
Putri Jendral Zhou yang menjadi media makhluk hitam mengerikan itu langsung terkulai tidak sadarkan diri, sesaat setelah makhluk hitam itu melesat keluar dari tubuh gadis itu untuk menyerang Suro.
'Akhirnya makhluk terkutuk itu berhasil aku pancing.'
Senyuman kecil tersungging dibibir Suro sesaat sebelum tangannya menghantam makhluk mengerikan itu. Sebab rencana dirinya untuk memancing makhluk itu agar lepas dari tubuh wanita muda itu telah membuahkan hasil.
Buuuum!
"Gooooaaaaarrrr!"
Makhluk hitam itu menggerung keras setelah tubuhnya terlempar menghantam tembok. Kesempatan itu justru digunakan dia untuk segera melesat terbang ke atas atap.
Sepertinya makhluk itu terkejut tubuhnya dapat dihantam sebegitu keras, karena itu dia berniat untuk melarikan diri.
Wujud dari makhluk itu seperti juga tubuh sukma sejati milik Suro, mereka berdua adalah wadak halus yang memiliki kemampuan menembus atap.
"Sudah aku katakan ini adalah akhir dari riwayatmu benih iblis!"
Benih iblis yang dimaksudkan oleh Suro adalah makhluk itu. Sebab dengan ilmu hitam makhluk itu ditanam ke tubuh seseorang seperti sebuah parasit.
Seiring dengan waktu, maka benih setan itu juga bertambah kuat dan berusaha menguasai tubuh inangnya. Sehingga tubuh inangnya tidak lebih dari pada boneka bagi dirinya.
Suro tidak ingin melepaskan makhluk itu, sehingga dapat kembali merasuki orang lain, karena itu tanpa jeda dia juga langsung melesat naik mengejar benih iblis yang telah lenyap dibalik atap.
Pertarungan dua wadak halus itu, akhirnya pecah ditengah udara. Wujud benih iblis setelah didekati terlihat semakin menakutkan. Warna hitam itu selain dari kulitnya juga dari bulu yang panjang memenuhi tubuhnya.
Tubuhnya mirip seekor kera besar atau siluman genderuwo, taringnya juga terlihat mencuat keluar dari mulutnya. Dikepalanya tumbuh dua tanduk yang berkobar api warna merah.
Selain tanduknya, ekor dari makhluk itu kini diselimuti api yang juga berwarna merah.
"Siapa yang menyuruhmu makhluk jelek?" Sukma sejati Suro melesat hendak mencengkram leher makhluk itu, namun dengan gesit dia menghantamkan ekor panjang miliknya yang berubah menjadi semacam cemeti api.
"Kau tidak mau berbicara, justru mengajakku bermain api, kita lihat api siapa yang menang."
"Apakah perlu aku bakar habis tuan?" Sesosok wujud muncul disamping Suro dengan tubuhnya diselimuti api. Jika dilihat sekilas wajah sesosok itu mirip dengan Suro.
"Tidak perlu Purbangkara, aku masih membutuhkannya. Sebab aku masih penasaran dengan ilmu hitam yang digunakan untuk menanam benih iblis ini ke dalam tubuh putri paman Zhou.
Kekuatan jiwa yang dia kerahkan secara tidak langsung telah mengundang datangnya penjaga gaib miliknya. Karena itu kini keempat penjaga gaib telah hadir ditengah pertarungan yang sedang berlangsung.
"Baiklah, jika itu keinginan tuan. Tetapi biarlah kami yang akan menghadapi benih iblis ini. Biarkan kami yang akan membekuk iblis ini untuk tuan." Purbangkara menunjuk tiga sosok penjaga gaib lainnya yang telah mengepung lawan.
"Semut seperti kalian hendak menangkapku, mimpi lah terus. Sebentar lagi kalian akan aku jadikan penghuni baru dari kota iblis Moguicheng!"
Makhluk itu menyeringai sebelum menyerang Suro dan keempat penjaga gaibnya.
"Makhluk buruk rupa, kemampuan berpikirmu sama buruknya dengan wujudmu!" Suro mengetahui jika kekuatan makhluk itu masih dibawah kekuatan para penjaga gaib miliknya.
Karena itu saat makhluk itu memilih menyerang keempat penjaga gaib, sama saja dia sedang menggali kuburnya sendiri.
"Benar ucapanmu Purbangkara, sebab untuk menghabisi makhluk ini bagiku mudah. Tetapi aku memang memiliki rencana lain, yaitu hendak menangkap dan memenjarakannya di Tuskara Deva. Dengan bantuan kalian, aku yakin dapat melakukannya.
Kita akan liat apakah makhluk itu dapat membantuku memberi tahu siapa sebenarnya yang telah menggunakan sihir hitam ini."
Ekor dari Benih iblis itu mendadak memanjang dan kembali menyerang mereka berlima yang telah mengepung dirinya. Tetapi api itu tidak cukup kuat untuk melukai keempat penjaga gaib milik Suro.
Namun serangan yang dilakukan Benih iblis itu hanyalah cara bagi dirinya untuk membuka jalan. Karena tujuan utama dari serangan barusan adalah dapat kabur menyelamatkan diri.
Makhluk itu sepertinya telah dapat mengukur kekuatan dirinya sendiri dengan kekuatan lawan. Sebab untuk menghadapi salah satu dari keempat penjaga gaib, belum tentu dapat mengalahkannya.
Seperti kekuatan Purbangkara yang dia perlihatkan saat ini dengan wujudnya diselimuti api biru, seharusnya makhluk itu mengerti betapa jauh jarak kekuatan diantara mereka berdua. Sebab makhluk itu baru mencapai kekuatan api tahap merah.
Sabetan ekor yang hendak menghajar Purbangakara si burung api itu, justru ditangkap olehnya. Wujud Purbangkara yang sudah diselimuti api biru, tentu tidak terluka oleh serangan barusan.
"Hahaha...makhluk bodoh, aku tak mengira kau sebodoh itu! kau mencari mati menyerangku dengan cambuk api merahmu yang lemah ini!" Purbangkara menyeringai setelah berhasil menangkap ekor lawannya dengan tangan kosong.
Melihat purbangkara berhasil menangkap ekor miliknya, makhluk itu mengamuk dan mengerahkan api merah miliknya.
Api itu membumbung tinggi dan berhasil menyelimuti tubuh Purbangkara, tetapi penjaga gaib yang menjaga di arah selatan itu justru tersenyum simpul setelah api merah menyelimuti dirinya.
Tangannya tidak mau melepaskan ekor benih iblis itu. Dia justru memegangnya dengan semakin kencang.
"Kita lihat api siapa yang akan menang? Sedari tadi aku menahan kekuatanku karena perintah tuan Suro! Tetapi karena kau yang meminta, maka aku tidak segan untuk memenuhi permintaanmu! Lenyaplah wadak halusmu ini terbakar oleh apiku!"
Purbangkara itu murka karena serangan yang dilakukan makhluk itu kepadanya. Dia kemudian menunjukkan kekuatan aslinya.
Sebab kali ini dia tidak menyerang balik dengan menggunakan api biru miliknya, justru dia segera mengerahkan tahap api yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, yaitu tahap api hitam.
Purbangkara hendak melenyapkan tubuh lawannya secepatnya. Pencapaian perubahan tahap api hitam milik Purbangkara yang dia kuasai, semata-mata dia dapatkan karena Suro sendiri telah menguasainya.
Tehnik milik Naga Hitam itu telah membantu Suro menguasai tehnik perubahan api sampai ke tahap puncak. Sehingga penjaga gaib miliknya yang menguasai unsur api juga menguasai ke tahap hitam itu.
"Jangan kau habisi Purbangkara!" Suro segera menghentikan tindakan yang dilakukan Purbangkara.
Teriakan Suro barusan menghentikan tindakan Purbangkara. Tetapi dia terlanjur mengerahkan tehnik itu, sehingga ekor lawannya yang sempat terbakar oleh api hitamnya putus sebagian dan musnah tak berbekas.
Goooooaaaarrrrrr!
Makhluk itu menjerit kesakitan mengetahui ekornya telah buntung dibakar. Dia tidak menyangka, Jika wadak halus miliknya dapat dilukai.
Makhluk hitam itu tidak mengerti, jika kekuatan yang dikerahkan penjaga gaib adalah kekuatan jiwa yang dapat melukai dirinya. Serangan penjaga gaib yang lain segera menyusul dan membuat makhluk yang kini tubuhnya diselimuti api merah itu harus rela dihantam secara bertubi-tubi.
"Sampai disini biar aku yang menanganinya!" Suro segera melesat dan mencengkram leher makhluk itu dengan sedemikian keras.
"Kurang ajar, bagaimana manusia sepertimu dapat melukaiku sampai seperti ini?" Diantara erangan kesakitan makhluk itu terus saja mengumpat. Meski umpatannya itu justru lebih mirip dengan gerungan harimau.
Makhluk itu juga meronta-ronta, agar bisa lepas dari cengkraman Suro. Sepertinya makhluk itu sudah putus asa agar dapat kabur.
Makhluk hitam itu kemudian mengerahkan api merah untuk membakar tubuh Suro. Tetapi pemuda itu justru menyeringai.
Dia kemudian menggerakkan tehnik empat sage. Dengan ilmu itu, serta merta api merah yang hendak menyelimuti Suro amblas terhisap masuk kedalam telapak tangan yang menyengkram leher lawan.
"Makhluk keras kepala!" Suro menghantam gigi lawannya yang mencoba mengigit dirinya.
"Makan ini kepalan tanganku!" Suro kembali menghantam tubuh musuhnya berkali-kali agar berhenti berontak. Setelah itu dia menyeret hendak kembali ke dalam kediaman Jendral Zhou.
Tetapi karena takut akan dapat merasuki orang-orang yang ada dalam kediaman itu, akhirnya dia memutuskan memasukannya langsung ke dalam Tuskara Deva. Dia membatalkan niatnya hendak memperlihatkan makhluk itu kepada Jendral Zhou.
**
"Paman Zhou, semua sudah selesai."
Suro setelah kembali ke dalam raganya segera membangunkan Jendral Zhou yang masih tenggelam dalam samadhinya.
"Apa yang terjadi?" Jendral Zhou saat terbangun, justru terlihat kebingungan.
"Sepertinya aku terbawa suasana oleh alunan merdu suara seruling yang pendekar baru saja tiup. Entah mengapa alunan seruling itu telah menghipnotis diriku, sehingga terasa seakan diriku dibawa ke suatu tempat asing yang tidak dapat aku bayangkan keindahannya.
Tetapi jika itu hanya khayalan, mengapa semua terasa begitu nyata sekali, ya?" Jendral Zhou hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap Suro.
Pemuda itu tidak menjawab dan hanya memberikan balasan senyuman kecil.
Jendral Zhou sepertinya kebingungan dengan pengalaman yang dia alami barusan. Kesadarannya seakan belum sepenuhnya kembali. Sebab apa yang dia rasakan dan dia lihat saat mendengar alunan seruling milik Suro terasa begitu nyata.
"Tidak, ini bukan mimpi, aku kini benar-benar mengalami peningkatan kekuatan tenaga dalamku. Walaupun kenaikan yang aku capai ini hanya satu lapis.
Tetapi itu sudah membuktikan apa yang aku alami tadi tidak sepenuhnya hanya mimpi. Apa yang sebenarnya pendekar lakukan?"
"Nanti aku ceritakan paman, tetapi sebaiknya kita menolong putri paman. Lihatlah dia masih belum sadarkan diri. Sihir hitam yang telah menguasai putri paman ini sangatlah sesat. Ilmu itu bernama Sihir Kutukan Setan Lapar."