
“Jadi ini wajahmu yang asli?”
“Kenapa? Apa kau ingin mutah melihat wajahku yang asli ini?” Wah Muka menatap Suro dengan mata melotot.
Dia cukup sensitif jika berhubungan dengan paras wajahnya. Apalagi yang berbicara itu adalah lawan jenisnya. Kebanyakan lelaki akan dihabisi, jika dia merasa tersinggung.
“Tidak, aku rasa justru lebih nyaman jika kau gunakan wajah aslimu, daripada kau menggunakan wajah Mahadewi.”
Mendengar ucapan Suro barusan, wanita itu berubah menjadi begitu genit. Pakaian miliknya dia singkapkan sedemikian rupa. Begitu juga dadanya dia busukan untuk membuat Suro tertarik kepadanya.
“Hahahahaha...sepertinya kau salah mengartikan ucapanku. Wajah Mahadewi sebenarnya cukup cantik, bahkan paling cantik diantara murid Perguruan Pedang Surga. Namun bagiku wajahnya lebih menakutkan dibandingkan wajahmu yang mampu membuat bujang lapuk sekalipun memilih membujang selamanya.”
Wajah Wah Muka segera berubah menjadi murka, tetapi Suro justru tertawa lepas melihat wajah musuhnya itu berubah menjadi begitu menakutkan.
Setelah berhasil memastikan racun pelumpuh tulang mengenai wajah Suro, Wah Muka justru kelihatan kebingungan. Sebab dia tidak juga melihat ada tanda-tanda racunnya itu telah bekerja.
Bahkan dia sengaja mengulur waktu agar racunnya bekerja terlebih dahulu. Tetapi setelah berusaha mengulur waktu dengan berbicara banyak dengan Suro, kepalanya justru seakan hampir meledak menahan marah.
Sebab setiap kali Suro berbicara, kupingnya semakin memerah terasa begitu panas lalu kepalanya seakan mulai mengepulkan asap dari ubun-ubun. Bahkan setiap ucapan Suro rasanya melebihi lesatan sembilu yang menancap di kepalanya. Selain itu, selama berbicara, lawannya tidak memperlihatkan tanda-tanda telah terkena racun.
“Bagaimana kau masih mampu berdiri? Padahal aku sudah meracunimu!” Wah Muka tidak mampu menutupi rasa penasarannya. Sebab seharusnya Suro minimal sudah jatuh terduduk tidak mampu untuk berdiri seperti sekarang ini.
“Jangan-jangan pill yang baru saja kau telan adalah penawar racun ini? Tetapi bagaimana mungkin? Sebab hanya kelompok kami yang memiliki racun Pelumpuh tulang dan penawarnya!” Wah Muka berubah menjadi begitu waspada menyadari Suro yang tidak juga memiliki tanda-tanda keracunan.
Dia sebelumnya sempat melihat Suro buru-buru menelan sebuah pill sambil melesat mundur. Suro tidak menjawab pertanyaan Wah Muka, dia justru tersenyum jenaka, seakan dia tidak sedikitpun merasa sedang dalam keadaan terancam.
“Jadi begitu, apakah itu artinya Batara Karang mendapatkan racun pelumpuh tulang dari kelompok kalian?”
“Ternyata Kau juga mengetahui Batara Karang, siapa sebenarnya kau ini bocah? Wajahmu dan juga pakaianmu menandakan dirimu berasal dari tempat yang sangat jauh dari negeri ini?”
“Aku hanyalah pengelana yang sedang mencari markas Mawar Merah.”
“Sebentar, sebelumnya kau menyebut Perguruan Pedang Surga, aku ingat sekarang, bukankah pakaian yang kau gunakan dan juga dara yang sebelumnya bersamamu itu adalah seragam milik perguruan yang diketuai Dewa Pedang dari Benua Timur?"
"Negeri Atap Langit cukup jauh dari tempat kalian berasal. Selain itu, untuk urusan apa Perguruan Pedang Surga berada di Gunung Seribu Labirin ini? Karena kami tidak memiliki urusan dengan perguruan kalian!”
“Sebaiknya aku katakan saja kepadaku apa tujuanku kesini, agar matimu nanti tidak penasaran. Aku hendak meratakan kelompok kalian sampai akarnya."
"Jika kau mengatakan kelompok kalian tidak memiliki urusan dengan perguruan kami, aku rasa itu hanya muslihatmu saja."
"Kelompok kalian telah menculik salah satu tetua kami dan juga menyerang perguruan cabang kami! Jadi tidak ada alasan bagi kalian untuk mengelak. Bisa aku katakan niatku untuk membumi hanguskan kelompok kalian, adalah akibat ulah kalian sendiri.” Suro tetap tenang menatap wanita yang berada didepannya.
“Hahahaha...! Bocah bermulut besar, kau mungkin dapat selamat dengan Racun Pelumpuh Tulang milikku, tetapi tidak dengan seranganku kali ini!”
Wuuung! Wuuung!
Blaar! Blaar!
Wah Muka segera memulai serangannya dengan melemparkan beberapa bola-bola ke arah Suro. Bola itu sebelum mengenai Suro telah meledak terlebih dahulu dan menyebarkan asap beracun berwarna hijau.
“Hahahaha...! Apa yang bisa kau lakukan jika matamu aku butakan?” Wah Muka tertawa terkakak melihat Suro melesat mundur menghindari serangannya yang tidak diantisipasi sebelumnya oleh Suro. Dia bergerak mundur sambil memejamkan matanya.
Suro sebenarnya sudah secepatnya melindungi dirinya dari asap beracun yang menyebar dengan cepat bersama bola-bola yang meledak. Dia segera menahan nafasnya dan menutup lubang hidungnya.
Namun racun itu justru bertujuan untuk menyerang matanya. Matanya kini terasa begitu perih dan berair, sehingga Suro tidak sanggup untuk membuka matanya.
Melihat Suro sudah kesulitan melihat, Wah Muka segera memanfaatkan kesempatan tersebut.
“Makan pisau terbangku ini bocah!”
Trang! Trang!
Suro segera menyambut serangan Wah Muka dengan bilah pedang yang telah tergengam ditangannya. Dia lalu mulai menyusun serangan balasan ke arah lawannya. Serangan itu dimulai dengan serangan perubahan tanah.
Duuum! Duuum!
“Sialan,” Wah Muka berteriak dengan penuh kemarahan.
Tubuhnya terlempar keatas, setelah tanah yang dia pijak mendadak bergerak menghentak dengan keras. Lalu melemparkan tubuh wanita itu cukup tinggi.
Swiing!
“Aaaaarrrgggghhhh...!”
“Kurang ajar, racun apa yang kau gunakan ini?”
Disaat Wah Muka sedang berada diatas udara, Suro segera menyerang lawannya. Puluhan jarum kristal es yang memiliki ukuran teramat kecil melesat secara bersamaan. Jarum itu sesungguhnya berasal dari kabut beracun yang dikerahkan dengan menggunakan tehnik perubahan es.
Beberapa racun masih sempat dihindari atau ditangkis menggunakan pisau ditangannya. Namun karena posisinya yang tidak menguntungkan dan banyaknya jumlah jarum yang melesat, apalagi jarum itu teramat kecil.
Akhirnya Wah Muka tidak mampu menangkis puluhan atau mungkin justru ratusan jarum itu, akibatnya salah satu jarum berhasil mengenai tubuhnya. Satu jarum menancap masuk ke dalam kulit di bahu sebelah kirinya.
"Sialan, bukankah kalian perguruan ilmu pedang, sejak kapan kalian mempelajari ilmu racun sekuat ini?"
Wah Muka semakin terkejut mengetahui jarum itu mengandung racun teramat kuat. Dia menyadari hal itu, sebab reaksi dari racun tersebut begitu cepat.
Beberapa pill penawar racun milik Wah Muka segera dia telan untuk menghambat reaksi racun yang mulai menyerang tangan kanannya.
“Kau kira hanya dirimu saja yang dapat bermain-main dengan racun?” Suro tertawa sinis ke arah lawannya yang sibuk menotok jalan darahnya.
Craass!
“Aaaarrrggghhh...!”
Melihat kondisi tangannya yang sudah tidak memungkinkan untuk dapat diselamatkan, akhirnya Wah Muka membuat keputusan yang sulit, yaitu memotong tangannyaa sendiri sampai pangkal bahunya.
“Kurang ajar kau bocah! Aku akan menghabisimu lain waktu!” Wah Muka sambil menotok pembuluh nadinya agar tidak kehabisan darah, dia segera bergegas melesat hendak melarikan diri.
“Aku rasa kau tidak memiliki lain waktu untuk menghabisiku!”
Suro masih terdiam tidak bergerak meski satu jengkalpun. Matanya juga masih terpejam. Dia justru terlihat sedang tersenyum dan tidak berusaha mengejar meski musuhnya telah melesat hendak meninggalkan tempat tersebut.
Dan benar saja saat dia sedang melesat meninggalkan tempat itu, mendadak tubuhnya terjungkal dan mutah darah cukup banyak.
“Racun itu sudah menyebar keperedaran darahmu, bahkan kau sudah tidak memiliki waktu lagi untuk melarikan diri dari tempat ini, ujar Suro dengan kondisi tetap memejamkan matanya.
Serangan lawan yang telah mengenai matanya, membuat Suro tidak sanggup membuka. Karena rasa perih yang menyerang tidak tertahankan. Bahkan secara terus menerus mengalirkan air mata cukup deras.
‘Gawat, aku harus secepatnya membasuh mataku,’ Suro yang merasakan perih dimatanya masih mencoba bersikap tenang agar tidak diketahui musuhnya.
“Bagaimana kamu masih mampu menyerangku, padahal aku sudah meracunimu dan membuat matamu buta?” Wah Muka berusaha untuk mengobati keracunanya dengan kembali menelan pill penawar racun miliknya.
Tetapi sepertinya usaha yang dia lakukan sia-sia dan sudah sangat terlambat. Sebab terlihat jelas tubuhnya mulai membiru.
Wajahnya semakin bertambah pucat, bibirnya tebalnya kini menghitam. Dia kemudian kembali memutahkan darah yang telah mengental dan berwarna hitam. Begitu juga baunya sangat tidak mengenakan, pertanda racun itu telah menyerang organ dalamnya.
“Bagaimana bisa aku mati ditangan seorang bocah sepertimu?”
“Aku juga merasa ikut sedih melihat dirimu akhirnya akan mati, padahal aku berniat menjadikanmu orang-orangan sawah untuk menakuti burung dibelakang rumahku. Aku yakin wajahmu itu ampuh untuk membuat para burung ketakutan.”
“Bocah sial...aaaaarrrrgggghhhhh!” Sebelum sempat Wah Muka menyelesaikan ucapannya, tubuhnya telah tersungkur dan tidak bangun untuk selamanya. Tubuh itu kemudian mulai membusuk dengan sangat cepat, hal itu dikarenakan oleh dahsyatnya racun yang dikerahkan oleh Suro.
Suro segera membasuh matanya yang terkena racun dengan air minum yang dia bawa. Tetapi air itu tidak cukup. Dia berniat mencari penawar racun dari tubuh Wah Muka, namun tubuh itu telah menjadi seonggok daging membusuk yang sangat beracun. Mata Suro yang tidak bisa membuka cukup kerepotan untuk mencari.
Saat dia sedang mencari obat penawar, dia teringat sesuatu hal.
“Gaawat Mahadewi,” dia tidak melanjutkan mencari obat penawar dan justru memilih melesat mencari Mahadewi. Matanya yang belum bisa melihat, membuat Suro memilih pencariannya dengan menggunakan jurus langkah kilat dari bagian ilmu saifi angin miliknya.
Dia berlari begitu cepat diatas tanah permukaan tanah. Dia berusaha mendeteksi keberadaan Mahadewi dengan menggunakan tehnik perubahan tanah, yaitu melalui getaran yang dia tangkap dari telapak kakinya.
“Mahadewi! Adinda Mahadewi! Kamu ada dimana!”
“Sialan, mataku yang tidak bisa melihat ini sungguh sangat merepotkan!”
Suro berlari ke arah balik. Sebab dia masih mengingat, saat mengejar kelebat bayangan dia sempat berbelok di persimpangan jalan terlebih dahulu.
Dia segera menyadari kemungkinan Mahadewi berjalan terus ke arah lurus. Karena itulah dia mengejar ke arah yang kemungkinan besar Mahadewi berlari ke arah itu, yaitu tetap berlari ke arah jalan yang sekarang dia lewati.