Perangkap Kematian secara bersamaan dengan begitu luar biasa. Rekahan ruang waktu yang tercipta tak terhitung jumlahnya menghadang kobaran api yang begitu mengerikan.
Rekahan ruang dan waktu yang baru tercipta itu langsung melahap seluruh tehnik perubahan api tahap hitam dari jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda. Dalam waktu yang singkat jurus andalan yang dimiliki Lodra berhasil dilenyapkan.
Secepat itu pula para pasukan Elang Langit yang baru saja terkena jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda telah kembali pulih. Dan langsung menyerang Geho Sama.
Di saat Geho Sama sedang menyerang para Kingkara dan pasukan Elang Langit, maka Suro memanfaatkan kesempatan itu untuk memulihkan kekuatannya. Satu pill Bhavana Sahasra Nirwana segera dia telan masuk ke dalam mulutnya.
Suro tidak menyangka harus menghadapi makhluk yang begitu merepotkan. Kekuatannya bahkan harus terkuras demi melayani serangan musuh.
Belum juga selesai mencerna pill yang masuk kedalam perutnya, kembali Suro harus berjibaku menghindar dari serangan para Kingkara. Para makhluk itu setelah berhasil mematahkan jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda tanpa menunda waktu lagi langsung bergerak menyerang Suro.
Para Kingkara yang diserang Geho Sama tidak memberikan serangan balasan ke arahnya. Mereka justru kembali menyerang Suro, karena saat mereka dipanggil, tugas yang diberikan kepada para Kingkara hanya untuk menghabisi pemuda itu.
Karena itulah Geho Sama sejak muncul hanya diserang oleh pasukan Elang Langit yang memanggil para Kingkara. Pasukan Elang Langit yang menyerang Geho Sama, sesungguhnya mereka semua hanyalah manusia. Tetapi topeng kepala serigala yang menutupi wajahnya membuat penampilan mereka begitu menakutkan.
Bukan hanya Suro yang telah terkuras tenaga dalamnya, Geho Sama juga merasakan hal yang sama. Demi mengerahkan jurus Kemarahan Sang Hyang Garuda, terpaksa Lodra menyerap tenaga dalamnya sampai hampir habis.
Karena itulah setelah serangannya barusan gagal, Geho Sama memilih menjauh. Dia hendak memulihkan tenaga dalamnya terlebih dahulu sebelum kembali membantu Suro.
Dia tidak menyangka seluruh serangannya yang dia kerahkan dengan begitu dahsyat, semuanya tidak ada yang berhasil membunuh satupun Kingkara.
'Sudah aku katakan sejak awal kita tidak bisa menyerang para Kingkara begitu saja tanpa mengetahui cara mengalahkan jurus mereka.' Geho Sama mendengus kesal kepada Lodra yang memaksanya maju tanpa persiapan matang.
'Lihatlah tenaga dalamku hanya terbuang percuma. Untungnya aku memiliki pill ini. Jika tidak, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong bocah itu?' imbuh Geho Sama masih diliputi rasa kesal yang menumpuk.
Setelah menjauh dari pertempuran yang dilakukan Suro, pasukan Elang Langit tidak lagi mengejar Geho Sama. Pasukan musuh itu kembali berjibaku sibuk menyerang Suro.
'Bagaimana mungkin jurus perubahan api tahap hitam sekuat Kemarahan Sang Hyang Garuda dapat dilenyapkan. Dengan jurus apa lagi para Kingkara dapat dilenyapkan?' Kali ini Lodra tidak menyangkal jika apa yang dikatakan sebelumnya memang terbukti salah.
Tetapi Lodra masih tidak percaya musuh mampu mematahkan seluruh serangannya dengan mudah. Bahkan serangan terakhir miliknya yang menjadi andalannya selama ini menjadi tidak berguna.
Kali ini sambil memulihkan kekuatannya Geho Sama terlebih dahulu akan mencari cara yang paling tepat mampu menghabisi para Kingkara sebelum datang membantu Suro. Dia juga menyadari kekuatan sihir yang biasa menjadi ilmu andalannya menjadi tidak berguna sama sekali untuk menghadapi Kingkara.
"Belajar darimana bocah gendeng itu mampu melakukan jurus Langkah Maya sampai selihai itu?"
Sambil menatap pertarungan Suro, tanpa sadar Geho Sama berdecak penuh kagum. Dia tidak habis pikir bagaimana Suro mampu mengerahkan jurus Langkah Maya sehebat itu. Padahal dia adalah yang menciptakan jurus itu.
Tetapi sepanjang ingatannya, dia tidak mampu mengerahkan jurus itu dengan tingkat kelihaian seperti yang diperlihatkan Suro didepan matanya. Dia yang berhadapan dengan Kingkara sebentar saja sudah begitu kewalahan.
Tetapi kini dia melihat Suro begitu lihainya mampu menempatkan posisi tubuhnya diantara musuh yang mengepung dirinya. Dia terus berupaya mencari kesempatan mampu menyarangkan tehnik perubahan api tahap hitam pada tubuh Kingkara.
Namun dalam waktu bersamaan dia juga harus menghindari setiap serangan musuh yang begitu mematikan. Pengambilan keputusan yang cepat dalam waktu seperseribu detik atau lebih menjadi kunci kemampuan yang diperlihatkan Suro.
Jika Geho Sama tidak menatap sambil mengerahkan kemampuan mata khususnya, tentu dia tidak dapat menangkap tubuh Suro dengan jelas. Tentu dengan itulah mengapa Kingkara dan pasukan Elang Langit sekalipun menjadi kesulitan menyarangkan serangan mereka ke tubuh Suro.
Jangan ditanya bagaimana orang yang kekuatannya dibawah Geho Sama tentu lebih sulit lagi mengikuti jalannya pertarungan yang dilakukan Suro. Semakin lama menatap jalannya pertarungan Suro membuat mata Geho Sama sampai sakit.
Dia lalu mengalihkan pandangannya ke arah jurusan lain. Pertempuran di dalam benteng kota He Bei membuat dia tertarik. Dia lalu menggunakan kemampuan khusus mata Geho Sama yang mampu menatap dengan jelas meski berada dikejauhan.
Di tempat yang begitu tinggi Geho Sama dapat menyaksikan pertempuran pada jarak yang cukup jauh itu dengan leluasa. Geho Sama tertarik dengan cara Dewa Obat yang terus berusaha menahan langkah pasukan musuh dengan menghujaninya menggunakan jurus Janus Agni Sahasra. Hujan serangan panah chakra yang dilambari tehnik perubahan api jingga.
Seketika itu juga dia berteriak lantang ke arah Suro, dia sepertinya menemukan cara yang tepat untuk mengalahkan para Kingkara.
"Gunakan jurus seperti yang digunakan Dewa Obat, bocah!"
Suro yang sibuk menghindari serangan musuh tidak segera memahami maksud ucapan Geho Sama. Dia kemudian berpindah tempat begitu jauh dari tempatnya semula.
Walupun para Kingkara dan pasukan Elang Langit kembali mengejarnya, tetapi ada jeda waktu yang cukup untuk mencoba mencerna perintah dari Geho Sama.
"Gunakan jurus panah yang telah diajarkan Dewa Obat kepadamu!" Kembali Geho Sama berteriak mencoba memberi arahan.
Suro segera menatap ke arah Dewa Obat yang berada di benteng kota He Bei. Dia dapat dengan mudah melihat apa yang sedang dikerahkan Dewa Obat. Setelah melihat itu, senyum Suro segera terbentuk di sudut bibirnya dan semakin melebar.
"Aku paham sekarang!"