
Seperti yang dikatakan gurunya sebelumnya jika Suro akan mendapatkan pelatihan fisik terlebih dahulu sebelum memulai latihan tenaga dalam melalui tehnik Kundalini.
Pelatihan itu untuk memperkuat fisik Suro dan juga memperkuat organ dalamnya. Sebab akan sangat berbahaya jika dia berlatih tenaga dalam sedangkan organ dalamnya belum sanggup menerima limpahan chakra yang dia himpun di dalam tubuhnya.
Karena itu akan dapat mengakibatkan organ dalamnya cidera. Akibat yang paling parah adalah kematian.
Latihan yang akan dijalani oleh Suro akan dimulai sejak pagi buta. Eyang Sindurogo sudah mengatakan hal itu sejak kemarin sebelum latihan itu dimulai.
Karena itulah Suro sudah mempersiapkan lebih dahulu sebelum dia menjalani latihan itu. Dia sudah melakukan pemanasan sebelum gurunya datang.
Dia cukup bersemangat dengan latihan yang akan dijalani hingga beberapa purnama ke depan. Sejak ayam hutan belum berkokok dia sudah membasuh tubuhnya agar lebih segar untuk memulai latihannya.
Pada latihan fisik pagi itu eyang Sindurogo meminta Suro berlari dari padepokan yang berada didekat puncak gunung Arjuno, yaitu di dekat pelawangan dan cemoro sewu menuju ke barat hingga sampai ke caggar yang berada di dekat sebuah aliran sungai besar yang bernama Ci Ronabaya, seperti dalam catatan perjalanan Bujangga Manik. Di kemudian hari namanya lebih dikenal dengan nama Sungai Brantas.
Dalam legenda sungai itu dibentuk oleh kesaktian Mpu Bharada yang membagi kerajaan Kahuripan yang dipimpin Raja Airlangga menjadi dua, yaitu Jenggala dan Panjalu. Pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi dua terjadi sekitar tahun 1049 Masehi.
Suro yang berlari dari atas dan lalu naik kembali ke atas sambil membawa beban batu yang setengah pikul( 1 pikul setara 60kg). Walaupun latihannya terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya latihan itu sungguh berat.
Sebab untuk turun sampai di Caggar dia menempuh waktu hampir setengah hari. Kemudian harus naik sampai ke arah puncak, setelah matahari hampir tenggelam dia baru sampai di padepokan.
Dia terus melakukan hal seperti berhari-hari. Setelah dua minggu berikutnya dia di minta untuk mengulang, namun sebelum matahari condong keberat tidak lebih dari tiga tombak dia harus sampai di padepokan kembali. Dengan memberi beban lebih dari setengah pikul.
Dengan tantangan itu Suro dapat melakukannya dengan baik. Belum berhenti disitu setelah tiga minggu Eyang Sindurogo meminta Suro membawa beban satu pikul. Dengan waktu setengah hari harus sudah sampai di padepokan.
Eyang Sindurogo sebenarnya sampai mengerutkan dahi saat Suro mengangkat beban yang ditempatkan dalam keranjang dan di panggul oleh Suro. Sebab dia melakukannya seakan tanpa beban.
Beberapa hari kemudian dia disuruh membawa beban satu setengah pikul. Lagi-lagi apa yang dilakukan Suro membuat gurunya itu terkesima, sebab dia dapat melakukannya dengan mudah.
Setiap kali Suro melakukan perintahnya dengan mudah maka Eyang Sindurogo akan menambah kesulitan dalam latihannya.
"Eyang guru sangat mengagumi kemampuan yang kamu perlihatkan ngger. Dengan kemampuan yang kamu perlihatkan eyang yakin kamu akan menjadi pendekar terkuat di seantero tanah Yawadwipa ini."
Tentu saja gurunya itu kagum dengan kemampuan Suro, sebab dia melakukan itu dengan tanpa kekuatan tenaga dalam saja. Semata-mata hanya kekuatan fisik saja.
"Apakah kemampuan yang kamu perlihatkan ini berhubungan erat dengan apa yang kamu lakukan saat mengerahkan jurus Saifi angin, ngger?"
"Mohon maaf eyang perkiraan eyang kemungkinan benar. Sebab setiap beban yang eyang suruh bawa semakin besar seberkas kekuatan ikut masuk kedalam tubuh Suro juga mengalir semakin deras."
"Mengalir dari mana?"
"Entah lah eyang guru, hanya saja Suro merasa ada kekuatan yang masuk ke dalam tubuh, sehingga saat membawa beban yang harus Suro bawa terasa lebih ringan."
Eyang Sindurogo terlihat kebingungan mendengar cerita Suro. Dia tidak memahami bagaimana ada seberkas kekuatan yang masuk ke dalam tubuh muridnya tanpa diketahui dari mana sumber kekuatan itu berasal.
Akhirnya Eyang Sindurogo meminta Suro membawa beban tiga kali lipat beban yang terakhir dia bawa, tentu saja Suro merasakan beban yang sangat berat. Tetapi Suro mampu mengangkatnya, meski dia cukup keberatan dengan beban itu.
Dalam waktu tiga hari dia memerlukan waktu satu hari penuh agar bisa dapat kembali ke padepokan. Tetapi beberapa hari berikutnya dia sudah mampu melakukannya dengan mudah.
Sampai saat itu Eyang Sindurogo belum mengetahui bagaimana muridnya itu mendapatkan kekuatan tambahan yang membuat latihan fisik yang dia jalani dapat dilakukan dengan mudah. Sebab secara logika anak sekecil itu dapat mengangkat hampir lebih dari sepuluh kali lipat bebannya sendiri adalah hal yang sangat mustahil.
Setelah lebih dari setengah tahun akhirnya Eyang Sindurogo menghentikan latihan Suro dalam latihan fisik.
"Latihan fisik yang kamu jalani sudah eyang anggap cukup sampai disini."
"Mulai besok eyang akan melatihmu agar dapat membangkitkan Kundalini dalam tubuhmu."
"Sendiko dawuh eyang guru Suro akan siap menjalani latihan yang eyang guru berikan. Suro berupaya agar eyang guru tidak kecewa." Suro menjura ke arah gurunya.
Tetapi sebelum memulai latihan itu bisakah angger menceritakan kepada eyang, sejak kapan angger memiliki kemampuan yang dapat mengerahkan ilmu Saidi angin meski tidak didukung oleh kekuatan tenaga dalam?"
Suro mencoba mengingat-ingat kapan dirinya memiliki sebuah kekuatan tambahan yang dia sendiri tidak mengetahui asal dari kekuatan tambahan yang dia miliki.
"Sebenarnya Suro tidak yakin tetapi mungkin saja sejak sesuatu kejadian Suro alami. Karena Suro juga tidak terlalu memikirkannya. Namun Suro mulai merasakan adanya sebuah kekuatan tambahan yang meresap masuk kedalam diri Suro. Entah kekuatan apa yang masuk ke dalam tubuh Suro? Mungkin kekuatan yang masuk itu seperti yang biasa guru sebut sebagai chakra itu?"
"Waktu itu Suro sedang bersemedi. Lalu seperti dalam keadaan antara sadar dan tidak, sesuatu wujud muncul yang mengajari Suro."
"Suro tak mampu melihatnya dengan jelas karena auranya memancar menyilaukan mata. Dalam wujud itu Suro mendengar suara yang seakan justru keluar dari dalam dadaku"
"Suro mengingat salah satu perkataanya dia mengatakan "Anak manusia aku adalah Kavacha meski aku tak mengenalmu tetapi sepertinya kau telah berjodoh denganku. Karena itu aku akan meminjamkan kekuatanku padamu dan jadilah kuat. Karena aku ingin tau akan menjadi seberapa kuat dirimu? Apakah akan mampu melampaui kekuatan orang yang sebelummu. Aku akan menunggu saat itu terjadi!" Seingatku seperti itu Eyang.
'Berarti benar perkiraanku zirah yang dulu pernah terlihat memang Zirah perang milik Sang Hyang Batara Surya.' Eyang Sindurogo membatin sambil memandang Suro yang bercerita sambil duduk bersimpuh dibawahnya.
"Apakah saat matahari bersinar mengenai tubuhmu kekuatan itu begitu deras masuk ke dalam tubuhmu?" Eyang Sindurogo menatap Suro yang sedang mencoba mengingat perasaan saat kekuatan itu mulai merembes ke dalam tubuhnya dengan deras.
"Benar, eyang guru. Suro merasakn hal itu, entah mengapa jika matahari menyinari tubuhku Suro merasakan ketenangan dalam bersemadhi dan juga membantu Suro menjadi lebih bertenaga."
"Apa hubungannya sinar matahari dengan kekuatan tambahan yang aku peroleh itu eyang guru?"
Eyang Sindurogo terlihat tersenyum mendengar jawaban Suro. Kepalanya mengangguk-angguk seakan telah memecahkan sesuatu hal yang besar.
"Aku tahu sekarang apa yang terjadi dalam tubuhmu adalah sesuatu yang sangat khusus, mungkin saja hanya dirimu yang menguasainya. Mungkin saja dulu ada seseorang yang memiliki kekuatan sepertimu, tetapi untuk saat ini mungkin hanya dirimu seorang."
"Tubuhmu kemungkinan besar mampu menyerap kekuatan matahari melalui sinarnya."
"Lalu apakah cara meresap kekuatan matahari dapat Suro lakukan dengan tehnik Kundalini eyang?"
Eyang Sindurogo tidak segera menjawab. Setelah beberapa kali menghela nafas panjang akhirnya dia menjawab pertanyaan Suro.
"Eyang memiliki tehnik lain yang cocok untuk menyerap kekuatan matahari. Tetapi sekarang sebaiknya angger fokus untuk membuka potensi Kundalini."
"Sendiko dawuh eyang guru."