
"Rencana yang aku miliki tentu saja sesuai rencana awal aku akan tetap mencari tahu terlebih dahulu, sebab musabab mengapa Eyang Sindurogo kehilangan ingatannya." Dewa Pedang mulai menjawab pertanyaan Dewi Anggini, seperti yang dikatakan sebelumnya.
"Dengan mencari tahu penyebabnya, maka kemungkinan besar kita akan mengetahui bagaimana menyembuhkannya."
"Kekuatan kami berdua sudah mencapai tingkat langit, seharusnya kita berdua mampu menghadapi apapun yang kita jumpai di alam lain." Dewa Pedang kali ini terlihat berbicara penuh semangat.
"Baiklah lalu kapan rencana itu dijalankan?" Dewi Anggini menoleh ke arah Dewa Pedang.
"Jika semua sudah siap kita akan berangkat besok pagi!" Dewa Pedang berkata cukup tegas.
Mendengar keputusan Dewa Pedang Suro tersenyum. Didalam hatinya dia cukup senang, sebab saat-saat ini lah yang dia tunggu agar bisa segera menyelamatkan eyang gurunya itu
Mereka akhirnya menentukan keberangkatannya adalah besok pagi untuk berangkat ke pantai Karang Ampel.
Suro segera berpesan kepada Kolo weling untuk mengurus Maung selama dia tinggal, agaknya perjalanan kali ini sangat berbahaya dia tidak memperediksi apa yang sebenarnya ada dibalik alam yang pernah dia masuki bersama Dewa Pedang itu.
Mahadewi, Made Pasek dan juga Kolo weling tetap disuruh berlatih ilmu pedang. Mereka di haruskan dapat membuka kesepuluh chakra kecil diujung jarinya.
Awalnya Mahadewi cemberut mengetahui Suro akan berangkat lagi, tetapi melihat dibelakang Suro, yaitu Dewi anggini yang tidak lain adalah gurunya yang paling dia hormati dan juga ditakuti membuat dia hanya bisa menganggukan kepala.
Kolo weling mendengar Suro akan berangkat besok paginya, maka malamnya dia mulai menyiapkan kepada Suro sebanyak mungkin obat tenaga dalam pemulih kekuatan.
Apalagi menurut cerita Suro waktu itu, jika segel sihir yang ada didalam dimensi lain itu sangat merepotkan dan mampu menghabiskan tenaga dalam dengan cepat
**
"Apakah kalian sudah cukup siap?" Dewa Pedang menatap ke arah Dewa Rencong, Suro Bledek dan kepada Dewi Anggini. Mereka semua serentak menganggukkan kepala.
Kini Suro baru menyadari ketika Dewa Pedang dan Dewa Rencong datang tidak mampu dia rasakan, karena mereka datang dengan cara terbang.
Sebab sesaat setelah memastikan semua siap maka tubuh ketua Perguruan Pedang Surga itu langsung melesat cepat ke angkasa. Disusul Dewi Anggini.
"Apa perlu ku gendong kau bocah?" Dewa Rencong menatap Suro yang tetap berdiri menatap dua orang yang melesat cepat terbang ke langit.
"Terima kasih paman, tetapi Suro lebih suka menaiki bilah pedang ku saja, sebab jiwa pedang ini teramat baik pada Suro dia akan menggantikan kesadaranku ketika aku ketiduran." Suro tersenyum ke arah Dewa Rencong.
Dewa Rencong mengkrenyitkan dahinya mendengar perkataan Suro, dia hendak bertanya tetapi Suro telah keburu melesat terbang mengejar Dewi Anggini dan Dewa Pedang yang lebih dulu.
"Terbang sambil tertidur?" Mendengar perkataan Suro, membuat Dewa Rencong bertanya-tanya sendiri tidak memahami maksud perkataan Suro barusan. Dia segera melesat hendak menyusul Suro.
"Bocah apa maksudmu dengan terbang sambil tidur, memang bisa?" Dewa Rencong yang baru mau pertama kali ini terbang dengan jarak tempuh jauh, tentu tidak memahami betapa mengantuknya kondisi mata saat harus terbang dalam waktu yang cukup lama.
"Paman pasti akan mengalami kondisi saat mata begitu mengantuk. Coba saja nanti paman rasakan, benar atau tidaknya apa yang aku katakan. Untungnya Suro memiliki jiwa pedang yang menjaga sewaktu-waktu Suro tanpa sadar ketiduran." Lodra yang disinggung Suro tersenyum dengan sumringah. Bagi dirinya perkataan Suro barusan adalah pujian untuknya.
Mereka terbang tidak terlalu tinggi, sebab tidak sampai di atas awan, seperti yang pernah Suro lakukan.
Dewa Pedang, Dewa Rencong dan Dewi anggini yang baru merasakan terbang dengan kecepatan cukup tinggi segera merasakan jika melakukan perjalanan dengan terbang tidak seindah yang dibayangkan. Beberapa kali mereka terpaksa harus turun untuk beristirahat, karena hujan petir begitu deras membuat perjalan mereka berhenti.
Kali ini mereka berhenti ditengah sebuah hutan lebat. Entah hutan apa yang jelas Suro tidak mengenalnya.
Suro mendengar jelas gumaman Dewa Rencong, tetapi dia tidak memahami apa yang dimaksud perasaan tidak nyaman. Dia yang biasa hidup ditengah hutan tentu bukan sesuatu yang sulit untuk membiasakan diri berteduh ditengah hujan dibawah pohon rindang.
Dewa Pedang dan Dewi Anggini memilih bersamadhi untuk memulihkan kekuatannya. Mereka segera menyadari jika terbang secara terus menerus telah menguras banyak candangan tenaga dalam milik mereka.
"Kita sudah dimana paman?" Suro bertanya ke arah Dewa Rencong untuk memecahkan kesunyian.
"Hutan ini memiliki nama Hutan Gondo mayit!" Dewa Rencong berbicara tanpa menoleh ke arah Suro. Pandangannya terlihat menoleh ke berbagai arah, seakan ada sesuatu yang membuatnya cemas.
"Nama yang menakutkan. Mengapa namanya begitu menakutkan paman?" Suro bertanya kembali ke arah Dewa Rencong sambil mengikuti pandang lelaki disebelahnya itu. Dia tidak menangkap penampakan apapun.
Mereka berteduh dibawah pohon beringin yang begitu besar. Sehingga meski hujan cukup deras mereka tidak merasakan betapa derasnya hujan saat itu. Apalagi seperti Dewa Rencong yang sudah ditingkat langit mengusir air hujan agar tidak membasahi bukan perkara sulit.
Keputusan mereka untuk berhenti terbang bukan karena air hujannya, tetapi petir yang menggelegar secara terus menerus membuat mereka memilih beristirahat.
"Karena setiap orang yang masuk ke hutan ini tidak akan ada yang selamat dan mati menjadi mayat hidup!" Dewa Rencong terlihat bertambah waspada, entah apa yang dia rasakan sehingga terlihat begitu aneh.
"Berarti kita akan mati semua paman? Bukankah kita sudah ada didalam hutan ini?"
"Huuustt! Jaga mulutmu! Sebentar lagi tempat ini akan menjadi gelanggang bertempur? Jadi bersiaplah!" Dewa Rencong kali ini tidak hanya waspada tetapi mulai mencabut bilah rencongnya.
"Bertempur dengan siapa paman? Aku tidak melihat apapun?"
"Itulah mengapa sejak awal aku ingin mengajarimu dengan ilmu jiwa, tetapi entah mengapa kesempatan itu belum juga datang. Ada saja yang menghalangiku untuk mengajarimu dengan ilmu jiwa. Sebab dalam kondisi seperti ini kita membutuhkannya."
Setelah Dewa Rencong selesai berbicara mendadak Suro merasakan tempat dimana mereka sedang berteduh telah dikepung oleh sesuatu yang sangat mencurigakan.
"Makhluk apa sebenarnya mereka paman? Mengapa mendadak berkumpul dengan begitu banyaknya? Bahkan aku tidak merasakan sama sekali kedatangannya sejak awal. Seakan mereka baru saja ada disekitar tempat ini."
"Aku tidak menyangka kau begitu cepat menyadarinya bocah!"
"Apakah perlu kita bangunkan Dewa pedang dan Dewi anggini paman?"
"Sebaiknya tidak perlu. Cukup kamu jaga mereka berdua aku akan menjajal seberapa hebat sebenarnya kekuatan tingkat langit yang baru saja aku dapatkan." Dewa Rencong menatap ke arah Suro yang sibuk mengusir nyamuk yang mulai berdatangan.
Pandangan Dewa Rencong beralih ke arah Dewa Pedang dan Dewi anggini yang telah tenggelam dalam samadhinya.
"Apakah paman yakin? Sebab Suro merasa makhluk-makhluk yang berada dibalik semak-semak yang begitu lebat bukanlah makhluk yang pernah Suro lihat." Suro menyadari kedatangan makhluk itu dari kakinya. Dia merasakan getaran tanah.
Tetapi dari getaran tanah dia tidak mampu memastikan jenis makhluk apa yang terus bertambah mengepung mereka berempat.
"Jangan meremehkanku bocah!" Dewa Rencong mendengus kesal mendengar Suro tidak yakin dengan kemampuannya.
**Thanks yang sudah koment dan juga yang sudah sumbang point dan koin.
tetap ditunggu komentnya**