SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 116 BANTUAN DATANG part 7



"Tidak mungkin, tidak mungkin setan Sindurogo ada disini!" Medusa masih belum mempercayai bahwa serangan barusan adalah Tapak Dewa Matahari.


Setelah beberapa saat berlari dia berbalik menatap tajam ke arah datangnya sinar yang barusan menyerangnya. Dari kejauhan dia melihat seseorang yang membuat langkahnya terhenti. Beberapa kali dia mengusap matanya seakan tidak mempercayai apa yang dilihatnya.


"Tidak salah, itu jurus Tapak Dewa Matahari! Tetapi mengapa seorang bocah yang mengerahkannya? Seingatku dia tidak memiliki satu muridpun dan juga tidak ada yang mampu menguasai jurus Tapak Dewa Matahari kecuali dirinya sendiri. Apakah setelah mampu lolos dari dimensi lain telah merubah tubuhnya kembali ke masa saat dia masih berumur belasan?" Medusa terlihat kebingungan mencoba mencerna apa yang dilihat oleh ke dua matanya.


"Suatu hal yang mungkin saja terjadi. Bukankah para tetua ular juga begitu, setelah melewati siklus mereka kembali muda. Tidak jauh berbeda dengan Sindurogo dia juga semacam makhluk abadi yang tidak mati-mati." Medusa mencoba menerka-nerka dibalik kejadian yang dia lihat dengan kedua matanya itu.


Matanya kembali dia usap-usap seakan tidak mempercayai apa yang telah dia lihat. Mata Medusa yang sedikit juling itu, dia paksa melihat sejelas yang dia bisa.


Dari kejauhan seorang anak umur belasan terlihat sedang mengerahkan lima larik sinar dari lima ujung jarinya. Sedang dari tangan kanannya sebilah pedang memancarkan api hitam ikut menghalau barisan pasukan Medusa yang mencoba menghalangi langkahnya.


Para siluman yang mencoba memangsa bocah itu justru dihabisi satu demi satu. Tidak ada yang mampu menghalangi langkahnya, kecuali langsung disingkirkan. Bilah pedang berwarna keemasan yang ada ditangan kanannya dan lima sinar ditangan kirinya ampuh menghalau musuh yang terus menyerangnya.


Barisan pasukan Medusa yang sebegitu banyaknya mampu dia belah. Dia terus merangsek ke depan menuju ke arah Perguruan Pedang Halilintar. Kebetulan itu juga mengarah menuju tempat dimana Medusa berada.


"Kemampuan bilah pedang yang digengam bocah itu mengagumkan, mirip Pedang Pembunuh iblis milik Pedang iblis. Tetapi warna bilah pedangnya berbeda, selain itu kekuatan api hitam dari bilah pedang itu justru lebih dahsyat mampu melahap tubuh para siluman hanya dalam sekali tebas. Sepertinya ini pertanda buruk?Entah siapa bocah itu yang jelas aku tidak sudi jika dia sampai mendekatiku!"


**


Sebelum Medusa mengenali bocah yang sedang memainkan jurus Tapak Dewa Matahari, terdengar suara keras yang dilambari tenaga dalam tingkat shakti.


"Kalian para tetua yang telah melewati tahap pedang langit! Gunakan pedang cahaya tahap api biru ke atas untuk menghabisi para siluman!" Sebuah teriakan menggelegar keras membuat kaget setiap orang yang berada disekitar Perguruan Pedang Halilintar.


Para tetua Perguruan Pedang Surga segera menyadari, siapa yang sedang berteriak keras itu. Karena suara itu adalah milik tetua Tunggak Semi.


Sesuai petunjuk dari Eyang Tunggak Semi, para tetua segera mengerahkan pedang cahaya tahap api biru. Kali ini serangan yang dilakukan para tetua berhasil melukai para siluman, tanpa harus mengerahkan jurus terkuat.


Pancaran chakra pada pedang cahaya tahap api biru memiliki tingkat ketajaman yang begitu mengagumkan. Bahkan jika ada bilah pedang biasa beradu, maka akan langsung terpotong.


Karena itulah, mengapa tubuh siluman ular yang sisiknya sekeras baja dapat dipotong oleh tebasan pedang cahaya tahap api biru. Tetapi tentu saja ada konsekuwensi dari pengerahan pedang tahap langit. Chakra yang dipancarkan itu menuntut energi yang sangat besar, sehingga para tetua lebih memilih melepaskan pancaran pedang cahaya hanya saat diperlukan, yaitu ketika mereka sedang menebas para siluman itu.


"Benar, cepat gunakan pedang cahaya kalian! Pedang tahap langit terbukti ampuh mampu membunuh para siluman!" Dewi Anggini berteriak kegirangan, karena telah berhasil menghabisi para siluman dengan menggunakan pedang tahap langit. Barisan pasukan dari Perguruan Pedang Surga ikut berteriak kegirangan melihat para tetua berhasil menghabisi para siluman.


Tetapi itu bukanlah awal dari sebuah kemenangan yang mereka dapat.


Ratusan lesatan asap hitam dan bola-bola api itu setelah sampai di atas tanah, segera berubah wujud menjadi para siluman.


"Lelucon apa sebenarnya ini?" Tetua Dewi Anggini mendengus kesal. Matanya tidak lepas dari rentetan lesatan asap yang terus-menerus turun dari awan hitam yang sejak tadi tidak bergerak.


"Mengerikan ternyata seluruh awan hitam itu adalah jelmaan ribuan siluman!" Bayu Aji berseru dengan lantang setelah menyadari bahwa awan yang diatas Perguruan Pedang Halilintar adalah perwujudan para siluman. Dia sebelumnya bergabung didalam pasukan bersama Mahagurunya Eyang Baurekso menjaga sisi timur perguruan. Kini seluruh pasukan bergabung dalam satu barisan kekuatan.


"Kemungkinan itu benar nakmas Bayu Aji. Arak-arakan awan hitam yang entah sejak kapan datangnya itu adalah jelmaan para siluman." Dewi Anggini yang berada didekat Bayu Aji langsung menjawab atas keterkejutannya.


"Pantas saja awan itu tidak bergerak sama sekali sejak tadi. Aku pikir akan turun hujan ternyata yang turun adalah para siluman sialan." Bayu Aji matanya masih menatap ke arah awan hitam yang kini terlihat begitu mengerikan, karena para siluman terus menerus muncul dari awan itu bersama lesatan asap hitam dan juga bola-bola api.


"Pedang cahaya yang kalian kerahkan secara terus menerus akan banyak menguras chakra. Sebaiknya kalian bertempur secara berpasangan dua atau tiga tetua, agar ada waktu untuk menghimpun kembali tenaga dalam yang terkuras. Siluman yang akan kita hadapi lebih banyak dari sebelumnya. Sebaiknya kalian semua menghemat tenaga dalam. Pertarungan ini akan berlangsung lebih lama." Tetua La Patiganna yang sudah sadar memberikan masukan kepada para tetua agar bisa menahan gempuran serangan dari para siluman yang terus berdatangan


"Benar kakang Patiganna itu masukan yang sangat bagus." Dewi Anggini segera menanggapi perkataan tetua La Patiganna dan di iyakan oleh tetua yang lain.


Para siluman setelah mengetahui pedang cahaya mampu menembus kulit mereka, kini tidak berani menyerang langsung ditengah-tengah pasukan Pedang Surga. Sebab saat mereka berubah dari asap hitam ke wujud silumannya, adalah waktu yang paling riskan bagi mereka untuk diserang.


Sebelumnya, mereka dapat dengan percaya diri muncul ditengah pasukan musuh. Karena tidak ada senjata yang mampu melukai tubuh mereka. Walaupun beberapa jurus dengan daya berpenghancur besar seperti jurus Tebasan Sejuta Pedang mampu membunuh para siluman. Tetapi jurus itu tidak dapat dilakukan ditengah-tengah pasukan. Karena akan melukai orang-orang yang masuk dalam radius serangan.


Tetua La Patiganna kembali mulai mengatur pertahanan seluruh barisan pasukan Perguruan Pedang Surga. Dia berharap dengan menyatukan barisan kekuatan dapat menahan pasukan musuh selama mungkin.


"Kekuatan kita sudah berkurang banyak, sejak kedatangan para siluman seperempat pasukan kita telah dihabisi. Sudah banyak tetua yang telah tewas dalam pertempuran sebelumnya. Kali ini kalian harus saling menjaga satu sama lain!" Tetua La Patiganna menambahkan perkataanya ke arah tetua yang berada di garis belakang. Mereka para tetua menjaga anggota perguruan yang berada ditingkat tinggi ke bawah.


"Kita adalah Perguruan Pedang Surga yang ditakuti di Benua Timur! Kalian buktikan bahwa nama besar perguruan kita tidak bisa dijadikan permainan aliran hitam! Kita pertahankan nama ini sampai titik darah penghabisan!" Tetua La Patiganna memberi semangat ke seluruh anggota Perguruan Pedang Surga sambil dilambari tenaga dalam, agar semua pasukan dapat mendengar perkataannya dengan jelas


Tetua Tunggak Semi yang baru saja sampai bersama enam tetua lain, setelah mendengar ucapan tetua La Patiganna segera membaca situsai yang terjadi. Para tetua itu segera bergerak membantu para tetua lain yang sedang bertempur digaris terdepan. Diantaranya tetua Nguyen Poo yang sedang melawan tetua Ular Putih, tetua Datuk nan Bujang melawan Kakek-kakek yang memiliki julukan Sanca kembang atau Puspo Kajang.


Tetua Tunggak semi memilih membantu Eyang Sinar Gading yang masih berjibaku melawan seseorang yang memiliki wajah rupawan seperti gadis belia, tetapi namanya di dunia persilatan akan mampu membuat seorang angota aliran hitam sekalipun akan ketakutan. Dia adalah Dukun Sesat dari Daha.


**


terima kasih kuucapkan untuk semua yang mendukung novel ini. sebisa mungkin akan saya usahakan updat tiap hari. mengenai crazy up sepertinya itu sulit dilakukan untuk saat ini. suwun