
"Gooooooaaaarrrrgghh!"
Gerungan keras Maung menjawab teriakan Suro yang memanggilnya. Suro segera melesat menuju sumber suara tersebut. Terlihat Maung meloncat keluar dari dalam air. Maung cukup cerdik, dia menghindari panasnya kobaran api yang menyala begitu tinggi membakar hutan dengan menyelam masuk ke dalam danau.
"Ini baru Maung, luar biasa pintar sekali kau Maung."
Maung mulai mengibas-gibaskan air yang masih membasahi tubuhnya.
Suro begitu senang setelah menemukan Maung yang berhasil menyelamatkan diri dari kebakaran hutan yang berlangsung dengan cepat.
"Kita akan kembali ke Kademangan Cangkring banyak hal yang hendak kita lakukan Maung. Namun sebaiknya aku akan mencoba mengejar Tongkat iblis di Perguruan Tengkorak Merah. Kemungkinan dia kabur ke arah perguruannya yang lama."
Seperti yang telah diucapkan kepada Maung, Suro langsung menghilang dari pandangan mata. Dia terlebih dahulu pergi ke Perguruan Tengkorak Merah tempat dimana Tongkat iblis sebelumnya pernah menjadi pemimpinnya.
Tidak beberapa lama setelah Suro muncul di perguruan itu bersama Maung di sampingnya, maka kehebohan segera terjadi. Para anggota perguruan itu mulai mengelilingi mereka berdua dengan sangat waspada. Tetapi melihat reaksi Maung yang terlihat begitu buas membuat nyali mereka ciut dan tidak berani gegabah menyerang mereka berdua.
Salah satu tetua yang dulu pernah merasakan kedahsyatan ilmu Suro langsung menghardik para anggota perguruan yang hendak menyerang Suro. Dia melakukan itu bukan karena mengenali Suro.
Namun dia melakukan itu untuk mencegah peristiwa yang belum lama terjadi dapat terulang kembali. Apalagi kedatangan Suro bersama Maung sama seperti kejadian waktu itu.
Seorang pemuda belia dengan seekor harimau taring pedang yang sudah langka, tentu bukan sesuatu pemandangan yang bisa dijumpai setiap hari. Apalagi kedatangannya yang sangat mirip dengan pemuda yang waktu itu, yaitu mendadak muncul begitu saja ditengah-tengah perguruan mereka. Karena itulah wajar jika tetua itu bertindak dengan bijak untuk mewaspadai kejadian waktu itu agar tidak terulang kembali.
"Kalian berhenti semua!"
"Tetapi tetua pemuda ini lancang menerobos masuk ke dalam perguruan kita tanpa permisi."
"Tutup mulut kalian!" Tetua itu melotot ke arah murid perguruan yang telah mengepung Suro.
"Mata kalian apa tidak bisa mengukur seberapa kuat lawan yang akan kalian singgung ini?"
Suro tetap tenang meski seluruh murid perguruan telah mencabut senjata mereka semua.
"Maafkan kami kisanak, apa ada yang bisa saya bantu?" Tetua itu menjura ke arah Suro dia berkeringat dingin setelah tidak mampu meraba seberapa tinggi tingkat kekuatan Suro.
Dia bertanya-tanya sekuat apa sebenarnya pemuda belia didepannya, seharusnya dengan umurnya pemuda itu paling tinggi telah sampai pada tingkat tinggi.
Namun kedatangannya barusan adalah sesuatu yang sangat janggal. Karena dapat muncul begitu saja, tidak ada satupun yang melihat arah kedatangannya. Dia sempat meragukan dengan penilaiannya sendiri. Sebab dia merasakan kemungkinan kekuatan Suro berada ditingkat yang sangat jauh darinya. Tetapi dia tepis semua penilaiannya sendiri, sebab tidak mungkin pemuda belia itu sudah mampu mencapai tingkat yang berada jauh diatasnya.
Mendengar sapaan ramah Suro tersenyum, "maaf paman jika aku kembali datang dengan membuat perguruan ini terjadi kehebohan lagi."
Lelaki itu kebingungan saat mendengar ucapan Suro yang menyebutkan sebelumnya pernah mendatangi perguruan miliknya.
"Siapa kisanak ini?Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Oh, aku lupa." Suro menepuk jidatnya teringat kembali jika wajahnya tidak lagi dikenali oleh tetua itu.
"Mungkin paman tidak akan mudah mempercayai apa yang aku katakan ini."
"Tetapi percayalah jika diriku adalah Suro. Paman mungkin mengingat tindakanku yang terjadi waktu itu. Aku sangat menyesalinya. Tetapi jujur saya sedikitpun tidak memiliki keinginan untuk menghancurkan perguruan ini. Terlepas atas segala kejahatan yang dilakukan perguruan ini."
Tetua itu menatap tajam dan mencoba memperhatikan segala pernak-pernik yang digunakan Suro.
Lelaki itu segera mengenali gagang dan sarung pedang yang terselip di pinggangnya. Namun dia kebingungan karena wajah yang dimiliki pemuda belia didepannya tidak seperti yang dia ingat.
Apalagi saat melihat begitu banyaknya bilah pedang yang berada disebuah kotak besar yang menggantung di pundaknya. Namun kedatangannya bersama Maung membuat lelaki itu mulai mempercayai ucapan Suro. Dia masih mengingat jelas jika pedang yang terselip dipinggang pemuda itu sebelumnya adalah milik pendekar pedang dari Jambudwipa, yaitu Pedang iblis.
"Benar paman saya adalah Suro yang waktu itu."
Walaupun tetua itu menatap dengan penuh perasan curiga. Tetapi dia mencoba tetap bersikap ramah kepada Suro.
"Apa yang telah membuat tuan pendekar yang gagah ini kembali ke tempat kami yang belum rapi setelah kehancuran yang tuan pendekar lakukan."
"Uhuk! Uhuk!"
Suro terbatuk mendengar sindiran tetua itu.
"Maafkan hal itu paman, tetapi seandainya sejak awal Suro bertemu dengan paman yang ramah ini, pasti kejadian tersebut tidak akan terjadi."
"Langsung saja paman, Suro hendak menanyakan keberadaan ketua Perguruan Tengkorak Merah yang lama, yaitu Tongkat iblis. Saya baru saja menghadapinya di daerah yang berada dipinggiran kota Dahanapura."
Tetua itu sangat terkejut dengan penuturan Suro yang disebutkan kabur dari pemuda belia ini. Dia tentu saja tidak akan mudah percaya begitu saja, sebab ketua perguruan mereka yang lama
sudah berada ditingkat shakti tahap atas.
Jadi sesuatu yang mustahil jika kalah dari pemuda yang berada didepannya itu.
"Maaf kisanak jika apa yang kisanak katakan itu benar. Tentu bagi ketua lama kami akan memerlukan waktu beberapa hari untuk sampai disini. Apalagi tempat yang kisanak sebutkan berada di Dahanapura."
"Seingat saya ketua lama masih berada di tingkat shakti, jadi mustahil dia sudah sampai disini jika pertempuran yang nakmas lalui, terjadi baru saja."
Tetua itu sebenarnya masih kebingungan, sebab jika tetua lama saja harus kabur dari pemuda ini. Lalu seberapa kuat sebenarnya dia? Yang lebih membuat dia kebingungan sebab Suro menyebut jika dia baru saja dari Dahanapura.
'Di tingkat apa sebenarnya pemuda ini? Sebab seorang pendekar tingkat langit memerlukan waktu yang tidak sebentar, jika jarak yang ditempuh adalah kota Dahanapura yang berada di timur jauh.' Tetua itu menatap Suro dengan penuh keheranan.
"Hmmmmm...!"
"Sepertinya ketua kalian tidak pernah kembali ke perguruan ini dalam waktu yang sangat lama. Atau justru sebenarnya kalian mencoba membohongiku."
"Sebab ketua kalian sudah berada ditingkat langit."
"Bagaimana mungkin ketua sudah berada di tingkat langit?" Mereka yang mendengar ucapan Suro terlihat kaget seakan tidak percaya.
"Lalu mengapa ketua tidak pernah kembali ke perguruan ini, sejak peperangan yang di Banyu Kuning untuk mendukung Medusa?" Salah satu murid menyeletuk kepada tetua lain yang berada disebelah murid itu.
Setelah terjadi kehebohan barusan, bukan hanya para murid namun para tetua mulai berkumpul ditempat tersebut.
Suro segera memahami, jika Tongkat iblis memang tidak kembali keperguruannya. Namun dia masih menyisahkan tanya dan masih penasaran, sebab tiga orang yang berhasil di ringkus sebelumnya menggunakan pakaian milik tetua perguruan Tengkorak Merah.
"Ketua kalian sudah menjadi pengikut Dewa Kegelapan. Dan dia hendak membangun pasukan yang dia bentuk dari bayi-bayi manusia yang tidak berdosa, dan dirubah menjadi makhluk kegelapan yang sangat mengerikan. Bisa aku jelaskan secara singkat jika dia merubah bayi manusia menjadi bayi iblis."
"Ketua kalian mengejar kekuatan yang diperoleh dari menyerap kekuatan dewa Kegelapan dan membuatnya sekarang berada ditingkat langit. Dalam pertempuran yang aku lakukan barusan dengannya di pinggiran kota Dahanapura aku juga menemukan tiga orang pengikutnya yang menggunakan pakaian tetua perguruan ini, ikut menjadi bagian dari pasukan kegelapan."
Mereka semua sangat terkejut mendengar kabar ketua mereka dari ucapan Suro barusan.
"Maafkan kami tuan pendekar, sungguh ketua lama kami tidak pernah kembali ke perguruan ini, semenjak kepergiannya bersama pasukan untuk mendukung Medusa. Mengenai seseorang yang menggunakan pakaian tetua dari Perguruan Tengkorak Merah kami bisa meyakinkan kepada kisanak, jika mereka bukan bagian dari tetua yang ada di perguruan ini. Bisa jadi itu adalah para tetua Perguruan Tengkorak Merah yang ikut ketua Tongkat iblis saat membantu Medusa di Banyu Kuning."
"Sebab sampai sekarang ketua lama dan seluruh pasukan yang dia bawa dari perguruan tidak ada satupun yang kembali."
Suro menganggukan kepala mendengar ucapan tetua yang cukup ramah kepadanya itu.
"Demi menghormati paman tetua yang cukup ramah kepada Suro, maka Suro anggap memang seperti itu adanya. Namun jika perguruan ini ikut bergabung dalam barisan pasukan pendukung Dewa kegelaapan, maka aku tidak akan keberatan untuk membumi hanguskan perguruan ini tanpa sisa."
"Jika hari itu terjadi, aku mohon paman jangan ikut. Karena itu adalah hari dimana aku akan menenggelamkan perguruan ini kedalam bumi. Akan aku musnahkan seluruh perguruan ini dari muka bumi."
"Terima kasih paman yang menyambutku dengan penuh keramahan ini. Maafkan jika diriku yang datang sebagai tamu ini tidak datang dengan keramahan."
"Suro undur diri." Suro kemudian menjura kepada tetua yang terlihat kebingungan dengan sikap Suro yang tidak memperlihatkan ketakutan sedikitpun.
"Maung kita kembali sekarang." Setelah Suro mengerahkan Langkah Maya mereka berdua langsung lenyap dari hadapan mereka semua.
"Setaan...!"
"Bukan.. tetapi itu ilmu apa?"
"Tetua apakah yang baru saja kita kepung barusan adalah sebangsa siluman?" Para murid kebingungan dan juga ketakutan melihat peristiwa barusan. Salah satu murid yang melihat kejadian barusan sampai mengigil ketakutan.
"Mengagumkan? Untunglah tindakan kakang sudah tepat, jika pendekar tadi tersinggung aku yakin perguruan ini akan terhapus dari peta dunia persilatan." Seseorang tetua yang datang belakang terlihat mengelus dada setelah Suro menghilang dari hadapan mereka semua.
Dia seperti melihat malaikat kematian baru saja menyambangi perguruan mereka. Karena jika pemuda itu mengamuk karena perlakuan kasar para anggota perguruan yang hendak mengeroyoknya, maka tamat sudah seluruh orang yang berada dalam perguruan.
Dengan melihat cara pemuda itu pergi, dia segera menyadari kekuatan pemuda itu sangatlah tinggi, entah seberapa tinggi? Sebab sejak tadi dia tidak dapat mengukur tingkat praktik kekuatan pemuda itu.
"Entahlah Adimas aku masih setengah mempercayai dan tidak dengan ucapan pemuda itu, tentang keberadaan dan tingkat kekuatan ketua lama. Jika ketua lama telah sampai di tingkat langit saja lari darinya, lalu seberapa kuat kekuatan pemuda yang bernama Suro Bledek itu sebenarnya?"
"Kita harus mengabarkan hal ini kepada ketua baru, mengenai cerita yang dikatakan pemuda barusan. Dan ancaman pemuda barusan sebaiknya kita dengarkan, sebab dia sepertinya tidak memandang seseorang yang bahkan sudah ditingkat langit sekalipun."