SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 209 Dharmachakra Mudra



Bentuk Vajra dari Jurus Rencong Penguasa Nirvana melesat berdampingan dengan jurus Suro. Vajra atau Bajra adalah sebuah tongkat kecil, menurut legenda itu adalah senjata Batara Indra Dewa perang. Kekuatan bajra adalah mampu melesatkan petir yang sangat dahsyat. Begitu juga energi perubahan petir milik Dewa Rencong benar-benar mengerikan, seakan dia hendak menghadirkan kekuatan Dewa Indra dalam jurusnya kali ini.


Hyang Antaga tersenyum disudut bibirnya seperti meremehkan jurus mereka berdua yang melesat dengan begitu ganasnya. Kemudian telapak tangan kirinya yang sejak awal seperti dibebat kain putih, mendadak kain itu terlepas dengan sendirinya dan menjuntai kebawah.


Setelah itu dia berteriak keras, sambil menghentakkan kedepan dengan keras telapak tangan kirinya yang telah terbuka.


"Ajian Cungkup Jagat!"


Dari tengah telapak tangannya melesat sesuatu seperti membelah ruang waktu dan mulai berputar dengan cepat. Perputaran ruang waktu dari telapak tangan Hyang Antaga membentuk semacam putaran angin taufan yang bergerak secara horisontal. Kemudian segala hal yang berada didekat putaran taufan itu langsung tertarik masuk kedalam dan lenyap.


Lesatan putaran yang membelah ruang waktu itu juga diiringan lingkaran cahaya seakan membimbingnya. Putaran itu terus membesar seakan hendak menyaingi lebarnya bentangan sayap api hitam milik Suro.


Api hitam dan Vajra bersatu kemudian melesat beriringin ke arah Hyang Antaga. Ajian yang dikerahkan Hyang Antaga langsung menghadang serangan Suro dan juga Vajra milik Dewa Rencong.


Ruang waktu ditengah lingkaran cahaya ternyata memiliki daya hisap yang sangat menakutkan. Api hitam milik Suro yang begitu besarnya bersama Vajra milik Dewa Rencong tersedot dengan begitu cepat. Tanpa memerlukan waktu yang lama semua jurus itu telah lenyap masuk ke dalam pusaran taufan ruang waktu milik Hyang Antaga. Setelah itu, seluruh taufan dari ajian yang dikerahkan Hyang Antaga kembali ke tuannya, tepatnya masuk ke dalam telapak tangannya.


Semua terjadi dengan begitu cepat, bahkan Suro sekalipun tidak menyangka dengan yang dia lihat. Begitu juga Dewa Rencong, dia sampai mengusap-usap matanya melihat jurus mereka berdua yang begitu menakutkan telah lenyap tanpa sisa.


"Edan, bagaiman mungkin jurus kita hilang begitu saja?" Dewa Rencong masih belum mampu mempercayai apa yang dia lihat.


'Jadi ajian ini yang dulu melenyapkan jurus kemarahan Sang Hyang Garuda milikku. Lawanmu kali ini sangatlah kuat bocah, jika mengandalkan api hitamku hanya akan membuat tenaga dalammu terbuang sia-sia.' Lodra teringat saat Eyang Sindurogo dikejar jurus itu. Kemudian beberapa saat setelah menghilang dibalik awan koneksi antara dia dan api hitam miliknya putus.


'Kerahkan api hitamku dengan kombinasi serangan. Kekuatannya mungkin sudah diatas tingkat langit.' Lodra kembali memberikan saran.


'Tentu saja karena dia asalnya adalah dewa yang terbuang.' Mendengar ucapan Lodra barusan Geho sama langsung menyahutinya.


'Untuk melawan jurus Hyang Antaga, Aku punya sebuah rencana Lodra.' Setelah melihat kekuatan jurus yang mampu melenyapkan jurus miliknya dan juga Dewa Rencong dengan begitu mudah, maka Suro terbesit sebuah rencana.


Dia teringat tentang sesuatu jurus yang tidak pernah dia coba sebelumnya. Salah satunya adalah karena kekuatannya belum mampu untuk melakukannya. Tetapi sekarang dia merasa mampu untuk melakukannya dengan didukung beberapa sebab.


Dia kemudian menjelaskan kepada seluruh jiwa yang ada dalam kesadarannya.


'Aku baru saja menyerap kekuatan laghima yang sangat besar. Karena itu aku harus menyalurkan energi murni dari laghima, sesegera mungkin. Jika tidak, maka akan sangat berbahaya pada tubuhku. Bersama dukungan api hitammu aku akan mengerahkan jurus yang sangat kuat, bahkan aku yakin jika tidak didukung dengan kekuatan kalian bertiga aku tidak sanggub melakukannya. Jadi aku meminta kalian semua membantuku dengan seluruh kekuatan kalian. Meskipun aku tidak yakin jurus ini dapat mengalahkan Hyang Antaga, tetapi kita harus mencobanya.'


Setelah selesai menjelaskan semua, terutama kepada Lodra, Suro kemudian kembali menjelaskan rencananya kepada Dewa Rencong yang masih melayang berada di sampingnya. Begitu juga Suro masih terbang menaiki bilah pedang miliknya.


"Aku ingin mencoba jurus yang membutuhkan bantuan paman. Cukup sekali lagi paman, Suro ingin melihat, apakah jurusku kali ini juga akan dapat dia lenyapkan?" Suro kemudian menjelaskan rencananya sesingkat dan sejelas mungkin.


"Intinya Suro akan membutuhkan kekuatan petir murni milik paman."


Setelah mendengar penjelasan Suro barusan Dewa Rencong tersenyum lebar dan menganggukan kepala sebagai tanda setuju atas rencana yang diutarakan Suro.


Secara serentak tiga wujud Suro lain telah muncul didepan, dibelakang dan disamping kanannya.


"Bukan unsur petir saja yang akan aku berikan untuk memperkuat jurus yang akan kau kerahkan, bocah!"


"Hahaha...aku menyukai ini, sepertinya jika selalu didekatmu petualangan hidupku semakin bertambah menyenangkan, bocah! Kali ini aku tidak setengah-setengah. Sedulur pamomongku Tirtanata, Warudaya, Sinotobrata, Purbangkara ramaikan pertarungan ini. Hahaha...!


Seperti juga Suro, tubuh Dewa Rencong memecah, keempat pendamping gaibnya datang semua. Mereka juga memiliki tubuh tidak jauh berbeda dengan wujud Dewa Rencong.


Keempat saudara gaib yang mereka berdua panggil adalah penguasa keempat unsur utama pembentuk alam atau catur mahabhuta, yaitu angin, air, tanah dan api. Tingkat kekuatan mereka tergantung dari kekuatan pancer atau pemilik kekuatan sejati yang memanggil mereka.


Kekuatan khas mereka yang menguasai catur mahabhuta tidak tergantung dengan kekuatan pemilik aslinya. Seperti Dewa Rencong yang hanya memiliki kanda dengan unsur perubahan petir saja, tidak serta merta sedulur papatnya hanya memiliki unsur perubahan petir.


Setiap tubuh manusia apapun kanda yang dimiliki, sejatinya terbentuk dari lima unsur pembentuk alam atau Pancha mahabhuta. Namun karena kanda setiap manusia tidak semuanya memiliki semua jenis perubahan. Sehingga sumber tenaga dalam juga hanya tergantung dari jenis kanda yang dimiliki.


"Apakah hanya itu kekuatan kalian berdua? Ini baru pemanasan kalian sudah menyerah! Kalian bukan tandinganku, karena aku adalah Sang Hyang Antaga! Hahaha...!"


Selepas suara dari Sang Hyang Antaga yang menggelegar, serentak semua tubuh Suro yang berjumlah empat itu melesat naik ke atas tinggi. Dewa Rencong bersama sedulur papat ikut melesat dibelakang Suro.


Mereka semua kemudian berpencar mengelilingi Suro diempat penjuru arah mata angin. Tubuh Suro yang asli sebagai pusatnya.


"Apa yang akan mereka lakukan?" Dari kejauhan Hyang Antaga menatap mereka dengan raut muka penuh tanda tanya.


Dengan membentuk segel Dharmacakra mudra, Suro memulai menggelar tehnik empat sage. Dia juga membuka tehnik tapak dewa matahari untuk menyerap kekuatan matahari. Walaupun saat itu sudah mulai senja, namun Suro berada dilangit tinggi diatas awan. Sehingga tubuhnya masih bermandikan sinar matahari diufuk barat.


"Mulai!" Sebuah teriakan Suro memberi intruksi, entah apa yang dimaksud Hyang Antaga juga tidak mengetahuinya. Tetapi secara bersamaan Dewa Rencong dan seluruh saudara gaib Suro maupun Dewa Rencong menghantamkan unsur terkuat kekuatan milik mereka ke arah Suro.


Dharmachakra juga disebut sebagai catur arya, lingkaran kebenaran roda sebab akibat. Sebab adalah awal dari akibat, dan sebab yang satu timbul dari sebab yang lainnya. Semua berputar dalam roda dharma.


Hantaman seluruh kekuatan yang mengarah kepada Suro tidak menimbulkan ledakan keras, justru bersinergi dalam pusaran energi yang dikerahkan Suro semuanya berputar cepat dan mengerucut kepada telapak tangan kanan Suro yang membentang mengarah kebawah, seperti juga posisi tubuhnya yang sekarang telah sungsang atau kepala berada dibawah kaki diatas.


Sebuah teriakan terdengar dari Suro sebelum tubuhnya meluncur cepat ke bawah ke arah Hyang Antaga. Dengan disertai kekuatan yang sangat mengerikan sebab seluruh unsur alam seakan menyatu berputar membentuk pusaran. Petir menggelegar beriringan seperti ekor naga


Seluruh kekuatan dan perputaran energi yang sebelumnya menyelimuti Suro kemudian menyusut dan bersatu dipermukaan telapak tangan Suro. Sehingga sekarang seolah ada matahari yang sangat menyilaukan mata. Sebab ditelapak tangannya telah membentuk sebuah bola cahaya yang cukup besar.


Suasana senja diatas langit Perguruan Pedang Bayangan kembali terang benerang seakan matahari tepat diatas kepala mereka. Itu adalah awal jurus yang dikerahkan Suro bersama gelegar suaranya seakan memenuhi langit bumi.


"JURUS DEWA MATAHARI MENAMPAKKAN WUJUDNYA!!"