
Di negeri Wajin pasukan Elang Langit dikenal sebagai kelompok pembunuh yang sangat tertutup. Kelompok itu lebih tertutup dibandingkan kelompok Mawar Merah.
Pasukan itu begitu tertutupnya, sehingga mendapat julukan pasukan siluman. Bahkan sebagian menganggap jika pasukan itu hanyalah dongeng belaka.
Karena memang mereka menggunakan semacam sihir ilusi yang benar-benar menghapus keberadaan markas mereka dari orang luar. Tehnik yang mereka gunakan lebih hebat dibandingkan dengan formasi hutan ilusi milik Perguruan Sembilan Selaksa Racun yang ada di Champa.
Karena itulah hanya segelintir orang yang mengetahui kelompok Elang Langit. Dan tak ada yang mengetahui tentang markas mereka kecuali para pasukan Elang Langit sendiri yang mengetahuinya.
Salah satu tugas Daewon atau juga pendekar yang lebih dikenal dengan sebutan lain Anjing perang atau Subutai, adalah mencari tahu keberadaan markas dari Pasukan Elang Langit di negeri Wajin yang sangat tertutup.
Itu adalah salah satu perintah dari raja Kerajaan Goguryeo , yaitu Yeong Yang Wang. Tentu saja perintah yang cukup sulit itu tidak serta merta dapat langsung dia laksanakan. Perlu proses panjang hingga akhirnya kesempatan itu datang dengan sendirinya.
Semua itu berkat hubungan rahasia antara Khan Langit dengan pemimpin tertinggi dari pasukan Elang Langit. Dia akhirnya justru diutus oleh Khan Langit untuk membujuk Kakuru agar mau membantu menyerang Kekaisaran Yang Guang.
Dengan berjanji setia kepada Kakuru dan tidak pernah melawan pasukan Elang Langit, akhirnya dia menjadi pasukan Elang Langit. Dia kemudian menjadi pemandu bagi pasukan pembunuh itu untuk menyusup masuk ke wilayah kekaisaran Yang.
Itulah tugas yang dia emban setelah masuk ke dalam pasukan Elng Langit. Namun dia tidak menyangka, ternyata Karuru memiliki agenda terselubung lainnya, setelah mampu menyusup masuk ke dalam wilayah Kekairan Yang Guang.
Agenda yang dimaksud adalah mencari tumbal berupa bayi manusia dalam jumlah yang dia sendiri tidak mengetahuinya. Salah satu alasan itulah yang memicu lelaki itu akhirnya berusaha hengkang dari pasukan pembunuh itu.
Tentu saja itu hanya satu alasan dari beberapa alasan yang lain. Terutama bagi dia adalah penggunaan tumbal bayi yang begitu banyak. Walaupun dia sudah bertahun-tahun hidup sebagai mata-mata dan melihat peristiwa pembunuhan adalah sesuatu yang biasa.
Tetapi dia tetaplah seperti manusia lainnya. Dia tetap memiliki sisi kemanusiaan dalam dirinya. Melihat begitu banyaknya nyawa bayi yang dikorbankan membuat hati nuraninya berontak.
Alasan itulah yang membuat lelaki itu malas ikut dalam pertempuran di malam sebelumnya, yaitu saat bertemu dengan Suro. Tetapi dia sudah berjanji tidak melawan pasukan Langit.
Karena itu dia hanya memberikan semua hal yang dia ketahui. Sehingga eyang Sindurogo dan lainnya dapat menghentikan pembantaian yang hendak dilakukan pasukan Elang Langit.
Tetapi Subutai tidak menyebutkan jika pasukan Elang Langit memiliki begitu banyak manusia burung.
"Bukankah Subutai menyebut Kurama Tengu yang memiliki wujud seperti manusia burung hanya satu. Mungkinkah dia tidak mengetahui, jika jumlah makhluk yang menyerupai Geho sama ini lebih dari satu?"
Meskipun Eyang Sindurogo terkejut dengan kedatangan dua makhluk sejenis dengan Geho sama, tetapi dia tidak gentar. Dia buru-buru menyerang musuh yang mengepungnya lebih ganas dari sebelumnya.
'Aku harus menghabisi pasukan ini, sebelum dua makhluk itu menyerangku.' Eyang Sindurogo menyadari bahaya besar, jika tidak segera menghabisi lawan yang sedang mengepungnya.
Kekhawatirannya terbukti, sebab setelah amukan eyang Sindurogo yang serangan berubah menjadi lebih ganas, dua makhluk itu segera bergerak mendekat ke arah pendekar itu.
"Tinggalkan dia untuk kami, kalian hadapi yang lain!" Salah satu dari manusia burung yang muncul itu memberi perintah kepada pasukan Elang Langit yang sedang mengepung eyang Sindurogo.
"Jangan harap kalian dapat meninggalkan tempat ini hidup-hidup!" Melihat pasukan yang mengepungnya segera bergerak mundur setelah mendengar perintah dari makhluk mirip Geho sama, maka eyang Sindurogo tidak mensia-siakan kesempatan itu.
Sinar dari ujung jari telunjuknya menebar mengarah kepada mereka semua. Beberapa yang berhasil lolos tubuhnya berubah menjadi sebatang kayu dan juga asap tebal.
Tetapi ada yang beberapa tidak beruntung terjengkang dengan tubuhnya hancur terhantam oleh sinar yang melesat. Ada sekitar lima orang yang tewas oleh jurus eyang Sindurogo.
"Bodoh kau Kenichi, kalian sudah sebegitu banyaknya tidak juga mampu membunuh satu orang!"
Lelaki yang bernama Kenichi hendak menjelaskan kepada dua makhluk bersayap itu, tetapi dia memilih diam. Sebab makhluk itu segera menggerakkan tangannya menyuruh mereka semua pergi dari hadapannya.
Setelah menganggukkan kepala Kenichi dan yang lain segera melesat menuju ke arah Dewa Rencong bersama dua pendekar perempuan yang bertempur bersamanya.
Jurus Langkah Maya segera dia kerahkan dan muncul didepan musuh yang hendak menyerang Dewa Rencong. Tetapi makhluk bersayap yang tingginya satu tombak itu juga tidak diam.
Duuuuum!
Saat eyang Sindurogo mencoba menghentikan pasukan Elang Langit yang hendak menyerang rekannya, tanpa diduga salah satu dari makhluk bersayap itu mendadak muncul dihadapan eyang Sindurogo. Satu pukulan langsung dihantamkan ke tubuh pendekar itu.
"Kurang ajar, kekuatan makhluk ini mengapa begitu kuat," eyang Sindurogo yang tidak sempat menghindar harus tersurut beberapa langkah oleh kuatnya pukulan yang menghantam tubuhnya.
Darah yang merembes dari ujung bibirnya, menandakan jika dia terkena luka dalam. Melihat kekasihnya terhantam sedemikian kuat, membuat tetua Dewi Anggini menjadi panik.
Dia segera mendobrak musuh yang mengepungnya dan melesat mendekati eyang Sindurogo yang berada tidak terlalu jauh darinya.
"Apakah kakang baik-baik saja?" Terlihat kepanikan diwajah tetua Dewi Anggini.
Sepuluh bilah pedang terbang yang dia kerahkan langsung menyerang musuhnya untuk mencegah mereka memberikan serangan susulan.
"Jangan khawatir adinda, serangan sekecil ini tidak akan dapat melukaiku, sebaiknya dirimu membantu Salya dan muridmu."
Eyang Sindurogo segera menelan sebutir pill istimewa, sebab salah satu bahan Pill itu dibuat dari kulit Naga Sisik Emas. Setelah meminum pill itu tubuhnya terasa lebih enakan. Luka dalam yang dia derita sedikit membaik.
Hantaman pukulan musuh yang begitu telak, tidak sempat dia tangkis. Dewi Anggini yang merasa eyang Sindurogo telah pulih lalu kembali ke belakang membantu Dewa Rencong.
Musuh yang berdatangan kali ini bukan hanya menyerang mereka berempat, tetapi para prajurit penjaga kotayang dipimpin oleh Jendral Zhou menjadi sasaran mereka.
'Jika caranya seperti ini, aku yakin seluruh kota Shanxi ini akan mampu mereka bantai hanya dalam semalam.'
Eyang Sindurogo tidak mampu menutupi kekhawatirannya melihat pembantaian yang di lakukan pasukan Elang Langit. Dia tidak dapat berbuat banyak, sebab dia kini kewalahan melayani serangan dua makhluk raksasa yang memiliki sayap di punggungnya.
Kekhawatiran itu tidak hanya dirasakan oleh eyang Sindurogo. Para pendekar yang bertempur melawan pasukan Elang Langit juga merasakan hal yang sama.
Terutama Mahadewi, dia yang memiliki kekuatan tingkat shakti adalah yang terlemah diantara mereka berempat. Ada sedikit rasa sesal karena tidak mendengarkan ucapan Suro sebelum berangkat menyusul ke negeri Atap Langit.
Tetapi ada rasa bangga dan seakan telah terbayarkan rasa lelahnya berlatih ilmu pedang tanpa rasa lelah selama berbulan-bulan. Sebab dia bisa menunjukkan kemajuan ilmu berpedangnya langsung dihadapan gurunya.
Apalagi berkali-kali gurunya tetua Dewi Anggini memuji kemampuan ilmu pedangnya. Hanya saja pertempuran melawan pasukan Elang Langit adalah sesuatu yang mengerikan.
Dari kejauhan dia melihat prajurit penjaga kota dibantai oleh pasukan Elang Langit yang muncul seperti hantu itu. Satu hal yang dia harapkan untuk menolongnya adalah seorang pemuda yang pada awal pertarungan melesat terbang ke atas menghilang dibalik awan.
"Kemana kakang Suro? Mengapa dia tidak juga kembali?" Mahadewi tidak mampu menutupi kekhawatirannya melihat musuh yang menyerang mereka bertambah banyak dan lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Sebab para pendekar tingkat langit yang menyerang Eyang Sindurogo kini telah mengepung mereka.
"Aku akan mati, tetapi bukan hari ini dan tidak akan mati ditangan kalian!" Dewa Rencong berteriak kesal mencoba menutupi keresahannya.
Pendekar itu semakin dibuat sibuk dengan musuh yang bertambah banyak dan bertambah kuat. Tidak ada yang bisa dia harapkan dapat menolong dirinya, kecuali dua mpendekar wanita yang bertempur berdampingan dengannya.
Dengan matanya sendiri di kejauhan eyang Sindurogo sendiri juga telah kewalahan menghadapi dua makhluk raksasa yang memiliki sayap hitam dibelakang punggungnya. Apalagi kekuatan musuh itu sudah mencapai tingkat surga, sehingga dia sudah dapat melihat sendiri dengan mata telanjangnya.
Jika kondisi eyang Sindurogo tidak lebih baik dibanding mereka bertiga yang dikeroyok musuh yang lebih lemah kekuatannya, tetapi jumlah lebih dari tiga puluh orang. Pendekar itu hanya bisa berharap kepada pemuda yang mungkin saja dapat menciptakan keajaiban, sehingga semua musuh dapat dikalahkan.