
"Sebenarnya apa kegunaan Pusaka Kunci Langit yang dicari Batara Karang itu? Dia begitu tergesa-gesa meninggalkan tempat ini. Sepertinya dia sudah tidak sabar untuk secepatnya mendapatkan pusaka itu. Tapi sudahlah, aku tidak peduli dengan urusannya. Apapun yang dia cari, kini bukan lagi menjadi urusanku!"
Sebuah senyum sumringah terlihat diwajah iblis racun atau Wang Fuhan, sebab dia telah mendapatkan sesuai dengan apa yang dijanjikan Batara Karang sebelumnya. Kini dia telah mendapatkan gunung emas raja brana harta berlimpah yang tak terhitung jumlahnya.
"Habisi musuh yang hanya empat orang itu! Jangan biarkan mereka menguasai harta karun milik kita yang tak terhitung jumlahnya ini! Apalagi kekuatan kalian telah ditingkatkan berkali-kali lipat! Habisi mereka jangan ada satupun yang tetap hidup!" Teriakan Wang Fuhu menandai gerakan pasukan miliknya yang berjumlah ratusan itu.
"Sekuat apapun mereka hanya berjumlah empat orang. Kita adalah pasukan pembunuh terkuat di Negeri Atap Langit, bahkan di seluruh Benua Tengah ini. Tunjukan betapa menakutkannya kekuatan kita! Hahaha...!"
'Apa yang perlu aku khawatirkan dengan pemuda itu? Meskipun Batara karang menyebut dia bukan berasal dari bumi aku tidak memperdulikannya, meskipun dia adalah utusan dari Yama yang berada dari neraka sekalipun aku tidak peduli!'
"Sejuta pedang rembulan darah!"
Setelah melihat jurus Suro berupa puluhan pedang terbang yang menahan pasukan yang dimiliki Wang Fuhan, lelaki itu segera mengerahkan jurus miliknya
Dalam kehidupan dia yang sebagai pembunuh bayaran, dia dikenal dengan nama yang banyak. Salah satunya yang paling dikenal adalah iblis racun.
Nama itu disematkan karena ilmu racun yang dia kuasai. Namun ada nama lain dari lelaki itu yang tak kalah menakutkannya, yaitu Pedang Pembantai.
Serangan lelaki itu menggunakan tehnik yang sedikit mirip dengan apa yang digunakan Suro. Perbedaannya adalah senjata yang digunakan bukanlah pedang pada umumnya.
Puluhan senjata milik Wang Fuhan yang melesat menghantam bilah pedang milik Suro yang berseliweran diudara, lebih mirip dengan lengkungan sebuah clurit yang tidak memiliki pegangan. Setiap senjata itu berputar-putar diudara seperti gerakan Boomerang.
Perbedaannya senjata itu terus bergerak berputar seakan tidak beraturan, tetapi uniknya mampu mematahkan serangan pedang milik Suro. Senjata itu mampu menghantam seluruh pedang Suro hingga jatuh terlempar berserakan.
Melihat Serangan Suro berhasil dipatahkan, Dewa Rencong segera bertindak. Sebab serangan iblis neraka menerjang ke segala arah, termasuk ke arah dirinya juga Mahadewi dan tetua Dewi Anggini.
Dia segera mengerahkan energi tebasan dari jurus Amukan Rencong Nirvana. Ledakan energi tebasan yang dikerahkan Dewa Rencong yang sudah mencapai kekuatan surga lapis kedua menghantam puluhan senjata milik Wang Fuhan.
Mahadewi yang berada tidak jauh dari gurunya, yaitu tetua Dewi Anggini yang masih berusaha memulihkan tenaganya, akhirnya dapat diselamatkan oleh Dewa Rencong. Sebenarnya Mahadewi hendak menahan serangan itu, tetapi Dewa Rencong telah mendahuluinya.
Melihat Dewa Rencong memilih bertahan dibelakang sambil melindungi dua wanita yang bersamanya, maka Suro maupun eyang Sindurogo tidak lagi menghawatirkan kondisi kedua wanita itu.
"Angger jauhkan pasukan yang bersama lelaki itu, aku akan menghabisinya secara pribadi!"
"Baik eyang!" Tanpa menunggu perintah berikutnya, Suro segera menyerang pasukan yang berjumlah ratusan.
Pedang miliknya yang sempat terlempar oleh serangan lawan, kini telah dia tarik kembali. Kali ini pemuda itu menggabungkan tehnik ilmu pedang terbangnya dengan tapak Dewa Matahari.
Serangan Suro yang begitu kuat, kali ini berhasil membuat pasukan pembunuh bayaran itu kewalahan. Sebab selain serangan puluhan pedang yang bergerak bebas seperti angin puyuh, Suro juga mengerahkan tehnik Langkah Maya.
Sehingga musuh yang mencoba menyerang Suro terlihat kebingungan mencari tubuh pemuda yang dengan sangat cepat berpindah tempat. Sebagian besar tidak mengetahui keberadaan pemuda itu setelah muncul didekatnya.
Karena seberkas sinar telah mendahului kedatangan Suro setiap kali berpindah tempat. Maka sebelum mata mereka menyadari kedatangan Suro, tubuh mereka justru telah tertebas.
Namun sebagian besar justru telah sampai ditingkat langit. Bahkan beberapa telah sampai ditingkat Surga. Walaupun tingkat kekuatan mereka berada jauh dari pimpinannya, yaitu Wang Fuhan yang telah mencapai tingkat surga lapis ke tujuh.
Mahadewi, Dewi Anggini dan Dewa Rencong kehabisan kata-kata melihat kedahsyatan serangan Suro.
"Anak ini setiap kali pergi, kekuatannya selalu saja ada bertambah berkali-kali lipat, dasar jlamprong(anak istimewa atau hebat)!"
**
"Sekarang tidak ada yang menghalangi pertarungan kita, aku ingin melihat mulut besarmu yang sesumbar hendak membunuhku dan mencincangku? Atau justru mulutmu itu akan aku cabik-cabik sampai tidak berbentuk, karena kau berani melecehkan adinda Dewi Anggini!"
"Nama besarmu tidak berarti apa-apa bagiku, Sindurogo?"
Setiap serangan eyang Sindurogo yang menerjang ke arah lelaki itu dapat diatasi oleh Wang Fuhan alias iblis racun. Lelaki itu tidak henti-hentinya menebarkan bubuk beracun dalam setiap gerakannya, setiap kali eyang Sindurogo berada dalam jangkauan serangannya.
"Racunmu kali ini tidak mempan untukku! Kandungan apa yang dimiliki racunmu sebelumnya, sehingga aku pun dapat terkena?"
"Jawabannya ada disini!" Melihat bubuk racunnya tidak mampu melukai eyang Sindurogo, lelaki itu melesatkan puluhan jarum ke arah musuhnya
Lelaki itu cukup terkejut melihat eyang Sindurogo kini tidak terpengaruh oleh racun miliknya. Padahal bubuk racun itu termasuk racun kuat, salah satu racun yang menjadi andalannya.
Eyang Sindurogo mendecak kesal dia segera melawan balik dengan tehnik Tapak Dewa Matahari. Namun serangan miliknya dapat selalu ditahan dan dikembalikan padanya.
Seperti juga serangan yang dia kerahkan barusan, yaitu berupa dua larik sinar yang keluar dari kedua matanya. Serangan mata kutukan itu berhasil menerjang ke arah Wang Fuhan. Tetapi seperti juga sebelumnya, dia berhasil menghadangnya dengan menggunakan jurus yang sama.
"Jurus cermin iblis!"
Sinar yang menerjang itu sekali lagi dapat dilenyapkan setelah menghantam sebentuk perisai energi yang dibentuk Wang Fuhan. Lalu dua larik sinar itu digunakan untuk menyerang pemiliknya, yaitu eyang Sindurogo.
"Jurus merepotkan," ujar eyang Sindurogo sambil berdecak kesal. Dia segera mengerahkan jurus Langkah Maya untuk menghindari jurus miliknya sendiri yang dikembalikan oleh Wang Fuhan.
Kekuatan tenaga dalam Wang Fuhan yang berada diatas eyang Sindurogo dua lapis, membuat dia cukup percaya diri. Apalagi ilmu racun yang dia miliki semakin membuat pemimpin kelompok Mawar Merah itu merasa kemenangan sudah ditangannya.
Tetapi pemandangan matanya menangkap amukan Suro telah berhasil membantai pasukannya dalam jumlah yang terus bertambah semakin banyak.
'Sialan, aku harus menyelesaikan pertarungan ini,' matanya segera beralih kepada eyang Sindurogo.
Dia bertekad hendak menghabisi lawannya secepat mungkin. Karena jika tidak, maka seluruh pasukannya akan dihabisi oleh pemuda yang sempat dikhawatirkan oleh Batara Karang.
'Perasaanku atau memang kekuatan pemuda itu lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan Sindurogo?'
"Badai Pasir Hitam!"