SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 299 Negeri Bawah Tanah part 5



Setelah mendengar perintah Suro, Lodra kemudian langsung melesat menuju ke arah musuh yang berada di tempat lain.


Suro sendiri langsung mengarahkan pandangannya kepada makhluk yang berada dibawahnya. Segera dia menyadari jika jenis makhluk kegelapan yang sedang mengamuk menghancurkan rumah para penduduk itu jenis baru yang tidak pernah dia liat sebelumnya.


"Jenis yang sangat unik!"


Suro dapat berbicara seperti itu, sebab makhluk itu ternyata memiliki kemampuan mengendalikan perubahan tanah. Hal itu bisa diketahui dengan hanya menggerakkan tangannya tanah langsung naik dan menimbun rumah penduduk. Suro kemudian melesatkan pukulannya untuk menghantam kepala tikus raksasa itu.


"Sihir Bendu Bajra(sihir kutukan petir)!" sosok lelaki yang berdiri diatas kepala tikus tanah raksasa itu memulai jurusnya untuk menahan serangan Suro


Jurus yang dikerahkan sesosok lelaki itu berupa petir yang membentuk kepala seekor badak purba.


Buuum!


Namun karena serangan yang dilakukan Suro begitu kuat, maka sihir yang mencoba menahan serangan itu justru hancur. Suro terus melesat dan berhasil menghantam tubuh musuhnya.


Begitu kuatnya serangan itu membuat sosok lelaki dan tikus raksasa yang menjadi tunggangannya akhirnya remuk. Tubuh lawannya itu amblas menghantam tanah, sehingga membentuk cengkungan kawah.


Namun serangan yang begitu kuat, ternyata tidak berhasil menghabisi lawannya.


Sebab dua tubuh lawan yang berhasil di hantam sampai remuk, ternyata bukanlah tubuh aslinya. Dua tubuh itu sekejap kemudian menghilang dan berubah menjadi tumpukkan sulur.


Di saat yang sama, dari berbagai arah muncul sulur yang bergerak serentak. Semua sulur itu bergerak menuju titik yang sama, yaitu tubuh Suro.


Serangan itu tidak diantisipasi oleh Suro. Dia yang berada dalam cekungan kawah akibat hantamannya barusan telah berhasil dikurung dalam sangkar yang terbuat dari sulur.


Suro yang terlambat bergerak, akhirnya terjerat oleh ribuan sulur yang telah mengurungnya. Kemudian tubuh itu dibelit dan digulung sampai tenggelam dalam gulungan sulur yang cukup besar.


Tubuh Suro yang berhasil digulung oleh ribuan sulur, kemudian secara cepat dikirim ke dalam tanah. Dia dibawa masuk semakin ke dalam.


'Apa yang hendak direncanakan makhluk ini? Aku terus dibawa masuk ke dalam tanah.' Suro yang menguasai perubahan tanah, tentu memahami jika musuhnya telah berhasil mengubur dirinya. Dia mampu merasakan, meskipun saat itu tubuhnya tertutupi oleh gulungan sulur.


'Tenang tuan Suro mereka tidak akan mampu meremukkan tubuhmu.' Kavacha segera menenangkan Suro yang sempat terbersit kekhawatiran.


Dengan dilindungi oleh Kavacha, tubuh itu tidak berhasil diremukkan oleh musuh. Padahal sulur yang menggulung tubuhnya itu terus mempererat kekuatan belitannya. Dengan ucapan Kavacha, Suro dapat tetap bersikap tenang.


Dia bahkan tidak merasa kondisi dirinya seperti itu sebagai sebuah ancaman yang berarti bagi dirinya. Meskipun tubuhnya saat itu telah dikubur masuk ke dalam tanah, tetapi dia justru penasaran dengan tehnik pengerahan lawannya. Karena itulah dia menahan untuk tidak memperlihatkan tehnik perubahan tanah yang dia kuasai.


'Menarik, ternyata setelah mereka memiliki kecerdasan mereka juga mampu menguasai tehnik perubahan alam.'


Suro cukup terkejut dengan kemunculan sulur yang telah berhasil membelit sekujur tubuhnya. Saat itu dia baru menyadari lawan yang sedang dia hadapi bukan hanya mampu menguasai perubahan tanah ternyata juga perubahan kayu.


Kemudian Suro merasakan sesuatu hal yang membuat Suro harus segera menghancurkan sulur yang menggulung dirinya secepat mungkin. Kemudian dalam satu gebrakan semua sulur yang semula menggulung dirinya, akhirnya hancur terpotong-potong.


Sebab Suro telah mengerahkan jurus Sepuluh Jari Dewa Mengguncang Bumi. Jurus pembuka ilmu Tapak Dewa Matahari itu melesatkan sepuluh sinar dari ujung jari Suro.


Setelah berhasil terbebas dari sulur yang menggulung tubuhnya, Suro masih terus membabat habis sulur-sulur yang terus tumbuh dan berdatangan kembali seperti tidak ada habisnya.


Sepuluh sinar yang muncul dari ujung jari miliknya bergerak sangat cepat beriringan dengan puluhan pedang terbang miliknya. Dengan pengerahan jurus Tapak Dewa Matahari, membuat tempat dimana Suro dikurung yang berada di dalam tanah menjadi cukup terang.


Saat itulah dia melihat sosok lelaki yang sebelumnya berhasil dia hancurkan tubuhnya berdiri didekatnya. Makhluk lainnya yang berupa tikus raksasa masih tidak dapat dia rasakan keberadaannya.


Sosok lelaki yang kembali muncul itu, ternyata bukan hanya satu. Ada sosok lain yang bermunculan diantara sulur-sulur yang memenuhi dinding ruangan dimana Suro dikurung. Suro segera menyadari jika sosok lelaki itu adalah seorang ahli ilusi.


Ditangan mereka tergengam sebuah belati yang telah terhunus. Mereka berenam melesat ke arah Suro yang masih disibukkan oleh sulur yang terus bermunculan hendak menjerat tubuhnya kembali.


Suro segera melesatkan sinar dari ujung jarinya menghantam keenam sosok yang muncul. Seketika itu juga keenam sosok berubah menjadi ribuan kelompak bunga berwarna ungu yang berterbangan memenuhi tempat tersebut.


Kelopak bunga yang tidak terhitung jumlahnya itu kemudian menjelma menjadi sebilah belati. Kejadian berikutnya adalah Suro diserbu seluruh belati yang muncul itu.


Padahal saat itu sulur yang memenuhi dinding tempat dimana Suro dikurung tanpa henti juga terus menyerang Suro. Seluruh serangan itu berhasil ditangkis dengan menggunakan puluhan pedang miliknya.


Setelah keenam sosok berhasil dihabisi dan berubah menjadi ribuan kelopak bunga, sosok lelaki itu kembali muncul di salah satu sudut ruangan.


"Rencana apa lagi yang ingin kalian lakukan untuk mampu mengurungku? Karena rencana kalian saat ini sepertinya tidak mempan! Hehehe...!" Suro tertawa sinis sambil menggerakan puluhan pedang untuk menangkis serangan musuh.


"Berani sekali kau meremehkanku! Kau sepertinya tidak memahami sedang berhadapan dengan siapa?"


"Oooo...memang aku sedang berhadapan dengan siapa?"


"Aku adalah si penyihir ilusi, murid dari Geho sama si tuan penyihir, raja dari para siluman!"


"Jadi begitu, apa kau juga sudah berumur sepuluh ribu tahun?"


Mendengar pertanyan Suro lelaki itu tersurut kebelakang. Sekilas Suro melihat sebuah gerakan dibelakang lelaki itu. Dia segera menyadari, jika itu adalah sebuah ekor dengan bentuk seperti milik musang. Kemungkinan lelaki itu bukanlah manusia, tetapi sejenis siluman.


"Bagaimana mungkin murid seorang ahli sihir hanya memiliki ilmu murahan seperti ini? Sangat disayangkan...!" Suro terus menebas sulur yang hendak menjerat dirinya.


Lelaki itu menggerung penuh kemarahan.


"Berani sekali dirimu menghinaku?...mekarlah bunga kematian!"


"Gawat, ini bunga beracun!"


Bunga-bunga yang bermunculan itu tumbuh dengan begitu cepat, sebelum bunga itu mekar dan menebarkan racun, Suro bergerak cepat.


"Tehnik perubahan tanah Lembuswana!"


Lembuswana adalah sejenis binatang yang merupakan percampuran antara singa, burung dan juga gajah.


Kakinya mirip kaki singa namun telapaknya mampu mencengkram seperti cakar seekor burung elang. Di badannya tumbuh dua ekor sayap laksana sayap kuda sembrani dan kepalanya adalah kepala singa. Namun hidungnya memanjang seperti belalai seekor gajah.


Alih-alih menyelamatkan diri kabur dari tempat itu Suro justru mendatangkan sebuah wujud hewan yang unik dengan menggunakan tehnik perubahan tanah, entah apa yang sedang dipikirkan Suro.


Suro kemudian meloncat ke atas punggung Lembuswana. Hewan itu lalu melakukan sesuatu yang tidak biasa, dari belalainya itu menyedot kuat udara masuk kedalam belalainya.


Begitu kuatnya tarikan udara yang dilakukan hewan itu membuat bunga-bunga yang bermekaran langsung amblas masuk ke dalam tubuh hewan yang besarnya tak lebih dari pada seekor sapi dewasa.


"Maafkan diriku, bunga kematianmu sudah saatnya panen!" Suro tertawa melihat Lembuswana berhasil melenyapkan seluruh bunga yang sebelumnya memenuhi tempat itu.


Seharusnya saat bunga itu mulai bermekaran, maka putik beracun itu akan langsung menebar keseluruh ruangan itu, sekuat apapun musuh akan dapat terkena kuatnya racun itu yang mampu membuat lawan berhalusinasi kemudian mati keracunan dengan pecah seluruh pembuluh darahnya.


Suro bukannya ketakutan melihat banyaknya bunga beracun, justru terlihat bahagia. Sebab bunga yang gagal mekar itu pernah dia lihat dalam kitab dewa racun.


Dalam kitab yang telah dia hafal itu dia mengingat namanya seperti yang diucapkan lelaki itu sebelum menghilang, yaitu bunga kematian. Racun itu dapat dimanfaatkn dalam ilmu seni mengolah racun terbaik.


Melihat bahan yang begitu berlimpah tidak satupun yang dia sia-siakan, semua akhirnya berhasil diserap oleh hewan yang menjadip tunggangannya.


"Kurang ajar jurus bunga kematianku ambyaaar!"


Lelaki yang mengaku penyihir itu kembali mengerahkan serangan ilmu sihirnya. Kembaran lelaki itu muncul lebih banyak dan secara serentak menyerang Suro. Pertarungan didalam tanah dengan ruangan tidak lebih dari lima tombak kali lima tombak itu berlangsung secara cepat.


Lebih dari selusin sosok kembaran muncul dan menyerangnya dengan puluhan belati yang dilemparkan ke arah Suro.


"Formasi Badai Bunga Kematian!"


Setelah semua serangan itu tidak berhasil, mereka kembali menyerang dengan jurus berbeda. Mereka melesatkan semburan racun dari kedua telapak tangan mereka. Racun itu memiliki kemampuan yang membuat musuh berhalusinasi.


Racun itu juga sempat mengganggu kesadaran Suro. Dia segera menelan beberapa butir obat penawar racun dan menggunakan tenaga dalamnya untuk membersihkan pengaruh jahat dari bunga beracun itu.


Melihat serangan puluhan kembarannya yang tak juga mampu menjatuhkan lawan,lelaki itu segera menyerang dengan tehnik ilusi yang digabungkan dengan ilmu perubahan kayu milik tikus raksasa.


Kali ini wujud tikus raksasa yang sebelumnya tidak terlihat telah muncul dihadapannya. Tikus raksasa bermata merah menyala itu kembali menyerang Suro dengan menggunakan gabungan tehnik perubahan kayu dan tanah.


"Seperti ini saja ternyata ilmu kalian, terima kasih pelajaran tehnik perubahan kayu milikmu yang mempesona! Berhubung siluman tikus ini sudah muncul aku tidak perlu lagi menahan kekuatanku!"


"Kalian ingin melihat jurus perubahan tanah terkuat? Akan aku perlihatkan jurus Tarian Naga bumi!" Lembuswana yang dia kerahkan sebelumnya telah menghilang dari pandangan.


Pada saat bersamaan muncul naga bumi yang bergerak cepat langsung menggulung tubuh tikus raksasa. Semua sulur yang memenuhi ruangan itu juga telah berhasil dilenyapkan dengan cara tertentu.


Tikus raksasa yang memiliki jurus perubahan tanah dan kayu sekalipun, tidak sanggup lepas dari belitn naga bumi. Tikus raksasa itu justru begitu ketakutan.


Sebab setelah dililit ular besar yang mencoba meremukan badannya, Suro kembali memberikan serangan susulan.


Setelah sepuluh pedang yang membentengi tubuhnya kembali ke dalam wadahnya, Suro mencabut pedangnya yang ada dipinggang.


Melihat penyihir dan tikus raksasa yang diserang oleh naga bumi miliknya tidak juga mati, justru dapat kembali pulih dengan cepat, akhirnya dia menggunakan serangan lain.


"Jangan berharap kalian memiliki peluang untuk memulihkan diri!"


"Jurus Api Hitam burung neraka!"


Pertarungan yang terjadi di dalam tanah membuat Suro mengerahkan jurus api hitamnya dalam bentuk yang juga kecil. Kali ini wujud api hitam yang dikerahkan Suro memiliki bentuk sekilas menyerupai burung Pemakan Bangkai.


Tetapi api hitam yang muncul bukan hanya satu, setelah beberapa kali tebasan pedangnya muncul empat wujud api hitam berbentuk burung Nasar.


Api hitam itu mengejar kembaran si penyihir ilusi yang mencoba menipu Suro. Dia kali ini terlihat pucat, setelah lawan yang dia hadapi memiliki kekuatan yang tidak dapat dia kalahkan.


Dia mencoba kabur dari tempat itu, namun dia tidak menguasai tehnik perubahan tanah. Tikus raksasa yang mampu membebaskan dirinya, justru kewalahan menghadapi lilitan naga bumi.


Apalagi kini jurus api hitam yang memiliki wujud burung pemakan bangkai, bergerak ikut menyerang dirinya. Akhirnya tubuh tikus raksasa itu ditelan kobaran api hitam.


Penyihir ilusi yang berusaha melakukan perlawanan terakhir, akhirnya tubuh aslinya dapat ditemukan oleh Suro. Tubuh penyihir yang berusaha bersembunyi menjadi tidak terlihat, tetap dapat dirasakan oleh Suro melalui getaran yang dia tangkap di permukaan tanah.


Blaaar!


Setelah kakinya dia tenggelamkan ke dalam tanah satu sinar dari ujung jarinya berhasil menghancurkan tubuh musuhnya.


"Selesai sudah, pertempuran di atas belum selesai, Lodra ternyata tidak juga berhasil menghabisi semua makhluk kegelapan."


Setelah seluruh musuhnya berhasil dihanisi dan terkubur dalam kuburan yang mereka buat Sendiri, maka Suro segera menuju ke atas permukaan tanah untuk menghabisi semua musuh yng telah memasuki negeri bawah tanah. Setelah tanah dibelah, dia kemudian terbang menuju ke atas.