SURO BLEDEK

SURO BLEDEK
Ch. 159 Perguruan Tengkorak Merah



"Ternyata tidak sulit jika aku mencarinya langsung. Saat aku mendengar penjelasan yang dilakukan paman Tohjaya terasa begitu susah untuk aku pahami. Karena aku banyak pikiran atau memang tidak mendengar penjelasannya, sehingga terasa sulit? Entahlah?"


Sebelum meneruskan perjalanan ke arah gunung Candrageni, Suro memilih untuk beristirahat. Dia ingin melepaskan letih sejenak, setelah melalui perjalanan cukup jauh sambil memanggul Maung dikedua pundaknya.


Maung yang diturunkan dari pundak langsung berlari, agaknya dia merasakan seperti yang dirasakan Suro.


"Beruntung sekali aku mendapatkan mustika Naga Raja sisik emas. Benda paling langka yang hanya ada dalam legenda pengobatan." Telur berwarna keemasan dia keluarkan dari balik bajunya.


Kini Suro dapat melihat lebih jelas butir telur yang dalam genggamannya itu. Sinar matahari yang sudah terik membuat telur itu memantulkan cahaya keemasan lebih cemerlang dibandingkan saat dia mengambilnya.


"Aku baru sadar ternyata lapisan luar dari telur ini seperti yang tertulis memang lapisan emas murni. Aku yakin mustika ini akan sangat bermanfaat. Aku akan menyimpannya."


Suro memasukan butir telur itu ke balik bajunya dan mengambil benda lainnya. Benda yang diambil adalah pusaka Kaca benggala.


"Bagaimana agar benda ini mampu memberikan panduan agar mempermudah perjalananku menuju Perguruan Tengkorak Merah?" Suro menatap pusaka dalam genggamannya sambil membolak-balikkannya.


"Benar sekali mengapa aku tidak kepikiran untuk meminta pusaka ini memandu diriku menuju ketempat yang aku tuju?" Matanya langsung berbinar-binar setelah sebuah ide terlintas dipikirannya tanpa sengaja. Ada sedikit harapan, jika pusaka ditangannya itu akhirnya dapat membantu dirinya membimbing ketempat yang diinginkan.


Dimulai dengan ritual berkaca terlebih dahulu Suro bersiap-siap bertanya kepada pusaka Kaca Benggala. Dia merancang kata-katanya sebaik mungkin agar tidak disalah artikan pusaka yang tetap dia genggam itu.


"Wahai pusaka Kaca Benggala tuntunlah hamba menuju Perguruan Tengkorak Merah!" Suro menatap benda di genggamannya itu dengan harap-harap cemas.


Sekejap kemudian terlihat penampakan didalam pusaka itu sebuah bangunan cukup luas. Jika dilihat dari atas bisa di ketahui itu adalah sebuah komplek perguruan besar. Kilasan-kilasan berikutnya yang diperlihatkan Kaca Benggala secara terus-menerus akhirnya bermuara pada tempat dimana Suro sekarang berdiri.


"Tidak disangka akhirnya aku berhasil membuat pusaka ini menuntunku menuju tempat yang aku tuju dengan sangat baik." Di wajah Suro langsung terbentuk sebuah senyuman yang sangat ceria.


"Dengan pusaka ini akhirnya aku dapat mencari eyang guru dimanapun dia berada." Suro menggenggam dengan erat satu tangan lainnya yang tidak sedang menggenggam Kaca Benggala.


Saat Suro sedang bergembira setelah berhasil membuat Kaca Benggala menjadi penunjuk jalan, sesuatu yang tidak jauh dari tempatnya duduk sedari tadi tidak disadari oleh Suro.


"Bukankah itu gerbang gaib yang mampu mengantarkan seseorang menuju dimensi lain atau alam lain?" Di sebuah tumpukan batu yang besar Suro menemukan pusaran yang membuat dia menjadi teringat saat dirinya memasuki pusaran yang sejenis dari itu menuju alam dimana gurunya terjebak. Suro segera memastikan pusaran itu seperti yang ia duga. Dia segera mendekat ketempat itu.


Diantara celah antara tumpukan batu itu terbentuk sebuah celah yang membentuk seperti sebuah goa mini. Dipintu masuk itulah terdapat pusaran aneh yang dilihat Suro barusan.


"Tumpukan batu ini mirip sebuah gubuk. Sebaiknya aku bertanya kepada Kaca Benggala alam apa yang ada didalamnya. Wahai Kaca Benggala perlihatkan padaku dunia dibalik gerbang gaib ini!"


Sebuah kerajaan besar yang tidak pernah dia liat sebelumnya. Bangunan yang ada di alam itu terasa sangat berbeda dengan bentuk bangunan yang biasa dia pernah lihat. Bahkan kedaton Kalingga yang saat pertama kali dia liat begitu mengagumkan, kali ini tidak ada satu kuku hitamnya dibandingkan dengan penampakan yang dia lihat.


"Alam apa ini sebenarnya? Sangat menarik. Sayang aku tidak memiliki banyak waktu, aku harus bergegas melanjutkan perjalanan. Suatu saat aku pasti akan kembali ke tempat ini untuk menyelidikinya. Kerajaan gaib dialam ini terlihat begitu maju."


Setelah kedatangan Maung Suro langsung meneruskan kembali perjalanannya menuju bumi mataram.


Bumi mataram sekitar abad ke delapan akan berdiri sebuah kerajaan besar yang banyak mendirikan candi-candi yang megah salah satunya adalah Borobudur atau Bore budur yang berasal dari kata Sambharabhudhara dan juga prambanan atau nama aslinya adalah Siwagrha(rumah Siwa).


Kerajaan Mataram Kuno sendiri pernah berada di bawah kekuasaan 3 wangsa. Ketiga wangsa tersebut ialah Wangsa Sanjaya, Wangsa Syailendra dan Wangsa Isana. Wangsa Sanjaya sendiri merupakan pemeluk agama Hindu beraliran Syiwa, Wangsa Syailendra adalah pengikut agama Budha. Dari wangsa Syailendra ini lahir juga seorang Raja yang bernama Sri Maharaja Balaputradewa. Dialah yang memimpin Kerajaan Sriwijaya sampai puncak kejayaannya.


Sedangkan Wangsa Isana adalah wangsa yang masih baru dan didirikan oleh Mpu Sindok, tetapi Wangsa Isana ini ibu kota kerajaannya tidak lagi di Jawa Tengah tetapi di Jawa timur. Perpindahan ibukota kerajaan ini terjadi sekitar abad kesepuluh masehi.


Setelah mendapatkan bantuan petunjuk dari Kaca Benggala, maka kali ini perjalanan Suro terasa lebih mudah. Setelah matahari melewati kepala agak ke barat, Suro telah sampai di bumi Mataram.


Dengan melihat pengalaman yang terjadi di kota Dahanapura, kali ini Suro tidak melewati tengah kota. Tetapi Suro bersama Maung memilih beristirahat di dekat sebuah sungai kecip. Kebetulan sungai itu berada tidak jauh dari Perguruan Tengkorak Merah.


Kondisi itu digunakan oleh Suro untuk menyelidiki terlebih dahulu perguruan yang akan dia datangi itu. Maung yang sudah lapar berat langsung berburu ikandi sungai yang dangkal, tetapi ikannya lumayan besar-besar. Suro membiarkan harimau sahabatnya itu mencari makan siang terlebih dahulu.


Setelah selesai menyelidiki Suro kembali ke sungai dimana Maung mencari makan. Dia kemudian ikut memakan hasil jerih payah Maung yang membawakan untuknya beberapa ekor ikan yang cukup besar.


Makan siang dengan beberapa ekor ikan telah membuat perutnya terisi lagi. Setelah itu dia mulai menghimpun tenaga dalam terlebih dahulu untuk membuat tubuhnya kembali bugar. Kemudian setelah persiapan di rasa cukup, Suro memutuskan untuk mendatangi Perguruan Tengkorak Merah.


Kali ini Suro langsung melesat terbang bersama Maung langsung ke Perguruan Tengkorak Merah tidak melalui gerbang, tetapi langsung turun di alun-alun yang berada ditengah perguruan.


Kedatangannya yang begitu mencolok dan tidak biasa, apalagi seekor harimau besar disampingnya tentu membuat geger seluruh perguruan. Tanpa membutuhkan waktu yang lama orang-orang mulai mengepung dirinya.


Suro tetap bersikap setenang mungkin, walau Maung sudah menggerung dengan keras, hendak mencabik-cabik orang yang berani mengepungnya. Suro terus berusaha menenangkan Maung agar dia tidak menyerang ke arah orang yang semakin banyak.


Meskipun tubuh harimau itu tidak mudah dilukai tetapi dia hanyalah hewan yang bergerak berdasarkan insting belaka. Karena alasan itulah Suro tidak ingin membuat sahabatnya terluka.


Semua orang yang mengurung Suro telah menutup jalan yang tidak membiarkan ada celah bagi Suro untuk kabur. Bahkan pasukan pemanah telah berjaga jika dia kabur terbang seperti saat dia datang.