
"Dengan kekuatan kalian yang sepicis ini hendak mengalahkanku?" Dewa Obat segera membalas serangan yang dikerahkan Yim Lan.
Kipas baja milik pendekar itu sebenarnya ketajamannya tidak perlu diragukan lagi. Pedang biasa jika bertemu dengan kipasnya dapat dia tebas putus dengan mudah.
Tetapi ketajaman kipas itu juga tidak mampu melukai tubuh Dewa Obat. Pada serangan pembuka yang dikerahkan Yim Lan, dengan sengaja Dewa Obat memperlihatkan kehebatan ilmu kebal miliknya.
Ilmu Genta Kumala tahap sebelas yang telah dikuasai Dewa Obat membuat energi pelindung yang bersifat keras, sekaligus lentur terus melindungi sekujur tubuh pendekar itu. Sehingga setiap serangan yang dikerahkan Chagatai, Jendral Ulagan, dan juga Yim Lan tidak cukup ampuh melukai tubuh Dewa Obat.
Tetapi itu hanya pada awalnya saja, kini pendekar itu tidak membiarkan lawannya menyerang dirinya dengan leluasa. Dewa Obat segera menggunakan jurus pedang untuk menekan balik mereka bertiga.
Pertarungan mereka berempat dilambari kekuatan penghancur yang besar. Sehingga para pendekar aliran hitam yang lain memilih menjauh tidak ingin terkena imbas pertarungan mereka berempat.
Terutama mereka tidak ingin terkena imbas energi tebasan pedang yang dikerahkan Dewa Obat. Terjangan energi pedang itu mampu membelah angin, sehingga para pendekar tersadarkan tentang betapa dahsyat kekuatan pemilik jurusnya.
Tebasan pedang yang berusaha menghabisi musuh dilambari dengan tehnik perubahan angin dan petir. Dengan itu dia mampu membuat senjata sekelas pusaka bumi seperti sebutir telur menghantam palu.
Itu dibuktikan Dewa Obat dengan menghancurkan senjata milik lawannya. Kipas Yim Lan hancur terbelah menjadi dua, karena tidak mampu menahan tajamnya pedang Dewa Obat.
Nasib sang empunya juga tidak jauh berbeda. Tubuh utusan timur Khan Langit akhirnya tumbang dengan kondisi terbelah. Pedang Kharga yang dipegang Dewa Obat bergerak semakin cepat mencoba mengalahkan jurus Tombak Sang Talaka milik Jendral Ulagan.
Setelah Yim Lan berhasil dibunuh, Dewa Obat lalu memfokuskan serangan miliknya untuk terus mendesak Jendral Ulagan. Meskipun pada saat itu Utusan Selatan, Chagatai terus berusaha membantu Jendral Ulagan bahu membahu hendak menghabisi dirinya.
Tetapi nasib Chagatai tidak jauh berbeda dengan Yim Lan. Setelah beberapa kali berusaha menyerang Dewa Obat, justru tebasan pedang milik Dewa Obat berhasil mengenai dirinya.
Dengan satu tebasan yang kembali diperkuat dengan energi perubahan petir dan angin, akhirnya pedang milik Chagatai putus saat melindungi lehernya.
Serangan Dewa Obat tidak terhentikan dan akhirnya berhasil menghabisi Chagatai. Tubuhnya ambruk dengan kepala terpisah.
Nasib dua tangan kanan Khan Langit yang telah berakhir tidak membuat Jendral Ulagan gentar. Satu hal yang membuat Jendral Ulagan tetap berdiri adalah ilmu zirah iblis yang dimilikinya.
Tingkat kekuatan Ilmu Zirah iblis milik Jendral Ulagan tidak seperti milik pasukannya. Perbedaannya seperti bumi dan langit, karena lelaki itu telah mampu membuka gerbang kekuatan tahap penyatuan benih iblis hingga gerbang ketiga.
Kuatnya energi pelindung yang dimiliki Jendral Ulagan satu-satunya alasan, mengapa dia tetap berdiri. Tebasan pedang Dewa Obat yang mampu memotong senjata Chagatai dan Tim Lan, nyatanya tidak juga berhasil melukai kulit Jendral Ulagan.
Setelah Chugutai dan Yim Lan tewas pasukan yang menjadi anak buah Jendral Ulagan segera bergerak mencoba membantu pimpinannya.
Amukan Dewa Obat tidak disangka sama sekali oleh Jendral Ulagan. Dia tidak memahami bagaimana tenaga dalamnya tidak juga habis setelah melewati pertarungan yang panjang.
Merasa kekuatannya tidak cukup untuk mengalahkan lawannya, kemarahannya menjadi-jadi. Kekuatan kemarahan itu memicu tubuhnya untuk membuka gerbang kekuatan ke tahap selanjutnya.
"Gerbang iblis keempat!"
Ledakan kekuatan Jendral Ulagan terjadi, begitu gerbang keempat didalam tubuhnya terbuka. Diantara orang-orang yang telah menggunakan benih iblis untuk meningkatkan kekuatannya, hanya dia seorang yang mampu membuka gerbang kekuatan iblis.
Mereka kebanyakan hanya sampai pada tahap penyatuan sempurna dengan benih iblis, bahkan belum ada yang sanggup membuka gerbang kekuatan, kecuali Jendral Ulagan.
Untuk melakukan seperti yang telah dicapai Jendral Ulagan memang tidak bisa dilakukan oleh setiap orang. Perlu bakat dan tekad sebesar gunung untuk menembus gerbang kekuatan seperti barusan.
Beberapa hal yang memicu gerbang kekuatan miliknya, adalah sumber kemarahan dalam dirinya yang meledak. Seperti ledakan gunung merapi lah, sehingga dia mampu membuka gerbang keempat.
Setelah merasakan kekuatannya naik berkali lipat, maka Jendral Ulagan tidak lagi menunggu waktu. Dia langsung hendak mencoba kekuatan barunya.
"Jurus ketiga Sang Talaka Menguasai Dunia Bawah!"
Kali ini serangan Jendral Ulagan begitu kuat. Bahkan para pendekar lain memilih menyingkir, karena tekanan kuat dari tubuhnya tidak mampu ditanggung oleh para pendekar tingkat tinggi ke bawah.
Bahkan pendekar tingkat langit sekalipun dibuat tidak nyaman dengan pancaran kekuatan gerbang keempat yang telah terbuka.
Dewa Obat memahami kekuatan lawan meningkat pesat. Jika pertarungan diteruskan di atas benteng, dia khawatir tembok besar itu tidak sanggup menanggungnya.
Karena itu tanpa di sadari oleh Jendral Ulagan, sengaja Dewa Obat memancing musuhnya untuk meninggalkan tempat pertempuran awal mereka. Secara perlahan Dewa Obat menghindar sambil mundur setindak dua tindak.
Hingga akhirnya pertempuran mereka berdua justru telah berada ditengah pasukan gabungan yang berada dibawah, tepatnya diluar benteng. Jendral Ulagan merasa kekuatannya sudah diatas angin.
Karena Dewa Obat terlihat kewalahan dengan hujan serangan yang dia kerahkan. Beberapa kali tebasan tombak miliknya hampir menyentuh leher Dewa Obat.
Perubahan segera terjadi begitu pertarungan sudah berada di luar gerbang. Senyum yang sedari disimpan oleh Dewa Obat kini mulai merekah.
"Aku cukup kagum dirimu mampu mencapai potensi kekuatan setinggi ini! Tetapi jika untuk mengalahkanku, kau perlu usaha lebih. Jika kekuatanmu sudah mencapai gerbang terakhir iblis menjadi penguasa tiga dunia, maka kau mungkin akan aku pandang!"
Teriakan kemarahan dan serangan buas yang kerahkan Jendral Ulagan tidak lagi memperdulikan, jika serangannya justru mengenai pasukannya sendiri.
Para prajurit gabungan yang berada disekitar pertarungan itu mulai berusaha menjauh sejauh mungkin. Bukan hanya karena imbas serangan yang mereka berdua lakukan, tetapi juga karena tekanan kekuatan yang tidak mampu ditanggung oleh mereka.
Merasa dirinya diremehkan oleh Dewa Obat, Jendral Ulagan kemudian mengerahkan jurus tombak berikutnya.
"Jurus keempat Sang Talaka Menguasai Dunia Atas!"
Wuuss...
Duuuum...!
Wuuuusss...
Duuuum...duuuum...
Hantaman tombak langsung menghajar tanah berkali-kali sebab semua serangan itu dapat dihindari oleh Dewa Obat.
Walaupun kecepatan serangan Jendral dan tenaga yang melambari telah meningkat, tetapi tetap saja itu belum cukup untuk menjatuhkan Pendekar yang berjuluk Dewa Segala Tau itu.
"Brahmastra!"
Duuuuum...
Di saat Jendral Ulagan dengan gencar menyerang Dewa Obat mendadak musuhnya itu menyerang dirinya. Dia hanya melihat cahaya terang mendadak muncul dan karena begitu terangnya, sehingga membuat silau matanya.
Dia juga sempat melihat kilat petir menyambar-nyambar dengan ganasnya. Semua itu terjadi dengan begitu cepat.
Sebenarnya Jendral Ulagan sempat menghindar dan menjauhi musuhnya, sebab dia menyadari bahaya. Tetapi serangan itu bukan sesuatu yang bisa dihindari dengan mudah.
Apalagi jaraknya begitu dekat. Setelah sempat menjauh, hal terakhir yang dia ingat adalah suara dentuman keras yang menggelegar.
Suara dentuman keras itu adalah serangan Dewa Obat yang berhasil menghantam tubuh Jendral Ulagan.
**
"Kami adalah pasukan Elang Langit, kami mendapatkan titah untuk membantu pasukan Yang Mulia melawan pasukan kekaisaran."
"Siapa yang memberikanmu titah?"
"Yang Mulia jujungan Batara Karang," jawab Roku Suzaku sambil menjura.
"Kalian pengikut Ryioichiro Soga alias Karuru bukan?"
"Benar, Yang Mulia Karuru adalah pemimpin kami."
"Mengapa dia tidak datang membantu pertempuran ini? Pasukan yang aku kirim kepadanya juga belum dikembalikan kepadaku." Khan Langit menatap Roku Suzaku yang berada didepannya.
"Yang Mulia Karuru masih di pegunungan Longmen. Menunggu pasukan dari Goguryeo dan pasukan Yang Mulia Khan Langit.
Karena pasukan itu masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan seluruh proses penyatuannya dengan benih iblis. Yang Mulia Karuru hendak memastikan penyatuan mereka dengan benih iblis dapat bersatu dengan sempurna."
Pasukan yang bersama Roku Suzaku bukanlah para siluman Elang, tetapi manusia pada umumnya. Mereka menggunakan jubah hitam yang memanjang. Wajah mereka tertutupi oleh topeng serigala.
Roku Suzaku yang datang bersama anak buahnya ditengah-tengah pasukannya segera dapat dikenali oleh Khan Langit. Karena mereka memang sudah mengenal satu sama lain sebelumnya.
Pasukan Khan Langit pun tidak begitu kaget dengan cara mereka datang yang muncul secara tiba-tiba. Sebab Roku Suzaku dan anak buahnya datang dengan menggunakan ruang waktu, yaitu jurus Lipat Bumi.
"Apakah Khan Langit yang Agung memberi ijin kepada kami untuk ikut membantu dalam pertempuran ini?"
Setelah bertanya kembali Roku Suzaku menjura dengan hormat ke arah Khan Langit. Penguasa padang rumput luas suku utara itu tidak segera menjawab.
Setelah Khan Langit menganggukan kepala memberi ijin kepada Roku Suzaku untuk menuju ke medan pertempuran, seketika Itu juga tubuh mereka semua lenyap dalam sekejap.
Penguasa suku utara itu selalu saja tetap dibuat takjub, setiap kali menyaksikan kemampuan pasukan Elang Langit yang mampu mengerahkan jurus ruang dan waktu.
"Jurus rahasia para siluman Elang itu memang mengagumkan." Khan Langit menggumam pelan.