SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 54 PERTARUNGAN TAHAP KEDUA part 2



Pertarungan yang dilakukan Widura melawan Jaladara sebenarnya terbilang lebih lama dibandingkan pada pertarungannya di babak pertama. Sebab pada pertarungan babak pertama dia hanya membutuhkan waktu yang lebih singkat. Sekitar sepuluh jurus telah membuat lawannya bertekuk lutut.


Banyak penonton yang bersedih atas kekalahan Jaladara terutama kaum hawa. Beruntung sebelum mereka melakukan aksi bunuh diri masal, senyum dan lambaian tangan Arjuna dari Gunung slamet itu telah melelehkan jiwa mereka.


Melihat pujaannya tersenyum dan melambai membuat mereka para kaum hawa serasa tersihir. Tak ada ungkapan selain teriakan-teriakan yang membuat penonton yang ada disebelahnya harus menutup kedua lubang telinganya.


"Kenapa adinda tidak ikut meneriakan nama Jaladara Arjuna dari Gunung Slamet?"


"Untuk apa aku harus ikut meneriakkannya?" Mahadewi balik bertanya sambil menoleh ke arah Suro. Dia memandang Suro dengan tatapan yang mensiratkan perasaan ganjil. Dia tidak memahami maksud dari pertanyaannya yang ditujukan kepadanya barusan.


"Entahlah, tetapi mereka para penonton yang kebanyakan kaum hawa berteriak-teriak menyebut nama itu. Lihatlah disana ada beberapa yang sampai pingsan. Aku rasa itu juga karena terlalu bersemangat meneriakan Jaladara." Suro menunjuk di sebelah kiri. Mahadewi ikut melihat beberapa wanita digotong keluar.


"Tidak mereka sepertinya kelelahan saja karena penonton terlalu penuh."


"Mungkin saja." Suro hanya mengangguk-angguk sambil melihat keseluruh area penonton


"Lalu bagaimana dengan mereka yang sejak Jaladara masuk area pertarungan berteriak-teriak sampai ludahnya ikut kering?"


"Bukan urusanku! Mereka hanya perempuan-perempuan yang bakal mudah diperdaya oleh seorang lelaki. Sejenis lelaki yang mengaku-ngaku setampan Arjuna!" Entah kenapa jawaban Mahadewi begitu ketus. Sepertinya justru dia tidak menyukai sosok Arjuna yang digilai banyak perempuan itu.


Suro tidak jadi melanjutkan perkataannya dia akhirnya hanya bisa mengaruk-garuk kepala dan kembali menatap arena pertarungan yang telah diisi peserta lain. Dia masih trauma jika melanjutkan perkataannya nanti justru akan membuat wanita angun disebelahnya berubah menjadi makhluk buas lagi.


Setelah sesi pertama selesai dilanjutkan dengan pertarungan sesi berikutnya. Terlihat Azura si pedang bayangan melangkahkan kakinya menuju arena pertarungan. Disana telah menunggu lawannya yang lebih dahulu dipanggil oleh Tetua Dewa Rencong.


Kali ini lawan dari Azura merupakan murid utama perwakilan dari perguruan cabang dari wilayah Kerajaan Malaka. Perguruan yang berada disuatu tempat bernama Bujangkau. Daerah itu masih termasuk dalam wilayah Kedah. Perguruan itu juga memiliki satu sumber ilmu yang sama seperti yang dimiliki perguruan didaerah Kelantan.


Suatu tehnik ilmu kanuragan yang cukup unik diperlihatkan pada babak pertama yang mengantarkan dua perwakilan mereka melenggang sampai tahap ini. Dalam tehnik ini kemungkinan mereka mengunakan ilmu yang bersumber pada kitab air. Dimana mereka mampu mengolah unsur air dalam udara menjadi senjata mereka. Sehingga dengan tehnik khusus itu mampu merubahnya menjadi kabut yang tebal meski diwaktu siang hari yang terik.


Tentu saja penguasaan tehnik ini tergantung dari tingkat tenaga dalam yang dimiliki. Semakin tinggi tingkat tenaga dalamnya tentu semakin luas juga cakupan area yang mampu ditutupi kabut.


Tehnik yang mereka miliki bersumber pada kitab air sedikit memiliki kemiripan dengan tehnik yang dipakai Perguruan Gerbang Mahakam. Mereka sama-sama berkutat pada pengolahan unsur air. Hanya saja dalam tehnik yang dipakai perguruan dari Kerajaan Malaka ini mampu mengubah unsur air menjadi kabut pekat. Bahkan dalam tingkat yang paling tinggi mampu merubahnya menjadi serpihan ribuan jarum-jarum air. Tentu saja jika telah menguasai tehnik unsur es.


Azura menatap lawannya sambil mengangguk kecil.


"Aku masih penasaran dengan tehnik yang kisanak perlihatkan di babak pertama."


Lawannya tersenyum mendengar perkataan Azura. Dia yang berasal dari Bujangkau ini sebenarnya memiliki pertalian darah dengan murid utama yang berasal dari Kelantan. Tepatnya adalah saudara kembar. Murid utama yang sedang berhadapan dengan Azura ini memiliki nama Narashoma. Sedangkan yang satu lagi bernama Narashinga. Entah bagaimana mereka dipisahkan dalam tempat yang berbeda. Dan dua kakak beradik itu juga yang akhirnya mewakili dua perguruan dimana mereka belajar ilmu kanuragan.


"Secara kebetulan saya juga penasaran dengan kehebatan tehnik pedang bayangan yang tersohor itu!"


Azura segera mencabut kedua bilah pedangnya dan mengenakan topeng iblisnya.


"Apakah topeng yang kisanak pakai itu salah satu dari pasukan topeng iblis?" Narashoma menunjuk topeng yang baru saja dipakai Azura.


"Bisa jadi!" Azura menjawab dari balik topeng yang telah menutupi Wajahnya. Dia terlihat begitu menyeramkan hanya dua lubang matanya yang menyorot dengan begitu tajam.


Dewa Rencong segera mengisaratkan pertarungan dimulai. Segera tanpa basa-basi tiga kelebatan bayangan hitam dari tubuh Azura menyerang Narashoma memecah ke arah tengah, kanan dan kiri.


Narashoma hanya tersenyum melihat serangan Azura yan telah memecahkan wujudnya menjadi tiga bayangan. Melihat senyum dari lawannya yang masih tak bergerak membut Azura merasa ada sesuatu hal yang ganjil.


Bldaar!


Benar saja setelah tiga sosok bayangan itu menerjang ke tubuh yang diam tak bergerak itu, serta merta sebuah ledakan membuyarkan tubuh Narashoma. Tubuh itu segera menyebar berubah menjadi kepulan kabut asap.


Efek ledakan itu bahkan mampu melemparkan tubuh Azura yang asli. Beruntung kekuatan ledakannya tidak begitu kuat. Hanya beberapa luka lecet akibat benturan dengan lantai. Entah bagaimana sistem kerja trik yang dilakukan Narashoma. Sebab setelah itu semua penonton juga tak menemukan sosoknya yang tiba-tiba lenyap.


Sebuah sosok tiba-tiba muncul dibelakang Azura.


Trang! Trang!


Dua bilah pedang Azura segera memapak serangan dari Narashoma yang tiba-tiba muncul dibelakangnya. Beruntung refleksnya bergerak cepat menghadang serangan yang datang.


Asap dari ledakan sebelumnya belum benar-benar hilang dari arena pertarungan. Untuk penonton yang tak memiliki tingkat ketajaman mata yang bagus tentu semakin susah mengamati gerakan dua petarung yang bergerak semakin bertambah cepat.


Bldaar!


Kini kembali ledakan menambah kepulan asap yang sebelumnya masih ada. Entah kenapa tehnik ledakan yang pada tahap sebelumnya tidak dia digunakan. Tetapi kini dia gunakan untuk menghadapi pedang bayangan. Kemungkinan untuk memecah konsentrasi lawan atau bisa juga untuk menghadang serangan lawan yang mampu memecah dan bergerak dengan begitu cepatnya.


Beruntung pada ledakan kali ini Azura mampu mengantisipasinya. Dia sempat meloncat mundur mengurangi efek ledakan.


Pada pertarungan kali ini tehnik yang dipakai Narashoma sedikit berbeda dengan tehnik pertarungan yang dia lakukan pada babak pertama.


Trik untuk mengecoh lawan berupa ledakan baru kali ini dia gunakan. Mungkin senjata rahasia yang mampu meledak itu memang telah disiapkan sejak awal untuk menghadapi lawan yang lebih kuat. Berbeda dengan tehnik menggantikan tubuh asli dengan asap, sejak awal pertarungan pada babak pertama sudah diperlihatkan. Jadi tehnik itu bukan sesuatu hal yang baru.


Area pertarungan penuh dengan asap hasil dua ledakan yang berselang tidak terlalu lama itu. Azura segera bersalto kebelakang beberapa kali menghindari serangan pedang Narashoma yang mencecar. Kepulan kabut asap entah bagaimana caranya kini justru semakin bertambah pekat.


Wujud Narashoma kembali hilang tenggelam dalam kumpulan asap. Melihat hal itu Azura segera menajamkan pancainderanya meningkatkan kewaspadaannya. Dia berjaga-jaga dari serangan yang sebelumnya sempat dilancarkan lawannya dari arah yang tak disangka. Sebuah gerakan dalam kabut asap memancing reaksi pada Azura. Segera dia meluncur dengan cepat berkelebat dalam bentuk bayangan hitam.


Trang! Trang!


Benar saja gerakan yang hanya sekilas itu tertangkap oleh mata Azura yang tajam. Dentingan pedang yang beradu menghasilkan bunga-bunga api.


Kembali tubuh Narashoma lenyap dalam kabut yang semakin bertambah pekat.


Beberapa kali Azura menebas ke arah kabut yang bergerak entah karena angin atau karena gerakan manusia. Kabut itu kini telah memenuhi arena pertarungan. Jangankan penonton Azura sendiri kesulitan menemukan posisi lawannya.


"Kakang bagaimana caranya melawan tehnik kabut itu?"


Suro menoleh ke arah Mahadewi yang terlihat kesulitan mengikuti jalannya pertarungan. Karena memang kondisi arena pertarungan sudah tertutup kabut asap cukup pekat.


Mahadewi mengernyitkan dahinya mendengar solusi dari Suro.


"Bagaimana caranya menyerang jika musuh tidak diketahui dimana posisinya?"


"Eeee..." Suro mengaruk-garuk kepalanya dia baru ingat bahwa solusi yang barusan dia katakan bukan untuk Mahadewi. Tetapi solusi yang akan dia lakukan jika berhadapan dengan pengguna ilmu semacam itu. Karena dia memiliki ilmu yang diwariskan dari Hyang Anantaboga. Dengan ilmu itu dia mampu merasakan apapun yang bergerak diatas tanah maupun yang bergerak didalam tanah.


"Mungkin jika itu adinda yang menghadapi akan merasakan kesulitan. Karena untuk menghadapi jurus seperti itu mata tidak lagi menjadi indera yang bisa diandalkan untuk menemukan posisi musuhnya."


"Indera pendengaran tentu lebih pas digunakan untuk mengatasi keterbatasan penglihatan."


"Tetapi selama dia berada diatas tanah jika adinda bisa merasakan getaran yang ada diatas tanah maka adinda pasti dengan mudah mampu menemukan keberadaannya."


Trang! Trang!


Kembali suara pedang beradu berasal dari tengah-tengah arena pertarungan. Sepertinya mata dari Azura yang begitu tajam mampu menembus pekatnya asap.


Dua bilah pedangnya begitu cepat mencecar wujud itu dengan dahsyat. Azura sepertinya memanfaatkan kesempatan itu sebelum lawannya menghilang lagi.


Kemudian sosok Narashoma kembali menghilang dengan cepat ditengah serangan Azura yang mencecar dengan dahsyat. Setelah beberapa saat Azura merasa ada pergerakan hampir empat langkah disebelah kirinya.


Tubuhnya segera memecah menjadi empat kelebatan bayangan hitam yang bergerak sangat cepat. Empat Bayangan itu menghajar ke arah kabut yang sebelumnya sempat terbaca oleh Azura. Dia merasa yakin bahwa dibalik kabut itu Narashoma bersembunyi seperti serangan sebelumnya yang berhasil dia lakukan.


Azura yang sudah merasa yakin serangannya akan mengenai lawannya. Karena itu dia menyerang dengan begitu dahsyat. Tetapi apa lacur? Ternyata perkiraannya salah serangannya hanya menghantam tempat yang kosong.


Ternyata itu adalah tehnik yang dipakai Narashoma untuk memanipulasi kabut sehingga mampu mengecoh serangan lawannya. Terbukti hal tersebut mampu mempercundangi Azura.


Pertarungan semakin bertambah seru saat Narashoma semakin bertambah lihai mengendalikan kabut asap. Dengan itu dia dapat memanipulasi gerakan kabut asap. Sehingga bergerak-gerak seakan dirinya sedang berada dibalik kabut itu. Bahkan seakan tubuhnya memecah menjadi beberapa sosok yang menyerupai dirinya. Wujud itu dibentuk dari kepekatan kabut asap yang dia buat.


Azura yang biasanya mampu mengecoh gerakan lawan. Kini justru dia yang dipecundangi lawan. Tubuh ilusinya menerjang ke arah beberapa wujud yang sekilas bergerak.


Terjangan kelebat bayangan Azura berkali-kali menerjang tempat yang kosong. Kabut yang dikendalikan sedemikian rupa sehingga seolah-olah bergerak, telah membuat Azura merasa benar-benar dipecundangi oleh lawannya.


"Beruntung dia tidak bertemu denganku!" Mahesa menoleh kearah murid utama yang berada disebelahnya.


"Bagaimana kisanak? Kupingku kurang jelas mendengar, terlalu riuh suara teriakan penonton."


"Beruntung Azura si pedang bayangan itu tidak berhadapan denganku. Karena pencapaian kakakku itu belum mencapai tehnik tertinggi." Lelaki itu bersedekap sambil matanya menatap tajam tak lepas dari arena pertarungan. Ada kesombongan dari ucapan yang dia lontarkan. Dia adalah adik dari Narashoma yang bernama Narashinga. Rambutnya yang sebahu dia biarkan tergerai tanpa diikat. Wajahnya memang sangat mirip dengan Narashoma hanya lebih sedikit tinggi daripada kakaknya.


"Benarkah? Tetapi aku lihat sudara kisanak telah membuat repot si Pedang Bayangan itu."


"Lihatlah! Sepertinya kali ini si Pedang Bayangan ketemu batunya. Biasanya dia yang mengecoh gerakan lawan. Kini dia justru seperti dipecundangi saudara kisanak."


"Benar, hanya saja aku masih berada diatasnya." Narashinga terlihat begitu bangga mengatakan hal itu.


"Luar biasa semoga saja aku tidak bertemu dengan kisanak di arena pertarungan."


"Hahaha bisa saja kisanak bercanda."


Mahesa hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Narashinga. Sebab apa yang barusan dikatakannya adalah harapan dia yang sebenarnya. Berhadapan dengan pedang bayangan saja dia sudah bisa membayangkan kesulitan yang akan dihadapi. Apalagi sekarang melihat pedang bayangan dibuat kesulitan menghadapi saudara dari Narashinga.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya jika berhadapan dengan adiknya. Apalagi barusan dia sendiri mengakui tingkatan yang dicapai jauh dibandingkan tingkatan lelaki yang sedang dihadapi Azura. Mahesa berharap mendapatkan lawan yang mudah-mudah saja agar bisa meraih jabatan tetua muda.


Pertarungan antara Azura melawan Narashoma semakin meningkat kemampuan yang mereka perlihatkan. Serangan dari Narashoma telah mengenai beberapa bagian tubuh Azura. Beruntung semua luka itu bukan luka yang parah hanya luka kecil. Walaupun begitu serangan Narashoma sedikit banyak sudah membuktikan kedahsyatan jurusnya.


Bagaimana tidak sang pedang Bayangan yang sudah memecahkan tubuhnya menjadi empat sosok bayangan masih tetap kewalahan meladeni serangan Narashoma. Karena selalu dengan mendadak menyerangnya dari arah yang berubah-ubah. Sekilas keliatan kemudian muncul lagi dari arah lain.


Azura segera bersalto menjauhi kabut yang begitu padat. Dia mencoba menghindari kungkungan lawan yang meyerangannya.


Karena lawan tidak terdeteksi sama sekali arah datangnya. Sebelum kemudian serangannya menerjang secara mendadak. Kali ini Azura benar-benar tak mampu lagi meraba keberadaan lawan melalui ketajaman matanya. Karena memang terlalu sulit diketemukan keberadaanya.


Dipojok arena dia menatap kabut asap yang begitu pekat menyelimuti hampir keseluruhan area pertarungan. Hanya sebagian kecil dari arena yang tidak tertutupi kabut asap tebal, seperti dimana dia sekarang berdiri.


"Hahaha...! Apakah kisanak mau menyerah sekarang? Setelah merasakan kehebatan ilmu perguruanku yang dahsyat ini?"


"Jangan senang dulu kisanak kemampuan ilmumu hanya bisa menghilang bersembunyi dibalik kabut tebal ini, bukan hal yang istimewa. Kalau hanya ilmu menghilang ditanah Javadwipa ini banyak yang memilikinya kisanak." Azura menatap tajam ke arah sumber suara berasal.


Sosok Narashoma muncul dari balik kabut asap yang tebal. Tangan kirinya masih memegang sebilah pedang yang sejak awal pertarungan dia genggam. Narashoma adalah seorang yang kidal sehingga membuat jurus yang dia lancarkan semakin bertambah unik.


"Hahahaha...! Benarkah jadi bukan ilmu menambah bayangan itu saja yang kisanak miliki."


Azura tidak menjawab dia hanya menggerung dari balik topengnya. Sepertinya setelah beberapakali serangannya sukses mengenai tubuh Azura telah membuat Narashoma besar kepala.


Setelah lawannya selesai berbicara Azura masih menatapnya dengan begitu tajam. Dia benar-benar murka dengan kata-kata yang terasa melecahkan itu. Kemudian dia mulai merapatkan kedua bilah pedang yang digengam kedepan dadanya.


"Mantak ajiku ilmu panglimunan." Suara Azura saat merapal ajiannya dengan suara pelan sehingga tidak terdengar pihak lawan.


Wujud Azura setelah selesai merapalkan ilmunya tiba-tiba menghilang dari hadapan Narashoma. Perkataanya yang barusan dia ucapkan bukanlah gertak sambal belaka.


"Ilmu hitam apa ini yang dia gunakan?"


Teriakan keras Narashoma yang bisa didengar seluruh penonton adalah bentuk protes yang dia lakukan. Karena peraturan secara tidak tertulis bahwa pendekar aliran putih biasanya menghindari ilmu hitam. Suatu hal yang tabu untuk seorang aliran putih mengunakan ilmu hitam.


Suara teriakan itu bisa berarti protes bisa juga sebuah reaksi ketakutan. Hal itu bisa dimaklumi dengan sosoknya yang bisa keliatan saja Narashoma cukup kewalahan apalagi jika sosoknya lenyap. Entah bagaimana dia akan mengatasi ilmu yang mengejutkan itu. Yang jelas reaksi berikutnya yang segera dia lakukan adalah menghilangkan jejaknya kedalam balik kabut.


Ilmu yang barusan digunakan Azura bukanlah ilmu aliran hitam. Tetapi ilmu yang berdasarkan kekuatan jiwa. Hampir mirip dengan kekuatan sihir hanya saja itu lebih murni tanpa mengunakan bantuan kekuatan bangsa lelembut.