SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 265 Ajian Nyalin Cangkang part 2



Suro dan yang lainnya langsung muncul di bangunan utama dari perguruan pusat. Bangunan itu bernama bangsal kencana. Ditempat itulah Dewa Pedang biasanya ada bersama eyang Udan asrep. Perkiraan Suro memang benar, karena mereka dapat bertemu Dewa Pedang disana.


"Nah ini muncul nakmas kebetulan sekali."


"Kebetulan sekali kenapa paman?"


"Ini utusan dari Kerajaan Champa dari beberapa hari yang lalu hendak bertemu dengan nakmas untuk mengucapkan terimakasih yang tidak terukur banyaknya. Karena katanya nakmas lah yang telah menyelamatkan kerajaan dan seluruh rakyatnya dari pembantaian pasukan kegelapan."


"Selain itu mereka hendak menyerahkan hadiah dan juga katanya surat khusus dari putri Kerajaan Champa."


"Ah pasti ini, pasti ini yang jadi biang kemarahan adinda Mahadewi?"


"Apa?" Tetua Dewi Anggini sempat mendengar gumaman Suro, karena itu dia ingin mendengar lebih jelas ucapan Suro barusan.


"Ups, terlalu keras ya?Ah, lupakan tetua bukan apa-apa."


"Ada hal yang lebih penting paman guru, eyang guru menemukan sesuatu hal yang sebaiknya paman mendengarnya."


"Oooo... begitu. Ya sudah kamu sekarang temui utusan dari Kerajaan Champa, paman akan berbicara dengan eyang Sindurogo."


"Sudah kamu temui ngger. Tidak sopan jika mereka harus menunggu lebih lama. Biar eyang yang menjelaskan kepada Adimas Dewa Pedang."


"Nuwun inggih eyang." Suro menganggukan kepala sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Suro kemudian meninggalkan mereka menuju kebagian lain dari perguruan pusat.


"Aduuuh kenapa sampai sejauh ini bukankah aku waktu itu hanya berbasa-basi."


Sebelum mereka bertiga menuju ke perguruan pusat untuk bertemu dengan Dewa Pedang, Suro telah menyelediki alasan apa yang membuat Mahadewi mengamuk. Dari ucapan Kolo weling taulah dia mengapa dara cantik itu mengamuk.


Semua itu ada urusannya dengan sebuah surat yang katanya adalah pinangan Kerajaan Champa yang ingin menjadikannya menantu bagi putri raja.


"Oh jagat dewabatara apa yang akan terjadi jika aku menikah dengan putri raja Kerajaan Champa, aku masih semuda ini harus menimang bayi.. gawat." Sambil berjalan menuju pendopo didepan Suro terus menggumam pelan, berbicara sendiri.


"Putri Dwarawati anak kedua dari Raja Chambuwarman apakah dia jodohku?" Suro mengusap-usap pipinya sambil membayangkan putri kerajaan Champa yang luar biasa cantik.


Saat dia mencoba membayangkan putri Dwarawati yang luar biasa kecantikannya muncul wajah Mahadewi yang triwikromo berubah menjadi Batari Durga.


"Waduuuh gawat dara itu, baru saja aku membayangkan orang cantik ikut-ikutan nimbrung."


"Sebaiknya aku harus mewanti-wanti Geho sama jangan pernah menurunkan ilmu Langkah Semu kepada Mahadewi. Membayangkan saja sudah mengerikan jika dia sampai memiliki ilmu itu. Akan sangat gawat dia pasti akan mengejar diriku sampai keliling dunia."


Tanpa terasa dia yang berjalan telah sampai ditempat utusan dari Kerajaan Champa menunggu.


"Tuan muda Suro, kami diutus Maharaja Chambuwarman untuk menyerahkan hadiah kepada tuan muda sebagai rasa terima kasih kami yang tidak terukur banyaknya, karena telah menyelamatkan kerajaan dan juga seluruh rakyat."


Setelah itu mereka menyerahkan sebuah Nawala atau surat kepada Suro, para utusan yang berjumlah lima orang itu segera menunjukkan sebuah peti yang berisi koin emas.


Setelah melihat peti yang diperlihatkan para utusan, Suro kemudian mulai membaca Nawala yang diberikan kepadanya. Surat itu berasal dari Raja Chambuwarman. Inti dari surat itu adalah rasa terima kasih yang tidak terukur banyaknya, atas tindakan yang dilakukan Suro sebelumnya.


Suro kemudian menggulung Nawala itu dan menyimpannya. Pandangan matanya kemudian beralih kepada para utusan yang masih duduk bersila dibawah. Mereka sejak tadi menolak permintaan Suro untuk duduk bersama dirinya di kursi yang telah disediakan.


"Sebaiknya tuan muda tidak menolak pemberian yang tidak seberapa ini, agar tidak mengecewakan raja dan seluruh rakyat kami."


"Baiklah aku akan menerima pemberian hadiah ini."


Mendengar ucapan Suro barusan para utusan tersenyum dengan begitu cerah, karena itu artinya satu tugas pertama mereka telah dapat diselesaikan. Kini tinggal tugas berikutnya yang hendak mereka selesaikan sebelum kembali ke Kerajaan Champa.


"Selain kami harus menyerahkan hadiah barusan, kami mendapatkan mandat dari putri Dwarawati untuk menyerahkan surat khusus kepada tuan muda. Setelah tuan muda Suro membaca semua isi surat yang ditulis langsung oleh tuan putri, kami akan menunggu balasan dari tuan muda Suro untuk kami bawa ke Kerajaan Champa. Kemudian surat itu akan kami berikan kepada tuan putri Dwarawati langsung."


Suro menggaruk-garuk kepalanya sebelum menerima dan mulai membaca surat tersebut.


"Wahai kakanda Suro yang jauh tak terkatakan, jangan jadikan jarak yang memisahkan kita. Dan jangan jadikan takdir tidak akan mempertemukan kita kembali.


Wahai kakanda Suro mungkin takdir bagi ananda sangat kejam, karena dengan takdir telah memisahkan kita dengan jarak yang tidak mungkin aku arungi sendiri.


Wahai kakanda Suro, sejak kepergianmu malamku selalu ingin memimpikan dirimu. Dan siangku ingin melihat wajahmu.


Wahai kakanda Suro sudikah kakanda mau bersua kembali denganku yang selalu merindukanmu. Sebab kini apapun yang ananda pandang hanya akan membuat ananda mengingat wajah kakanda."


'Mau balas apa ini? Bahaya jika Mahadewi tau surat ini, bisa dicakar-cakar wajahku menggunakan trisula.' Suro kebingungan membalas isi surat yang akan ditujukan kepada Putri Dwarawati.


"Paman semua, mohon maaf mungkin Suro tidak bisa secepatnya membalas surat ini. Mungkin beberapa hari lagi Suro akan mencoba menulis surat balasannya."


Mendengar jawaban Suro terlihat mereka sedikit kecewa. Suro sendiri juga kebingungan dengan begitu gamblangnya dan begitu terus terangnya tuan putri Dwarawati mengutarakan isi hatinya kepada Suro.


Suro merasa tidak tega melihat para utusan yang masih tidak beranjak dan masih menunggu dirinya agar secepatnya menulis surat balasan.


Suro tidak menyangka seorang putri kerajaan yang begitu lemah lembut dan penuh tata krama kerajaan, mampu menuliskan sesuatu yang begitu terus terang. Suro sampai membaca berkali-kali jika apa yang dia baca memang tidak salah.


'Apa yang sebenarnya terjadi pada tuan putri Dwarawati? Padahal saat berada di kerajaan Champa dan saat melewati hari sambil berbincang-bincang dengan sang putri, sekalipun dia tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti yang tertulis di Nawala ini.'


'Sebaiknya tuan Suro harus belajar banyak tentang wanita kepadaku.' Suara dari Lodra memecahkan lamunan Suro yang hendak menuliskan surat balasan.


'Kentut.' mendadak suara lain terdengar. Suro segera mengenali suara siapa yang membalas ucapan Lodra.


'Burung emprit, jangan mengganggu diriku yang hendak memberikan masukan kepada tuan Suro, tentang wanita.' Suara Lodra mulai meninggi, setelah ucapan Geho sama yang cukup singkat tapi menyakitkan itu.


'Mengerti apanya, apa dirimu ingin memberi masukan tentang cerita sebuah bilah pedang wanita bertemu bilah pedang pria kemudian melahirkan sebilah belati? Hahahaha...!'


'Jaga mulutmu burung emprit sialan!' Lodra langsung meradang mendengar ucapan Geho sama yang telah memancing kemarahannya.


"Sudah-sudah kalian membuat inspirasiku yang baru saja hendak terkumpul menjadi buyar."


Ucapan Suro barusan membuat para utusan ketakutan. Padahal mereka merasa tidak mengucapkan kata-kata apapun. Bahkan sejak tadi salah satu dari mereka yang sedang sakit sekalipun terus berusaha menahan agar saat buang anginnya tidak terdengar oleh Suro.


" Bukan, bukan paman yang Suro maksudkan. Maaf jika ucapanku barusan membuat paman salah mengartikan, namun sepertinya Suro tidak bisa membalas nawala tuan putri secepatnya. Maafkan jika Suro akan membuat paman semua harus menunggu saya sampai selesai."


"Paman semua silahkan istirahat, nanti jika Suro telah selesai menuliskan Nawala balasan, maka Suro sendiri yang akan mendatangi tempat paman beristirahat."


Mendengar perintah Suro barusan, maka para utusan segera undur diri. Setelah para utusan itu pergi Suro masih duduk sambil mencoba memikirkan Nawala balasan yang harus dia tulis.


"Jawaban apa yang sebaiknya aku tulis agar putri Dwarawati tidak salah paham atau tersinggung?"


"Nakmas, apa dirimu sudah selesai bertemu dengan para utusan dari Kerajaan Champa?"


Mendadak dari arah belakang sebuah suara terdengar olehnya. Suro segera memasukkan Nawala dari tuan putri Dwarawati kebalik pakaiannya.


"Sudah paman guru." Suro segera berdiri dengan sedikit gugup menjawab pertanyaan Dewa Pedang barusan.


"Ini mereka memberikan hadiah kepada saya satu peti isi koin emas."


"Bagaimana paman dengan apa yang dikatakan eyang Sindurogo, apakah ada cara tertentu yang kita bisa gunakan untuk menghabisi dua batara itu?" Suro mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Ajian Nyalin Cangkang yang sempat dibicarakan gurunya.


"Untuk saat ini paman belum mendapatkan cara tersebut nakmas. Tetapi tadi eyang Sindurogo sempat bercerita tentang pertemuannya dengan gurunya. Dari gurunya yang bernama Sang Hyang Ismaya katanya nakmas masih mengingat tempat-tempat yang menjadi penyimpanan relik kuno yang merupakan syarat untuk dapat membebaskan Dewa Kegelapan dengan sempurna. Apakah nakmas masih mengingat nama-nama tempat tersebut?"


"Benar paman, Suro masih mengingatnya dengan baik. Apakah ada sesuatu rencana mengenai hal tersebut, paman?"


"Benar nakmas, kita mungkin tidak dapat membunuhnya. Namun kita masih bisa mengalahkannya berkali-kali. Minimal kita yang mendapatkan relik kuno yang mereka kejar. Dengan kondisi itu kita akan dapat memenangkan peperangan akhir."


"Karena jika kita dapat mendapatkan sisa relik kuno, maka Dewa Kegelapan akan dapat kita cegah untuk bangkit kembali."


"Benar, Suro setuju dengan pemikiran paman. Kita harus mendapatkan relik kuno sebelum mereka."


"Lalu apa rencananya paman? Suro sendiri akan kembali melanjutkan pencarian relik kuno. Kemungkinan bersama Geho sama dan juga eyang guru."


"Kalau boleh tau apakah selama Suro pergi ada serangan-serangan dari pasukan kegelapan, seperti yang terjadi di negeri Mataram atau di negeri Champa, paman?"


"Paman tidak lagi mendengar penyerangan dalam sekala besar, kecuali yang terjadi di Perguruan Pedang Bayangan. Tetapi mendengar cerita gurumu, yaitu eyang Sindurogo kemungkinan penyerangan makhluk kegelapan telah menyebar diseluruh tempat yang ada di muka bumi ini."


"Jika memang itu yang terjadi, mengapa kita tidak bersatu padu saja dengan seluruh aliran putih, paman? Bukankah banyak aliran putih yang bisa membantu kita di Benua Timur, Tengah maupun yang ada di Benua Barat, paman?"


"Benar pemikiran seperti itu sempat diutarakan eyang Sindurogo kepada paman. Mungkin tidak secepatnya, tetapi mungkin kita harus berbicara dengan para tetua, terlebih dahulu."


"Biarkan itu paman yang memikirkannya. Sekarang nakmas ditunggu eyang Sindurogo. Tadi paman sudah membahas panjang lebar mengenai Ajian Nyalin Cangkang, tetapi tidak menemukan kelemahan dari ilmu hitam tersebut. Karena itulah paman mengusulkan nakmas ikut eyang Sindurogo membaca seluruh isi kitab tersebut. Mungkin saja nakmas akan dapat menemukan cara untuk menghabisi Batara Antaga dan juga Batara Karang."


Suro menganggukan kepala, lalu mengikuti langkah kaki Dewa Pedang. Satu peti koin emas dia angkat dengan begitu mudahnya.