
"Siapa yang telah membuat luka pada dirimu?" Seseorang tinggi besar dengan golok besar tersarung dipinggangnya menatap iblis Pemetik Bunga dengan wajah terheran-heran.
Lelaki itu adalah Huang Ren salah satu penjahat kelas kakap yang memilih tinggal ditempat itu, sebab para prajurit maupun para pendekar dari aliran putih memilih menjauhi tempat itu.
Dia tidak berbeda jauh dengan iblis Pemetik Bunga yang memiliki musuh yang tidak terhitung jumlahnya karena akibat kejahatan yang dia lakukan.
"Wanita iblis itu telah memotong pusaka satu-satunya milikku, sialan!"
"Hahaha...itu mungkin Karama yang kau dapat kan, karena kelakuanmu!"
"Sialan kau Huang, memang aku juga tidak tau tentang kejahatan yang kau lakukan? Kau juga tidak berbeda jauh dariku, hanya saja dunia belum banyak yang mengetahuinya!" Tatapan nanar iblis Pemetik Bunga tertuju pada sebuah bayangan putih dikejauhan yang semakin mendekat dan terlihat semakin jelas.
Huang Ren terkejut saat mendengar penjelasan iblis Pemetik Bunga siapa pelaku yang membuat dirinya terluka sebegitu mengerikan. Sebab pelaku yang ditunjuk iblis Pemetik Bunga hanya perempuan belia yang pantas menjadi cucunya.
Selain Huang Ren yang keluar dan mencoba mencari tau sumber suara teriakan barusan, kini bermunculan para pendekar lain. Saat Mahadewi menyadarinya dari berbagai arah dia sudah dalam kondisi terkepung, tidak ada lagi jalan untuk mundur.
Semua menatap ke arahnya dengan tatapan penuh pikiran kotor, sekotor tubuh mereka yang rata-rata jarang mandi.
"Apa kau tidak salah?" Huang Ren sampai bertanya beberapa kali ke arah iblis Pemetik Bunga.
"Jangan melihat tampangnya yang bak bidadari turun dari langit, pendekar pedang ini sangat keji.
"Anak buahku telah dibantai olehnya di Pavillum Angin Utara."
Tatapan lelaki itu kepada Mahadewi penuh kengerian dan juga penuh kemarahan. Sebab nasibnya kini sebagai lelaki dan pejantan tangguh telah berakhir setelah dikebiri oleh Mahadewi.
"Kau ternyata pulang untuk mengadu ke ketiak ibumu!" Mahadewi meskipun dirinya telah dikepung sedemikian banyak, tetapi dia tidak gentar.
"Kau pikir para begundal ini mampu menghalangi diriku untuk memotong dua tangan dan kakimu?"
Suara Mahadewi yang terdengar begitu indah ditelinga para makhluk tak bermoral langsung disambut dengan suara tawa yang tidak putus-putus.
Tentunya diantara yang tertawa itu tidak ada suara dari iblis Pemetik Bunga. Lelaki itu sudah begitu ketakutan dengan kekuatan yang dimiliki dara didepannya.
Dia tidak habis pikir bagaimana dara itu mampu mengalahkannya. Sebab dengan sangat jelas kekuatan dara itu masih berada dibawahnya beberapa lapis, walau memang telah sama-sama mencapai kekuatan tingkat shakti.
"Apa yang terjadi denganmu Zhang, kau berteriak-teriak mengganggu orang tidur saja!" Seorang lelaki menatap iblis Pemetik Bunga dengan terheran-heran.
Lelaki yang barusan berbicara adalah orang yang memberi perintah untuk membunuh Yang Xiaoma. Di adalah Feng Lei atau pendekar yang berjuluk Kelabang Hitam.
"Gadis ini, aku mengenalnya, jika tidak salah dia bersama dengan sosok pemuda yang telah menghabisi Golok setan dan Pedang setan."
"Benar, dan kau tidak menyebut, jika satu pendekar masih melindungi Yang Xiaoma anak dari Yang Taizu?"
"Benarkah?" Tatapan Kelabang Hitam segera menyadari jika bagian bawah pendekar itu penuh darah membasahi celana dan sebagian pakaiannya.
"Apa yang terjadi padamu?"
Pendekar iblis Pemetik Bunga lalu menceritakan kejadian sebelumnya.
Mahadewi masih mencoba membaca musuh yang terus bertambah. Dia telah bersiap jika serangan datang. Tetapi dia memilih menunggu serangan sambil mencoba mengumpulkan tenaga dalamnya.
Tetapi kesunyian yang sebentar itu pecah, sebab terdengar suara teriakan dari Feng Lei memberi perintah kepada semua yang ada.
"Serang!"
Bersama teriakan Kelabang Hitam lebih dari dua puluh lelaki dewasa dengan tampang kasar menyerang Mahadewi secara serentak. Tetapi belum dua langkah mereka mendekati dara itu, langkah mereka langsung terhenti.
Sebab satu lesatan pedang yang kecepatannya tidak mudah disadari oleh pendekar tingkat tinggi telah membabat tubuh mereka.
Dalam satu lesatan lima orang telah ambruk dengan leher perut dan bagian tubuh mereka robek melebar.
Tetapi itu bukan berakhir tetapi awal serangan pedang yang lebih dahsyat menerjang ke arah mereka, tentu saja mereka sangat terkejut menyaksikan jurus pedang yang sedemikian dahsyat.
Tetapi ada satu pendekar yang menyadari dengan jurus pedang itu. Sebab pendekar itu pernah menghadapi saat penyerangan markas besarnya.
"Hentikan serangan kalian!"
"Jurus ini , wanita ini...hati-hati dia lahp yang bersama seorang pemuda telah menghancurkan markas Mawar Merah!"
Bukan saja Kelabang Hitam dan Huang Ren dan juga iblis Pemetik Bunga, bahkan semua yang ada terkejut mendengar teriakan lelaki barusan.
Lelaki itu bernama Feng Hen kakak dari Kelabang Hitam alias Feng Lei. Mereka berdua memiliki jurus yang sama
Jika adiknya memiliki gelar pendekar dengan nama Kelabang Hitam, maka kakaknya menyandang nama Kelabang Neraka.
Jurus yang dia kuasai digabungkan dengan tehnik perubahan api, sehingga membuat serangan yang dia miliki menjadi begitu mematikan. Dia juga salah satu murid dari Naga Hitam.
Kekuatan gurunya yang telah mencapai tingkat api tahap hitam membuat namanya cukup ditakuti. Pada saat pertarungan di markas Mawar Merah Feng Hen juga menyaksikan bagaimana gurunya dapat dibunuh oleh Suro.
Dia juga menyaksikan Mahadewi mengerahkan jurus sepuluh pedang terbang membantu Suro menghadapi musuh.
Musuh yang dibantai Mahadewi dalam pertempuran itu juga sangat banyak. Meski tidak bisa dibandingkan dengan Suro.
Namun musuh yang dia hadapi bukanlah para pendekar yang kebanyakan berada pada tingkat kekuatan yang ada dibawahnya. Sehingga apa yang dilakukan Mahadewi sangatlah menakutkan.
"Jangan meremehkan dara itu, jika kalian melihat langsung dalam pertarungan di Gunung Seribu Labirin kalian akan memahami ucapanku!"
"Maafkan atas kesalahpahaman yang terjadi, bisakah pendekar pedang menurunkan senjata kepada kami?" ucap Feng Hen kepada Mahadewi yang bersiap dengan sepuluh pedangnya.
Pasukan yang menyerang dirinya segera menghentikan serangan begitu Feng Hen memberi perintah. Tetapi kewaspadaan dara itu justru bertambah.
Dia menyadari lawan yang dia hadapi sebagian besar adalah para mantan kelompok Mawar Merah. Karena itu dia mengerti betapa berbahayanya mereka semua.
"Jangan bersilat lidah, siapa diantara kita yang lebih dahulu bergerak menyerang dan mulai mencabut senjata? Seharusnya kau perintahkan itu kepada anak buahmu!"
Mahadewi tidak serta merta mengikuti ucapan Feng Gen yang datang. Lelaki itu begitu ketakutan kepada Suro, sehingga cukup mengingat apa yang dia lakukan dan ancaman yang diucapkannya, sebelum membiarkan mereka meninggalkan markas yang telah musnah dihancurkan Suro.
Dia mengerti, apa yang dilakukan pemuda itu sangatlah mengerikan. Dan jika kali ini dia datang ke tempat itu, maka tidak akan lagi sisa manusia yang hidup. Sebab ancamannya sudah cukup jelas, jika mereka kembali melakukan hal yang sama mereka tidak akan diampuni.
Iblis Pemetik Obat, Feng Lei dan juga Huang Ren tidak setuju dengan keputusan Feng Hen. Tetapi diantara mereka berempat kekuatan Feng Hen dan namanya lah yang lebih didengarkan oleh yang lain.
Tetapi iblis Pemetik Obat mencoba membujuk Feng Hen agar mempercayai ucapannya, jika pemuda dan para pendekar yang melindungi Yang Xiaoma tidak lagi berada di wilayah Shaanxi. Dia bisa menjamin itu sebab seluruh anak buah yang dia miliki telah memastikannya..
Hanya saja dara cantik yang terus dirayu oleh Yang Xiaoma dengan terus diajak jalan dan dibelikan berbagai juga hal, tidak mereka perhitungkan kekuatannya.
"Apa yang hendak kau katakan sebenarnya? Kau tidak melihat seberapa kuat pemuda yang telah menghabisi guru Naga Hitam.
Jika sampai dia datang ke daerah ini, maka amukannya bukan hanya membuat nyawa kalian lenyap, bahkan anak cucu kalian tidak akan menemukan sisa jasad kalian untuk dikuburkan!"
"Pemuda yang kau khawatirkam itu tidak ada kakak pertama," kembali iblis Pemetik Bunga meyakinkan Feng Hen.
"Benar itu kakak, aku sudah menggerakkan para pasukan untuk menyelidiki hal itu. Justru ini adalah kesempatan kita merampok keluarga Yang.
Aku mendengar Jendral Zhou kepala pasukan penjaga wilayah Shaanxi ini pergi bersama Yang Taizu menuju kota kerajaan.
Jika kita mampu menghabisi wanita ini, maka tidak ada lagi halangan untuk mendapatkan harta milik walikota Shaanxi."
Feng Hen mulai goyah pendiriannya mendengar rencana Feng Lei adiknya. Kembali Adiknya berbisik di kuping Feng Lei membuat wajah lelaki senyumnya melebar.