
Dua makhluk bersayap yang sebelumnya menyerang eyang Sindurogo segera mendongakkan wajahnya menatap ke arah langit. Mereka berdua mencoba mencari tau asal suara teriakan keras yang barusan terdengar.
Suara teriakan itu begitu mengusik rasa penasaran mereka. Sehingga Shichi Suzaku maupun Roku Suzaku seperti tidak lagi memperdulikan atas amukan yang dilakukan tetua Dewi Anggini. Padahal lebih dari dua puluh orang berhasil dibantai.
Pendekar wanita yang telah kerasukan oleh kekuatan yang dia kerahkan, terus mengejar pasukan Elang Langit yang lain. Dewa Rencong juga meminta prajurit penjaga kota untuk segera menjauh dari amukan tetua Dewi Anggini. Sebab wanita itu sudah tidak lagi mengenal kawan maupun lawan.
Jendral Zhou yang selamat dari serangan pasukan Elang Langit, segera memimpin seluruh pasukannya yang tersisa, agar menjauh dari amukan tetua Dewi Anggini.
Dua siluman Elang itu terlihat seperti mengacuhkan nasib pasukannya yang kewalahan melawan amukan tetua Dewi Anggini. Bahkan mereka berdua juga tidak lagi mengejar eyang Sindurogo, setelah sebelumnya dia berhasil meloloskan diri dari serangan Shichi Suzaku.
Satu alasan yang membuat mereka bersikap janggal seperti itu, sebab mereka berdua dapat memastikan, jika teriakan keras yang mengagetkan mereka itu berasal dari panglima pasukan Elang Langit, yaitu Kurama Tengu yang juga guru dari dua makhluk tersebut.
"Apa yang terjadi dengan guru? Shichi sepertinya teriakan tadi adalah pertanda buruk! Jangan biarkan ada yang melukai guru!" Roku Suzaku berbicara sambil melesatkan tubuhnya ke langit. Shichi Suzaku langsung menyusul melesat dengan kecepatan tinggi.
Sebelum mereka sampai di atas awan hitam, mendadak mereka merasakan kekuatan besar yang berada dibalik awan hitam. Mereka sedikit bernafas lega, sebab mereka mengira aura besar itu milik gurunya.
Mereka begitu yakin, sebab secara samar ada aura kekuatan milik Kurama Tengu didalamnya. Tetapi mereka segera menyadari, jika itu bukanlah gurunya.
Jawaban atas rasa penasaran itu segera mereka temukan, saat dua sosok telah muncul melesat turun dari langit. Dua sosok itu lalu menghadang mereka ditengah jalan.
Salah satunya terlihat memiliki sayap seperti mereka, meskipun secara keseluruhan tubuhnya tidak seperti mereka berdua. Roku Suzaku dan Shuichi Suzaku sampai memincingkan mata mencoba mengenali makhluk bersayap yang melesat ke arahnya.
Mata elang dari dua Suzaku itu sebenarnya dapat melihat dengan jelas dua wujud yang melesat mendekat ke arah mereka. Namun karena wujud Geho sama yang juga memiliki sayap, membuat mereka ragu.
"Siapa makhluk itu, apakah itu sejenis seperti kita? Shichi Suzaku menatap ke arah Roku Suzaku sambil mengerutkan dahinya.
Sebelum dua makhluk itu memastikan siapa dua sosok yang melesat turun itu, mendadak ada kilatan petir besar disekitar tubuh salah satu sosok yang memiliki sayap. Sosok itu yang tak lain adalah Geho sama.
"Brahmastra!"
Gelegar suara petir yang menyelimuti tubuh Geho sama secara cepat membentuk semacam anak panah yang berasal dari cahaya. Mata panah itu tergenggam ditangannya.
Mata panah itu terhimpun kekuatan yang sangat besar. Dua Suzaku itu bisa melihat, jika kilat petir terus menyambar-nyambar keluar dari mata panah itu.
Lalu tanpa diduga, makhluk bersayap itu melesatkan mata panah itu ke arah merek berdua. Menyadari bahaya yang mengancam, maka mereka segera mengerahkan jurus Lipat bumi untuk menghindari serangan itu.
Meskipun tubuh mereka telah lenyap dari pandangan, tetapi serangan yang dikerahkan Geho sama itu tidak berhenti. Justru lesatan sinar besar yang berwujud anak panah itu berubah arah dan mengejar ke arah musuh yang baru saja muncul di tempat lain.
Roku Suzaku melihat serangan Geho sama hanya mengejar Shichi Suzaku, maka dia segera bergerak menjauh dari Shichi Suzaku. Tanpa rasa bersalah dia memilih menyelamatkan dirinya sendiri dan menjauh dari rekannya.
Karena dia menyadari, jika serangan yang mengejar Shuichi Suzaku sangatlah berbahaya. Namun saat dirinya baru saja berpindah tempat, tanpa disangka ada musuh lain yang menunggunya.
Dia hendak menghantam seluruh kekuatan yang baru saja dia himpun ke arah Roku Suzaku. Jurus keempat dari ilmu Tapak Dewa Matahari dia hantaman ke tubuh musuhnya.
Duuuum!
Saat kekuatan besar itu menghantam, eyang Sindurogo segera menyadari, jika serangan yang baru saja dikerahkan hanya mengenai tubuh palsu dari Roku Suzaku. Nasib makhluk itu cukup beruntung dapat menyelamatkan diri.
Tetapi tidak dengan nasib satu rekannya, yaitu Shichi Suzaku yang berusaha lari dari kejaran jurus Brahmastra milik Geho sama.
Walaupun Shichi Suzaku masih berupaya mengecoh Geho sama dengan berubah menjadi begitu banyak. Tetapi tindakannya itu hanya sia-sia. Sebab jurusnya itu tidak berhasil membuatnya lepas dari serangan Geho sama.
Senjata Brahmastra yang dikendalikan oleh Geho sama masih terus mengejar tubuh asli dari Shichi Suzaku.
Duuuum!
Ledakan keras terdengar mengelegar mengakhiri riwayat salah satu dari delapan penjaga suku Elang Langit. Tubuh Shichi Suzaku yang terkena jurus milik Geho sama musnah tidak tersisa. Begitu juga seluruh tubuh palsunya lenyap menjadi asap.
Melihat rekannya mati oleh serangan musuh, membuat Roku Suzaku terkejut bukan kepalang. Dia seakan tidak mempercayai apa yang baru saja dilihat. Sebab kekuatan Shichi Suzaku sendiri berada satu tingkat diatasnya.
Makhluk itu langsung kembali ke bawah dan menuju ke tengah pasukannya yang dipimpin Kenjiro.
"Semua mundur!"
Melihat kekuatan lawan yang tidak diduga itu, akhirnya makhluk itu memilih menarik seluruh pasukannya.
Roku Suzaku segera menyadari satu hal setelah melihat Shichi Suzaku dapat dibunuh hanya dengan satu serangan. Kemungkinan besar guru dan juga pimpinannya, yaitu Kurama Tengu mengalami nasib yang tidak jauh berbeda.
Suara teriakan keras penuh dengan erangan rasa sakit menjadi salah satu buktinya. Apalagi ditambah dengan jurus dahsyat yang diperlihatkan musuh, telah membuktikan semuanya.
Dia juga tidak mengetahui, bagaimana caranya sinar besar berwujud mata panah yang melesat diiringi kilat petir itu dapat menemukan tubuh asli dari Shichi Suzaku. Padahal rekannya telah memecah tubuh menjadi sekian banyak.
Karena itulah dia memilih menyelamatkan sisa pasukannya terlebih dahulu. Dibandingkan keinginannya untuk mencari tau siapa sebenarnya lawan yang begitu kuat.
Melihat Roku Suzaku mundur bersama seluruh pasukan Elang Langit, telah memicu kemarahan Geho Sama.
"Kurang ajar, Siapa yang sudah mengijinkan kalian pergi dari tempat ini? Dasar kutu kupret!" Geho sama meruntuk panjang lebar melampiaskan kekesalannya.
Tanpa menunda waktu, Geho sama segera mengerahkan jurus Langkah Maya dan menghilang. Pendekar itu tidak berniat sedikitpun membiarkan pasukan Elang Langit melarikan diri. Terutama dia tidak akan melepaskan Roku Suzaku kabur begitu saja.
Meskipun musuh secara serempak telah menghilang dari pandangan mata, namun Geho sama memiliki cara tersendiri untuk mengetahui ke arah mana mereka melarikan diri.